Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Masakan Pertama Isabella
Setelah itu, Isabella meminta Martha untuk membantu ketiga anaknya mandi.
“Martha, Bantu Anak-anak mandi. Biar aku yang menyiapkan makan malam untuk kita.” ujar Isabella.
Martha mengangguk patuh.
“Baik, Nyonya.”
Ketiga anak itu kemudian mengikuti Martha menuju kamar mandi. Sean, Liam, dan Elora tampak jauh lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Mereka bahkan mulai berbicara satu sama lain sambil berjalan.
Sementara itu, Isabella kembali ke dapur.
Daging rusa hasil buruannya tadi sudah ia bawa pulang, Isabella meletakkan daging itu di atas meja kayu, kemudian mengambil pisau. Tanpa ragu, ia mulai membersihkan dan memotong daging tersebut menjadi beberapa bagian. Ia lalu membuka lemari dan memeriksa bahan-bahan yang masih tersisa, bahan makanan yang tersisa memang tidak banyak. Namun, Isabella tidak mempermasalahkannya. Di dalam hutan tadi, ia sempat menemukan beberapa tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bumbu. Ada bawang putih, bawang merah, cabai, jahe, serai, kentang, dan beberapa batang sayur pakis. Di rumah mereka juga masih tersisa sedikit kecap.
“Cukup,” gumam Isabella.
Ia kemudian mulai menyiapkan semua bahan tersebut. Bawang merah dan bawang putih ia kupas, lalu diiris tipis, jahe ia bersihkan sebelum digeprek, cabai dipotong kecil-kecil, sedangkan serai ia memarkan agar aromanya keluar ketika dimasak. Setelah itu, Isabella mengupas beberapa kentang dan memotongnya menjadi bagian yang tidak terlalu besar, daging rusa yang sudah dipotong kemudian ia cuci bersih, Ia lalu mulai menyalakan tungku dan meletakkan sebuah panci di atasnya.
Begitu sedikit minyak dituangkan ke dalam panci, Isabella memasukkan bawang merah dan bawang putih. Suara desisan terdengar dan aroma harum perlahan memenuhi dapur sederhana itu.
Isabella memasukkan jahe, cabai, dan serai. Ia mengaduk semuanya dengan sabar hingga bumbu mulai matang, kemudian daging rusa dimasukkan.
“Semoga anak-anak menyukainya,” gumam Isabella sambil terus mengaduk.
Ia menambahkan sedikit garam dan kecap yang tersisa, setelah itu ia menuangkan air secukupnya.
Isabella lalu menutup pancinya dan membiarkan semuanya mendidih perlahan.
Ia tahu daging rusa cukup keras jika tidak dimasak dengan benar. Karena itu, ia membiarkannya dimasak lebih lama agar daging menjadi empuk dan bumbu meresap sampai ke dalam dagingnya. Lalu dia memasukkan potongan kentang tadi.
Sambil menunggu, Isabella membersihkan beberapa batang sayur pakis. Tidak lama kemudian, aroma masakan Isabella mulai memenuhi seluruh rumah. Aroma gurih daging bercampur dengan wangi bawang, jahe, serai, dan kecap.
Isabella tersenyum kecil.
“Lumayan.”
Bahan-bahannya memang tidak lengkap. Tidak ada rempah mewah seperti yang biasa tersedia di dapur apartemetnya dulu. Tidak ada daging pilihan dari pasar. Bahkan kecap yang digunakannya pun hanya tersisa sedikit. Tetapi bagi Isabella, makanan tidak harus dibuat dengan bahan yang sempurna.
Yang terpenting adalah bagaimana cara mengolahnya.
Ia kemudian mengambil wajan kecil dan menumis sayur pakis dengan sedikit bawang putih dan cabai.
Sementara itu, dari arah kamar mandi terdengar suara anak-anak.
“Jangan siram kepalaku, Sean!”
“Itu bukan aku!”
“Elora, jangan dorong!”
Mendengar keributan itu, Isabella hanya menggeleng sambil tersenyum. Rumah yang sebelumnya terasa begitu sunyi kini mulai dipenuhi suara, kini Isabella merasa tempat ini benar-benar seperti sebuah rumah.
Beberapa saat kemudian, Martha masuk ke dapur bersama ketiga anak itu. Rambut mereka masih basah dan tubuh mereka sudah bersih, mereka mengenakan pakaian sederhana yang tersedia di rumah. Namun begitu mencium aroma masakan, ketiganya langsung berhenti.
Liam menatap panci dengan mata berbinar.
“Apa itu, Ibu?” Tanya Liam.
Isabella menoleh.
“Tumisan daging rusa.”
Ketiga anak itu saling berpandangan, perut Liam tiba-tiba berbunyi cukup keras, wajahnya langsung memerah. Sean dan Elora menahan tawa sedangkan Isabella justru tertawa kecil.
“Duduklah, sebentar lagi makan malam siap.”
Ketiga anak itu segera duduk di meja, tidak lama kemudian, Isabella mematikan api di bawah panci. Begitu tutup pancinya di buka, uap panas langsung mengepul, membawa aroma tumisan daging rusa tadi semakin kuat. Ketiga anak itu menatap panci dengan penuh harap.
“Wangi sekali ibu” Ucap Elora.
Liam bahkan terlihat menelan ludah, Isabella tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
“Sudah lapar?”
Ketiganya mengangguk hampir bersamaan, Isabella kemudian mengambil beberapa mangkuk dan mulai menyendokkan tumisan daging rusa itu ke dalam mangkok setiap anaknya juga martha, tidak lupa dia juga menaruh potongan kentangnya juga.
Untuk dirinya sendiri, Isabella mengambil porsi yang sedikit lebih kecil, Ia juga menambahkan tumis sayur pakis di samping piring.
“Silakan makan.”
Ketiga anak itu masih terdiam, mereka hanya saling pandang. Seolah-olah tidak terbiasa mendapatkan makanan seperti ini, Isabella mengerutkan kening.
“Kenapa tidak dimakan, kalian tidak suka?”
Sean menundukkan kepala.
“Kami suka ibu, tapi apa kami benar-benar boleh memakannya?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Isabella terdiam.
Ia menatap ketiga anak di hadapannya, dari cara mereka bertanya, Isabella bisa mengetahui bahwa selama ini mereka bahkan tidak yakin apakah mereka berhak mendapatkan makanan yang layak.
“Tentu saja boleh.”
Liam lalu mulai memegang sendoknya dengan tangan gemetar.
“Selama ini kami hanya makan sup dan sepotong roti kering saja, tidak pernah ada daging.”
Elora ikut berkata pelan.
“Itupun hanya sekali sehari.”
Tangan Isabella yang sedang memegang sendok berhenti, ada rasa marah yang perlahan muncul dalam dadanya. Bukan kepada anak-anak itu, melainkan kepada orang-orang yang telah membuat mereka terbiasa kelaparan. Namun Isabella tidak ingin membuat mereka takut, Ia mengambil sepotong daging dengan sendoknya, lalu mencicipinya.
“Ayo, kalian juga makan.”
Isabella mengunyah sebentar lalu mengangguk.
“Enak.”
Ketiga anak itu akhirnya mulai makan, Liam menjadi yang pertama menyuapkan makanan ke mulutnya. Begitu rasa daging memenuhi lidahnya, matanya langsung membesar.
“Enak!”
Ia segera mengambil satu suapan lagi, Sean yang melihatnya ikut mencoba. Elora dan Martha juga mulai ikut mencicipinya, mereka makan dengan sangat lahap.
“Pelan-pelan, Kalian bisa tersedak.” Ujar Isabella.
Namun Liam sepertinya tidak mendengarkan.
“Ini enak sekali, Ibu!”
Isabella tersenyum.
"Ibu tau, ini adalah makanan terenak yang pernah Elora makan." Ujar Elora.
“Kalau kalian suka, makan yang banyak.”
Martha yang duduk tidak jauh dari mereka hanya terdiam, Ia menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah lama sekali ia tidak melihat ketiga anak itu makan dengan wajah sebahagia itu, biasanya mereka makan dalam diam, takut membuat suara, takut melakukan kesalahan, dan takut membuat jbu mereka merasa tidak nyaman. Tetapi malam ini berbeda, mereka bisa makan tanpa rasa takut.
Isabella memperhatikan mereka beberapa saat, kemudian ia menyadari sesuatu, ketiga anak itu memang masih sangat kurus. Lengan mereka terlihat kecil dan tubuh mereka, tampak jauh lebih lemah dibandingkan anak-anak seusia mereka.
Isabella mengepalkan tangannya di bawah meja,
mulai sekarang keadaan itu harus berubah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Ia juga belum mengetahui siapa yang telah membuat ketiga anak ini hidup seperti orang yang tidak diinginkan. Tetapi satu hal sudah pasti,
selama mereka berada di sisinya, mereka tidak akan kelaparan lagi.
“Besok,” kata Isabella tiba-tiba.
Ketiga anak itu berhenti makan dan menatapnya.
“Ibu akan pergi ke hutan lagi.”
Mata Liam langsung berbinar.
“Untuk berburu?”
Isabella mengangguk.
“Ya. Ibu harus mengumpulkan lebih banyak makanan.”
Sean tampak ragu.
“Apa kami boleh ikut ibu?”
Isabella menatapnya.
“Tidak.”
Ketiga anak itu langsung terdiam, Liam terlihat kecewa.
Isabella kemudian melanjutkan dengan tenang.
“Kalian masih kecil, jadi kalian di rumah saja bersama Martha.”
Ketiga anak itu mengangguk, setelah beberapa saat, Elora bertanya dengan suara pelan.
“apa ibu akan lama? Ibu jangan sampai terluka ya, Elora tidak mau ibu terluka.”
Isabella terdiam, pertanyaan itu terasa sederhana.
Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ia menatap mata Elora sambil tersenyum, kemudian Isabella mengulurkan tangannya dan mengusap kepala anak itu.
“Tentu saja.”
Isabella tersenyum lembut.
“Ibu tidak akan terluka, ibu janji.”
Ketiga anak itu saling berpandangan, kemudian mereka tersenyum. Malam itu, sebuah janji sederhana telah terucap.
Dan Isabella tidak tahu bahwa janji tersebut kelak akan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi ketiga anak itu.
Bersambung