Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
.
Reno menatap layar ponselnya dengan wajah merah padam. Panggilannya kembali diputus secara sepihak oleh Alena untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi nomor yang baru saja ia beli langsung diblokir oleh Alena.
"Brengsek!"
Reno mengumpat sambil melempar ponselnya ke atas sofa. Napasnya memburu karena emosi yang semakin sulit dikendalikan. Sejak kemarin ia terus mencoba menghubungi Alena menggunakan nomor yang berbeda, tetapi semuanya berakhir dengan hal yang sama. Alena tidak mau berbicara dengannya, dan nomornya diblokir.
Yang membuat Reno semakin kesal adalah ucapan Alena yang terus terngiang di kepalanya. Hubungan mereka sudah berakhir. Alena bahkan mengatakan bahwa dirinya telah menentukan pilihan.
"Pilihan apa?!" geram Reno sambil berdiri. "Kamu pikir aku akan membiarkan semuanya berakhir begitu saja?"
Reno mengepalkan tangannya erat. Pria itu masih meyakini satu hal, Alena hanya sedang marah, dan kemarahan itu hanya sementara. Bagaimanapun juga, mereka telah bersama selama tiga tahun. Tidak mungkin semua yang mereka lalui bisa berakhir hanya karena satu kejadian.
Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Alena sama sekali tidak mau mendengar penjelasan. Apakah gadis itu benar-benar sudah mengambil keputusan?
Reno menggeram pelan lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Selama ini gadis itu selalu lebih dulu mengalah setiap kali mereka bertengkar. Karena itu Reno masih merasa yakin bahwa Alena hanya sedang terbawa emosi. Namun, mengapa sekarang gadis itu sampai memblokir semua nomor yang digunakannya?
“Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera menemukan Alena, atau aku akan benar-benar kehilangan segalanya."
Pria itu mengambil kembali ponselnya lalu memanggil Roni untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan memanggil saya?"
"Aku menyuruhmu untuk mencari Alena kemarin? Bagaimana hasilnya?"
Roni sempat terdiam beberapa saat sebelum kemudian menatap atasannya dengan sedikit ragu. "Kami belum bisa menemukan Nona Alena,” jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Belum?” tanya Reno seraya mengerutkan kening.
"Saya sudah mencoba menghubungi beberapa orang yang biasa berhubungan dengan Nona Alena. Tidak ada yang tahu beliau pergi ke mana setelah meninggalkan rumah. Saya juga sudah mencoba melacak nomor ponselnya, tetapi tidak berhasil. Nomornya masih aktif, hanya saja lokasinya tidak bisa kami dapatkan."
Jawaban Roni membuat Reno terdiam.
Roni memperlihatkan layar ponselnya kepada Reno. "Saya merasa keberadaan Nona Alena sengaja ditutupi."
Kening Reno semakin berkerut mendengar kata-kata Roni.
"Biasanya setidaknya kami bisa mendapatkan perkiraan lokasi dari sinyal ponsel atau aktivitas digitalnya. Tapi kali ini tidak ada. Bahkan beberapa informasi yang biasanya mudah ditemukan juga seperti menghilang."
Reno mengambil ponsel dari tangan Roni dan menatap layar tersebut dengan raut tidak percaya. Sedetik kemudian pria itu menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin? Seorang Alena tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu."
Reno tahu betul Alena memang cerdas. Tetapi kemampuan gadis itu tidak mungkin setinggi itu hingga sampai mampu menghilangkan jejak digitalnya sendiri. Walaupun gadis itu memang sengaja ingin bersembunyi darinya, tidak mungkin bisa membuat keberadaannya benar-benar tidak terlacak.
"Apa mungkin ada orang yang membantunya untuk menghilangkan jejak?”
"Sepertinya begitu, Tuan."
Reno mengepalkan tangannya. Rahang pria itu mengeras dengan mata yang berkilat tajam. "Cari lagi! Periksa semua tempat yang biasa dia datangi.”
Roni mengangguk. "Saya akan mengusahakannya. Apakah Tuan memiliki petunjuk? Atau barangkali Tuan tahu suatu tempat yang menjadi favorit Nona Alena?"
Reno tertegun mendengar pertanyaan Roni. Tempat favorit Alena? Tiba-tiba ia merasa bodoh. Ia sama sekali tidak tahu tempat yang menjadi favorit Alena. Selama tiga tahun berpacaran, hanya Alena yang selalu berusaha menyenangkan dirinya.
Sementara dia, yang banyak dia hafal adalah Selena. Warna kesukaan Selena, lagu favorit Selena, makanan favorit Selena. Semua Dia tahu. Sedangkan Alena… dia benar-benar buta. Apakah dirinya memang seburuk itu, hingga Alena memilih menyerah dengan hubungan mereka?
Reno menggelengkan kepala, berusaha menyangkal fakta tersebut.
*
*
*
Waktu berjalan hingga akhirnya jam makan siang tiba. Sebagian besar karyawan mulai meninggalkan meja masing-masing untuk menuju kantin atau restoran yang berada tidak jauh dari gedung perusahaan. Suasana lantai eksekutif yang biasanya tenang pun semakin sepi karena beberapa orang memilih makan di luar.
