Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Tembok hitam Kota Linlang menjulang membelah cakrawala, tampak seperti punggung naga raksasa yang tertidur di perbatasan Kerajaan Tianhe. Panji-panji sutra biru bersulam benang perak melambai tertiup angin musim gugur, menampilkan lambang sungai bintang kekaisaran.
Bagi Qin Mu, lima hari perjalanan dari Pegunungan Qingluo terasa lebih panjang dari sepuluh tahun hidupnya di Desa Canglan. Sepatu jeraminya telah hancur sejak hari ketiga, memaksanya berjalan tanpa alas kaki melintasi kerikil dan akar pohon. Namun, berkat fondasi Body Tempering awalnya, telapak kakinya yang kapalan tidak lagi bisa ditembus oleh batu tajam biasa.
Di punggungnya, Gu Shanyin terbatuk pelan. Lelaki tua itu dibalut jubah rami kusam, wajahnya disembunyikan di balik caping bambu yang lebar.
"Turunkan pandanganmu, Bocah," bisik Gu Shanyin tepat di telinga Qin Mu saat mereka bergabung dalam antrean panjang manusia fana yang hendak memasuki gerbang kota. "Kau menatap orang-orang seolah sedang mencari letak urat leher mereka. Di kota ini, tatapan seperti itu sama dengan mengundang pedang ke tenggorokanmu."
Qin Mu tersentak pelan. Ia tidak menyadari bahwa sejak membunuh Mo Tu, matanya selalu memindai setiap orang pedagang, petani, hingga prajurit mencari potensi ancaman. Insting hutan yang baru saja lahir itu masih terlalu liar. Ia segera menundukkan kepala, membungkukkan sedikit punggungnya, dan membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi matanya, kembali memerankan sosok pemuda udik yang kelelahan membawa kakeknya yang sakit.
"Pajak masuk! Dua keping tembaga per kepala!" teriak seorang penjaga gerbang berzirah kulit. Tangannya memegang tombak bersinar kusam, tanda bahwa senjata itu memiliki sedikit campuran besi spiritual.
Ketika giliran mereka tiba, Qin Mu merogoh saku jubahnya. Ia tidak mengeluarkan Batu Roh dari Kantung Penyimpan Mo Tu, melainkan sepotong kecil perak fana. Ia menyerahkannya ke telapak tangan penjaga itu dengan tangan yang sengaja dibuat sedikit gemetar.
Penjaga itu mengangkat sebelah alisnya, menimbang perak tersebut yang nilainya jauh melebihi empat keping tembaga. Pandangannya menyapu wajah kotor Qin Mu dan tubuh Gu Shanyin yang berbau pesing campuran lumpur dan keringat yang sengaja tidak mereka bersihkan.
Tanpa mengembalikan kembaliannya, penjaga itu mendengus. "Masuk. Jangan buat masalah di Distrik Barat."
Begitu melewati lorong gerbang setebal dua tombak, gelombang suara dan bau langsung menghantam indra Qin Mu.
Ini adalah dunia fana dalam skala yang belum pernah ia bayangkan. Jalanan selebar lima kereta kuda dijejali oleh gerobak dagang, kedai teh yang sibuk, dan teriakan pelayan rumah makan yang menjajakan bakpao daging. Aroma rempah-rempah yang tajam, keringat manusia, kotoran kuda, dan wangi dupa murah bercampur menjadi satu, sepenuhnya menenggelamkan sisa-sisa bau darah dari pegunungan.
Sesekali, Qin Mu melihat seseorang berjalan menembus kerumunan tanpa tersentuh. Mereka mengenakan jubah sutra yang mengalir tanpa tertiup angin, pedang bersarung ukiran giok di pinggang mereka, dan wajah yang memancarkan arogansi kuat. Manusia fana buru-buru menyingkir saat mereka lewat.
Kultivator, batin Qin Mu. Mereka hanya berada di tahap Qi Gathering, namun di kota fana seperti Linlang, mereka berjalan layaknya raja.
"Penginapan Kuda Pincang, di ujung lorong Distrik Barat," gumam Gu Shanyin lagi. "Tempat pembuangan sampah kota ini. Kita ke sana."
Satu jam kemudian, mereka menyewa sebuah kamar sempit dan lembap di loteng Penginapan Kuda Pincang dengan harga satu keping perak untuk sepuluh hari. Ranjangnya hanya terbuat dari papan kayu yang dilapisi jerami berbau apek, namun bagi Qin Mu, tempat ini adalah benteng pertahanan pertama mereka.
Ia membaringkan Gu Shanyin dengan hati-hati. Lelaki tua itu segera menutup matanya, napasnya terdengar berat dan berderak. Racun dari Pil Pembakar Darah terus menggerogoti tulangnya, meski jantungnya berdetak normal.
"Kek, aku akan keluar mencari tabib," kata Qin Mu, mengambil semangkuk air kendi dan meletakkannya di lantai dekat ranjang.
"Jangan tabib spiritual... uhuk... jangan beli pil," cegah Gu Shanyin tanpa membuka mata. "Cari toko obat fana. Beli akar teratai hitam dan daun jarum pinus. Rebus menjadi satu. Itu cukup untuk menekan rasa sakitku tanpa memancing Qi bergolak."
"Mengerti."
"Dan Qin Mu..." Gu Shanyin membuka sebelah matanya yang kemerahan. "Pisau burumu sudah retak. Cari pandai besi fana. Beli senjata yang pantas. Jika kau menggunakan tangan kosong dengan kekuatan Body Tempering-mu, kau akan memancing perhatian."
