**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Bersampul coklat
Kertas di dalam amplop cokelat itu terlipat tiga. Aina membukanya perlahan, seolah takut huruf-huruf di atasnya akan berhamburan jika disentuh terlalu keras.
Di bagian atas tertulis kop kantor kepegawaian kabupaten. Di bawahnya, beberapa paragraf ketikan yang rapi. Mata perempuan bermata sayu itu bergerak cepat, melompati kalimat-kalimat pembuka yang resmi, mencari satu hal yang paling penting.
Lalu jari-jarinya berhenti.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Saudari Aina tidak terbukti dengan sengaja menjadi istri kedua. Yang bersangkutan dinyatakan sebagai pihak yang dirugikan akibat keterangan palsu mengenai status perkawinan suaminya.
Aina membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Huruf-huruf itu tidak berubah.
Namun, masih ada paragraf berikutnya.
Yang bersangkutan terbukti satu kali menggunakan akses data kependudukan untuk kepentingan pribadi. Atas pelanggaran tersebut, yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin ringan berupa teguran tertulis.
Di paragraf terakhir, tertulis bahwa laporan dari Lalu Mustiadi dinyatakan tidak terbukti, dan segala hal yang berkaitan dengan dugaan pemalsuan dokumen telah diteruskan kepada pihak yang berwenang.
Aina menurunkan kertas itu ke pangkuannya. Perempuan bertubuh mungil itu tidak berkata apa-apa. Bahunya mulai bergetar.
"Dik?" Hamdan mencondongkan tubuh dengan cemas. "Bagaimana?"
Aina menyerahkan surat itu kepada kakaknya. Lelaki jangkung itu membacanya dengan cepat. Wajahnya yang tegang perlahan mengendur, lalu berubah menjadi senyum lebar.
"Teguran tertulis," ucap Hamdan. "Hanya teguran tertulis, Dik."
Pak Mahsun ikut membaca dari balik bahu Hamdan. Lelaki berkumis tipis itu menghela napas panjang, lalu tersenyum.
"Selamat, Bu Aina. Ibu masih pegawai Kantor Camat Pujut."
Aina menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. Bukan tangis karena sakit. Tangis karena beban yang selama berminggu-minggu menekan dadanya akhirnya terangkat.
Ketika mereka berjalan menuju tangga, pintu sebuah ruangan terbuka. H. Lalu Fathurrahman keluar dengan setumpuk map di tangannya. Lelaki berkacamata tipis itu berhenti ketika melihat Aina.
"Saudari Aina. Sudah menerima suratnya?"
"Sudah, Pak. Terima kasih."
Ketua tim itu menggeleng pelan. "Jangan berterima kasih kepada saya. Kejujuran Saudari sendiri yang menyelamatkan Saudari." Lelaki itu terdiam sejenak. "Teguran itu bukan akhir. Anggap saja sebagai pengingat."
"Saya akan mengingatnya seumur hidup, Pak."
Lelaki berkacamata tipis itu tersenyum kecil, lalu berlalu menuju ruangan lain.
Di halaman bawah, Raka berdiri gelisah di samping mobil. Begitu melihat Aina menuruni tangga dengan mata basah, wajah lelaki berlesung pipi itu langsung pucat. Raka berlari menghampiri.
"Na? Bagaimana?"
Aina tidak menjawab. Perempuan bertubuh mungil itu hanya menyerahkan surat di tangannya. Raka membacanya, lalu terduduk di tepi trotoar dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Alhamdulillah," bisiknya berulang-ulang. "Alhamdulillah."
Pada rabu pagi, Aina kembali ke Kantor Camat Pujut.
Perempuan berseragam cokelat itu memarkir motor matic tuanya di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai berguguran. Halaman itu bersih, persis seperti cerita Rini. Pak Sahnan berdiri di dekat gerbang sambil memegang sapu lidi. Lelaki tua itu tersenyum lebar.
"Selamat datang kembali, Bu Aina."
"Terima kasih sudah menjaga tempat parkir saya, pak."
Begitu Aina masuk ke ruang pelayanan, suara tepuk tangan pecah. Rekan-rekan kerjanya berdiri dari meja masing-masing. Rini berlari paling depan dan memeluk Aina erat-erat. Perempuan berpipi bulat itu menangis lebih keras daripada Aina sendiri.
"Ibu kembali! Ibu benar-benar kembali!"
Pak Mahsun keluar dari ruangannya membawa sebuah papan nama kecil. Papan nama yang dulu berdiri di atas meja Aina, sebelum disimpan selama masa pemeriksaan.
"Ini milik Ibu," katanya sambil meletakkan papan nama itu di tempatnya semula.
Aina – Pelayanan Administrasi Kependudukan.
Aina menatap papan nama itu lama. Huruf-hurufnya tidak berubah. Namun, perempuan bermata sayu itu merasa telah menjadi orang yang sangat berbeda dibandingkan pagi terakhir duduk di meja tersebut.
Pukul delapan, pintu pelayanan dibuka. Warga mulai berdatangan.
Pelanggan pertama Aina pagi itu adalah sepasang calon pengantin muda dari Desa Sengkol. Sang lelaki mengenakan kemeja batik. Sang perempuan memakai kerudung merah muda. Keduanya datang untuk mengurus surat pengantar nikah.
Aina memeriksa berkas mereka dengan teliti. Jauh lebih teliti dari pada biasanya. Perempuan berseragam cokelat itu mencocokkan setiap nama, setiap tanggal lahir, dan terutama setiap kolom status perkawinan.
"Mas," ucap Aina kepada calon mempelai lelaki. "Status Mas di sini tertulis belum kawin. Apakah benar?"
Lelaki muda itu mengerutkan dahi, bingung. "Benar, Bu. Saya belum pernah menikah."
"Baik." Aina tersenyum. "Maaf kalau saya bertanya. Bagi saya, kolom ini sangat penting. Satu kalimat di kolom ini bisa menentukan nasib seseorang selama bertahun-tahun."
Calon pengantin perempuan menatap Aina dengan heran. Lalu, entah mengapa, perempuan muda itu menggenggam tangan calon suaminya sedikit lebih erat.
Menjelang pukul sepuluh, Rini memanggil nomor antrean berikutnya.
"Nomor tiga puluh satu, silakan ke loket Bu Aina."
Aina merapikan berkas di mejanya. Perempuan bertubuh mungil itu mendengar langkah ringan seorang perempuan, disusul suara anak kecil yang bersenandung riang.
Suara itu sangat dikenalnya.
Aina mengangkat wajah. Di depan loketnya berdiri Sekar. Perempuan berwajah teduh itu mengenakan gamis biru muda dan kerudung putih. Di sampingnya, Arsya berjinjit sambil menggenggam ujung baju ibunya. Bocah bermata bulat itu memakai kaus bergambar dinosaurus yang sama.
Sekar menyodorkan sebuah map plastik bening ke atas meja sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Bu. Saya mau minta legalisir kartu keluarga untuk pendaftaran TK anak saya."
Aina tertawa. Tawa yang begitu lepas sampai Rini menoleh dari loket sebelah. Beberapa minggu lalu, kalimat yang sama pernah menghancurkan dunianya. Hari ini, kalimat itu terdengar seperti lelucon yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Pendaftaran TK yang kemarin belum selesai?" tanya Aina.
"Belum. Gara-gara huruf yang kurang satu itu." Sekar ikut tertawa. Lalu wajahnya berubah lebih serius. "Aku juga ingin memberitahumu sesuatu. Minggu lalu aku sudah mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Praya. Abang tidak keberatan."
Aina mengangguk pelan. "Kamu baik-baik saja?"
"Lebih baik daripada sebelumnya."
Arsya merogoh saku celananya, lalu menyodorkan sebutir permen jahe ke atas meja.
"Ini untuk Ibu cantik. Biar adiknya tidak mual."
Aina menerima permen itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Arsya."
Setelah Aina selesai melegalisir kartu keluarga itu, Sekar tidak langsung pergi. Perempuan berwajah teduh itu menatap Aina dengan ragu, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Aina, ada satu hal lagi." Sekar merendahkan suaranya. "Kemarin kuasa hukum Mamik datang ke rumah. Mamik ingin bertemu denganku dan Arsya di rumah tahanan."
"Kamu akan datang?"
"Aku belum tahu." Sekar menggigit bibirnya. "Tapi Mamik juga meminta satu orang lagi untuk datang. Mamik bilang, tanpa orang itu, dia tidak akan menyerahkan apa pun yang dia simpan."
"Siapa?"
Sekar menatap Aina lurus-lurus.
"Kamu."