"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Rahma"
"Arin"
"Kamu adik angkatnya Mas Aga ya? Kamu cantik sekali"
Aku hanya bisa tersenyum miris sambil menganggukkan kepala. Meski aku cantik, meski aku wangi, meskipun aku berdandan berjam-jam, memakai baju indah. Itu tidak cukup membuat Mas Aga kagum padaku. Mungkin setelah aku memberikan nyawaku, dia baru akan menyadari keberadaan ku.
Nyatanya sampai detik ini pun, Mas Aga tetap dingin dan tak pernah memandang ku. Bahkan sakit sekali rasanya tidak di akui sebagai istri di depan teman-temannya. Meski begitu, aku tetap menghormati dia, aku tetap melayani para tamunya dengan ramah.
"Benar sekali, Adik kamu cantik Ga. Bolehkah aku meminang nya?"
Aku hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani mengangkat nya.
"Dia tidak mungkin di bolehkan ibu berjodoh dengan orang jauh, lagi pula dia sudah punya calon suami"Jawab Mas Aga.
Aku sempat heran,kenapa dia bilang begitu? Kalau dia boleh punya pacar kenapa aku tidak?
"Wah siapa lelaki beruntung itu?"
Aku jadi makin tidak nyaman karena teman-teman mas Aga terus membicarakan dirinya.
"Mas Arin ke luar dulu, mau menebus obat" Dustaku.
Aku tidak tahan di jodoh-jodohkan dengan lelaki lain, sedangkan suamiku hanya diam. Dia justru asyik di suapi kekasihnya. Buah dan makanan yang dia tolak tadi, nyatanya sangat lahap jika pacar Mas Aga yang menyuapi. Itu makin membuat hati ini lara. Apa aku iri? Atau tanpa sadar aku jatuh cinta padanya? Hati ini selalu sakit melihat dia bertelfon mesra dengan wanita lain. Hati ini sesak mengetahui dia memiliki kekasih lain.
Apa Aku menyukai Mas Aga? Hati ini tidak akan sesakit ini jika tidak ada rasa di hati yang aku pendam. Dulu aku begitu mengagumi dia, mungkinkan rasa itu telah berubah jadi cinta? Hingga aku terus merasa tersakiti. Aku ingin sekali rasa ini pergi, Aku tidak mau terus menelan pil sakit hati melihat suamiku memiliki kekasih.
Melihat mereka begitu dekat,sungguh membuat hati ini iri.
Aku benar-benar tidak tahan melihatnya, aku keluar. Air mata ini langsung tumpah.
"Menangislah"
Aku mendongak menatap sosok lelaki yang hampir membuatku pergi.
Aku ingin bebas, tapi hati ini masih berat, entah benar-benar karena ibu, atau karena aku masih berharap suatu saat nanti mas Aga punya sedikit cinta untuk ku.
Aku makin terisak kala Dewa memberikan bahunya padaku. Dia hanya diam, melihatku yang terus menangis tanpa jeda.
Aku sungguh rindu ibuku, aku ingin pulang, aku rindu pantai di kampung ku, aku juga rindu saudara-saudaraku di sana.
Aku tidak tahu berapa lama aku bersandar di bahu Dewa, aku baru beranjak dari sana saat Mas Aga menelfon. Aku buru-buru menghapus air mata ini. Mungkin teman-teman mas Aga sudah pulang. Aku harus segera ke sana.
"Mau kemana?" Tanya Dewa
"Kembali ke kamar inap Suami ku, terima kasih sudah memberikan bahu mu untuk bersandar"
"Kamu masih mengaggap dia suami? dia bahkan punya wanita lain, dia tidak pernah mengakui mu, kenapa kamu masih keras kepala tidak mau pergi? "
Aku menatapnya tajam, dia sudah terlalu dalam ikut campur dalam urusan rumah tangga ku, aku tahu dia baik, aku tahu dia perhatian. Tapi aku tidak bisa menerimanya.
"Aku tidak akan pergi selama ibu masih hidup"
"Kenapa? kamu akan menangis begini setiap hari Rin, Kamu tahu saat melihat mu begini, aku ingin sekali meninjunya"
"Aku hargai kamu sebagai teman ku Dewa, tapi jangan ikut campur dalam urusan keluarga ku"
Aku segera berbalik,tak ingin hati ini goyah lagi. Aku akan berjuang sampai akhir, sampai dia bilang dia menyukaiku.
"Bukan dia yang mencintai mu Rin! Tapi aku" Teriakan Dewa sempat membuat ku berhenti, tapi aku tidak bisa menoleh.
Belum genap satu tahun aku menikah dengan mas Aga, aku masih punya banyak waktu untuk membuat dia menerimaku.
*****
Tiga hari sudah aku merawat mas Aga, Ibu belum juga pulang, sahabat ibu mengajak ibu Travelling, jadi beliau memintaku menjaga mas Aga.
Aku merawatnya dengan setulus hati, tiap hari aku menyuapinya, memapahnya ke kamar mandi, mengompres nya saat suhu badannya kembali panas.
Rahma tidak terlihat lagi setelah hari itu, Mas Aga juga tidak terlihat menelfon nya. Hari ini mas Aga sudah di perbolehkan pulang, tapi tidak boleh beraktivitas berat, jadi dia minta surat izin dari pihak rumah sakit untuk tidak masuk bertugas.
"Biar aku yang bawa" Ucapnya, saat aku membawa tas besar berisi barang-barang miliknya.
"Arin bisa mas, mas tidak boleh capek-capek dulu. Mas tunggu di sini dulu, nanti aku kembali"
Aku bergegas membawanya barang-barang kami ke mobil, supir yang kemarin sudah di bawah. Aku memberikan kunci mobil padanya, dan kembali ke atas untuk memapah mas Aga.
Sampai di pertengahan jalan, aku melihat mas Aga berjalan tertatih, dia masih lemas, ini efek mendaki dalam keadaan tidak fit, jadi otot kakinya menegang, apalagi mas Aga memaksakan diri untuk sampai ke puncak.
"Lho mas kog sudah turun?" Tanyaku hawatir.
"Sudah jalan saja, aku tidak apa-apa"
Meski bilang begitu, aku tetap memapahnya.
"Apa ibu sudah pulang?" Tanya mas Aga padaku. Aku tahu mas Aga pasti sudah tahu, tapi kenapa masih bertanya padaku.
"Belum mas"
"Kalau begitu kita nanti mampir dulu ke resto terdekat"
"Iya mas, Arin tidak masalah,asal mas jangan capek-capek dulu"
"Ok"
Aku tersenyum, ini pertama kalinya kami akan makan berdua di sebuah tempat makan, meski dia tidak bilang mau mengajak ku ikut serta, tapi aku yakin dia bilang begitu karena ingin mengajak ku makan di tempat itu.
Aku sangat bersemangat sekali, aku sampai tidak sabar agar mobil segera sampai di rumah makan itu.
Sesampainya di sana, aku kembali membantu mas Aga, aku memapahnya masuk.
Dia menunjuk tempat duduk di resto ini, aku mengagguk dan kembali memapahnya kesana. Senyumku masih terpancar saat aku berjalan ke sana. Namun begitu dekat, aku tercengang melihat sosok wanita yang sudah duduk di tempat lesehan itu. Aku terpaku, bahkan wanita itu membawa serta orang tuanya. Sebenarnya ada apa ini?
"Kamu ke luar dulu, kalau kamu mau makan, kamu bisa duduk di salah satu tempat kosong di sini, Nanti aku yang bayar"
Aku tersenyum kecut, jadi dia ke sini untuk bertemu Rahma dan keluarganya? bukan ingin mengajak ku makan? Kenapa aku percaya diri sekali. Hati ini kembali hancur berkeping-keping, selera makanku hilang seketika.
"Duh air mata. Jangan jatuh lagi"
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...