Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Yang Tak Lagi Disangkal
Lia berbaring di kasur dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang tidak menjawab apa-apa.
Pukul dua dini hari. Hujan sudah berhenti, dan yang tersisa hanya tetes-tetes air dari talang dan detak jam dinding yang terlalu keras. Ia sudah mandi, sudah mengganti baju, sudah menghabiskan segelas air putih, dan tetap tidak bisa memejamkan mata.
Ponselnya bergetar. Sebuah foto masuk dari Basti: dua gelas es teh dan tulang ayam goreng yang berserakan di atas piring, dan di pojok foto, separuh wajah Nica yang tertawa sambil menutupi mulut.
Basti: Dia tertawa dua jam. DUA JAM, Lia. Dan dia minta kita bertemu lagi hari Minggu.
Lia menatap foto itu, dan sesuatu yang hangat mengembang di dadanya.
Lia: Aku bangga sekali padamu.
Basti: Kamu sendiri bagaimana? Lembur?
Jemarinya berhenti di atas layar. Ia mengetik baik-baik saja, menghapusnya, mengetik biasa saja, menghapusnya lagi. Akhirnya ia hanya menulis: Selesai. Aku pulang diantar.
Basti: Diantar siapa?
Lia menatap kata itu lama sekali, lalu mematikan layar.
Ia menarik selimut sampai ke dagu dan menutup mata, seperti anak kecil yang percaya monster tidak akan berani mendekat asal wajahnya tertutup. Tapi yang terlihat di balik kelopak matanya justru kilat putih yang menerangi wajah seseorang, alis yang mengerut cemas, dan sepasang mata yang menatap bibirnya. Bahunya masih terasa berat oleh bekas jas yang tadi bertengger di sana.
Generator, katanya dalam hati, menirukan suara pria itu. Otomatis.
Ia membalikkan badan. Menutup wajah dengan bantal.
Ia bukan perempuan yang mudah goyah. Ia sudah menolak dua lamaran, belasan perjodohan, dan seratus pertanyaan Tante Ratna tanpa sekali pun kehilangan pijakan. Lalu pria itu, di ruangan yang gelap, dengan kalimat sesederhana saya di sini, nyaris membuatnya lupa siapa dirinya.
"Tidak terjadi apa-apa," bisiknya pada kegelapan.
Kegelapan tidak setuju.
* * *
Sabtu pagi, Navin berdiri di depan cermin kamar mandi hotel dan menatap pria yang balik menatapnya. Kantung mata gelap. Rahang tegang. Sudut bibir yang terlalu lama dipaksa datar. Mata merah karena tidak tidur. Ia mencoba mengenali orang itu, dan tidak yakin ia berhasil.
Ia sudah berlari empat puluh lima menit di treadmill. Mengangkat beban sampai lengannya bergetar. Mandi air dingin. Ia bahkan mencoba menghitung ulang seluruh laporan keuangan kuartal lalu, hanya agar kepalanya sibuk dengan angka. Semua itu tidak menghapus satu hal pun: telapak tangan Ophelia yang tadi malam ada di bawah tangannya, dan kata bas yang ia ucapkan dalam tidur.
Ketukan pelan di pintu. "Pak? Saya bawa jadwal."
Dimas masuk membawa tablet dan sekantong kertas dari toko roti. Ia meletakkan kantong itu di meja, lalu membuka tablet. "Pukul tujuh malam, makan malam dengan keluarga Hartanto. Ibu Bapak sudah menelepon tujuh kali sejak pagi dan menyuruh saya menyampaikan bahwa beliau sedang dalam suasana hati yang, kutipan, 'tidak akan baik kalau Navin tidak datang'."
"Batalkan."
"Bapak yakin?"
"Batalkan, Dimas."
"Ibu Bapak akan mengamuk."
"Biar."
Dimas menutup tablet perlahan. Ia mengamati atasannya, lalu tanpa berkata apa-apa menarik kursi dan duduk. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, ia duduk di hadapan Navin tanpa diminta.
"Pak. Bapak ingin bicara?"
Navin tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir kopi di depannya, lalu menyandarkan punggung ke sofa dan menutup mata.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya akhirnya. "Jatuh cinta."
Dimas terdiam sejenak. "Saya pernah, Pak. Waktu kuliah. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang belum pernah kita punya."
