NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Sore itu, vibes di mansion Ezlen lagi bener-bener tenang. Miko dan Mika udah tepar di kamar mereka sehabis sesi berenang siang, dan gue akhirnya bisa me-time di sunroom—ruangan kaca estetik yang menghadap langsung ke taman belakang. Gue duduk nyilangin kaki di atas sofa velvet hijau zamrud, sepotong lemon tart di piring kecil, dan novel di pangkuan. Sinar matahari sore nembus kaca, ngasih filter golden hour alami yang bikin suasana chill banget.

​Sampai akhirnya, ketenangan itu dihancurkan paksa oleh suara deru mesin motor gede yang melengking nggak sopan dari arah driveway.

​Gue mendesah pelan, nutup novel dengan satu gerakan malas. Bahkan dari jarak sejauh ini, gue tahu persis siapa yang datang. Bau masalahnya udah kecium sampai sini.

​Nggak butuh waktu lama buat suara langkah sepatu boots berat menggema di lorong marmer, disusul decakan lidah yang khas. Pintu kaca sunroom digeser dengan kasar.

​"Wow. Pemandangan macam apa ini? Bidadari lagi santai sore?"

​Gue mendongak, dan yep, tebakan gue seratus persen akurat. Mexim Ezlen.

​Adik ipar gue ini literally definisi dari walking red flag. Umurnya baru dua puluh dua, mahasiswa tingkat akhir yang lebih sering cabut ke sirkuit ketimbang masuk kelas. Hari ini dia pakai jaket kulit hitam yang membalut kaus putih polos—yang sialnya ngebentuk postur tubuhnya dengan sempurna—celana jeans sobek di lutut, dan rambut hitamnya berantakan gaya messy wet look karena habis lepas helm.

​Secara visual, Mexim itu versi lebih muda, lebih liar, dan lebih chaotic dari March. Kalau March itu es batu di dasar lautan, Mexim ini api unggun yang disiram bensin.

​Alih-alih panik atau salting kayak Chloe di plot aslinya, gue cuma menatapnya datar. Gue raih cangkir teh porselen di meja, menyesapnya pelan tanpa repot-repot nawarin dia duduk. "Kalau lo ke sini cuma buat ngotorin lantai rumah pakai sepatu lo itu, better you leave, Mex."

​Mexim terkekeh. Suara tawanya berat, serak, dan jujur aja... agak bikin bulu kuduk meremang. Bukannya tersinggung, cowok itu malah melangkah maju. Matanya yang gelap, lebih pekat dari mata hazel gue atau mata elang kakaknya, ngunci tatapan gue lekat-lekat. Kayak predator yang nemu mangsa favoritnya.

​Dia berhenti tepat di depan gue. Terlalu dekat. Invading my personal space. Dengan gerakan santai yang kelewat kurang ajar, Mexim mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertumpu di lengan sofa tempat gue duduk, mengurung gue di tengah-tengah. Aroma tajam dari cologne maskulin yang bercampur wangi nikotin dan mint langsung menampar indra penciuman gue.

​"Galak banget sih, Kakak Ipar," bisiknya, suaranya sengaja direndahkan sampai terdengar serak di telinga gue. Sudut bibirnya melengkung ngebentuk smirk miring. "Padahal semalam pas lo lagi senyum-senyum sendiri di balkon kamar jam dua pagi, lo kelihatan manis banget. Dress tidur satin warna champagne itu... damn, it fits you perfectly."

​Deg.

​Jantung gue seakan berhenti berdetak satu sekon. Tangan gue yang lagi megang cangkir teh otomatis menegang. Balkon kamar? Jam dua pagi? Semalam gue emang keluar ke balkon sebentar buat cari angin, dan jarak balkon gue ke pagar luar mansion itu lumayan jauh. Nggak mungkin ada orang yang bisa lihat detail pakaian gue kecuali dia bener-bener...

​He was stalking me. Gila. Kadar obsesi berondong satu ini beneran sakit. Di novelnya, Mexim emang digambarkan punya fiksasi aneh sama Chloe, tapi ngalamin vibes psycho-nya secara langsung ternyata se-mencekam ini. Tatapannya nggak cuma sekadar 'ngegoda', tapi ada intensitas gelap yang menelanjangi. Seolah dia tahu semua hal tentang gue, bahkan yang nggak gue sadari sekalipun.

