Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Selamat Datang Di Dunia Saya
Hari yang ditentukan akhirnya tiba.
Ruang rias utama grand ballroom diselimuti aroma bunga melati dan mawar segar yang justru terasa mencekik bagi Naya. Di depan cermin berbingkai ukiran emas, ia menatap bayangannya sendiri.
Sebuah gaun pengantin A-line berwarna putih gading rancangan khusus Madam Chloe membungkus tubuhnya dengan sangat presisi.
Potongannya yang anggun mengembang lembut dari pinggang ke bawah, dilengkapi detail renda buatan tangan yang rumit serta deretan kancing mutiara mutakhir di bagian belakang. Elegan, mewah, dan teramat asing bagi Naya.
Di luar ruangan, samar-samar terdengar alunan musik instrumental klasik dan denting perabotan yang disiapkan panitia.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju panggung sandiwara terbesar dalam hidupnya.
Naya mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, meremas kain gaun mahakarya tersebut. Jarinya dingin seperti es, dan napasnya berembus pendek-pendek.
“Napas dalam-dalam, Mbak Naya. Gaun rancangan Madam Chloe ini punya korset yang pas sekali, nanti Mbak makin sesak kalau tegang terus,” tegur perias pengantin lembut sembari memoleskan sentuhan akhir lipstick di bibir Naya.
Naya mencoba tersenyum, namun bibirnya terlalu kaku. Gugup setengah mati adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan gejolak di dadanya. Ini bukan sekadar pernikahan, melainkan sebuah pertunjukan berisiko tinggi di mana kesalahan sekecil apa pun bisa menghancurkan seluruh rencana dan membatalkan pengobatan ibunya.
Pintu ruang rias terdorong pelan. Doni melangkah masuk dengan dokumen di tangannya, disusul oleh sosok tinggi tegap yang seketika menyedot seluruh udara di dalam ruangan.
Arka.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam buatan penjahit Italia ternama, dipadukan dengan kemeja putih kaku dan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna. Ketegasan wajahnya terpancar semakin kuat. Tanpa mengacuhkan para perias yang langsung menunduk hormat, Arka melangkah mendekati Naya.
Mata Arka menyapu penampilan Naya dari ujung kepala hingga ujung gaun A-line yang menjuntai indah. Sepersekian detik, ada jeda samar di mata pria itu, sebuah kilatan impresi yang dengan cepat ia sembunyikan di balik tatapan dinginnya yang biasa.
“Tinggalkan kami sebentar,” perintah Arka datar pada para staf rias.
Setelah pintu kembali tertutup rapat, Arka berjalan mendekati kursi Naya. Ia menatap Naya tepat di manik mata melalui pantulan cermin.
“Tanganmu gemetar,” ujar Arka pelan, mengamati jari-jari Naya yang meremas gaunnya erat-erat.
“Saya... saya hanya takut salah atau canggung saat pengucapan janji nanti, Mas,” bisik Naya jujur, suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.
“Di luar sana ada ratusan tamu dan puluhan kamera media.”
Arka menghela napas tipis. Untuk pertama kalinya, jemari Arka terulur, menggenggam jemari Naya yang dingin. Genggamannya hangat, kuat, dan penuh kepastian yang tak terduga.
“Dengar saya, Naya,” kata Arka dengan nada rendah namun penuh penekanan.
“Di luar sana, kamu tidak perlu berakting menjadi pengantin paling bahagia di dunia. Kamu hanya perlu percaya pada saya. Tatap mata saya kalau kamu merasa cemas, dan biarkan saya yang mengendalikan keadaan.”
Naya menatap pantulan wajah Arka di cermin. Rasa hangat dari genggaman tangan Arka perlahan merayapi lengannya, sedikit mengikis rasa takut yang menyelimutinya.
“Ingat untuk apa kamu berdiri di sini hari ini,” lanjut Arka, suaranya melembut tipis.
“Ibumu sudah mendapatkan perawatan terbaik di ruang pemulihan. Tugasmu sekarang hanya berjalan di samping saya dan menyelesaikan prosesi ini.”
Naya mengangguk pelan, mengumpulkan sisa keberanian di dalam dirinya. “Baik, Mas Arka.”
Ketukan pintu yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan. Doni melongokkan kepalanya dari balik pintu. “Pak Arka, Mbak Naya... Petugas catatan sipil, penghulu, dan para saksi dari keluarga besar sudah siap di area utama. Waktunya tiba.”
Arka menegakkan tubuhnya kembali, lalu mengulurkan tangannya pada Naya.
Naya menghirup napas panjang, membiarkan jemarinya berlabuh di atas telapak tangan Arka. Saat pintu terbuka lebar dan cahaya lampu kilat mulai menyambar dari kejauhan, Naya menyunggingkan senyumnya, siap melangkah masuk ke dalam sangkar emas Dirgantara.
