NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kemewahan yang Kehilangan Kehangatan

Sore itu, langit Pontianak menggantung kelabu ketika mobil Denis memasuki halaman rumahnya yang luas. Rumah dua lantai dengan pilar-pilar putih dan taman yang terawat itu berdiri megah di salah satu kawasan elite kota. Dari luar, semuanya tampak sempurna. Pepohonan tertata rapi, lampu taman mulai menyala, dan air mancur kecil di dekat teras memantulkan cahaya senja.

Namun, bagi Denis, rumah itu tidak lagi memberikan ketenangan seperti dulu.

Ia mematikan mesin mobil, menyandarkan kepala pada jok, lalu memejamkan mata. Seharian ia berkeliling mengunjungi beberapa sekolah di kecamatan yang termasuk dalam Ring 1 wilayah operasional perusahaan. Bersama timnya, ia harus memeriksa kondisi fasilitas sekolah, mendengarkan usulan kepala sekolah, mencatat kebutuhan prioritas, serta memastikan program bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) tahun berjalan benar-benar tepat sasaran.

Pekerjaan itu bukan sekadar kunjungan formal. Setiap sekolah memiliki persoalan berbeda. Ada bangunan yang membutuhkan perbaikan, ruang kelas yang kekurangan meja dan kursi, hingga fasilitas olahraga yang sudah tidak layak digunakan. Semua usulan harus diperiksa dengan cermat karena dana yang disalurkan perusahaan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Denis memahami tanggung jawab itu. Ia tidak pernah keberatan bekerja keras. Bahkan, beberapa tahun terakhir, ia dikenal sebagai staf yang tekun, teliti, dan mampu membangun komunikasi baik dengan masyarakat di sekitar wilayah perusahaan.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, dirinya mudah sekali kehilangan kesabaran.

Hal-hal kecil bisa merusak suasana hatinya. Pesan yang datang bertubi-tubi membuatnya jengkel. Pertanyaan sederhana dari orang lain terkadang terasa seperti tuntutan. Bahkan, ketika seseorang meminta bantuannya, ia sering merasa seolah seluruh dunia sedang menaruh beban di pundaknya.

Padahal, dulu ia bukan laki-laki seperti itu.

Selama menjalin hubungan dengan Mita, Denis justru merasa hidupnya lebih ringan. Perempuan itu tidak pernah menuntutnya untuk selalu tersedia. Mita memahami kesibukannya, menghargai waktu istirahatnya, dan tidak menjadikan setiap keterlambatan balasan pesan sebagai persoalan besar.

Bahkan ketika Denis pulang larut malam, Mita lebih sering bertanya apakah ia sudah makan daripada menuntut penjelasan panjang tentang ke mana saja dirinya pergi.

Kenangan itu muncul begitu saja.

Denis membuka mata, lalu mengembuskan napas panjang.

“Kenapa harus ingat dia lagi?” gumamnya.

Ia meraih tas kerja dan turun dari mobil. Langkahnya berat ketika menaiki tangga menuju teras. Seorang asisten rumah tangga menyambutnya, mengambil tas, lalu memberitahukan bahwa Hendro dan Sarah sedang berada di ruang keluarga.

“Mas Denis sudah pulang, Pak,” terdengar suara perempuan itu dari dalam rumah.

Hendro menoleh dari koran yang sedang dibacanya. Sementara Sarah, yang duduk di sofa sambil merapikan beberapa pakaian, segera bangkit.

“Sudah pulang, Nak?” Sarah mendekat. “Wajahmu kusut sekali. Capek?”

“Capek, Ma. Seharian keliling sekolah.”

“Sudah makan siang?”

“Sudah.”

“Kalau begitu, mandi dulu. Nanti Mama suruh siapkan makan malam.”

Denis hanya mengangguk.

Biasanya, ia akan bercerita sedikit tentang pekerjaannya. Ia akan mengeluhkan jalanan yang rusak, menceritakan kepala sekolah yang sangat bersemangat menjelaskan kebutuhan murid-muridnya, atau menertawakan kejadian kecil yang ditemuinya selama perjalanan.

Namun, sore itu ia memilih langsung menuju kamarnya.

Sarah memperhatikan putra tunggalnya sampai menghilang di balik tangga.

“Kenapa Denis sekarang gampang sekali murung?” tanyanya kepada suaminya.

Hendro melipat koran.

“Mungkin memang sedang banyak pekerjaan.”

“Bukan cuma pekerjaan, Pak. Mama merasa ada yang berubah. Dulu, pulang kerja dia masih sempat bercanda. Sekarang ditanya sedikit saja wajahnya sudah seperti orang punya masalah besar.”

Hendro terdiam sesaat.

Ia pun merasakan perubahan itu. Denis semakin jarang berbagi cerita, lebih sering mengurung diri di kamar, dan terlihat tidak antusias ketika membicarakan persiapan pernikahannya dengan Siska.

Sebagai ayah, Hendro tidak ingin buru-buru mencurigai sesuatu. Ia hanya berharap putranya sedang menghadapi masa sulit yang bisa dilewati dengan baik.

“Beri dia waktu,” jawabnya. “Kalau memang ada masalah, suatu saat dia akan bercerita.”

Sarah mengangguk, meskipun kegelisahan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

Setelah mandi, Denis berbaring di tempat tidur. Tubuhnya memang lelah, tetapi pikirannya justru semakin sibuk.

Ponselnya tergeletak di samping bantal. Ada beberapa pesan dari Siska yang belum dibalas.

Pesan pertama dikirim satu jam sebelumnya.

Mas, nanti malam kita jadi membicarakan jadwal fitting, kan?

Pesan berikutnya menyusul beberapa menit kemudian.

Aku sudah menghubungi butik. Mereka punya jadwal kosong hari Sabtu.

Lalu satu pesan lagi.

Mas, kamu sudah sampai rumah?

Denis membaca semuanya tanpa segera menjawab.

Ia tahu Siska sedang menunggu kepastian. Mereka tinggal menghitung waktu menuju pernikahan. Keluarga kedua belah pihak sudah mengetahui rencana itu, sejumlah persiapan telah dilakukan, dan Siska sedang mengandung anak yang membuat hubungan mereka semakin rumit untuk diakhiri begitu saja.

Seharusnya Denis merasa bahagia.

Namun, setiap kali membayangkan fitting baju pengantin, memilih perlengkapan pernikahan, atau membicarakan tanggal acara, ada beban yang menekan dadanya.

Ia bukan tidak mengerti bahwa Siska membutuhkan perhatian. Perempuan itu sedang hamil muda, emosinya lebih sensitif, dan banyak hal yang ingin dipastikannya menjelang pernikahan. Denis juga memahami bahwa kehamilan itu menuntut tanggung jawab darinya.

Masalahnya, ia merasa tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas.

Siska ingin mengetahui jadwal kerjanya. Ia ingin tahu siapa saja yang pergi bersamanya ketika ada tugas luar kantor. Bahkan percakapan biasa dengan rekan perempuan terkadang menjadi bahan pertanyaan panjang.

Awalnya, Denis menganggap semua itu sebagai bentuk kecemburuan yang wajar. Ia bahkan merasa tersanjung karena Siska begitu takut kehilangan dirinya.

Bukankah ia dulu mengejar perhatian perempuan itu?

Bukankah ia merasa menjadi pemenang ketika berhasil mendapatkan perempuan yang menjadi idola baru di kantornya?

Denis masih mengingat seminar dua hari di luar kota yang menjadi awal hubungan terlarang mereka. Saat itu, kedekatan dengan Siska terasa seperti kemenangan pribadi. Ia merasa berhasil menaklukkan perempuan yang dikagumi banyak orang, sesuatu yang diam-diam meningkatkan kepercayaan dirinya.

Bersama Mita, ia selalu menjaga batas. Mereka memiliki hubungan yang penuh perhatian, tetapi tidak pernah melampaui prinsip yang mereka sepakati. Denis dulu bangga dengan hubungan itu.

Lalu datanglah Siska, dengan segala pesona, perhatian, dan tantangan yang membuatnya merasa hidupnya kembali bergairah.

Ia memilih mengikuti keinginan sesaat. Ia mengkhianati Mita. Setelah Siska hamil, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahinya.

Namun, sekarang, ketika pernikahan semakin dekat, Denis justru merindukan ketenangan yang pernah dimilikinya.

Ia mengusap wajah dengan kedua tangan.

Tidak ada gunanya menyalahkan Siska sepenuhnya. Perempuan itu memang semakin menuntut, tetapi Denis tahu bahwa ia sendiri yang telah membuka pintu bagi hubungan tersebut. Ia yang memilih mendekat. Ia yang membiarkan batas-batas itu runtuh. Dan ia pula yang terus melanjutkan hubungan ketika seharusnya ia berhenti.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, panggilan dari Siska.

Denis memandang layar beberapa saat sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Halo.”

“Mas, kamu sudah pulang?”

“Sudah.”

“Kenapa belum membalas pesanku?”

“Baru selesai mandi. Capek sekali hari ini.”

“Aku cuma tanya soal fitting, Mas. Kita sudah membicarakannya sejak kemarin.”

Denis memejamkan mata.

“Siska, aku baru pulang kerja. Bisa tidak kita bicarakan nanti saja?”

Keheningan terdengar dari seberang.

“Aku tahu Mas capek. Tapi aku juga punya banyak hal yang harus diurus. Aku tidak mungkin mengurus semuanya sendiri.”

“Aku tidak bilang kamu harus mengurus semuanya sendiri.”

“Tapi setiap aku mengajak bicara, Mas selalu menunda.”

Denis duduk, lalu menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur.

“Aku belum bisa memikirkan fitting sekarang. Besok saja.”

“Besok? Kalau besok Mas sibuk lagi bagaimana?”

“Siska, tolong. Aku benar-benar lelah.”

Nada suaranya meninggi tanpa ia sadari.

Siska terdiam. Ketika kembali berbicara, suaranya terdengar lebih pelan.

“Baiklah. Kalau memang aku mengganggu, kita bicarakan besok.”

“Siska, aku tidak bilang begitu.”

Namun, panggilan sudah terputus.

Denis menatap layar ponselnya dengan perasaan kesal bercampur bersalah.

Ia ingin menyalahkan Siska karena terlalu banyak menuntut. Ia ingin mengatakan bahwa perempuan itu tidak memahami beban pekerjaannya. Akan tetapi, ketika mengingat bagaimana ia dulu begitu menikmati perhatian Siska, Denis tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa hubungan mereka telah berubah karena pilihan yang mereka buat sendiri.

Dulu, Siska menjadi sumber kegembiraan yang membuatnya lupa pada segala hal. Kini, perhatian yang sama terasa seperti pengawasan.

Dan yang paling menyakitkan, Denis mulai membandingkan semua itu dengan Mita.

Ia merindukan cara Mita memberinya ruang tanpa membuatnya merasa ditinggalkan. Ia merindukan percakapan sederhana, tawa ringan, dan ketenangan yang dahulu dianggapnya biasa.

Namun, ia juga tahu bahwa kerinduan itu tidak memberinya hak untuk kembali kepada Mita seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mita tidak tahu pengkhianatan yang telah dilakukannya. Mita tidak tahu bahwa laki-laki yang pernah dicintainya telah memilih perempuan lain dan kini sedang berjuang menghadapi akibat pilihannya sendiri.

Denis mematikan layar ponsel, kemudian menatap langit-langit kamar.

Di luar, suara kendaraan sesekali terdengar melewati jalan kompleks. Rumah megah itu terasa sunyi, meskipun kedua orang tuanya berada tidak jauh darinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Denis bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia benar-benar siap menjalani kehidupan yang sedang ia bangun.

Ia tidak menemukan jawaban.

Yang ia rasakan hanyalah kelelahan, kegelisahan, dan bayangan seorang perempuan yang seharusnya sudah ia lepaskan dari pikirannya.

Mita.

Nama itu tetap tinggal di sudut hatinya, bahkan ketika ia sendiri yang memilih pergi.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!