NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:195
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Bernama Layar Ponsel

Kamar tidur rumah petak itu diliputi kegelapan yang temaram. Hanya ada satu sumber cahaya yang menyilaukan mata: pijar biru dari layar telepon genggam berukuran enam inci yang digenggam erat oleh Arini.

Hari sudah beranjak siang. Tugas-tugas rumah tangga yang seharusnya ia kerjakan—mencuci tumpukan pakaian kotor di kamar mandi, menyapu debu jalanan yang masuk lewat sela-sela jendela, atau menyiapkan makan siang—ia biarkan begitu saja. Arini terbaring miring di atas kasur busa yang sudah menipis di bagian tengahnya. Ibu jarinya menari cepat di atas layar kaca yang licin, membolak-balik lini masa media sosial tanpa henti (scrolling).

Setiap kali gambar atau video baru muncul di layarnya, rasa hangat di dadanya berubah menjadi hawa panas yang membakar.

Sebuah unggahan video pendek memperlihatkan seorang wanita seusianya—salah satu kawan seangkatannya di akademi dulu—sedang berdiri di atas geladak kapal yacht yang membelah lautan biru Bali. Wanita itu mengenakan gaun sutra melayang berwarna putih, memegang segelas champagne, sementara seorang pria berbadan tegap dengan kemeja linen dan jam tangan mewah memeluk pinggangnya dari belakang sambil tersenyum mesra. Pada keterangan foto tertulis kalimat singkat: “HUT Pernikahan ke-4. Terima kasih suamiku yang selalu memanjakanku dengan kejutan manis ini.”

Arini memejamkan mata rapat-rapat. Gigi atasnya menggigit bibir bawah hingga rasa perih dan asin darah tipis terasa di lidahnya.

Ia membalikkan badan, menatap langit-langit kamar yang dihiasi noda bekas bocoran air hujan yang mengering menjadi lingkaran-lingkaran cokelat kotor. Keheningan kamar itu hanya diisi oleh suara kipas angin gantung tua yang berderit menakutkan setiap kali baling-balingnya berputar melepaskan hawa panas.

“Kenapa harus aku?” batin Arini berteriak dalam keputusasaan yang kelam. “Kenapa wajah paling cantik di angkatanku harus membusuk di tempat terkutuk ini? Apa kurangnya aku dibanding mereka? Aku berhak mendapatkan kehidupan yang indah, kemewahan yang layak, dan suami yang bisa membanggakanku di depan semua orang!”

Bayangan Dimas kembali melintas di benaknya: pria dengan kemeja kusam yang berbau minyak pelumas, telapak tangan yang kasar bercampur kapalan akibat sering mengangkat suku cadang berat, dan tutur kata lembutnya yang tidak pernah tegas menuntut perubahan nasib. Bagi Arini, kebaikan dan kesabaran Dimas bukan lagi sebuah keutamaan, melainkan bukti kepasrahan seorang pria yang berjiwa kerdil.

Drrrrt... drrrrt... drrrrt...

Ponsel di tangannya bergetar hebat, memecah derit kipas angin yang monoton. Nama "Ibu" tertera jelas di layarnya, berkedip-kedip menanti jawaban.

Arini menghela napas panjang dengan gusar. Dengan enggan dan gerakan malas, ia menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

"Halo, Bu," sapa Arini. Suaranya datar, ketus, dan tanpa kehangatan sedikit pun.

"Halo, Arini... Assalamu’alaikum, Nak," suara Bu Ratna terdengar lembut dari seberang telepon, membawa nada kecemasan khas seorang ibu yang nalurinya selalu peka terhadap perubahan anak kandungnya. "Suaramu kok serak begitu? Kamu sedang sakit, Nak? Atau baru bangun tidur?"

"Tidak sakit, Bu. Cuma capek," jawab Arini pendek, enggan berpanjang lebar.

"Capek kenapa? Dimas mana? Dia sudah berangkat kerja dari pagi, kan?" tanya Bu Ratna lagi. Udara di seberang sana terdengar riuh oleh suara angin desa dan kicau burung di halaman rumah tua mereka di kampung.

"Seperti biasa, Bu," Arini terkekeh hambar, sebuah tawa dingin yang mengundang kepedihan. "Suamiku tercinta itu sedang sibuk melakoni peran sebagai kuli. Pagi sampai sore jadi staf administrasi berpenghasilan pas-pasan, malamnya memeras keringat di bengkel kotor demi mendapat upah beberapa puluh ribu rupiah. Hidup yang sangat spektakuler, bukan?"

Di seberang sana, hening sejenak. Yang terdengar hanyalah helaan napas berat Bu Ratna yang panjang dan dalam.

"Arini..." tegur ibunya dengan nada penuh kehati-hatian. "Jangan pernah bicara kasar dan merendahkan suamimu seperti itu. Tidak baik, Nak. Dosa."

"Aku tidak merendahkan, Bu! Aku cuma bicara kenyataan!" suara Arini mendadak melengking, membentak saluran telepon itu tanpa memedulikan perasaan ibunya. Ia duduk tegap di tepi kasur, matanya membelalak penuh emosi. "Ibu tidak tahu rasanya jadi aku! Setiap kali arisan keluarga atau kumpul teman-teman, aku harus mencari seribu alasan untuk tidak datang! Aku malu, Bu! Teman-temanku dijemput pakai mobil bagus, pakai perhiasan emas, membawa tas bermerek. Sedangkan aku? Mau membeli krim wajah yang agak bagus saja aku harus memutar otak menekan uang belanja sayur seminggu!"

"Istigfar, Arini! Istigfar, Nak!" potong Bu Ratna dengan suara yang mulai bergetar menahan kesedihan. "Kemewahan yang kamu lihat di luar sana itu cuma bungkus! Belum tentu di dalamnya ada kebahagiaan! Kamu itu silau oleh harta orang lain sampai-sampai mata hatimu buta tidak bisa melihat kebaikan suamimu sendiri!"

"Kebaikan tidak bisa dipakai untuk bayar sewa rumah, Bu!" pangkas Arini tajam.

"Dimas itu pria yang jujur dan tulus!" balas Bu Ratna tidak mau kalah, berusaha membentengi menantunya dari amukan keangkuhan putrinya sendiri. "Dia tidak pernah memukulmu, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak pernah melirik wanita lain! Setiap rupiah dari keringat halalnya dia serahkan utuh padamu! Di zaman sekarang, mencari pria seikhlas Dimas itu sulit, Arini! Syukuri apa yang ada, dampingi dia dari bawah. Dulu almarhum Bapakmu dan Ibu juga merintis dari nol—"

"Jangan samakan zamannya Ibu dengan zamanku sekarang!" bentak Arini, memotong petuah ibunya tanpa sisa rasa hormat. "Bapak dulu mungkin bisa diajak hidup susah, tapi aku tidak sudi! Aku punya wajah cantik, aku punya otak, aku pantas dapat yang jauh lebih baik daripada hidup melarat bersama pria yang tidak punya ambisi seperti Dimas!"

"Arini! Jaga ucapanmu!" bentakan Bu Ratna terdengar keras, menyiratkan rasa sakit hati yang amat dalam atas kelakuan putrinya. Suaranya mulai terputus-putus oleh keharuan. "Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi wanita yang tinggi hati dan kufur nikmat! Ingat pesan Ibu baik-baik, Arini... Jangan pernah meremehkan ketulusan seorang pria yang berjuang mati-matian untukmu. Sekali kamu patahkan hatinya dan kamu buang dia demi silau harta, kamu akan merangkak di atas pecahan kaca untuk memohon maafnya di masa depan!"

"Cukup, Bu! Aku pusing dengar ceramah Ibu yang selalu membela Dimas!"

KLIK!

Tanpa menunggu balasan lagi dari ibunya, Arini mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dadanya naik-turun menahan napas yang memburu. Ponsel itu ia lemparkan ke atas kasur dengan kasar.

Ia memegang pelipisnya yang berdenyut-denyut. Rasa kesal kepada suaminya kini merembet menjadi kemarahan pada seluruh dunia, termasuk pada ibu kandungnya sendiri yang dianggap tidak pernah memahami penderitaan batin yang ia alami.

Arini berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian. Ditariknya pintu kayu tipis itu hingga berderit keras. Matanya menyapu deretan pakaian yang menggantung lemas di dalamnya. Hanya ada beberapa gaun Sederhana hasil belian di pasar kaget beberapa bulan lalu. Tidak ada gaun malam yang megah, tidak ada bahan sutra, tidak ada label perancang busana terkenal.

Namun, matanya terhenti pada sebuah gaun hitam polos berpotongan pas badan (bodycon) yang ia beli dua tahun lalu—satu-satunya gaun yang masih mampu menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan anggun.

Hari ini ada acara reuni kecil dan syukuran pembukaan usaha seorang teman SMA-nya di sebuah kafe kelas atas di pusat kota. Arini tahu, ia sebenarnya tidak memiliki cukup uang untuk sekadar memesan minuman mahal di tempat seperti itu. Namun rasa gengsi dan kehausannya akan pengakuan dari dunia luar jauh lebih besar daripada akal sehatnya.

Ia mengepalkan tangannya erat-erat di depan lemari.

"Aku tidak boleh terlihat seperti orang miskin di depan mereka," desis Arini pada dirinya sendiri di dalam kamar yang sepi. "Hari ini... aku akan menunjukkan siapa Arini sebenarnya."

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!