Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.
Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.
Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.
Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.
Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.
BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intruksi Langsung
Dia hanya ingin pergi dengan tenang. Menghilang kembali ke kota lain yang lebih jauh, mencari pekerjaan kasar lain, asalkan dia tidak perlu berdiri di bawah bayang-bayang Abraham Group.
Asalkan dia tidak perlu menanggung risiko berpapasan dengan Gavin Alvaro Abraham, pria yang namanya saja sudah cukup membuat dadanya berdenyut nyeri karena rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Mengapa dia pergi, apa yang sebenarnya menimpa keluarganya, dan ancaman mengerikan apa yang ia telan sendirian tiga tahun lalu, biarlah semua itu terkunci rapat di dasar hatinya, menjadi rahasia abadi yang akan ia bawa sampai mati. Gavin tidak perlu tahu. Gavin hanya perlu membencinya dan tetap bersinar di atas takhtanya yang tinggi.
Namun, takdir tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana manusia yang tak berdaya.
Hari Senin yang menegangkan itu akhirnya tiba. Langit Jakarta pagi ini tampak sedikit mendung, seolah turut mendukung suasana hati Safira yang diselimuti kabut kecemasan.
Di dalam kamar kos nomor enam, Safira berdiri di depan cermin kecilnya. Hari ini dia harus berpenampilan rapi karena membawa nama baik instansi lamanya ke gedung pusat.
Dia memilih mengenakan kemeja kerja berwarna putih polos yang sudah agak pudar, dipadukan dengan rok span hitam selutut yang sederhana. Rambut panjangnya yang biasa diikat kuda, kini ia sanggul rapi ke belakang dengan jepit hitam polos, menampilkan leher jenjangnya yang putih bersih.
Tidak ada perhiasan emas, tidak ada jam tangan mewah yang ada hanya ada seulas bedak tipis dan pelembap bibir alami yang membuat wajah anggunnya terlihat sangat bersahaja namun tetap memancarkan aura kelembutan wanita berpendidikan.
"Ayo, Safira. Kamu pasti bisa melewati hari ini. Ini hari terakhirmu," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin, mencoba menyuntikkan keberanian palsu ke dalam hatinya yang sedang bergetar hebat.
Sesampainya di kantor kecil mereka pukul tujuh pagi, suasana sudah sangat sibuk. Sebuah bus mikro sewaan berukuran sedang sudah terparkir di depan gerbang.
Pak Bambang dengan setelan jas lamanya yang tampak sedikit kedodoran sibuk memberikan instruksi, sementara Bu Lastri tampak bolak-balik memeriksa tas kerjanya dengan wajah tegang.
"Safira! Bagus, kamu sudah datang." puji Pak Bambang saat melihat kedatangan staf kepercayaannya itu.
"Bagaimana dengan berkas fisik laporan data inventaris yang saya minta kemarin? Sudah dimasukkan ke dalam map jepit?" tanya Pak Bambang mengingatkan agar tidak ada yang tertinggal.
Safira mengangguk anggun, mengangkat sebuah tas jinjing kain tebal yang berisi beberapa map dokumen berwarna biru tua.
"Sudah lengkap semua di sini, Pak Bambang. Data digitalnya juga sudah saya salin ke dalam dua kandar kilas (flashdisk) sebagai cadangan jika nanti sistem proyeksi di sana membutuhkan format yang berbeda." sahut Safira.
"Luar biasa. Kamu memang selalu bisa diandalkan, Fir." ujar Bu Lastri sambil mengusap keringat dingin di dahinya sendiri.
"Aduh, jujur saja saya gemetaran sejak semalam. Kamu tahu sendiri kan, kita ini mau datang ke gedung pusat Abraham Group. Gedung pencakar langit paling elite di pusat kota. Katanya, manajemen di sana sangat disiplin dan tidak mentolerir kesalahan sekecil apa pun." ujar Bu Lastri mengutarakan kegelisahan dan kegugupan nya.
Safira melempar senyuman menenangkan, meskipun di dalam dadanya, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang daripada jantung Bu Lastri.
