NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Sepasang mata Arumi seketika melotot tajam ke arah Zaky. Kedua tangannya di atas pangkuan mengepal begitu kuat hingga kuku jarinya memutih. Rasa sakit, amarah, dan harga diri yang terkoyak belasan tahun lalu mendadak naik ke permukaan, membakar habis rasa canggungnya.

"Untuk apa kamu tanyakan hal itu?!" desis Arumi dengan suara tertahan, menekan emosinya agar tidak sampai meledak di rumah orang. "Semua yang terjadi tentang aku, hidupku, dan masa laluku, sudah sama sekali bukan urusanmu lagi! Jadi, aku tidak mau dan tidak perlu menjawab pertanyaan konyol mu itu!" jawab Arumi teramat ketus.

Mendengar penolakan yang begitu tajam, Zaky tidak mendebat. Pria itu justru menghela napasnya panjang, menatap Arumi dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus pengertian. Ia sangat menghargai keputusan Arumi yang masih membentengi diri.

"Ya sudah... kalau kamu tidak mau jawab, juga tidak apa-apa, Rum," ujar Zaky, suaranya melembut namun terdengar sangat mantap. "Yang jelas, aku hanya ingin kamu tahu satu hal... Perasaanku padamu masih tetap sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sedikit pun."

Inilah kalimat jujur yang sedari dulu ingin Zaky sampaikan langsung di depan Arumi. Dulu, karena ancaman keras dari mendiang ayahnya yang mengancam akan menghancurkan hidup keluarga Arumi di kampung jika ia tidak bertanggung jawab pada Citra, Zaky terpaksa menyerah. Ia terpaksa pergi dan membiarkan dirinya dicap sebagai bajingan demi melindungi keselamatan Arumi dan keluarganya dari kekuasaan Tanuwijaya saat itu.

Arumi memalingkan wajahnya, dadanya bergemuruh hebat mendengar pengakuan Zaky. Alih-alih tersentuh, ia justru merasa semakin tidak nyaman dan terancam oleh kata-kata manis itu.

"Maaf, Pak Zaky," ucap Arumi dengan penekanan dingin pada nama formal pria itu. "Rasanya kita sangat tidak pantas membahas hal pribadi seperti ini di sini. Kedatangan saya ke rumah ini murni untuk memberikan les privat kepada Azzam dan Azzura atas permintaan Anda sendiri atau lebih tepatnya, paksaan melalui Kepala Sekolah. Tapi melihat sikap Anda sekarang, sepertinya memang ada niat terselubung di balik semua ini!" tuduh Arumi terang-terangan dengan tatapan penuh kecurigaan.

Zaky sedikit tertegun. Ia membuka mulutnya, hendak meluruskan tuduhan itu dan membela diri. Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibir Zaky, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar kembali dari arah koridor.

Azzam dan Azzura muncul secara bersamaan dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka. Di tangan Azzura, terdapat sebuah kotak kotak kecil berwarna pink muda yang diikat dengan pita manis.

"Bu Arumi! Lihat, kami punya sesuatu untuk Ibu!" seru Azzura riang, seketika memecah ketegangan pekat yang sempat menyelimuti paviliun belakang tersebut.

Kedatangan Azzam dan Azzura yang tiba-tiba membuat suasana di paviliun seketika berubah. Baik Zaky maupun Arumi langsung salah tingkah. Zaky berdehem pelan sambil membetulkan posisi duduknya, sementara Arumi buru-buru mengusap sudut matanya, berusaha menyembunyikan sisa kekesalan. Mereka berdua mendadak gugup karena sadar percakapan intim tadi nyaris saja ketahuan oleh si kembar.

Azzura melangkah mendekat dengan senyum manis, lalu menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna pink muda. Tak mau kalah, Azzam juga ikut maju dan memberikan sebuah kotak panjang eksklusif berwarna hitam.

"Mohon diterima ya, Ibu Guru!" ucap Azzam dan Azzura secara serempak.

Arumi terpaku. Matanya membelalak bulat dan jemarinya refleks menutup mulut karena tidak percaya. Rasa haru mendadak menyeruak di dadanya, menggantikan rasa sesak yang sempat membakar hatinya beberapa menit lalu.

Zaky yang duduk di sebelah Arumi pun ikut tertegun. Pria itu sama sekali tidak menyangka bahwa kedua anaknya yang terkenal keras kepala dan pemberontak bisa bersikap semanis dan sepeduli ini kepada guru mereka.

"Ayo dibuka, Bu. Jangan malu-malu," ujar Zaky lembut, ikut membujuk.

Azzam dan Azzura langsung bertepuk tangan heboh, memanaskan suasana. "Buka! Buka! Buka!" seru mereka bersamaan.

Mau tidak mau, Arumi tersenyum manis dengan pipi yang sedikit merona karena menjadi pusat perhatian. Ia memutuskan untuk membuka kotak pertama dari Azzura. Begitu tutup kotak beludru itu terbuka, mata Arumi berbinar melihat sebuah bros hijab cantik bermotif kupu-kupu yang berkilauan diterpa cahaya.

"Wah... kok kamu tahu sih kalau Bu Guru suka sekali dengan bros kupu-kupu?" tanya Arumi dengan suara yang mulai berkaca-kaca karena terharu.

Azzura tersenyum bangga. "Karena selama ini aku sering memperhatikan Ibu Guru. Ibu sering memakai bros kupu-kupu kalau lagi mengajar di kelas, dan menurutku itu membuat Ibu terlihat jauh lebih manis dan juga cantik!"

Mendengar perhatian sedetail itu dari murid perempuan yang sempat membencinya, Arumi tidak dapat lagi menahan rasa buncah di dadanya. Ia langsung menarik Azzura ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. "Terima kasih banyak ya, Azzura. Ibu suka sekali."

Setelah melepaskan pelukannya, Arumi beralih ke kotak panjang berwarna hitam pemberian Azzam. Begitu membukanya, Arumi kembali dibuat terkejut. Di dalam kotak itu terbaring sebuah pena berdesain sangat elegan dengan paduan warna hitam pekat dan aksen emas (gold) yang mewah.

"Ya ampun... bagus sekali penanya, Azzam. Ini pasti mahal," ujar Arumi takjub.

Azzam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan rasa gengsinya meski matanya menyiratkan kepuasan. "Terima kasih kembali, Bu Guru. Aku sengaja memberikan hadiah pena itu karena... aku tahu dua hari yang lalu Ibu kehilangan pena kesayangan Ibu saat memeriksa tugas kami."

Arumi benar-benar tidak menyangka remaja laki-laki di hadapannya ini bisa sedetail dan sepeduli itu memperhatikannya.

"Rupanya Azzam tahu ya kalau pena Ibu hilang?" Arumi tersenyum penuh arti dengan binar mata kebanggaan. "Kamu tahu? Pena yang hilang itu sebenarnya sangat berharga untuk Ibu. Itu adalah hadiah dari Ayahnya Ibu, diberikan khusus saat Ibu berhasil lolos menjadi PNS," cerita Arumi penuh dengan rasa bangga, berbagi sedikit kisah hidupnya kepada kedua muridnya.

*

*

Tak terasa, jarum jam terus berputar hingga sore pun tiba. Namun, keceriaan di paviliun itu mendadak terusik saat langit Jakarta dengan cepat berubah menjadi mendung pekat yang gulita. Tak butuh waktu lama, kilatan petir kian gencar menyambar, membelah langit, disusul oleh suara gemuruh yang menggelegar dahsyat. Hujan lebat pun langsung tumpah membasahi bumi.

Arumi yang melihat situasi itu langsung panik. Ia tahu betul dirinya tidak membawa jas hujan di dalam bagasi motor bebeknya.

"Aduh, sudah sore dan hujannya deras sekali. Anak-anak, Pak Zaky, sepertinya saya harus pamit pulang sekarang. Saya terpaksa nekat saja menerobos hujan sebelum jalanan banjir," ujar Arumi cemas sambil mulai merapikan buku-bukunya.

"Jangan, Bu! Bahaya!" potong Azzura cepat, menahan lengan Arumi.

"Iya, Bu. Di luar petirnya besar banget, jalanan pasti licin. Kami tidak mengizinkan Ibu pulang naik motor sendirian," timpal Azzam tegas. Remaja laki-laki itu kemudian menoleh ke arah ayahnya. "Pah, minta tolong siapkan sopir buat antar Bu Arumi sampai rumahnya dengan selamat ya, Pah? Motor Bu Arumi biar ditinggal di sini dulu saja."

Arumi buru-buru melambaikan tangannya menolak. "Eh, tidak usah, Azzam, Azzura! Ibu benar-benar tidak apa-apa, tidak perlu merepotkan sopir rumah kalian."

"Biar Papah saja yang mengantarkan guru kalian sampai ke rumahnya."

Kalimat penolakan Arumi terputus seketika oleh suara Zaky yang terdengar tegas. Pria itu berdiri, merapikan pakaiannya dengan tenang. "Kebetulan Papah juga ada urusan mendadak yang harus diselesaikan di luar. Jadi sekalian jalan."

Zaky sengaja mengeluarkan alasan tersebut. Ini adalah taktik dan momen emas yang sengaja ia manfaatkan agar bisa berdua saja dengan Arumi, dan tentunya agar Arumi kembali tertarik padanya.

Arumi tersentak, matanya membelalak tak percaya menatap Zaky. Jiwanya menjerit frustrasi karena pria ini selalu saja menemukan cara untuk mendekatinya

Sementara kehebohan kecil terjadi di paviliun, di balik sebuah pilar tembok besar yang menghubungkan rumah utama dan taman belakang, berdirilah Nyonya Maya.

Wanita tua itu bersandar di tembok dengan napas yang memburu. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya memutih. Wajahnya yang semula anggun kini menegang, dipenuhi oleh rasa syok dan amarah yang luar biasa.

Rupanya, sejak awal pergantian jam les tadi, Nyonya Maya sempat berniat mengantarkan camilan tambahan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar perdebatan sengit dan suara ketus Arumi kepada putranya beberapa saat lalu sebelum cucunya datang. Ia mendengar dengan jelas nama masa lalu yang saling dilemparkan dan tuduhan-tuduhan itu.

'Jadi... Bu Guru Arumi yang begitu diagung-agungkan anak-anak adalah wanita kampungan itu?' batin Nyonya Maya dengan dada yang bergemuruh hebat, dipenuhi rasa tidak percaya yang bercampur dengan kebencian lama yang bangkit kembali.

'Wanita dari desa perkebunan yang sempat hampir dinikahi oleh putraku secara diam-diam dua belas tahun yang lalu? Kenapa... kenapa dari jutaan orang di Jakarta, harus perempuan pembawa sial itu yang kembali masuk ke dalam kehidupan anak dan cucu-cucuku?!'

Bersambung...

1
Ayunda
dasar emaknya Zaki tuh nenek lampir
Patrick Khan
zaky br sadar klo ada ayu😁😁😁..nyok tanya jawab ke ayu. siap2 ayu ngajak taworan ngegas jawabnya🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: tau aje 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
aristi
wow Brebes itu kampungku thor😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, apa kabar warga Brebes 🤗
total 1 replies
Nar Sih
pilihan yg tepat zaky,buruan temuin ayu minta tolong pada nya dia pasti tau sebab mslh kamu knpa arumi berubah pada mu
Nar Sih
jgn menyerah zaky,cri tau sebab arumi berubah
mimief
hayooo Zaki
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
mimief: lanjut Thor 🤭
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Zaky........dari dulu sampai sekarang kenapa otakmu lemot dan kau nyonya Maya yang sombong yang membiarkan anaknya Zaky menjadi duda karatan dan tak tersentuh, hadeuh dasar si nyonya ogeb/Hammer//Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah duda karatan 🤣🤣🤣
total 1 replies
mamayasna
syuuliitt dahh
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
neny
selidiki ath zaky. atas apa yg terjadi sm arumi,mengapa sikap nya berubah,,tanya sm ayu,,km kan pintar,masa gtu ajh mesti dikasih tau
neny: ya iya lah,,hanya bertanya tanya dlm hati doang mah gk akan ada jawaban nya🤣🤣
total 2 replies
Teh Euis Tea
Zaky, ibumu biang keroknya, ibumu jg yg nyekokin biar km ga nikah lg
dasar nenek lampir
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh, mak lampir 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah Zaky engg tau dong ibunya udh ngelabrak Arumi yah
Teh Yen
duh yg CLBK (cinta lama bersemi kembali) brasa muda kembali sampe.engg sadar senyum" sendiri hihii 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
zaky ..cri tau sja knpa sikap arumi berubah ,dan itu grgr ibu mu
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ,kebayang,,bila ngk jumpa 😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
ya ampun Bu Maya bkn Arumi loh yg deketin putramu tp si Zaky sendiri yg msh ngejar Arumi
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weh, aku di tumbalin 🤣🤣🤣/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
total 1 replies
mimief
gas yu...yg model beginian mah jangan kasih kendor 🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh siap 🤣🤣
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayolah Ayu jaga Arumi dari kekejaman mulutnya nyonya Maya,kalau dia menyakiti Arumi lawan Ayu jangan diam aja udah terlalu banyak penderitaannya Arumi akibat nyonya Maya karena fitnahnya Citra
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😄
total 1 replies
neny
sabar ya rum,,nanti jg kebenaran akan terungkap,,cepat atau lambat,,semangat💪😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semangat juga kak 😀
total 1 replies
Teh Euis Tea
baru di senyumin Arumi aj udah serasa dunia milik km sendiri Zaky 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah itu dia, apalagi klo yg lain, bisa pingsan 🤣🤣
total 1 replies
neny
ter arumi arumi...🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh kak🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!