​Tapi sorry, gue bukan protagonis lemah yang bakal gemetar ketakutan atau blushing diginiin. Gue Chloe Ezlen versi upgrade.

​Gue narik napas pelan, ngontrol detak jantung gue biar tetap stabil. Mata gue balas menatapnya tajam, nggak mundur satu senti pun dari wajahnya yang cuma berjarak sejengkal dari gue.

​"Lo kurang kerjaan banget ya, Mex?" Gue naruh cangkir teh kembali ke tatakannya dengan bunyi clink pelan yang memecah keheningan. "Nongkrong di luar pagar orang tengah malam cuma buat merhatiin baju tidur gue? That’s deeply pathetic. Even for you."

​Senyum di bibir Mexim perlahan luntur. Matanya sedikit melebar, jelas kaget dengar balasan gue. Biasanya, Chloe yang asli bakal langsung salah tingkah, panik, atau malah diam-diam menikmati validasi dari godaan Mexim karena kurangnya perhatian dari March. Tapi sekarang, gue malah nginjak egonya dengan senyum sinis yang paling elegan.

​"Jauh-jauh, Mex. Lo ngalangin cahaya matahari gue," lanjut gue santai, mengangkat tangan dan mendorong dada bidangnya pakai ujung jari telunjuk gue.

​Bukannya menjauh, dada Mexim malah menegang di bawah sentuhan gue. Dia menangkap pergelangan tangan gue dengan cepat. Cengkeramannya nggak kasar, tapi kuat banget. Cukup buat ngasih tahu kalau dia yang pegang kendali secara fisik. Jempolnya mengusap nadi di pergelangan tangan gue yang lagi berdetak cepat.

​"Lo... beda," gumamnya, matanya menyusuri wajah gue dengan tatapan yang makin liar. Bukannya mundur, kilat ketertarikan di matanya malah makin menyala-nyala. "What did my brother do to you, hm? Biasanya lo langsung mencak-mencak atau ngancem laporin gue. Sekarang lo malah... challenging me."

​Gue narik paksa tangan gue dari genggamannya, menatapnya dengan raut wajah super bosan. "Gue cuma baru sadar kalau ladenin bocah freak yang nggak punya kerjaan itu buang-buang waktu. Kalau lo ke sini nyari March, dia masih di kantor. Kalau lo ke sini nyari gue..." Gue mencondongkan tubuh sedikit ke depan, merendahkan suara jadi bisikan tajam, "...know your place, boy. I'm your brother's wife."

​Mexim terdiam. Jakunnya naik turun. Gue bisa lihat ada pertempuran kecil di balik mata gelapnya—antara ego yang tersentil dan obsesi yang makin menggila.

​Tanpa nunggu balasannya, gue berdiri dari sofa, merapikan pinggiran cardigan gue, dan berjalan ngelewatin dia gitu aja. Meninggalkan aroma vanilla dan jasmine dari parfum gue yang gue tahu bakal bikin otaknya makin kacau.

​"Satu lagi," gue berhenti sebentar di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan tatapan setengah meremehkan. "Kalau mau stalking, upgrade dikit alat lo. Drone atau CCTV kek. Nongkrong di pohon jam dua pagi? So old school."

​Gue ninggalin Mexim yang masih mematung di sunroom. Dari pantulan kaca, gue bisa lihat cowok itu mengacak rambutnya kasar, menunduk sambil tertawa pelan. Tawa yang terdengar jauh lebih dark dan penasaran dari sebelumnya.

​Well, kalau dia pikir dia bisa main-main sama mental ibu tiri jahat ini, dia salah besar. Welcome to the real game, Mexim.

1
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
alan cari musuh yang salah
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
alan aja.bisa menemukan amanda kenapa ayahnya lily gak bisa
katanya mafia masak gak bisa nemuin sampaai 5 th
ˢ⍣⃟ₛ ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ERTI 🍤
mampir tor er baca ya lanjutkan sampai tamat jangan putus tengah jalan
Ita Putri
yeeaayyyy🥰
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
Elmida Alano: 😭😭😭😭🤧
total 3 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!