"Tidak perlu cemas berlebihan, Bu Lastri. Kita datang untuk menyerahkan data yang sah dan jujur. Selama kerja keras kita benar, mereka pasti akan menghargainya." sahut Safira menenangkan atasannya itu.
'Atau mungkin tidak... jika sang penguasa di sana mengetahui siapa aku,' batin Safira perih.
Tepat pukul setengah delapan, seluruh staf inti yang berjumlah sekitar lima belas orang naik ke dalam bus. Safira memilih duduk di barisan paling belakang, dekat jendela. Sepanjang perjalanan membelah kemacetan jalan raya menuju kawasan pusat bisnis Sudirman, Safira hanya diam membisu. Pandangannya lurus menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang perlahan mulai mendominasi pemandangan.
Ketika bus akhirnya memasuki area kompleks perkantoran Abraham Tower, semua orang di dalam bus spontan berdecak kagum.
Sebuah gedung pencakar langit megah berkaca gelap menjulang tinggi menembus awan, dengan pengamanan ketat di gerbang luar. Beberapa petugas keamanan bertubuh tegap dengan seragam rapi memeriksa kendaraan mereka dengan alat pendeteksi logam.
"Wah, megah sekali ya... Lapangan parkirnya saja sebersih ini." bisik Rani, salah satu staf administrasi yang duduk beberapa baris di depan Safira, dengan mata berbinar-binar.
Bus berhenti di area penurunan penumpang khusus tamu eksekutif. Satu per satu staf PT Sinar Abadi Mandiri turun dengan langkah canggung, merasa minder dengan lingkungan sekeliling mereka yang dipenuhi oleh pria dan wanita kantoran kelas atas yang mengenakan setelan jas dan blazer mahal.
Safira turun paling terakhir. Begitu kedua telapak sepatunya menyentuh lantai marmer lobi luar yang mengkilap, embusan angin dari pintu kaca otomatis yang terbuka langsung menerpa wajahnya, membawa serta aroma parfum ruangan yang sangat akrab di indra penciumannya.
Wangi cedarwood dan amber maskulin yaitu aroma khas yang selalu digunakan di seluruh properti milik keluarga Abraham. Aroma yang seketika menarik paksa seluruh kenangan manis masa lalunya, membuat mata Safira berkaca-kaca sesaat sebelum dia mengerjapkannya dengan cepat.
"Rombongan dari PT Sinar Abadi Mandiri?" seorang wanita muda dengan setelan blazer rapi dan memegang sebuah sabak digital mendekati Pak Bambang dengan senyum profesional namun terasa dingin.
"Iya, betul, Mbak. Saya Bambang, manajer operasional." jawab Pak Bambang dengan sikap yang sangat formal dan sedikit membungkuk.
"Baik, Bapak Bambang. Saya sekretaris dari divisi korporat pusat. Jadwal rapat pleno kalian telah dipindahkan dari ruang rapat biasa. Atas perintah langsung dari asisten utama CEO, rapat akan dilaksanakan di Ruang Rapat Utama Eksekutif di lantai tiga puluh." ujar wanita itu sembari memberikan beberapa kartu akses tamu kepada Pak Bambang.
Mendengar kata lantai tiga puluh, Safira merasa seluruh darah di tubuhnya mendesak naik ke kepala. Lantai tiga puluh. Itu adalah lantai tertinggi di gedung ini, lantai di mana kantor CEO utama berada. Tempat di mana Gavin bekerja.
"Lantai tiga puluh, Mbak? Bukankah awalnya dijadwalkan di lantai lima bersama tim divisi logistik menengah?" tanya Pak Bambang, sedikit terkejut karena perubahan skala ruangan yang mendadak terkesan terlalu tinggi untuk perusahaan kecil seperti mereka.
Wanita sekretaris itu hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Ini adalah instruksi langsung dari manajemen tingkat atas, Pak. Seluruh staf yang ada di dalam daftar SDM wajib hadir tanpa terkecuali. Mari, saya antar menuju lift khusus eksekutif." ucap sang sekretaris dengan begitu sopan dan ramah.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kasian ny safira😭😭😭😭