NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sari Amnesia

Monitor otak di ICU RS Sanglah Bali itu berbunyi semakin cepat.

*Tut-tut-tut-tut-tut-tut!*

Jari tangan Sari yang selama 7 hari tidak bergerak, kini bergerak lagi. Lebih jelas. Menggenggam.

Menggenggam tangan kecil Bintang yang baru saja belajar berdiri dengan kaki yang 11 hari lalu masih bengkok dan dibilang kutukan satu desa.

"SARI! SARI! BUKA MATA!" teriak Johan yang masih tergeletak di lantai ICU karena mencoba berdiri dari kursi roda lumpuhnya dan jatuh.

Mama Leni yang memegang sertifikat tanah sudah berlutut, berdoa dalam bahasa Sumba yang tidak dimengerti dokter Bali, tapi air matanya dimengerti semua orang.

Dokter ICU langsung memanggil tim, "Siapkan obat! Pasien sadar! Aktivitas otak 90%! Cabut sedasi!"

Bintang, bayi 11 hari yang ajaib itu, masih berdiri memegang ranjang ibunya dengan dua kaki kecilnya yang baru sembuh. Kakinya gemetar karena baru pertama kali menahan berat badan, tapi ia tidak mau duduk. Seolah ia tahu, kalau ia duduk, ibunya akan tidur lagi selamanya.

Perlahan, sangat perlahan, mata Sari yang tertutup selama 7 hari, terbuka.

Terbuka sedikit.

Cahaya lampu ICU yang terang membuatnya silau. Ia mengerjap.

Johan yang di lantai, Mama Leni yang berlutut, Dokter, perawat, semua menahan napas.

Sari melihat sekeliling. Melihat selang-selang di tangannya. Melihat atap ICU yang putih. Melihat Mama Leni yang menangis. Melihat Johan yang lumpuh tergeletak di lantai dengan kepala diperban. Melihat seorang bayi kecil berdiri memegang ranjangnya dengan kaki yang di-gips bekas.

Lalu Sari berkata, dengan suara serak karena 7 hari pakai ventilator, suara yang membuat seluruh ICU yang tadinya penuh harapan, langsung membeku menjadi es.

"Siapa... siapa kalian...? Kenapa saya di sini...? Perut saya... kenapa kempes...? Anak saya... mana anak saya...?"

Johan yang di lantai langsung membeku. Mama Leni berhenti berdoa.

Dokter ICU langsung memeriksa pupil mata Sari dengan senter.

"Bu Sari, nama Ibu siapa?"

Sari mengernyit, memegang kepalanya yang pusing.

"Nama saya... Sari... Sari binti Maria... Saya... saya hamil... hamil 9 bulan... mau melahirkan... di gubuk Kolorai... kenapa saya di Bali...? Siapa bayi itu...?"

Sari menatap Bintang yang berdiri memegang ranjangnya, dengan tatapan kosong, tidak kenal.

Bintang, bayi 11 hari itu, seolah mengerti ibunya tidak mengenalinya, langsung menangis kencang. Tangisan yang pecah, bukan tangisan lapar, tapi tangisan kehilangan.

"Bu Sari amnesia!" kata dokter ICU dengan suara berat. "Amnesia retrograde karena koma 7 hari dan pendarahan otak kecil saat donor. Ingatannya kembali ke 11 hari lalu! Saat sebelum melahirkan Bintang! Dia ingat dia hamil, tapi dia lupa dia sudah melahirkan Bintang, lupa Bintang kakinya sembuh, lupa dia donor 750 cc darah, lupa dia donor sumsum, lupa dia koma!"

Johan yang lumpuh di lantai, yang baru saja melihat keajaiban Bintang bisa berdiri, kini harus menerima kenyataan paling nyesek kedua setelah lumpuh.

Istrinya bangun dari koma, tapi lupa anaknya sendiri.

Mama Leni langsung memeluk Bintang yang menangis, menggendong Bintang dan mendekatkannya ke wajah Sari.

"Sari! Ini Bintang! Anakmu! Kamu lahirkan dia 11 hari lalu di gubuk bocor saat badai! Lihat! Kakinya sudah sembuh! Dia sudah bisa berdiri karena kamu donor sumsum! Ini anakmu, Sari!"

Sari menatap Bintang dengan tatapan bingung dan takut. Ia mundur sedikit di ranjang ICU.

"Bukan... bukan anak saya... anak saya... anak saya masih di perut... saya masih hamil... saya takut... perut saya sakit..."

Sari memegang perutnya yang sudah kempes karena sudah melahirkan 11 hari lalu, tapi di ingatannya, ia masih hamil besar.

Johan merangkak mendekati ranjang Sari dengan kedua tangannya, karena kakinya lumpuh tidak bisa jalan. Ia memegang tangan Sari yang dingin itu.

"Sari... aku Johan... suamimu... ini Bintang... anak kita... kamu selamatkan dia... kamu kasih kaki baru untuk dia... kamu kasih darah baru untuk dia... ingat, Sari... ingat..."

Sari menatap Johan yang kepalanya diperban dan lumpuh itu dengan tatapan takut, menarik tangannya.

"Lepas! Lepas! Kamu siapa? Kamu bukan Johan! Johan suamiku tidak lumpuh! Johan suamiku kerja bangunan di Waingapu! Lepas!"

Johan terdiam. Air matanya jatuh ke lantai ICU. Laki-laki yang sudah lumpuh karena menebus dosanya, kini ditolak oleh istri yang ia cintai karena istrinya lupa siapa dia.

Dokter ICU menarik Johan dan Mama Leni keluar.

"Pak, Bu, jangan paksa! Otak Bu Sari masih bengkak! Kalau dipaksa ingat, bisa pendarahan lagi dan koma lagi permanen! Biarkan ingatannya kembali pelan-pelan! Bisa seminggu, bisa sebulan, bisa setahun! Yang penting dia sudah bangun! Itu sudah keajaiban!"

Di dalam ICU, Sari sendirian, memegang perutnya yang kempes, menangis ketakutan karena ia merasa anaknya hilang dari perutnya, padahal anaknya ada di depan matanya, sudah bisa berdiri, sudah sembuh, karena pengorbanan ibunya sendiri.

Di luar ICU, di koridor, Bintang yang digendong Mama Leni masih menangis, menatap pintu ICU tempat ibunya ada, ibunya yang tidak mengenalinya lagi.

Johan yang lumpuh di kursi roda, menatap pintu ICU itu dengan tatapan kosong. Kakinya lumpuh, istrinya amnesia, tapi anaknya sembuh dan bisa berdiri. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk cinta tanpa syarat?

Malam itu di RS Sanglah Bali, hujan turun lagi, sama seperti malam Sari melahirkan Bintang sendirian di gubuk bocor Kolorai.

Dan di dalam hujan itu, ada seorang bayi yang sudah bisa berdiri, seorang bapak yang lumpuh, dan seorang ibu yang sudah bangun tapi lupa bahwa ia adalah seorang ibu.

Apakah ingatan Sari akan kembali?

Apakah Sari akan ingat bahwa bayi yang berdiri itu adalah Bintang, anak yang ia selamatkan dengan nyawanya sendiri?

Dan apakah Johan yang lumpuh akan bisa membuat Sari jatuh cinta lagi padanya, dari nol, seperti pertama kali mereka bertemu di padang sabana 2 tahun lalu?

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!