Qin Mu menepuk pinggangnya. Memang benar, pisau besi hitamnya yang setia telah retak parah setelah berbenturan dengan tulang rusuk Mo Tu. Ia mengangguk, memastikan Cincin Giok Retak dan Kantung Penyimpan Mo Tu tersembunyi aman di balik bajunya, lalu melangkah keluar ke jalanan Distrik Barat yang kumuh.
Distrik Barat Kota Linlang adalah tempat di mana aturan kekaisaran bertabrakan dengan hukum rimba. Lorong-lorongnya sempit, dipenuhi tenda-tenda kumuh, rumah judi bawah tanah, dan bau besi panas.
Setelah membeli bungkusan ramuan fana seharga beberapa keping tembaga, Qin Mu mengikuti suara dentingan logam yang berirama keras dari ujung sebuah gang yang gelap dan berasap.
Hawa panas langsung menyengat wajahnya begitu ia mendekati sebuah bengkel terbuka tanpa pintu. Di atas papan kayunya yang hangus tertulis aksara pudar: Besi Tua Han.
Di dalam bengkel itu, tidak ada pria tua berjanggut lebat seperti pandai besi pada umumnya.
Yang sedang mengayunkan martil godam seberat puluhan kati itu adalah seorang pemuda yang usianya mungkin tidak terpaut jauh dari Qin Mu, sekitar lima belas tahun. Pemuda itu bertelanjang dada. Otot-otot punggung dan lengannya begitu padat hingga tampak seperti dipahat dari batu karang, dipenuhi kilauan keringat dan bekas-bekas luka bakar akibat percikan besi.
Trang! Trang! Trang!
Setiap ayunan martil pemuda itu sangat presisi, seolah ia tidak mengenal lelah. Qin Mu menyipitkan matanya. Ia tidak merasakan fluktuasi Qi setitik pun dari pemuda itu. Dia murni menggunakan kekuatan fisik dan disiplin yang mengerikan.
"Toko tutup. Ayahku sedang sakit!" seru pemuda itu tanpa menoleh sedikit pun, suaranya lantang mengalahkan derak api tungku.
"Aku tidak mencari ayahmu, dan aku bisa membayar," jawab Qin Mu datar, melangkah masuk ke dalam bengkel. Matanya menyapu rak-rak kayu yang memajang deretan golok parang, pedang besi, dan kapak. Tidak ada senjata spiritual di sini, hanya senjata baja fana yang ditempa dengan sangat baik.
Pemuda itu menghentikan ayunan martilnya. Ia memutar tubuhnya, menatap Qin Mu dengan mata cokelat yang tajam dan menantang. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan sehelai handuk kotor melilit lehernya. Ia menyeka keringat di dahinya lalu berjalan mendekati rak senjata.
"Kau mau memotong kayu atau memotong daging?" tanyanya kasar.
"Daging yang mencoba memotongku lebih dulu," jawab Qin Mu tenang.
Pemuda itu terdiam sejenak, menatap mata hitam Qin Mu yang setenang kolam mati. Ia mendengus pelan, lalu mengambil sebilah pedang pendek berbilah lebar dari rak paling bawah. Gagangnya dibalut kulit hitam yang kasar, tanpa pelindung tangan yang rumit. Senjata yang murni dirancang untuk membunuh, bukan untuk dipamerkan.
"Pedang Tulang Anjing. Baja fana lipat tujuh. Tiga keping perak. Kurang satu tembaga pun, kau keluar dari bengkelku," kata pemuda itu, melemparkan pedang tersebut ke atas meja kayu di antara mereka.
Qin Mu menyentuh bilah pedang itu. Dingin dan beratnya seimbang. Tepat sebelum ia merogoh sakunya untuk mengeluarkan perak, terdengar suara tendangan keras dari arah depan.
BRAK!
Meja pajangan di luar bengkel terbalik, menjatuhkan beberapa parang hingga berdenting di lantai batu.
Tiga pria dewasa berwajah sangar melangkah masuk, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Mereka mengenakan pakaian kulit tanpa lengan. Di lengan kanan masing-masing pria itu, terdapat tato serigala hitam yang melilit sebilah pedang lambang Geng Serigala Besi, penguasa jalanan Distrik Barat.
"Han Lie!" bentak pria botak yang berada di depan, meludah ke lantai bengkel. "Sudah tanggal jatuh tempo! Mana uang perlindungan bulan ini? Atau kau mau kami mematahkan kaki ayahmu yang sedang batuk-batuk di belakang sana?!"
Pemuda bernama Han Lie itu menegang. Otot rahangnya menonjol keras. Ia mencengkeram gagang martilnya di atas landasan tempa, matanya memancarkan amarah yang siap meledak, namun tertahan oleh keputusasaan orang kecil.
Qin Mu tidak bergerak. Ia menarik tangannya dari pedang di atas meja, mundur setengah langkah ke dalam bayangan bengkel. Ini bukan urusannya.
Namun, ketika pria botak itu melangkah maju untuk memukul wajah Han Lie, kerah bajunya yang terbuka sedikit menampakkan pangkal lehernya. Mata Qin Mu menyipit tajam.
Tepat di bawah tulang selangka pria fana penguasa geng lokal itu, terdapat sebuah tato kecil kemerahan yang disembunyikan. Tato berbentuk tengkorak bertaring. Lambang Sekte Bayangan Darah.
Napas Qin Mu mendadak sedingin es. Mereka sudah menyebar anjing pelacak bahkan di antara preman fana.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️