*
*
Pintu ganda setinggi tiga meter itu terdorong terbuka. Gemerlap lampu kristal dari langit-langit grand ballroom menyambut mereka, memantulkan ribuan titik cahaya pada ratusan pasang mata yang kini tertuju penuh ke arah lorong utama.
Kilatan lampu kamera media langsung menyerbu tanpa jeda, menciptakan sensasi silau yang hampir membuat Naya memejamkan mata.
Namun, genggaman Arka di jemarinya mengencang tipis, sebuah instruksi tanpa suara yang menahan fokusnya.
Naya menyelaraskan langkahnya dengan Arka, menelusuri karpet merah yang ditaburi kelopak mawar putih. Setiap jepretan kamera dan bisik-bisik dari deretan tamu VIP terasa seperti paparan radiasi yang menguji ketahanannya.
Di barisan depan, nampak wajah-wajah familiar dari kalangan elite bisnis dan politisi kenamaan, termasuk beberapa kerabat keluarga Dirgantara yang menatap Naya dengan bauran rasa ingin tahu, kecurigaan, dan penilaian yang dingin.
“Tatap ke depan. Senyum tipis saja,” bisik Arka hampir tanpa menggerakkan bibirnya saat mereka melewati barisan wartawan di tepi pembatas.
Naya mematuhi. Ia menarik sudut bibirnya, menampilkan senyum anggun yang sudah ia latih berulang kali di depan cermin kamar kosnya. Di balik senyum itu, otaknya terus merapalkan doa untuk kesembuhan ibunya.
Di ujung lorong, meja akad telah ditata megah di atas panggung berlatar instalasi bunga segar. Penghulu dan para saksi, termasuk nenek Arka, Oma Soraya, yang duduk dengan anggun berbalut kebaya mewah.
Saat Arka dan Naya mengambil tempat duduk, suasana ruangan mendadak hening. Frekuensi ketegangan di udara meningkat drastis.
Prosesi dimulai dengan pembacaan ayat suci yang bergema lembut, menciptakan jeda sakral di tengah kemewahan yang ambisius. Naya merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya saat penghulu mulai membuka dokumen pernikahan dan meminta Arka menjabat tangannya.
Arka mengulurkan tangan kanannya tanpa ragu. Gerakannya tenang, presisi, dan memancarkan dominasi yang mutlak.
“Saudara Arka Dirgantara bin Irwan Dirgantara..." suara penghulu terdengar tegas melalui mikrofon, membacakan rincian mas kawin fantastis yang telah disiapkan keluarga Dirgantara.
Naya menahan napasnya. Jarinya meremas pinggiran kain gaun di bawah meja. Ini adalah detiknya.
“...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Naya Kirana binti Rahmad...”
“Saya terima nikah dan kawinnya Naya Kirana binti Rahmad dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Ucapannya meluncur dalam satu helaan napas, lancar, tegas, tanpa jeda sedikit pun. Tidak ada keraguan dalam intonasinya.
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!”
Gema kata 'sah' dari para saksi dan tamu undangan bergetar di dada Naya. Dalam hitungan detik, statusnya berubah total. Ia bukan lagi sekadar gadis biasa yang berjuang membayar tagihan rumah sakit, ia kini secara hukum adalah istri dari pewaris tunggal Dirgantara Group.
Doa penutup dipanjatkan. Saat diminta menandatangani berkas pernikahan, jemari Naya sempat bergetar tipis di atas kertas berharga tersebut, namun tanda tangannya berhasil terukir rapi di samping tanda tangan Arka.
“Silakan, pengantin pria menyerahkan mas kawin dan memasangkan cincin,” instruksi penghulu.
Arka berbalik menghadap Naya. Dari kotak beludru hitam di meja, ia mengambil sebuah cincin platina bermata berlian potong emerald yang berkilau sempurna.
Ia meraih tangan kiri Naya, lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Kini giliran Naya. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia mengambil cincin milik Arka dan menyematkannya ke jari manis pria itu. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan halus yang membuat napas Naya tertahan sejenak.
“Sekarang, dipersilakan untuk mencium kening istrinya.”
Riak heboh pelan terdengar dari arah tamu undangan. Lampu kilat kamera kembali menyambar-nyambar panik.
Naya mendongak mendapati wajah Arka mendekat. Aroma kayu cendana dan citrus dari parfum pria itu memenuhi inderanya.
Arka meletakkan kedua tangannya di sisi wajah Naya, memegang pelipisnya dengan kehangatan yang kontras dari tatapan matanya.
Pria itu menunduk dan mendaratkan kecupan hangat di kening Naya. Lama.
Cukup lama untuk memberi kesempatan bagi puluhan fotografer mengabadikan momen 'romantis' tersebut.
“Selamat datang di dunia saya, Naya,” bisik Arka tepat di telinganya saat menarik diri kembali. Suaranya begitu pelan, hanya diperuntukkan bagi Naya seorang, membawa nada peringatan sekaligus perlindungan yang terselubung.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak