Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19. Semakin Memburuk
Kenyamanan aneh yang sempat dirasakannya tadi di saat menangkap Dea kini telah lenyap, digantikan oleh kejengkelan yang tidak ia pahami.
Ia baru saja mencegah perempuan itu jatuh. Bukankah seharusnya Dea setidaknya menyadari hal tersebut?
“Cukup!” ucapnya dingin. “Aku bukan sedang menyakitimu.”
Dea mendongak.
Tatapan mereka akhirnya bertemu.
Untuk sesaat, ia seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Ucapan Elden terdengar begitu menohok, hingga membuat sesuatu dalam dirinya terasa semakin hancur. Karena pria itu pernah menyakitinya dengan terang-terangan.
Elden masih belum mengerti. Ia masih berdiri di hadapannya dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan.
Bibir Dea bergetar. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin bertanya apakah Elden masih mengingat malam ketika ia memohon agar dia berhenti. Ingin bertanya apakah Elden pernah memikirkan apa yang terjadi setelah ia meninggalkannya sendirian.
Namun, tidak satu pun kata yang berhasil keluar dari bibirnya.
Dea hanya mampu menatapnya dengan mata basah, sementara jemarinya kembali mengepal di depan dada.
“Aku tidak pernah memintamu untuk membantuku,” ucapnya akhirnya.
Elden menyipitkan mata. “Jadi, kamu lebih suka kubiarkan jatuh ke lantai dibanding aku tangkap?”
“Ya. Harusnya kau biarkan saja karena hatimu telah mati! Itu tak akan lebih sakit dibanding apa yang telah kau lakukan padaku!”
Ellea menggeleng heran. 'Apa yang dilakukan kakak kepadanya? Ia melihat Kak Elden bagai monster yang mengerikan.'
Rahang Elden semakin mengeras. “Oh, baik lah. Setelah ini, apa pun yang terjadi padamu di depan mataku, aku pastikan tak akan melakukan apa pun.”
Ucapan itu membuat Dea menghembuskan napas berat.
Ellea langsung menoleh kepada kakaknya. “Kak Elden, kenapa kamu begitu? Apa yang terjadi setelah kalian menikah?"
Namun, Elden tidak menghiraukan adiknya. Tatapannya tajam kepada Dea. “Sekarang, enyah kau! Aku muak melihat—”
Ucapan Elden terputus.
Tiba-tiba, dadanya terasa seperti diremas dengan sangat kuat. Ia mengernyit, lalu menekan dada sebelah kiri dengan telapak tangannya. Napasnya mendadak pendek, seolah udara di sekitarnya sangat sedikit, hinga tak cukup lagi memenuhi paru-parunya.
“A-apa yang terjadi ….”
Ia mencoba menarik napas lebih dalam, tetapi justru merasakan tekanan yang semakin mengganggu di dadanya.
Ellea yang semula hendak mengejar Dea langsung berbalik.
“Kak Elden?”
Pria itu tidak menjawab. Keningnya berkerut, sementara tangan yang menekan dadanya semakin erat.
“Kak!” Ellea segera merangkul lengan kakaknya ketika tubuh Elden tampak kehilangan keseimbangan.
“Ada apa? Apa yang sakit?”
“Entahlah,” jawab Elden dengan suara tertahan. “Sesak ….”
Wajah Ellea seketika berubah pucat.
Sejak beberapa hari terakhir, kakaknya terus mengeluhkan mual dan muntah. Ia juga kehilangan selera makan dan tampak semakin lemah. Namun, kali ini kondisinya terlihat jauh lebih mengkhawatirkan.
“Kita harus segera memanggil dokter!”
“Tidak perlu.” Elden mencoba menegakkan tubuh, tetapi rasa sesak itu membuatnya kembali membungkuk.
“Jangan keras kepala!” bentak Ellea, panik. “Kakak sudah lebih dari seminggu sakit dan sekarang sampai sesak seperti ini. Apa masih belum cukup untuk membuatmu patuh?”
Elden hendak membalas, tetapi ia tidak mampu menyusun kalimat. Mengatur napas saja, terasa susah.
Ellea segera meminta bantuan petugas rumah sakit yang berada tidak jauh dari mereka.
“Tolong! Kakak saya mengalami nyeri dada dan kesulitan bernapas!”
Seorang perawat bergegas mendekat, disusul petugas lainnya. Mereka meminta Elden duduk dan segera melakukan pemeriksaan awal.
“Sejak kapan nyeri dadanya muncul?” tanya perawat.
“Baru saja,” jawab Ellea cepat. “Sebelumnya dia muntah setiap pagi, dan ini sudah lebih dari seminggu. Dia juga mudah lelah dan susah makan.”
Perawat itu mengangguk, lalu mengarahkan perhatian kepada Elden.
“Pak, apakah nyerinya menjalar ke lengan, rahang, atau punggung? Apakah Anda merasa pusing?”
Elden menjawab sekenanya di sela napasnya yang belum teratur.
“Kami perlu memeriksa Anda sekarang. Jangan berdiri dulu.”
Ketika petugas mulai menangani Elden, Ellea mundur sedikit untuk memberi ruang. Namun, sebelum ia benar-benar menjauh, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok Dea yang masih berada di ujung koridor.
Perempuan itu berhenti. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Ellea bisa melihat bahwa wajah Dea masih pucat. Tangannya mencengkeram tali tas, sedangkan bahunya masih terlihat tegang. Ia belum sepenuhnya pulih dari kejadian tadi.
“Kak—”
Ellea hampir memanggilnya, tetapi ia teringat kondisi Elden yang sedang ditangani para petugas.
Di satu sisi, Dea masih terlihat ketakutan saat bertemu Elden. Di sisi lain, Elden kini kesulitan bernapas di hadapannya.
Ellea mengepalkan jemarinya. Ia pun merasa bingung harus berbuat apa. Akhirnya, ia memutuskan kembali berada di dekat kakaknya.
“Kak Dea!” Ia berusaha menahan Dea. “Tunggu sebentar!”
Namun, Dea menggeleng pelan. “Maaf, aku tak bisa. Aku harus pergi.”
Suaranya terdengar lemah, tetapi keputusannya begitu tegas.
Ellea ingin mengejarnya, tetapi seorang petugas meminta bantuan untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi Elden kepada dokter yang akan menangani pemeriksaan lebih lanjut.
Ketika Ellea kembali menoleh, Dea sudah jauh. “Kak Dea, tunggu!”
Perempuan itu tak berhenti sama sekali. Ia terus berjalan menyusuri koridor, semakin jauh dari tempat Elden dirawat.
Ellea hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan tidak menentu.
Dea berjalan secepat yang ia mampu.
Setiap langkah terasa berat. Napasnya perlahan mulai membaik, tetapi dadanya masih terasa sesak akibat ketakutan yang belum sepenuhnya mereda.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella