Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 27. Tiba-tiba di Peluk!
Di kantor utama, suasana kembali serius. Vellano sudah duduk di balik meja kerjanya, meninjau tumpukan laporan yang sempat tertunda selama ia sakit.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan cepat.
“Tuan!”
Maxime masuk dengan wajah tegang dan napas sedikit terburu-buru.
Vellano langsung mengangkat kepala. “Ada apa?”
Maxime berjalan mendekat dengan ekspresi seperti baru menerima kabar bencana nasional.
“Ini sangat penting, Tuan.”
Vellano spontan menutup berkas di tangannya. “Masalah perusahaan?”
Maxime menggeleng.
“Keadaan darurat?”
“Bukan, Tuan.”
Vellano mengerutkan kening. “Lalu?”
Maxime menyerahkan tablet kepadanya dengan wajah serius.
“Tuan punya jadwal kunjungan kerja ke luar negeri selama tiga hari.”
Vellano membaca layar beberapa detik.
“Empat hari lagi?”
Maxime mengangguk mantap. “Benar, Tuan.”
Hening.
Vellano menatap Maxime.
Maxime menatap balik.
“Jadi… kau masuk ke sini seperti ada perusahaan yang bangkrut hanya untuk memberitahuku jadwal yang masih empat hari lagi?”
Maxime tersenyum canggung. “Saya ingin memastikan Tuan tidak lupa lagi.”
Vellano terdiam.
Ucapan itu langsung mengingatkannya pada Zoom meeting beberapa malam lalu ketika ia lupa memberi tahu Maxime dan hampir menghadiri rapat internasional dengan stiker kompres demam.
Vellano menghela napas panjang.
“Maxime.”
“Ya, Tuan?”
“Jangan pernah masuk ke ruangan saya dengan wajah seperti itu kalau masalahnya hanya jadwal.”
Maxime mengangguk patuh.
“Baik, Tuan. Tapi setidaknya kali ini saya datang sebelum Tuan lupa.”
Vellano hanya memijat pelipis.
Hari pertamanya kembali bekerja ternyata sudah dimulai dengan drama.
......................
Akhirnya waktu istirahat tiba. Jam makan siang datang, dan Vellano baru saja menyelesaikan beberapa laporan ketika pintu ruang kerjanya diketuk.
Axel muncul di ambang pintu dengan senyum jahil khasnya. Namun sebelum Vellano sempat bertanya, pandangannya langsung tertuju ke Alessia yang berdiri di belakang Axel sambil membawa bekal makan siang.
Alis Vellano langsung terangkat.
“Kenapa kalian datang bersamaan?”
Axel tersenyum lebar. “Kebetulan.”
Tatapan Vellano langsung berubah curiga. Sorot matanya bahkan seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka.
Alessia menahan tawa.
“Aku bertemu Axel di luar pintu saat mau masuk membawa bekalmu,” jelasnya.
“Benar,” sahut Axel cepat. “Aku hanya kebetulan lewat.”
Vellano masih menatapnya tajam.
“Lewat depan ruangan ku sambil tersenyum seperti itu?”
Axel mengangkat bahu. “Salah kalau aku bahagia melihat sepupuku?”
“Biasanya kalau kau bahagia, aku yang mendapat masalah.”
Alessia akhirnya terkekeh.
Axel langsung memegang dada dengan ekspresi tersinggung.
“Lihat, Alessia. Suamimu tidak pernah percaya padaku.”
Alessia meletakkan bekal di meja.
“Ya, karena kau memang mencurigakan.”
Axel terdiam beberapa detik.
“Wah. Sekarang kalian sudah satu tim?”
Vellano bersandar di kursinya dengan wajah puas.
“Selamat datang di pihak yang benar.”
Alessia tertawa. Bahkan makan siang belum dimulai, tetapi Axel sudah berhasil membuat suasana ruang kerja menjadi seperti ruang interogasi keluarga.
Di sela-sela makan siang, suasana ruang kerja Vellano mulai lebih santai. Alessia duduk di samping suaminya, sementara Axel menikmati makanannya dengan wajah puas.
Tiba-tiba Alessia tersenyum jahil.
“Axel, kamu masih ingat kejadian rebutan ayam waktu makan malam keluarga?”
Axel langsung tertawa lepas.
“Bagaimana mungkin aku lupa? Itu malam bersejarah!”
Vellano yang sedang minum langsung berhenti. Wajahnya berubah datar.
“Tidak perlu dibahas lagi.”
Alessia justru semakin tertawa. “Tapi lucu sekali. Kalian berdua sampai saling tarik satu potong ayam.”
Axel mengangguk antusias. “Dan yang paling lucu, Vellano kalah!”
“Aku sengaja mengalah.”
“Alasan!” seru Axel sambil tertawa.
Alessia menutup mulutnya, menahan tawa melihat wajah suaminya yang mulai memerah karena malu.
“Sudah cukup,” gumam Vellano.
Axel malah semakin senang menggoda.
“Sepupuku yang biasanya bisa mengendalikan satu perusahaan ternyata tidak mampu mengendalikan satu potong ayam.”
Alessia akhirnya tertawa sampai bahunya bergetar.
Vellano hanya menghela napas.
“Kenapa aku menikahi keluarga yang isinya seperti ini?”
“Karena kau cinta,” jawab Alessia santai.
Vellano terdiam.
Axel langsung bersiul jahil.
“Wah, kena!”
......................
Setelah makan siang selesai, Axel kembali ke ruangannya. Alessia pun membereskan bekal dan berpamitan kepada Vellano.
“Aku pulang dulu,” katanya sambil tersenyum.
Vellano hanya mengangguk. “Hati-hati.”
Alessia baru berjalan beberapa langkah ketika terdengar suara langkah kaki mengejarnya.
“Alessia.”
Ia langsung berhenti dan berbalik. “Ada apa?”
Vellano berdiri di hadapannya dengan ekspresi serius. Alessia langsung curiga.
“Ada masalah?”
Vellano tidak menjawab. Ia justru menarik Alessia mendekat, lalu memeluknya singkat dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
Alessia membeku.
“Hah?”
Wajahnya langsung memerah.
Yang lebih parah, beberapa pegawai di sekitar mereka ikut membeku. Ada yang sampai pura-pura sibuk melihat dokumen, sementara yang lain saling melirik dengan mata membesar.
CEO yang terkenal dingin, tegas, dan membuat satu ruangan diam hanya dengan satu tatapan itu... baru saja menunjukkan sisi bucin di depan umum.
Alessia menatap Vellano dengan wajah merah padam.
“Kamu... kenapa tiba-tiba begini?”
Vellano malah terlihat tenang. “Aku hanya ingin mencium istriku.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Alessia semakin salah tingkah.
Dari kejauhan, seorang pegawai berbisik, “Ternyata CEO kita manusia juga.”
Temannya menjawab, “Bukan. Lebih parah. Bucin.”
Alessia mendengar bisikan itu dan hampir ingin menghilang.
Ia segera berbalik.
“Aku pulang!”
Vellano hanya tersenyum kecil melihat istrinya berjalan cepat menuju lobi.
Begitu sampai di luar, Alessia langsung memakai helm, menyalakan motor balap kesayangannya, lalu melaju pergi.
Di dalam gedung, para pegawai masih sibuk membicarakan kejadian tadi.
Sementara Vellano kembali ke ruangannya dengan wajah puas.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa berhasil membuat istrinya benar-benar kehabisan kata-kata.
......................
Sesampainya di mansion, Alessia masih bisa merasakan panas di wajahnya. Setiap kali mengingat kejadian di kantor tadi, ia tanpa sadar tersenyum malu.
Untuk pertama kalinya, Vellano menunjukkan kasih sayangnya di depan banyak orang. Pelukan dan kecupan kecil itu seolah menjadi pengakuan diam-diam bahwa ia benar-benar menganggap Alessia sebagai istrinya.
Namun senyum itu perlahan memudar.
Alessia teringat pada satu nama yang selama ini selalu menjadi bayangan di antara mereka.
Ansley.
Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menatap kosong ke depan.
“Bagaimana kalau mereka masih berhubungan?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Vellano memang tidak pernah lagi membicarakan Ansley. Tetapi ia juga tidak pernah secara jelas mengatakan bahwa hubungan mereka telah berakhir.
Pikiran Alessia mulai berkelana.
Bagaimana jika Vellano masih menemuinya diam-diam? Bagaimana jika selama ini perhatian dan kemesraan yang ia tunjukkan hanyalah sesuatu yang sementara?
Alessia menggenggam jemarinya sendiri.
Ia tahu betapa dalamnya perasaan Vellano kepada Ansley dulu. Bahkan setelah semua yang terjadi, tidak pernah ada percakapan tegas mengenai hubungan itu.
Dadanya terasa sesak.
Padahal beberapa menit lalu ia begitu bahagia.
Alessia menunduk, berusaha mengusir pikiran buruk itu.
“Jangan berpikir macam-macam,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan itu menghantui pikirannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Vellano mulai menunjukkan kelembutannya, Alessia kembali merasa takut—takut bahwa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan mungkin bukan sepenuhnya miliknya.
......................
Sementara itu, di kantor, Vellano kembali duduk di balik mejanya. Setelah semua pekerjaan selesai, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke sudut kiri meja.
Sebuah foto lama dirinya bersama Ansley masih terpajang di sana.
Vellano terdiam cukup lama.
Foto itu mengingatkannya pada masa lalu, tetapi kini perasaannya justru terasa berbeda. Setelah percakapannya dengan Alessia, ia sadar bahwa membiarkan hubungan lama itu tetap menggantung hanya akan terus melukai istrinya.
“Sudah waktunya,” gumamnya.
Vellano kemudian menekan tombol interkom.
“Maxime.”
“Ya, Tuan?”
“Siapkan tempat makan malam. Aku ingin bertemu Ansley.”
Maxime terdiam sejenak. “Untuk malam ini, Tuan?”
“Ya. Dan jangan beri tahu siapa pun.”
“Baik, Tuan.”
Sementara itu, kabar pertemuan tersebut akhirnya sampai kepada Ansley. Mendengar Vellano mengajaknya makan malam, wajahnya langsung berbinar.
Ia mengira Vellano akhirnya ingin kembali membicarakan hubungan mereka.
Ansley tersenyum penuh harapan.
Namun ia sama sekali tidak tahu bahwa malam itu Vellano datang bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu.
Ia datang untuk mengakhirinya.
Dan tanpa disadari Ansley, sebuah keputusan besar sedang menunggu mereka di meja makan malam itu.
......................
Malam tiba. Sesuai rencana, Ansley dan Vellano bertemu di sebuah restoran yang tenang. Mereka duduk berhadapan di meja yang telah disiapkan Maxime.
Ansley tampak begitu bahagia. Ia beberapa kali tersenyum, membicarakan masa lalu dan hal-hal ringan seolah hubungan mereka masih sama seperti dulu.
Vellano mendengarkan tanpa banyak bicara.
Wajahnya datar dan dingin, jauh berbeda dari senyum yang akhir-akhir ini sering ia tunjukkan kepada Alessia.
“Kau terlihat berbeda,” kata Ansley lembut.
Vellano hanya menatapnya sebentar.
“Mungkin karena banyak hal sudah berubah.”
Ansley terdiam sesaat, tetapi kemudian kembali tersenyum.
Ia belum menyadari maksud di balik sikap Vellano malam ini
Sementara Vellano sudah memantapkan hatinya.Malam ini semuanya harus berakhir.
....................
Sementara itu, di mansion, Alessia semakin gelisah. Sudah tiga jam Vellano terlambat pulang, tetapi ponselnya tidak dapat dihubungi.
Ia mencoba menelepon berkali-kali.
Tidak ada jawaban.
Pesannya kepada Maxime pun hanya terdiam tanpa dibaca.
Alessia mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia melihat jam, lalu menatap pintu seolah berharap Vellano tiba-tiba muncul.
Akhirnya, rasa cemas mengalahkan kesabarannya.
Ia mengambil jaket dan kunci motor balap kesayangannya.
“Aku harus tahu dia di mana.”
Tak lama kemudian, Alessia tiba di kantor utama. Gedung itu sudah jauh lebih sepi. Hanya beberapa karyawan yang masih lembur.
Alessia memberanikan diri bertanya kepada salah seorang staf.
“Maaf, apakah Tuan Vellano masih di kantor?”
Staf itu tampak bingung.
“Tidak, Nyonya. Tuan Vellano sudah pulang sekitar pukul enam. Tuan Maxime yang mengantarnya.”
Alessia terdiam.
“Pulang… pukul enam?”
Ia menatap layar ponselnya lagi.
Kalau Vellano sudah pulang sejak sore, lalu sekarang dia berada di mana?
Kegelisahan di dadanya semakin menjadi-jadi.
Sementara tanpa sepengetahuannya, Vellano sedang berada di tempat lain, menyelesaikan sesuatu yang bisa mengubah hubungan masa lalunya untuk selamanya.
Alessia akhirnya memutuskan pulang. Namun di tengah perjalanan, ia berhenti di restoran favoritnya. Ia berpikir semangkuk gelato mungkin bisa sedikit menenangkan pikirannya sambil menunggu kabar dari Vellano.
Baru saja turun dari motor, langkah Alessia terhenti.
Matanya menangkap sebuah Bentley hitam yang sangat dikenalnya.
Mobil Vellano.
“Tidak mungkin…”
Ia memastikan nomor pelatnya. Tidak salah. Itu memang mobil suaminya.
Rasa penasaran langsung mengalahkan keinginannya menikmati gelato.
Alessia buru-buru masuk ke restoran dan menghampiri salah satu staf.
“Maaf, mobil itu milik suami saya. Apakah Anda tahu beliau ada di mana?”
Staf tersebut tampak mengenali mobil yang dimaksud.
“Sepertinya Tuan sedang berada di ruang makan privat.”
“Bisa antar saya ke sana?”
Staf itu tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk.
Alessia mengikuti langkahnya melewati lorong restoran.
Jantungnya berdebar semakin cepat.
Mengapa Vellano ada di sini?
Dengan siapa?
Dan mengapa ia tidak mengatakan apa pun kepadanya?
Semakin dekat menuju ruangan privat itu, semakin kuat firasat Alessia bahwa ia akan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Alessia melangkahkan kakinya perlahan mengikuti staf restoran. Setiap langkah terasa semakin berat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri.
Sesampainya di depan pintu ruang privat, langkahnya terhenti.
Tangannya menggenggam gagang pintu.
Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, tetapi rasa penasaran jauh lebih kuat.
Alessia mendorong pintu itu perlahan.
Dan seketika—
Tubuhnya membeku.
Matanya membulat.
Napasnya seolah berhenti....
...****************...
Hayoo ngapain Vellano di dalem?😂