NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Murid Pondok Sebelas

Pondok sebelas berdiri paling ujung dari deretan pondok murid luar, dekat tebing tempat batu-batu besar ditumpuk untuk pondasi sekte. Di halaman belakangnya ada sepetak tanah gundul tempat penghuninya berlatih. Jian Chen berdiri di balik tumpukan karung jerami bersama Qiu Bo, menahan napas, dan mengamati seorang pemuda yang sedang menusukkan tombak ke batang pohon.

"Itu Mu Han," bisik Qiu Bo. "Tingginya sedang, rambutnya kusut, matanya selalu menunduk. Dulu dia yang paling sering dipinjami garam dan tidak pernah mengembalikan."

"Kau yakin itu orangnya?"

"Aku tidur di pondok sebelah. Setiap pagi aku mendengar dia batuk." Qiu Bo mencondongkan tubuh. "Tapi aku tidak pernah melihatnya berlatih sebaik itu."

Jian Chen memperhatikan. Mu Han menusuk, menarik, memutar tombak setengah lingkaran, dan menusuk lagi. Setiap gerakannya rapat dan efisien. Pada tusukan kelima, udara di ujung tombak bergetar sedikit, dan batang pohon di depannya berlubang sebesar kepalan tangan dengan bunyi seperti pecahan kaca.

Qiu Bo menelan ludah. "Dulu dia hanya bisa menggores kulit pohon."

"Aku tahu."

"Kau tahu?"

"Aku melihat catatan Zhao Feng."

"Oh." Qiu Bo tampak ragu sejenak, lalu mengangkat bahu. "Lalu kita ngapain? Mengintip terus?"

"Tidak. Kita tegur dia."

Mereka keluar dari balik karung. Mu Han langsung menegakkan tubuh dan menurunkan tombaknya dengan gerakan terkejut. Matanya menatap tanah, lalu Qiu Bo, lalu Jian Chen, lalu tanah lagi.

"Maaf," katanya cepat. "Aku tidak tahu ada orang."

"Tidak apa-apa." Jian Chen mengangkat tangan. "Aku Jian Chen dari pondok tujuh. Ini Qiu Bo. Kami lewat dan melihat latihanmu."

"Oh. Aku..." Mu Han berhenti. Suaranya kecil dan terputus-putus, seperti orang yang jarang diajak bicara. "Aku Mu Han."

"Kami tahu. Namamu ada di daftar turnamen."

"Kau juga ada di daftar itu." Mu Han akhirnya mengangkat mata sebentar. "Murid yang meloloskan kelompok ketiga dari tambang."

"Itu aku."

"Aku mendengar tentangmu." Mu Han menunduk lagi. "Katanya kau pintar."

"Aku cuma sedikit teliti." Jian Chen menatap tombak di tangan Mu Han. "Tombakmu bagus. Teknik yang tadi, siapa yang mengajarimu?"

Mu Han menegang. Tangannya mengencang di pegangan tombak. "Aku... belajar sendiri."

"Tiga bulan lalu kau Pengumpul Napas tengah. Sekarang Pembentuk Fondasi awal dan menusuk batu."

"Aku berlatih keras."

"Aku percaya." Jian Chen menjaga suaranya tetap datar. "Tapi tidak ada yang naik tahap dalam tiga bulan hanya dengan berlatih keras. Aku pernah mencobanya."

Mu Han tidak menjawab. Ia memutar tombaknya dengan gerakan gugup, lalu menggenggamnya lagi. Qiu Bo berdeham pelan dan mengeluarkan sepotong dendeng dari saku.

"Mau?" tanya Qiu Bo. "Aku bawa lebih."

Mu Han menatap dendeng itu. "Tidak usah."

"Kau lapar. Aku bisa melihat dari sini."

Mu Han ragu, lalu mengambilnya dengan dua jari dan menggigit ujungnya. Setelah beberapa kunyahan, bahunya sedikit turun.

"Aku tidak bisa cerita," katanya pelan.

"Aku tidak memaksa."

"Mereka bilang kalau aku bercerita, aku tidak bisa ikut turnamen."

"Mereka siapa?"

Mu Han diam lama. Napasnya menjadi lebih cepat. "Aku sudah bicara terlalu banyak."

"Kau tidak bilang apa-apa," kata Jian Chen dengan lembut. "Hanya bahwa seseorang menyuruhmu diam."

"Aku tidak mau mencelakai siapa pun." Mu Han mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya Jian Chen melihat matanya: cokelat tua, penuh rasa bersalah. "Aku cuma... aku butuh kekuatan. Aku tidak bisa terus jadi orang yang tidak bisa apa-apa."

"Aku mengerti."

"Kau tidak mengerti."

"Aku mengerti lebih dari yang kau kira." Jian Chen mengeluarkan satu bakpao yang ia simpan di balik jubah dan menyodorkannya. "Kalau suatu hari kau ingin bicara, kau tahu di mana pondok tujuh."

Mu Han menatap bakpao itu lama, lalu menerimanya. "Terima kasih."

"Dan Mu Han."

"Ya?"

"Hati-hati dengan apa pun yang mereka tawarkan." Jian Chen menepuk bahunya sekilas. "Pil, gulungan, atau janji. Kekuatan yang dipinjam biasanya harus dibayar dua kali."

Mu Han tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan memegang bakpao itu dengan kedua tangan.

Dalam perjalanan pulang, Qiu Bo berjalan di samping Jian Chen sambil menggaruk tengkuk. "Dia dikuasai Ordo, ya?"

"Aku belum tahu."

"Kau tahu. Wajahmu tadi tidak seperti orang yang belum tahu."

"Aku punya dugaan." Jian Chen menendang kerikil di jalan. "Seseorang memberinya sesuatu supaya ia kuat. Dan seseorang menyuruhnya diam."

"Kenapa tidak lapor Tetua Yan?"

"Karena dia tidak mengaku, dan aku tidak punya bukti." Jian Chen menghela napas. "Kalau aku melapor sekarang, dia ditekan, dan orang yang menyuruhnya tahu aku tahu."

"Jadi kita tunggu."

"Kita tunggu, dan kita siap."

Sore harinya, Jian Chen kembali ke bengkel Dao untuk mengambil pedang pendek yang sudah disempurnakan. Dao mengangkatnya ke cahaya lentera, memutar-mutarnya, lalu menyerahkannya dengan wajah puas.

"Ini yang terbaik yang bisa kubuat dalam waktu segini," katanya. "Pedang panjang di tangan kananmu juga sudah kuasah ulang. Sekarang keduanya seimbang."

"Terima kasih."

"Sudah punya nama?"

Jian Chen menimang pedang panjang itu. Bilah perak kebiruan memantulkan cahaya perapian, tipis dan jernih seperti air yang membeku. Ia teringat kebun herbal di malam bulan, celah kosong di bawah batu hitam, dan akar yang tidak pernah ia temukan.

"Embun Perak," katanya.

Dao mengangkat alis. "Nama yang aneh untuk pedang."

"Itu nama sesuatu yang kuinginkan dan tidak kudapatkan."

"Hm." Dao tersenyum kecil. "Tapi nama itu bagus. Sedikit sedih, tapi bagus."

"Dan yang pendek?"

"Biarkan dia tanpa nama dulu," kata Jian Chen. "Aku belum tahu apa yang akan ia lindungi."

Lin Xue masuk ke bengkel ketika Dao sedang membersihkan landasan. Ia membawa bungkusan ramuan dan langsung duduk di atas peti tanpa menunggu dipersilakan. Jian Chen menceritakan pertemuan dengan Mu Han, dan Lin Xue mendengarkan dengan dahi berkerut.

"Dia naik tahap dalam tiga bulan?" tanyanya.

"Itu catatan Zhao Feng."

"Kalau benar, itu bukan kemajuan. Itu pinjaman." Lin Xue meletakkan bungkusannya. "Pil pembangkit yang membuat seseorang naik tahap secepat itu biasanya meninggalkan racun di meridian. Dalam setahun, kalau tidak dibersihkan, intinya bisa retak."

"Dia tahu?"

"Mungkin tidak. Atau tahu, tetapi tidak punya pilihan." Lin Xue menatap Jian Chen. "Kalau suatu hari dia datang padamu, bawa dia ke sini. Aku tidak peduli dia musuh atau sahabat. Aku tidak suka orang yang menghancurkan dirinya sendiri karena dibohongi."

"Aku akan membawanya."

"Janji?"

"Janji."

Lin Xue mengangguk dan mengambil bungkusannya lagi. Dao, yang sejak tadi menyimak sambil menggosok landasan, bersiul pelan. "Pondok pengobatan sekarang menerima musuh juga?"

"Pondok pengobatan menerima pasien," kata Lin Xue. "Sisanya urusan kalian."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!