Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 21
“Jika bertahan hanya kesakitan yang kudapatkan, lantas apa sekarang waktunya?” hembusan napasnya terdengar kasar.
Beban berat itu seolah menggelayuti keputusan untuk mengambil jalan mana hendak dilalui. Semua terasa terjal, ada harga harus dibayarkan dikemudian hari nanti.
Arjanti kembali memasukkan barang berarti namun tidak lagi terasa berharga.
“Dulu aku bahagia sekali memiliki sepasang buku berlambang burung Garuda ini, sampai-sampai rasanya seperti mimpi dinikahi oleh pemuda yang begitu gigih meyakinkan orang tuaku kalau dia lah jodoh terbaik itu, tapi sekarang ....” suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia menertawai diri sendiri seraya memegang buku nikah. Tak ada kata yang terlontar, hanya lelehan air mata mengungkapkan segala rasa berkecamuk dalam hati.
Ia tarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan. Tak ingin berkubang dalam lumpur penderitaan, Janti masukan lagi benda penting itu ke dalam amplop, dan diletakkannya koper ketempat semula.
Tidak ada hal penting yang dapat dilakukannya selain memasak untuk satu keluarga. Meski enggan merawat Darti seperti sebelumnya, sesekali Janti masih mau membantu apabila mbak Lasti meminta tolong dengan sopan ketika dia nyaris terjatuh membopong nyonyanya.
Sebagai imbalan karena sudah diberi tempat tinggal, maka Janti membayar dengan memasak. Olahan tangannya masih menjadi juara, wajib terhidang di meja makan pada siang dan malam hari.
Ya, seperti itulah posisinya di rumah ini. Layaknya pelayan dimata orang tuanya Herlan.
Sebelum keluar dari dalam kamar, Janti mematut diri pada cermin meja rias. Matanya melihat ke bawah, berhenti tepat di perut tertutup baju longgar.
Kedua tangannya memeluk perut dengan tatapan mata dalam seolah menembus pada masa itu.
Heuuheuu .... Janti menggelengkan kepala, menghapus air mata, memompa semangat meski sangat lelah oleh semua ini.
“Setelah ini, apa lagi?” tanyanya pada pantulan diri sendiri. “Berita kehamilan itu bak awal pembuka sampul buku berisi bait-demi bait skenario penuh jebakan.”
“Apabila aku salah melangkah, maka konsekuensinya bisa jadi masuk penjara,” dia teringat rahasia gelap tersembunyi dibalik pintu kamar utama.
Kala itu ....
“Janti, Janti! Saila ngidam jus Sirsak buatanmu, bikinin sekarang ya, Sayang,” di luar kamar, Herlan mengetuk pintu dikunci seraya berseru.
Arjanti menepuk-nepuk pipi demi mengembalikan kesadaran supaya pikirannya tetap fokus.
Dia melangkah yakin, memasang wajah ramah meski tanpa senyuman.
Dibukanya pintu, dan langsung bertemu pandang dengan sepasang mata berbinar.
Sesaat pria memakai topi putih itu termangu, lalu mengedip-ngedipkan mata. Ia seperti melihat sosok lain, bukan wanita kurus berpipi tirus, mata sayu kehilangan binar cerah, di hadapannya kini — Janti seperti kembali muda dua tahun dari umur aslinya.
“Kenapa, Mas?” dia hafal gairah tersirat pada netra hitam itu, lalu jakun naik turun. Mereka sudah satu bulan semenjak Herlan menikah dengan Saila, belum ada melakukan hubungan badan.
“Kamu ganti parfum?” tanyanya dengan suara berat, tatapan mata enggan beralih.
'Sebulan sudah, baru hari ini kamu sadari aromaku berbeda dari wangi parfum yang dulu, hebat sekali dirimu,’ dalam hati Janti terkekeh.
Muak sudah dirinya. “Urus saja istri mudamu yang tadi heboh menyiarkan kabar kehamilan.”
Herlan mencekal lengan Janti sehingga sang wanita tidak bisa kemana-mana. Dia maju, dan otomatis kaki istri pertamanya mundur ke belakang.
Blam.
Pintu ditutup rapat, dan badan Arjanti terperangkap diantara dua lengan. Deru napas Herlan menyapu sisi leher wanita yang mati-matian berusaha tenang.
"Sayang ....” suaranya kian parau, dan di bawah sana, bukti keperkasaannya mulai berkedut-kedut. Herlan memangkas habis jarak. Tubuh mereka menempel, menekan.
“Jangan gini, Mas!” Janti menggeliat, memalingkan muka ke kiri-kanan menghindari ciuman bibir.
Tak habis akal, Herlan merangsang dengan mengecup basah leher wanita yang memberontak. Kerah kaos diturunkan. “Sekarang Saila sudah hamil, dan pada trimester pertama ini, kami dilarang sering-sering bercinta. Kamu tau apa yang Mas rasakan, Janti? Bahagia, ya … akhirnya mas bisa lagi merasakan tubuhmu.”
Bukannya senang, Janti malah merasa terhina. Didorongnya sekuat tenaga dada pria yang terlanjur bergairah.
Saat tercipta jarak satu langkah, Janti menyilangkan tangan di depan dada sebagai perlindungan diri. “Aku gak butuh barang sisa! Lebih baik kamu habiskan, puaskan nafsu itu hanya untuknya!”
“Kamu juga istriku, haram hukumnya menolak suami, Janti!” egonya terluka, merasa tidak lagi diinginkan.
“Jangan bawa-bawa agama kalau niatmu cuma mau buat aku tunduk, patuh tanpa berani membantah padahal apa yang dirimu lakukan adalah salah!” sanggahnya dengan napas cepat.
Janti biarkan saja kait bra yang berhasil dilepas oleh tangan bergerilya menuntut. “Sebelum istri kesayanganmu itu berteriak, keluar sekarang dari sini!”
Herlan mempertahankan keegoisannya. Dia maju, lalu menarik tubuh yang tingginya sebatas pundak itu. Ia peluk kuat, ia gesek-gesek sesuatu menonjol dibalik celana ke pangkal paha Arjanti.
“Dia merindukanmu, Sayang,” ucapnya disertai desahan.
“Ayo main cepat sebelum Saila selesai mandi.” Pria sudah dikuasai oleh hasrat itu bergerak kasar menaikan kaos istri pertama.
Janti yang tidak senang, enggan disentuh terlebih alasan Herlan menjadikan dia pengganti, berinisiatif menggigit lengan.
Akhhh!
Dikarenakan terkejut, Herlan mundur. Dipandanginya lengan terdapat cap gigi.“Arjant!”
“Mas, kamu ngapain di dalam sama Janti?!” teriakan Herlan memancing emosi wanita yang kebetulan mencari keberadaan suaminya.
Hahaha … ups. Janti menutup mulutnya, mengejek pria terburu-buru merapikan pakaian kusut, rambut acak-acakan.
“Aku istri sah mu, bukan selingkuhan apalagi wanita panggilan? Kenapa harus takut gitu?” tak ada nada tersindir, hanya rasa muak tidak lagi dapat dibendung.
Apabila Herlan sibuk merapikan penampilan, sebaliknya — Janti melepaskan kunciran, lalu menyisir asal rambutnya agar bervolume mengembang, acak-acakan.
Herlan panik, melotot melihat kaos Janti dimiringkan hingga bahu kiri terekspos, dan tepat di tulang selangka, ada bekas hisapan bibir.
“Mau apa kamu, Janti?!”
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti