Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Matahari siang bersinar sangat terik membakar aspal jalanan kota metropolitan.
Suara bising klakson kendaraan bersahut-sahutan memenuhi udara di sekitar kawasan distrik komersial utama.
Di dalam ruang kerja lantai atas The Crown Penthouse, Bayu duduk dengan tenang di balik meja kerjanya yang luas.
Kirana berdiri tegap di samping meja sambil membawa sebuah tablet digital berukuran tipis.
"Bagaimana persiapan untuk akuisisi properti komersial pusat kota, Kirana?" tanya Bayu memecah keheningan ruangan ber-AC dingin itu.
Kirana menyapukan jarinya di layar tablet untuk menampilkan data perusahaan target.
"Semua dokumen hukum dan penawaran harga sudah siap seratus persen, Tuan," lapor Kirana dengan suara profesional yang tegas.
Bayu melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap layar komputer di depannya.
"Perusahaan properti mana yang menjadi target utama kita kali ini?" tanya Bayu penasaran.
"PT Mega Sentosa Properti, Tuan," jawab Kirana cepat.
"Mereka adalah pengembang gedung pusat perbelanjaan terbesar di kota ini."
Bayu mengangguk perlahan mendengar penjelasan sekretaris pribadinya itu.
"Perusahaan yang dulu sempat menolak mentah-mentah pengajuan kerjasamaku saat aku masih hidup susah," gumam Bayu pelan dengan senyum tipis di bibirnya.
Kirana menatap atasannya sekilas dari samping.
"Roda kehidupan berputar sangat cepat, Tuan," ucap Kirana menanggapi.
"Orang-orang yang dulu meremehkan Anda sekarang harus bertekuk lutut di bawah kendali Anda."
Bayu berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menghadap ke arah jalan raya di bawah sana.
"Kita akan meluncur ke sana siang ini," perintah Bayu tanpa ragu.
"Baik, Tuan! Saya akan segera menyiapkan kendaraan dan tim hukum," jawab Kirana sigap memutar langkah keluar ruangan.
Ceklek.
Pintu tertutup rapat kembali, meninggalkan Bayu seorang diri merenungkan perjalanan hidupnya yang berubah drastis dalam beberapa hari terakhir.
Di belahan kota yang lain, suasana jauh panggang dari api dirasakan oleh Vira.
Vira membuka pintu apartemen sempitnya dengan tangan bergetar lemas.
Ceklek... kiiik...
Suara engsel pintu yang berkarat menggema di ruangan yang sunyi senyap.
Vira melangkah keluar menuruni anak tangga gedung sewa murahan itu dengan mengenakan pakaian seadanya.
Wajah wanita itu tampak sangat pucat pasi akibat tidak makan selama hampir dua hari penuh.
Perutnya yang mulai membuncit terasa melilit hebat karena kelaparan yang teramat sangat.
"Aku harus mencari makanan..." bisik Vira dengan bibir pecah-pecah dan suara parau.
Kakinya melangkah tertatih-tatih menyusuri lorong kotor menuju jalan raya besar di luar kompleks.
Terik matahari siang langsung menyengat kulit wajahnya yang kusam tanpa riasan.
Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat seperti menyeret beban berton-ton di kedua kakinya.
Di trotoar jalan yang ramai, orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian rapi dan bermerek mahal.
Beberapa orang melirik ke arah Vira dengan tatapan jijik dan curiga karena penampilannya yang mirip gelandangan.
Vira menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menghindari tatapan mata orang banyak.
Ia berjalan tanpa arah tujuan pasti di bawah teriknya panas kota.
Tujuan utamanya saat ini hanyalah mencari sisa makanan atau setidaknya setetes air untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Kasihan sekali wanita itu..." bisik seorang pejalan kaki wanita kepada temannya sambil melirik Vira.
"Jangan dilihat, nanti dia malah meminta uang," balas temannya menarik tangan wanita itu untuk berjalan lebih cepat.
Vira mendengar bisikan-bisikan itu dengan jelas di telinganya.
Air mata penyesalan menetes perlahan membasahi pipinya yang cekung.
Dulu, ia selalu diantar jemput menggunakan mobil mewah dan diperlakukan seperti ratu ke mana pun ia pergi.
Sekarang, ia berjalan sendirian di pinggir jalan raya tanpa ada satu pun orang yang peduli padanya.
"Semua ini salahku..." ratap Vira pelan dalam hati, menyesali setiap keputusan salah yang ia ambil di masa lalu.
Langkah kaki Vira terus membawanya berjalan semakin jauh hingga memasuki kawasan distrik komersial elit di pusat kota.
Suasana di kawasan itu mendadak berubah drastis menjadi sangat mewah dan bersih.
Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dengan dinding kaca berkilauan memantulkan cahaya matahari.
Deretan mobil sport mewah tampak lalu-lalang memasuki area parkir pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
Vira berhenti sejenak di depan sebuah penyeberangan jalan.
Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan yang teramat sangat.
Tanpa sengaja, mata Vira menangkap pantulan pemandangan di layar televisi raksasa yang terpasang di dinding gedung tinggi seberang jalan.
Layar digital raksasa itu sedang menayangkan berita ekonomi terbaru hari ini.
Seorang pembawa berita wanita tampak berbicara dengan antusias di layar.
"Hari ini, investor misterius sekaligus pemilik baru PT Mega Sentosa Properti dikabarkan akan melakukan kunjungan langsung..." suara pembawa berita terdengar samar-samar di tengah bisingnya lalu lintas.
Vira mendongak perlahan, memicingkan matanya menatap layar raksasa tersebut.
Wajah seorang pria tampan berjas rapi terpampang jelas di layar digital dengan ukuran besar.
Pria itu mengenakan kemeja putih berdasi hitam dengan senyuman tenang yang sangat berwibawa.
Deg!
Jantung Vira seolah berhenti berdetak seketika melihat wajah di layar tersebut.
Bayu!
Itu adalah wajah Bayu, mantan suami yang baru saja ia ceraikan beberapa hari lalu dengan penuh penghinaan.
"Tidak mungkin..." bisik Vira histeris di dalam hatinya, menggelengkan kepala berulang kali dengan mata melotot lebar.
Bagaimana mungkin seorang pria miskin yang dulu tinggal di kontrakan sempit kini menjadi pemilik korporasi raksasa yang menghiasi layar berita ekonomi utama?
Kenyataan itu menghantam kepala Vira bagaikan hantaman palu besi berukuran raksasa.
Tepat pada saat itu, sebuah mobil sport merah mewah berdesain futuristik melintas pelan melewati jalur khusus di depan penyeberangan jalan.
Vrum...
Suara mesin mobil sport itu menderu halus namun bertenaga.
Kaca jendela mobil bagian belakang yang sedikit terbuka memperlihatkan sosok pria yang duduk di dalamnya.
Bayu.
Pria itu sedang menatap ke luar jendela dengan pandangan dingin tanpa ekspresi.
Vira membelalakkan matanya selebar mungkin, menatap mobil mewah yang melintas tepat beberapa meter di hadapannya.
"Bayu!" teriak Vira sekuat tenaga dengan suara parau yang nyaris hilang.
Ia mencoba melangkah maju menerobos kerumunan orang di pinggir jalan demi mengejar mobil tersebut.
Namun tubuhnya yang sudah lemas dan kelaparan tidak mampu merespons dengan cepat.
Kaki Vira tersandung trotoar jalan yang sedikit tinggi.
Bruk!
Tubuh wanita itu terjatuh tersungkur keras ke atas lantai trotoar yang panas.
"Aduh!" rintih Vira kesakitan sambil mencengkeram lututnya yang lecet dan berdarah.
Mobil sport merah itu melaju terus tanpa berhenti sedikit pun, berbelok mulus memasuki gerbang utama gedung PT Mega Sentosa Properti.
Vira terduduk lemah di atas lantai trotoar, menatap nanar ke arah gerbang gedung megah yang tertutup rapat oleh petugas keamanan.
Air mata penyesalan tumpah semakin deras membasahi wajahnya yang kotor.
Ia sadar bahwa jarak di antara mereka berdua kini sudah terbentang begitu jauh, bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa disatukan kembali.
"Aku sudah kehilangan segalanya..." tangis Vira terisak-isak seorang diri di tengah keramaian kota yang mengabaikannya.
Di dalam mobil sport merah yang kini sudah terparkir di basement gedung PT Mega Sentosa Properti, Bayu sama sekali tidak menyadari kejadian di luar sana.
Kirana membukakan pintu mobil untuk atasannya dengan gerakan profesional.
"Kita sudah sampai di gedung PT Mega Sentosa Properti, Tuan," lapor Kirana merapikan berkas di tangannya.
Bayu keluar dari mobil dengan langkah tenang dan penuh wibawa.
"Bagus," ujar Bayu singkat.
"Mari kita temui direksi lama yang dulu suka meremehkan orang lain."
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Mendeteksi dimulainya misi akuisisi properti komersial tingkat tinggi.]
[Mendapatkan bonus kepercayaan diri host +20.]
Bayu melangkah menyusuri koridor basement menuju lift khusus bersama Kirana, siap menorehkan babak baru dalam kekuasaan bisnisnya di kota besar.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