Di dalam ruangannya, Alena baru saja membuka kotak makan siangnya ketika telepon dari meja kerjanya berbunyi. Gadis itu menghela napas panjang,.sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya.
Dan benar saja, ketika mengangkat telepon dan mendekatkannya ke telinga… "Ke ruangan ku, sekarang!" Suara Nathan terdengar dari seberang.
Alena menutup matanya sejenak. Sejak pagi ia sudah dibuat capek mondar-mandir, dan sekarang dipanggil lagi? Namun karena tidak ingin membuat masalah di hari pertamanya bekerja, Alena akhirnya hanya menjawab dengan satu kata.
“Baik."
Gadis itu segera berdiri dan berjalan menuju ruangan Nathan.
Begitu pintu terbuka, aroma makanan langsung menyambutnya. Alena mengedarkan pandangan. Dan benar saja. Di atas meja kaca yang berada tidak jauh dari meja kerja Nathan, telah tersedia beberapa hidangan makan siang yang terlihat cukup menggugah selera.
Nathan sendiri sudah duduk di sofa sambil menikmati makan siangnya.
"Anda memanggil saya?" tanya Alena.
"Ke sini,” jawab Nathan sambil mengangguk. Lalu menunjuk meja di hadapannya dengan dagunya begitu Alena sudah mendekat..
Alena yang masih belum paham mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah pria itu. "Maaf?"
"Cicipi makanan itu."
Alena terbelalak mendengar perintah Nathan. Tadi pagi disuruh mencicipi kopi, lalu sekarang makanan. Apa benar ini memang termasuk tugasnya sebagai asisten pribadi? Gadis itu mulai mengingat-ingat, sepertinya dia dulu tidak pernah bersikap seperti itu pada asistennya.
"Kenapa saya harus mencicipi makanan Anda?"
Nathan menatap gadis itu seraya mengangkat alisnya. “Kamu lupa tugasmu adalah memastikan aku baik-baik saja?”
Alena menatap Nathan tidak percaya. Jadi pria ini benar-benar serius? "Kenapa tidak meminta bagian keamanan memeriksa makanan Anda?"
"Lalu aku memberikan kamu gaji yang besar gunanya untuk apa?"
Jawaban Natan benar-benar membuat Alena ingin melepas sepatunya kemudian melemparkannya ke kepala bos nya itu. Tetapi sayang, itu hanya niat yang tak berani ia realisasikan. Akhirnya gadis itu menarik napas panjang, kemudian mengambil sendok yang berada di atas meja.
"Yang mana yang harus saya cicipi?"
"Yang itu." Nathan menunjuk salah satu hidangan.
Alena mengambil sedikit makanan menggunakan sendok, kemudian mencicipinya.
"Bagaimana?" tanya Nathan.
"Aman."
"Bagus,” ucap Nathan kemudian menunjuk makanan lainnya.
Menahan agar dirinya tidak mendengus kesal, Alena kembali mencicipi makanan yang ditunjuk oleh Nathan. Dan begitu seterusnya hingga semua makanan yang ada di atas meja selesai dia cicipi kemudian berkata, “AMAN."
Nathan kemudian mengulurkan tangan mengambil sendok yang baru saja digunakan Alena. Lalu mengambil makanan dan menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.
Seketika itu juga Alena terbelalak lebar. Matanya menatap sendok itu dengan jantung berdetak kencang. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Ini bahkan lebih parah daripada kejadian kopi tadi pagi.
"Tuan..." panggil Alena dengan suara pelan.
"Apa kamu tidak bisa duduk? Leherku sakit setiap kali harus mendongak untuk melihatmu,” ucap Nathan masih sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tanpa menoleh ke arah Alena.
"Kenapa Anda menggunakan sendok itu?" tanya Alena setelah duduk di salah satu sofa tak jauh dari Nathan
"Kenapa memangnya?" tanya Nathan cuek.
"Itu..." Alena menatap sendok tersebut dengan wajah mulai memerah. "Itu baru saja saya gunakan."
Nathan terdiam beberapa detik. Lalu melirik ke arah Alena seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau aku mengambil sendok baru, bagaimana kalau sendok yang baru ada racunnya?”
Alena terdiam. Jawaban itu memang masuk akal. Tetapi entah kenapa justru membuatnya semakin kesal. Mana ada orang yang berniat meracuni bosnya secara terang-terangan? Apa mereka bosan hidup? Apakah sebenarnya Nathan memang sengaja mengerjai dirinya?
"Tapi…”
Hap.
Belum sempat Alena melanjutkan ucapannya, Nathan dengan cepat memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulut Alena, membuat gadis itu terdiam dengan mata Alena melotot lebar. Dia makan dari sendok yang sama dengan Nathan?
Sambil mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya, pikiran gadis itu tiba-tiba berkelana ke arah Selena. Bagaimana reaksi Selena jika mengetahui bahwa dirinya disuapi oleh Nathan?
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