Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Sore itu udara terasa hangat.
Kemala sedang merapikan tangkai bunga mawar putih ke dalam vas kaca, senyum tipis terukir di bibirnya.
Pekerjaannya di toko bunga ini memberinya kedamaian yang lama tak ia rasakan. Hingga bel pintu berbunyi lembut.
Menghadirkan sosok yang ia kenal betul, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.
Kemala terpaku seperkian detik.
Abimana berdiri di ambang pintu. Tatapannya tertegun, tak menyangka akan melihat wajah yang masih sering singgah di mimpinya.
Dia menelisik penampilan mantan istrinya yang berubah.
Khimar dan pakaian longgar yang biasa dikenakannya kini berganti dengan blouse dan celana jeans longgar meski tetap memakai hijab, hingga sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mungil..
"Kemala..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Kemala menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" suaranya terdengar tenang, meski tangannya sedikit gemetar memegang tangkai bunga.
Satu tahun berlalu sejak peristiwa itu dan sejak kata talak terucap dari bibir Abimana.
Dan saat ini, di antara deretan bunga segar, Abimana berdiri mematung, matanya tak lepas dari sosok di hadapannya.
Abimana tersenyum miring, nada suaranya terdengar tajam dan penuh cemooh.
"Wah, sungguh luar biasa" ucapnya perlahan, menatapnya dari ujung kaki hingga ke wajah. "Kalau saya tak salah lihat, ini Kemala yang saya kenal? Yang berkhianat demi sebuah kata kebebasan....?!"
Ia menggelengkan kepala, cemoohan di matanya tak bisa disembunyikan.
"Berubah seratus delapan puluh derajat, ya? Tak lagi terlihat seperti wanita pesantren yang penurut dan pendiam. Sekarang kamu terlihat... lain. Seakan kamu orang yang berbeda. Siapa yang menyangka, hanya setahun berpisah dan kamu sudah berubah begitu jauh dari wanita yang dulu kutinggal di rumah itu."
Kemala tidak menunduk seperti dulu. Ia menatapnya tenang, senyum tipis namun tegas tersungging di bibirnya.
"Memang benar, mas. Saya memang berubah. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri. Karena saya sadar, saya lebih berharga daripada sekadar menunduk dan menunggu dihargai oleh seseorang yang tak pernah benar-benar melihat keberadaanku."
"Cih... Ternyata, saya tidak pernah salah ketika menceraikan mu dulu... Kamu dan Kirana adalah dua orang yang berbeda. Kirana perempuan yang lembut, pintar dan juga ibu yang penyayang. Sementara kamu..." Abimana menggeleng lemah, menatap Kemala dari ujung rambut hingga ujung kaki, "Kamu adalah sosok yang gagal. Jika kedua orangtuamu masih hidup, mereka akan sangat kecewa dengan kelakuan putri tunggal mereka" lanjutnya dengan kalimat yang sangat menyakiti.
Kemala tetap tegak, tetap berdiri diposisinya meski dirinya menahan sakit atas penghinaan Abimana barusan.
Lonceng di pintu masuk kembali berbunyi.
"Mas... Sudah dapat bunganya...?" suara lembut Kirana membuat Abimana menoleh.
"Kita cari ditempat lain saja..." ucap Abimana kemudian.
"Loh kenapa? Kita sudah disini dan lihatlah, banyak pilihan bunga-bunga segar.... Lagipula, Asraf pasti sudah terlalu lama menunggu... Kasihan dia..." ucap Kirana menolak usulan suaminya.
Kemala masih berdiri disana, menyaksikan pemandangan yang jujur, sangat menyayat hati dan membuka luka lama yang perlahan mulai sembuh.
Kirana memiring kepalanya dan pupil matanya melebar kala melihat sosok Kemala di balik punggung Abimana.
"Kemala..." lirihnya sambil menatap mata Abimana.
Abimana mengedipkan kedua matanya sebagai isyarat.
Kirana tersenyum dibalik cadarnya yang terlihat dari kedua mata yang menyipit.
Dia melangkah kearah Kemala.
Sama halnya dengan Abimana, Kirana juga sibuk memindai penampilan Kemala yang berubah.
"Kemala... Kenapa dengan pakaian mu...? Kemana khimar dan abaya yang selama ini biasa kamu kenakan?" ucapnya dengan suara bergetar seolah dirinya peduli.
Kemala hanya menatap dingin mantan madu-nya.
"Maaf bapak ibu, anda mau cari apa? Mau bunga jenis apa?" ucap Kemala mengalihkan pembicaraan kepada topik lain. Bersikap formal layaknya seorang karyawan.
"Kami mau cari bunga Lili putih... Tolong..." jawab Kirana setelah menghempas nafas kasar.
Matanya tak lepas menatap wajah Kemala, seakan ada ribuan kata yang tertahan di ujung lidahnya.
Kemala menyiapkan bunga dengan hati-hati, melilitkan pita dengan rapi.
"Ini pesanan Anda," ucapnya lembut, namun matanya tak menatap mata Kirana.
Kirana menerima buket itu dengan perasaan yang entah bagaimana. "Terima kasih, Kemala..." katanya, masih berdiri di sana seakan enggan melangkah pergi.
"Kamu tidak ingin bertanya untuk apa bunga ini? Apa kamu masih ingat ini bunga kesukaan siapa?" ucap Kirana lagi ketika Kemala hendak beranjak pergi.
Kemala masih cuek dan sibuk dengan pekerjaannya. Baginya, kedua orang ini hanyalah pelanggan, sama seperti yang lainnya.
"Sayang... Sudahlah... Kita harus cepat keburu matahari mulai tinggi.." sela Abimana.
"Dia harus tahu mas... Ini juga sedikit banyak disebabkan olehnya..." seru Kirana bersikeras.
"Ini bunga kesukaan mendiang Ummi Dewanti..
Beliau meninggal tiga bulan lalu karena sakit..."
Abimana menekan bahu Kirana yang bergetar.
Kemala yang sedang merapikan tangkai mawar tak sengaja menekannya hingga duri mawar itu menusuk telapak tangannya.
Nafas Kemala seakan tertahan di rongga dada begitu mengetahui kabar Ummi.
"Dia pergi dalam duka dan rasa bersalah. Rasa bersalah akan sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan... Tapi disatu sisi, orang yang menyebabkannya justru tak perduli sama sekali... dan lebih memilih menghilang...!" suara Kirana terdengar lantang hingga memancing perhatian pengunjung lainnya.
"Kirana... Sudahlah..." lerai Abimana.
"Mas... Dia harus tahu..."
"Dia tidak perlu tahu apapun karena dia bukanlah bagian keluarga Rahardjo lagi... Dia hanyalah orang asing sejak dia melangkah meninggalkan pondok... " tutur Abimana kejam.
Kemala yang tak tahan akan hinaan dan kata-kata kasar dari kedua pasangan itu memilih berlalu begitu saja.
Abimana melirik dengan ujung matanya.
Rahang tegasnya mengetat.
Bahu Kirana terlihat berguncang dengan nafas yang memburu.
"Ayo kita pergi..." ajak Abimana membawa istrinya pergi dari toko bunga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemala masih menelusupkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Tangisnya tergugu.
"Ummi.... maafkan saya... maaf karena tidak pernah menjenguk Ummi..."
"Saya terlalu malu untuk datang...."
Tangisan itu terdengar pilu.
Devi, salah satu rekannya masih berdiri di balik pintu.
Niat hati ingin menyusul dan menenangkan Kemala justru membuatnya menjadi mengetahui sisi lemah perempuan yang ia nilai sebagai perempuan dingin dan tak punya hati.
Devi masih berdiri dibalik pintu gudang dan menyandarkan punggungnya.
Hampir saja dia terjungkal ketika pintu dibuka oleh Kemala dari dalam.
Beruntung, Kemala segera menangkapnya.
Kecanggungan tercipta setelahnya.
"Maaf... Tadi saya hanya mau mengambil stok gabus..." ucap Devi membuat alasan.
Kemala hanya diam dan menyingkir, memberi jalan agar Devi bisa masuk kedalam gudang.
"Tak perlu selamanya untuk terlihat kuat... Kadang kita juga butuh seseorang untuk bercerita... " ucap Devi tanpa menolah kepada Kemala yang berdiri dibelakangnya.
Kemala mengepalkan kedua tinjunya yang berada disisi tubuhnya, "Tidak usah sok peduli... Kalian hanya ingin bahan ledekan baru untuk alasan menindas orang lain... " ucapnya dingin.
Devi menatap punggung Kemala yang menghilang dari balik tembok pembatas ruangan.
Ada riuh didadanya ketika sedikit banyak ia mengetahui kehidupan Kemala, gadis pendiam dan acap kali menjaga jarak dengan teman-teman kerja yang lain.
"Entah beban apa yang sedang kamu tanggung saat ini Kemala... Tapi saya harap, kamu akan selalu kuat menjalaninya...." gumam Devi.
bersambung..