Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Dia menatap tangan anak SMA itu lalu menatap mesin basket di seberang sana.
Otak cerdas Dewa langsung menghubungkan semua ucapan adiknya.
"Oh, jadi begitu caramu menang selama ini pecundang?" tanya Dewa dengan senyum sinis yang sangat menyeramkan.
"Kau merusak sensor mesinnya agar siapapun yang melawanmu pasti kalah skor."
Anak jabrik itu mundur selangkah dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
"B-bukan begitu, anak kecil ini cuma asal bicara!" elak anak itu terbata-bata.
Dewa berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati anak SMA itu.
Tinggi Dewa memang masih anak SMP, tapi aura mengintimidasi miliknya setara dengan pembunuh bayaran.
"Kau sudah berani menggebrak mejaku dan membentak adikku," desis Dewa tepat di depan wajah anak jabrik itu.
"Sekarang aku terima tantanganmu, kita main di mesin ujung yang sensornya belum kau rusak."
Anak jabrik itu menelan ludah dengan susah payah tapi gengsinya terlalu tinggi untuk menolak.
"B-baiklah! Ayo kita tanding di mesin sana, siapa takut!" tantangnya mencoba berani.
Dewa menoleh ke arah Lula yang masih duduk memakan es krimnya.
"Kau tunggu di sini sebentar ya, Kakak mau menghancurkan orang sombong ini dulu," pesan Dewa dengan nada yang melembut.
Lula mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Semangat Kak Dewa! Kak Dewa pasti menang!" sorak Lula memberi dukungan.
Dewa dan tiga anak SMA itu berjalan menuju mesin basket di ujung ruangan.
Banyak pengunjung mall yang mulai berkerumun karena penasaran melihat tanding basket arcade itu.
Ting.
Mesin mulai menyala dan bola-bola basket mulai berjatuhan ke bawah.
Waktu yang diberikan hanya enam puluh detik.
Anak jabrik itu mulai melempar bola dengan terburu-buru.
Beberapa bolanya meleset dan memantul keluar ring karena dia terlalu panik melihat wajah tenang Dewa.
Di sisi lain, Dewa mengambil bola dengan sangat santai.
Wus. Wus. Wus.
Gerakan tangan Dewa sangat cepat dan presisi.
Setiap bola yang dia lempar masuk dengan mulus ke dalam ring tanpa menyentuh besi sekalipun.
Layar skor di atas mesin Dewa bertambah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Lima puluh poin, delapan puluh poin, seratus dua puluh poin.
Pengunjung mall yang menonton mulai bersorak kagum melihat permainan anak SMP itu.
"Wah gila, anak itu seperti atlet profesional!" puji seorang pemuda dari kerumunan.
Anak jabrik di sebelahnya semakin panik dan lemparannya semakin kacau balau.
Teng teng teng.
Waktu habis dan mesin berhenti berbunyi.
Skor akhir menunjukkan anak jabrik itu hanya mendapat empat puluh poin.
Sedangkan layar skor milik Dewa menunjukkan angka dua ratus lima puluh poin.
Itu adalah rekor tertinggi yang belum pernah dicapai siapapun di tempat ini.
Dewa menepuk tangannya membersihkan debu lalu menatap anak jabrik yang sedang mematung itu.
"Skor yang sangat menyedihkan untuk ukuran anak SMA," ejek Dewa tanpa ampun.
"Sekarang mana seratus koin emasku sesuai perjanjian tadi?" tagih Dewa sambil menengadahkan tangan.
Ketiga anak SMA itu gemetar ketakutan dan buru-buru merogoh saku celana mereka.
Mereka menyerahkan sebuah kantong kecil berisi seratus koin emas arcade ke tangan Dewa.
"I-ini koinnya, kami mengaku kalah," ucap anak jabrik itu dengan wajah memerah karena malu.
Dewa menimbang kantong koin itu lalu tersenyum meremehkan.
"Satu hal lagi, kau lupa hukumanmu kalau kalah," ancam Dewa dingin.
Anak jabrik itu mengingat perjanjian konyol yang dia buat sendiri tadi.
Dia harus sujud minta maaf di depan semua orang.
Dengan sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur, anak SMA itu berlutut di lantai.
"Maafkan aku, aku memang pembohong dan pecundang," ucap anak itu dengan suara bergetar menahan tangis.
Para pengunjung mall menyoraki anak-anak nakal itu sampai mereka akhirnya lari terbirit-birit keluar mall.
Dewa hanya mendengus geli lalu berjalan kembali ke meja tempat Lula berada.
Lula bertepuk tangan heboh menyambut kedatangan kakaknya.
"Kak Dewa hebat sekali! Masukin bolanya seperti kilat!" puji Lula kegirangan.
Dewa meletakkan kantong koin emas itu di atas meja tepat di depan Lula.
"Ini seratus koin untukmu, kau boleh main capit boneka atau main tembak-tembakan sepuasnya," kata Dewa sambil tersenyum tipis.
Mata Lula berbinar sangat terang melihat koin emas yang berkilauan itu.
"Wah koinnya banyak sekali! Lula mau main capit boneka kelinci Kak!" seru Lula antusias.
Dewa mengacak rambut adiknya pelan.
"Habiskan dulu es krimmu, baru kita main sampai mall ini tutup," suruh Dewa yang mulai tertular sifat memanjakan Adrian.
Setengah jam kemudian, Dewa dan Lula sudah berdiri di depan mesin capit boneka.
Mesin itu berisi puluhan boneka kelinci berwarna merah muda yang sangat lucu.
Lula mencoba menggerakkan tuas mesin itu tapi tangannya selalu meleset.
"Susah sekali Kak Dewa, bonekanya tidak mau ditangkap," keluh Lula cemberut setelah gagal sepuluh kali.
Dewa menghela nafas panjang dan berdiri di belakang punggung adiknya.
Dia memegang tangan kecil Lula yang sedang memegang tuas kendali.
"Perhatikan baik-baik cerewet, capit ini sengaja dibuat licin oleh tokonya," jelas Dewa dengan sabar.
"Kita harus mengincar bagian leher bonekanya agar tidak mudah jatuh."
Dewa membimbing tangan Lula untuk mengarahkan capit itu tepat di atas boneka kelinci yang paling besar.
"Sekarang tekan tombolnya yang kuat," perintah Dewa.
Tek.
Lula menekan tombol merah besar itu.
Capit besi itu turun perlahan dan mencengkeram leher boneka kelinci itu dengan sangat kuat.
Boneka itu terangkat naik dan bergerak menuju lubang hadiah.
Bruk.
Boneka kelinci merah muda itu jatuh dengan sempurna ke dalam lubang pengambilan.
"Horeee! Lula dapat boneka kelinci!" teriak Lula kegirangan sambil melompat-lompat.
Dewa mengambil boneka itu dan menyerahkannya kepada Lula.
"Ini hadiah karena kau sudah memberitahuku soal kecurangan preman tadi," kata Dewa gengsi.
Lula memeluk boneka kelinci itu erat-erat dan menatap Dewa dengan senyum paling manis.
"Terima kasih Kak Dewa, Kak Dewa memang ksatria paling hebat!" puji Lula tulus.
Wajah Dewa kembali memerah mendengar pujian itu.
Dia buru-buru memasukkan tangannya ke dalam saku dan membalikkan badannya.
"Ayo kita pulang sekarang, Cakra pasti sudah menangis mencarimu di rumah," ajak Dewa mengalihkan pembicaraan.
Lula mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki Dewa sambil memeluk bonekanya.
Dewa mungkin memiliki mulut yang jahat dan suka berkelahi di luar sana.
Tapi bagi Lula, kakak bungsunya itu adalah pelindung yang sangat bisa diandalkan.
Dewa akan selalu pasang badan di depan untuk menghancurkan siapapun yang berani mengganggu adiknya.
Sore itu, mobil van hitam keluarga Ayodhya melaju tenang membelah jalanan Jakarta.
Lula tertidur pulas di kursi belakang dengan kepala bersandar pada lengan Dewa.
Dewa sama sekali tidak bergerak agar adiknya bisa tidur dengan nyaman.
Bahkan Dewa diam-diam memakaikan jaketnya sebagai selimut untuk menutupi tubuh Lula agar tidak kedinginan.
Hari-hari yang damai ini adalah harta paling berharga yang selalu Dewa jaga dengan nyawanya.
Dan Dewa bersumpah, siapapun yang berani merusak kedamaian ini akan berhadapan dengan sisi iblisnya.