"Itu terdengar menyedihkan."
"Memang menyedihkan. Tapi juga satu-satunya hal yang membuat saya merasa hidup."
Navin membuka mata. "Kalau saya bilang, saya menyukainya."
"Bapak baru saja mengatakannya."
Sunyi.
Navin menatap Dimas, dan Dimas menatap balik dengan tenang, tanpa senyum, tanpa ejekan, hanya dengan kesabaran seorang teman yang sudah menunggu sangat lama.
Ia menghembuskan napas panjang. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencari kata lain.
"Aku menyukainya."
"Ya, Pak." Dimas mengangguk pelan. "Saya sudah menulis sepuluh halaman soal ini, Pak, tapi tidak pernah berharap Bapak akan mengatakannya keras-keras."
"Tidak. Bukan menyukai." Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. "Aku..."
Kata itu tersangkut. Ia mencoba lagi, lalu berhenti.
"Sejak kapan, Pak?" tanya Dimas lembut.
"Aku tidak tahu."
"Bapak tahu."
Navin terdiam. Ia menatap tirai jendela yang bergoyang tertiup pendingin ruangan, dan dalam kepalanya, adegan itu bermunculan satu per satu seperti kartu yang dibuka. Seorang perempuan berdiri di barisan kedua lobi, tidak menunduk. Satu detik. Mata yang menatap lurus ke dinding di belakang bahunya. Perasaan aneh di dada yang ia sebut jengkel.
"Sejak lobi," ucapnya pelan. "Hari pertama. Sejak dia tidak menunduk."
"Bapak jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Aku menyebutnya iritasi."
"Bapak menyebutnya banyak hal."
"Dan kalimat itu." Suaranya pecah. "Yang kuucapkan di ruangan Bu Retno. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya tahu setiap kali dia menatapku, aku merasa tak punya pegangan, dan satu-satunya cara yang kutahu untuk kembali berpijak adalah membuat orang lain merasa lebih kecil." Ia menutup mata. "Dan aku memilih dia. Karena dia satu-satunya yang membuatku merasa kecil."
Dimas tidak menyela.
"Aku jahat padanya, Dimas."
"Iya, Pak."
"Kamu tidak mau membantah?"
"Saya tidak berbohong pada atasan saya."
Navin tertawa, tawa pendek dan getir. Lalu ia terdiam lagi.
"Apa rencana Bapak?" tanya Dimas.
"Ada dua." Ia mengangkat dua jari. "Pertama, aku berhenti. Aku kembali ke Jakarta, aku memindahkan dia ke divisi lain, aku menghilang dari hidupnya. Dia bahagia, aku baik-baik saja."
"Kedua?"
"Aku mengatakannya."
"Mana yang lebih menakutkan?"
"Yang kedua."
"Berarti itu yang benar, Pak."
Navin menatapnya. Perlahan, ia mengangguk.
"Kapan?"
"Waktu terbaik adalah sebelum Bapak kehilangan nyali."
"Senin," ucap Navin. "Sore. Di atap. Kupikir dia suka atap."
Dimas menyimpan itu dalam catatannya, lalu menutup tablet dan menatap atasannya dengan wajah yang penuh keraguan. "Pak, boleh saya memberi saran?"
"Apa?"
"Sebelum Bapak menyatakan perasaan, Bapak sebaiknya minta maaf dulu."
Navin menegang. "Tidak."
"Pak..."
"Kalau aku mulai dengan maaf, aku tidak akan pernah sampai ke bagian berikutnya." Ia berdiri dan berjalan ke jendela. "Aku hanya punya satu kali keberanian, Dimas. Aku tidak mau menghabiskannya di depan pintu."
"Itu artinya Bapak takut, Pak."
"Aku memang takut."
Dimas menghela napas, lalu mengangguk. "Kalau begitu, Pak, saya akan mendoakan yang terbaik."
Ia berdiri dan berjalan ke pintu. Di ambang, ia menoleh sekali lagi.
"Dan Pak?"
"Apa?"
"Bapak sedang gemetar."
Navin menunduk. Tangannya memang bergetar, halus, tapi jelas. Ia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum, senyum kecil yang tulus, senyum yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun.
"Aku tahu," katanya.