NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Kehidupan Baru Ivy

Sementara itu, di sisi lain, Ivy saat ini sedang duduk santai di sebuah kafe kecil yang berada tidak jauh dari tempat tinggal barunya. Di hadapannya terdapat secangkir teh hangat, sementara sebuah majalah terbuka di tangannya.

Ivy benar-benar bisa menikmati hari tanpa harus memikirkan apa yang dilakukan Mateo, keluarganya, atau orang-orang yang selalu menyalahkannya. Sesekali Ivy menyeruput tehnya sambil membalik halaman majalahnya.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Kini tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa takut dan tidak adalah lagi sakit hati akibat melihat suaminya berselingkuh dan tidak pernah mencintai dirinya.

Kini, Ivy mulai menyadari bahwa hidupnya ternyata tidak berakhir hanya karena dia kehilangan pria yang dia cintai. Justru sekarang, dia merasa seperti sedang mendapatkan kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.

“Tenang sekali...” gumam Ivy pelan sambil menatap pemandangan keluar jendela. Dia kemudian tersenyum kecil, ternyata hidup tidak berakhir hanya karena dia memilih untuk bercerai.

“Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu.”

Ivy kembali membaca majalahnya tanpa mengetahui bahwa jauh di tempat lain, mantan mertuanya sedang panik mencarinya.

Mereka baru menyadari betapa pentingnya keberadaan Ivy setelah wanita itu benar-benar pergi. Namun kali ini, Ivy tidak lagi peduli. Dia sudah membuat keputusan, dia ingin menjalani hidupnya sendiri.

Dan kali ini, Ivy merasa bahwa keputusan itu adalah keputusan yang benar-benar dia buat untuk dirinya sendiri.

Sedangkan di seberang jalan cafe itu, sebuah mobil hitam berhenti lalu seorang pria turun dari dalamnya. Dia tidak langsung memasuki kafe itu, pria itu hanya berdiri beberapa saat, sambil memandang ke arah jendela tempat Ivy duduk.

Tangannya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah sedikit kusut. Tatapannya kemudian berpindah dari foto itu ke sosok Ivy yang sedang duduk menikmati tehnya.

“Akhirnya aku menemukanmu juga Ivy...” gumamnya pelan.

Pria yang sedang menatap Ivy itu adalah Edgar Emilio Falcon.

Setelah beberapa detik, Edgar kembali memasukkan foto tersebut ke saku jas miliknya. Dia tidak ingin terburu-buru mendekati Ivy.

Untuk saat ini, cukup baginya memastikan bahwa wanita yang selama ini dicarinya benar-benar ada di sana.

Sementara itu, Ivy sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Dia kembali membaca majalahnya dan menyeruput teh dengan tenang.

Keinginan Ivy kini benar-benar terwujud, ketenangan itu akhirnya benar-benar menjadi miliknya. Andai saja dia tau jika bercerai dari Mateo bisa membuatnya setenang ini, mungkin sejak awal dia sudah meminta cerai pada pria itu. Jika saja dia tidak di butakan cinta sejak awal, bukankah putrinya mungkin tidak akan pernah meninggalkan dirinya.

"Kenapa dulu aku sebodoh itu, hingga mengorbankan hidupku untuk pria yang bahkan tidak pernah mencintaiku." Lirih Ivy.

Sedangkan Edgar masih berdiri di seberang jalan selama beberapa saat, tatapannya tidak pernah lepas dari Ivy. Sebenarnya, dia bisa saja langsung masuk ke dalam kafe dan menghampiri wanita itu. Namun entah mengapa, untuk kali ini Edgar merasa ragu. Setelah semua yang terjadi dalam hidup Ivy, mungkin wanita itu memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Edgar akhirnya berbalik dan kembali menuju mobilnya, namun sebelum masuk ke dalam mobil, dia sempat menoleh sekali lagi.

“Tenang saja Ivy, aku tidak akan mengganggu hidupmu, setidaknya tidak sekarang." Gumam Edgar. Setelah mengatakan itu, Edgar masuk ke dalam mobil dan meminta sopirnya pergi.

Sementara itu, Ivy masih duduk santai di dalam kafe. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang baru saja datang untuk mengamatinya.

Beberapa menit kemudian, Ivy menutup majalah yang dibacanya, dia melihat jam tangannya.

“Sepertinya sudah cukup lama.”

Ivy kemudian memanggil pelayan dan membayar pesanannya. Setelah itu, dia keluar dari kafe sambil membawa tas kecilnya. Angin sore berembus lembut, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan. Ivy tersenyum kecil, entah mengapa, hari itu terasa begitu berbeda. Dia merasa lega, seolah-olah sebuah beban besar yang selama bertahun-tahun menekan dadanya akhirnya terangkat.

Namun ketika Ivy hendak menyeberang jalan, tanpa sengaja dia melihat sebuah mobil hitam yang perlahan menjauh. Ada sesuatu tentang mobil itu yang membuatnya merasa familiar.

Ivy mengernyitkan keningnya.

“Kenapa rasanya aku seperti pernah bertemu orang itu?” Batin Ivy, saat melihat Edgar yang hendak memasuki mobilnya. Dia mencoba mengingat, tetapi tidak menemukan jawabannya.

Akhirnya Ivy menggelengkan kepala.

“Sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal tidak penting seperti itu.”

Dia pun melanjutkan langkahnya, tanpa Ivy ketahui beberapa kilometer dari sana, Edgar sedang duduk di dalam mobil sambil menatap sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan Ivy kecil dan dirinya, Edgar menyentuh foto tersebut dengan ibu jarinya sebelum tersenyum tipis.

“Lama tidak bertemu, Ivy.”

Tatapannya berubah serius.

“Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini? Maafkan aku, karena aku terlambat menemuimu.”

Mobil terus melaju meninggalkan kawasan tersebut.

Keesokan harinya, Ivy kembali keluar dari apartemennya. Sejak memutuskan pergi dari keluarganya, Ivy memang berusaha mengisi hari-harinya dengan hal-hal sederhana. Dia tidak ingin terus memikirkan masa lalu.

Pagi itu, Ivy berjalan menuju sebuah toko buku yang berada tidak jauh dari apartemennya. Dia ingin membeli beberapa buku untuk mengisi waktu luangnya, namun baru beberapa langkah memasuki toko, Ivy tiba-tiba berhenti.

Entah mengapa, dia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ivy menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Dia kemudian melihat ke sisi lain, tapi tetap saja tidak ada orang yang mencurigakan.

“Mungkin perasaanku saja,” gumamnya, lalu Ivy kembali berjalan.

Sedangkan di lantai dua toko itu, Edgar sedang berdiri di dekat sebuah rak buku. Tatapannya terus mengikuti Ivy dari kejauhan, kali ini Edgar tidak langsung pergi, dia memang sengaja datang ke tempat itu.

Setelah mengetahui keberadaan Ivy, Edgar mulai mencari tahu kehidupan wanita itu selama ini. Edgar hanya ingin mengetahui, apa saja yang sudah di alami Ivy selama ini dan saat mengetahui semua itu, Edgar sangat terkejut. Karena ternyata hidup Ivy selama ini tidak bahagia seperti yang dia bayangkan. Orang tuanya tidak pernah menganggap kehadirannya, suaminya mencampakkannya, putrinya meninggalkan nya dan mertuanya tidak memperdulikan nya.

Setiap mengingat hal itu, tangan Edgar mengepal. Dia marah bukan hanya pada orang-orang di masa lalu Ivy, tapi juga pada dirinya. Seandainya dia tidak meninggalkan Ivy dulu, mungkin wanitanya itu tidak akan pernah bersama Mateo. Tapi sayangnya kecelakaan merenggut ingatannya tentang Ivy, tentang masa kecil mereka. Dan dia baru mengingat segalanya sebulan yang lalu, itulah kenapa dia mencari Ivy hingga membawanya ke negara ini. Kali ini Edgar berjanji tidak akan melepaskan Ivy lagi, dia akan melindungi wanitanya itu dengan baik. Tidak ada yang boleh menyakitinya lagi, Edgar juga meminta orang kepercayaannya untuk menutupi keberadaan Ivy dari semua orang di masa lalunya.

Walaupun sorot mata wanitanya itu telah berubah, tapi bagi Edgar dia tetaplah Ivynya, wanita yang dulu menjadi cinta pertamanya.

Tapi kalau di pikir-pikir, Edgar cukup menyukai Ivy yang sekarang.

Dulu, Ivy selalu terlihat seperti seseorang yang berusaha mendapatkan pengakuan dan cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Namun sekarang, dia terlihat jauh lebih tenang.

Seolah-olah sudah tidak peduli apakah orang lain menerimanya atau tidak.

Edgar tersenyum tipis.

“Sepertinya kau sudah banyak berubah.”

Sementara itu, Ivy mengambil sebuah novel dari rak. Saat dia hendak berbalik, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.

“Ah, maaf.”

Buku yang dipegang Ivy hampir jatuh, tetapi sebuah tangan lebih dulu menangkapnya.

“Tidak apa-apa.”

Suara itu membuat Ivy terdiam, dia seperti mengenal suara itu. Ivy menoleh, tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Edgar.

Edgar menatap Ivy beberapa detik sebelum menyerahkan buku tersebut kepadanya.

“Ini milikmu.”

Ivy menerimanya.

“Terima kasih.”

Edgar hanya tersenyum.

“Sama-sama.”

Ivy kemudian hendak pergi.

Namun sebelum dia melangkah lebih jauh, Edgar memanggilnya.

“Anne.”

Langkah Ivy langsung terhenti, dia perlahan berbalik. Menatap Edgar beberapa menit, mencoba mengenali pria di hadapannya itu.

"Anne?” Tanya Ivy dengan jantung berdebar, karena hanya ada satu orang yang memanggilnya Anne, dan dia adalah teman masa kecilnya. Pria gendut yang selalu mengikutinya kemanapun, pria gendut yang menjadi satu-satunya sahabat baiknya.

Mendengar pertanyaan Ivy, Edgar tidak langsung menjawab. Hanya ada senyum tipis di wajahnya, dan saat itulah Ivy mulai menyadari satu hal. Pria di hadapannya ini bukanlah orang asing.

Bersambung

1
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
Putry Chan
dia teman masa kecil lvy dia juga baik lvy sepertinya dia orang yang tepat untuk mu
Putry Chan
apakah ada harapan untuk lvy membangun keluarga lagi ntah lah
Putry Chan
benar lvy seharusnya kau dari dulu melakukan hal ini
Putry Chan
hahahahaha ternyata mereka di kelabui oleh lvy 😄
Putry Chan
ya dia pergi meninggalkan kalian smua termaksud kmu
Putry Chan
mereka ini gak peka atau emg gak punya malu ya lvy itu udah gak mau ketemu sama kalian smua , biarkan dia pergi dan hidup bebas , klo kalian muncul lagi itu malah bikin dia sakit lagi
Putry Chan
lvy ada di Paris dan dia ingin menghilang bagus lvy
Putry Chan
mau menebus dosa klo gitu mati lah
Putry Chan
gak ada kata maaf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!