Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keserakahan Robby
Setelah pertemuannya dengan Aryan, Laras memutuskan untuk pulang.
Pertemuan malam itu sedikit membuat perasaannya lebih lega. Ia tidak hanya mendapatkan bantuan hukum dan sejumlah saran penting dari Aryan, tetapi juga dukungan dari pria itu untuk membuat Robby mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Setidaknya, kini Laras tidak perlu menghadapi semuanya seorang diri.
Ia sudah memiliki seseorang yang bisa membantunya menyusun langkah, sekaligus memastikan agar keputusan yang ia ambil tidak merugikan dirinya sendiri.
Dengan begitu, ia bisa sedikit lebih tenang dan mulai menjalankan rencana yang sudah ia susun sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Laras mendapati suasana begitu sunyi. Lampu-lampu di ruang tengah sudah padam. Hanya beberapa lampu kecil di sudut ruangan yang masih menyala, memberikan penerangan samar.
Laras mengedarkan pandangan sejenak. "Sepertinya, mereka semua sudah tidur," gumamnya.
Ia tidak berniat membangunkan siapa pun dan langsung melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, begitu pintu terbuka, langkahnya mendadak terhenti.
Ia terkejut mendapati Robby sedang duduk bersandar di ranjang dengan beberapa kancing piyama yang terbuka, sementara rambutnya tampak sedikit berantakan. Bahkan, wajah pria itu terlihat agak kemerahan, seolah baru saja melakukan aktivitas yang menguras tenaga.
Di saat bersamaan, Robby juga tampak terkejut melihat kedatangannya. Ia segera bangkit dari ranjang dan menghampiri Laras.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Laras tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menyapu penampilan Robby dari atas sampai bawah.
"Kamu kenapa, Mas? Kenapa seperti kepanasan begitu?"
"O-oh, i-itu .... A-aku baru selesai olahraga malam, Sayang. Makanya, aku sedikit gerah."
Robby menjawab dengan terbata-bata. Ia bahkan sempat mengalihkan pandangan, berusaha menghindari tatapan istrinya.
Tapi, Laras hanya diam.
Alisnya sedikit terangkat, jelas tidak percaya begitu saja dengan alasan yang baru saja ia dengar. Tapi, ia memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan.
"I-itu, kamu duduk dulu, Sayang."
Robby segera menuntun Laras menuju sofa. Sikapnya terlihat begitu perhatian, bahkan ia berjongkok untuk membantu wanita itu melepaskan sepatu.
"Kamu mau mandi, kan? Aku akan menyiapkan air untukmu."
Tanpa menunggu jawaban, Robby segera bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Sementara, Laras hanya diam memperhatikan sampai pintu kamar mandi tertutup.
Ada sesuatu yang terasa janggal. Sikap Robby malam ini terlalu gelisah, bahkan terkesan berlebihan dalam menunjukkan perhatian. Seolah-olah, pria itu sedang berusaha mengalihkan perhatiannya dari sesuatu.
Perlahan, kepala Laras menoleh ke arah ranjang.
Ia memperhatikan seprai yang tampak sedikit kusut. Tapi, bukan itu yang menarik perhatiannya. Ada bekas basah yang cukup jelas terlihat di salah satu bagian seprai.
Laras mengerutkan keningnya. Ia bangkit dari sofa, kemudian berjalan mendekati ranjang, menatap bekas tersebut dengan saksama.
Tubuhnya mendadak menegang.
Ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia pulang. Namun, melihat penampilan Robby dan kondisi ranjangnya, kecurigaannya semakin kuat.
"Sayang, airnya sudah siap ...."
Suara Robby terdengar dari arah kamar mandi. Tapi, ucapannya terhenti begitu menyadari arah pandang Laras.
Wajahnya seketika berubah tegang. Ia segera menghampiri wanita itu dengan langkah tergesa-gesa.
"A-astaga, aku tidak tahu kalau keringatku sampai membuat kotor ranjang kita, Sayang."
Laras perlahan menaikkan sudut bibirnya. Ia menoleh dan menatap Robby dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Keringat?" ulangnya pelan. "Apa kamu yakin ini keringat?"
Robby menelan ludahnya. "T-tentu saja. Aku baru selesai olahraga. Makanya, keringatku membuat kotor ranjang kita."
Ia berusaha tertawa kecil, tetapi ekspresinya justru terlihat semakin canggung.
"Sudahlah. Sekarang, kamu mandi dulu, ya. Biar aku yang mengganti seprai ini."
Robby segera meraih lengan Laras dan mengarahkannya menuju kamar mandi. Ia bahkan mendorong wanita itu masuk dengan tergesa-gesa, seolah ingin segera menjauhkannya dari ranjang.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Robby menghembuskan napas panjang.
"Untung saja," gumamnya lega. Ia mengusap wajahnya sebelum kembali menatap ranjang.
Tanpa membuang waktu, Robby segera menggulung seprai yang kotor dan menggantinya dengan yang baru.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Laras justru berdiri diam di depan wastafel.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyum sinis.
"Olahraga malam?" gumamnya lirih. "Keringat?"
Laras menggeleng pelan. "Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa, Robby?"
Ia membuka keran air, lalu membasuh kedua tangannya.
Sungguh, Robby semakin pandai mencari alasan untuk menutupi kebohongannya. Sayangnya, ia bukan lagi wanita yang sama seperti dulu, yang akan dengan mudah mempercayai setiap perkataan suaminya.
Beberapa saat kemudian, Laras keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang membalut tubuhnya. Rambut panjangnya masih basah dan sedikit meneteskan air ke bahunya.
Robby yang sejak tadi menunggu langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Laras dengan senyum ramah, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ayo, Sayang. Aku bantu mengeringkan rambutmu."
Tanpa menunggu jawaban, Robby menyentuh bahu istrinya dengan lembut, lalu mengarahkannya menuju meja rias.
Laras menurut. Ia duduk di kursi, sementara Robby berdiri di belakangnya. Pria itu mengambil hairdryer, kemudian mulai mengeringkan rambut Laras dengan gerakan perlahan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu pulang larut sekali, Sayang?" tanya Robby di sela aktivitasnya.
Laras memejamkan mata sejenak, lalu menghembuskan napas panjang.
"Banyak dokumen yang harus aku periksa, Mas. Ditambah, kerja sama dengan perusahaan Megantara membuatku bimbang."
Robby menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu kembali mengarahkan hairdryer ke rambut istrinya.
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
Tidak biasanya Laras mengeluh soal pekerjaan. Terlebih, selama ini wanita itu cenderung menyelesaikan pekerjaannya terutama soal kerja sama.
"Perusahaan Megantara mengajukan kerja sama pembangunan di kawasan komersial. Tapi, dana untuk investasi masih kurang. Padahal, keuntungannya cukup menggiurkan."
Mendengar kata keuntungan, gerakan tangan Robby mendadak terhenti. Ia mematikan hairdryer, dan meletakkannya di atas meja rias. Lalu, ia berjongkok di depan Laras agar bisa menatap wajah istrinya secara langsung.
"Memangnya, berapa keuntungannya, Sayang?" tanyanya penuh minat.
Laras menundukkan pandangan seolah sedang mengingat sesuatu.
"Cukup banyak. Kurang lebih bisa mencapai empat sampai lima miliar."
Mata Robby seketika membelalak. Sudut bibirnya terangkat lebar, menunjukkan betapa terkejut sekaligus senangnya mendengar angka tersebut.
Tapi, ia segera menyadari ekspresinya sendiri, dan buru-buru mengendalikan wajahnya agar tidak terlihat terlalu antusias.
"Kalau boleh tahu, berapa kekurangan dana yang kamu butuhkan, Sayang?"
Laras mengerutkan kening. Ia menatap Robby dengan ekspresi sedikit heran.
"Kenapa kamu tanya itu, Mas? Memangnya, Mas bisa bantu?"
"Bukan begitu, Sayang." Robby segera menggeleng. "Maksudku, sayang sekali kalau kesempatan kerja sama ini dilewatkan begitu saja."
Ia terdiam sejenak, berpura-pura sedang memikirkan jalan keluar. Padahal, pikirannya sudah penuh dengan keuntungan besar yang mungkin bisa ia peroleh.
"Begini saja, kamu pikirkan baik-baik kerja sama ini. Jangan langsung menolaknya. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan dana tambahan."
Wajah Laras seketika berbinar. Ia bahkan sedikit mengangkat kepalanya, menunjukkan ekspresi senang seolah baru saja mendapatkan bantuan yang sangat ia harapkan.
"Beneran, Mas?"
Robby mengangguk mantap. "Tentu saja. Aku tidak ingin kamu kehilangan kesempatan sebagus ini."
,Robby terdiam sejenak, sebelum mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
"Tapi, apa boleh proyek ini aku saja yang menangani?"
Laras terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi ragu.
"Tapi, Mas ...."
"Laras!" Robby segera meraih kedua tangan istrinya, dan menatap wanita itu dengan penuh harap. "Selama ini, aku belum pernah terjun langsung saat menangani proyek. Aku ingin membuktikan kepadamu, juga kepada Mama, kalau aku mampu. Boleh, kan?"
"Aku pikirkan dulu, ya, Mas. Kalau kamu benar-benar mendapatkan dana tambahan, aku bisa mempertimbangkannya."
Jawaban itu membuat Robby tersenyum lebar. "Terima kasih, Sayang."
Ia langsung bangkit dan memeluk Laras dengan penuh semangat. Namun, di balik pelukan itu, Robby menyembunyikan senyum puas, seolah baru saja menemukan kesempatan emas untuk mendapatkan keuntungan besar.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti