Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Tiga Hari untuk Memilih
Alisha Amanda duduk sendirian di bangku panjang di depan rumah sakit. Di pangkuannya terdapat sebuah map berwarna hitam yang sejak tadi tidak berhenti ia pandangi.
Di dalam map itu tersimpan sebuah perjanjian yang bisa mengubah seluruh kehidupannya.
Pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang bahkan baru beberapa jam dikenalnya.
Alisha masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Pagi tadi, ia berangkat dengan harapan mendapatkan pekerjaan tambahan. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana caranya membagi waktu antara pekerjaan di toko roti dan pekerjaan baru yang mungkin ditawarkan kepadanya.
Namun, siapa sangka, yang ditawarkan kepadanya justru sebuah pernikahan?
Alisha mengusap wajahnya perlahan.
"Kenapa harus seperti ini, Tuhan?" gumamnya lirih.
Ia tidak pernah bermimpi menjadi istri seorang pria kaya. Ia juga tidak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki perasaan terhadapnya.
Sejak kecil, Alisha selalu membayangkan pernikahan sebagai sesuatu yang indah. Ia ingin menikah dengan seseorang yang mencintainya, seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya, dan seseorang yang bersedia berjalan bersamanya dalam keadaan susah maupun senang.
Namun, kenyataan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan.
Sekarang, ia justru dihadapkan pada pilihan yang membuat hatinya terasa sesak.
Menerima pernikahan kontrak itu berarti mendapatkan kesempatan untuk membiayai operasi ibunya.
Menolaknya berarti ia harus kembali mencari cara lain, tanpa mengetahui apakah ia akan berhasil mengumpulkan uang tepat waktu.
Alisha membuka map tersebut sekali lagi.
Matanya berhenti pada angka yang tercantum di bagian bantuan finansial.
Jumlahnya sangat besar baginya.
Dengan uang sebanyak itu, ia tidak perlu lagi menghitung setiap lembar uang di dompetnya sebelum membeli obat ibunya. Ia juga bisa membayar biaya rumah sakit tanpa harus meminjam uang ke sana kemari.
Namun, ada satu hal yang membuatnya takut.
Bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan Adrian?
Apakah ia akan diperlakukan sebagai manusia biasa atau hanya dianggap sebagai perempuan yang dibeli untuk memenuhi kepentingan keluarga Mahendra?
Alisha menutup map itu kembali.
Ia belum sanggup mengambil keputusan.
Ponselnya tiba-tiba berdering, membuatnya tersentak kecil.
Nama Natasya muncul di layar.
Alisha segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Tas?"
"Alisha, kamu di mana? Aku sudah meneleponmu beberapa kali, tetapi kamu nggak mengangkatnya."
"Maaf. Aku tadi sedang ada urusan."
"Urusan apa? Kamu sudah selesai bertemu CEO itu?"
Alisha terdiam sejenak.
"Sudah."
"Terus, bagaimana? Kamu diterima bekerja?"
Pertanyaan itu membuat Alisha menggigit bibirnya.
Ia tidak tahu harus menjawab dari mana.
"Lis?"
"Iya, Tas. Aku masih di rumah sakit sekarang."
"Kenapa kamu di rumah sakit? Tante Ratih kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma ingin melihat Ibu."
Suara Natasya terdengar semakin khawatir.
"Alisha, jangan bilang kamu menyembunyikan sesuatu lagi dariku."
Alisha memejamkan mata.
Ia tahu bahwa cepat atau lambat, ia harus menceritakan semuanya kepada sahabatnya.
"Aku akan menceritakannya nanti. Bisa kita bertemu setelah aku pulang dari rumah sakit?"
"Tentu saja bisa. Aku akan menunggumu di rumah."
"Terima kasih, Tas."
"Jangan berterima kasih terus. Cepat temui ibumu, lalu pulang. Dan, Alisha?"
"Ya?"
"Jangan membuat keputusan besar sendirian kalau kamu sedang bingung. Kamu boleh meminta pendapat orang lain, tahu?"
Alisha tersenyum tipis meskipun Natasya tidak bisa melihatnya.
"Iya."
Setelah panggilan berakhir, Alisha memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ia berdiri, kemudian berjalan menuju ruangan tempat ibunya dirawat.
Apa pun yang akan diputuskan nanti, ia ingin menghabiskan waktu bersama ibunya terlebih dahulu.
Sebab, di tengah semua masalah yang sedang dihadapinya, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Ia tidak ingin kehilangan wanita yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan.
---
Di Ruang Perawatan
Ketika Alisha memasuki ruangan, Ratih Amanda sedang duduk bersandar di ranjang. Sebuah bantal diletakkan di belakang punggungnya, sementara televisi kecil di sudut ruangan menyala dengan volume rendah.
"Ibu."
Ratih menoleh dan langsung tersenyum.
"Sudah selesai urusanmu, Nak?"
Alisha mengangguk sambil mendekat.
"Sudah, Bu."
Ia meletakkan tasnya di kursi, kemudian duduk di samping ranjang.
"Bagaimana perasaan Ibu sekarang?"
"Lebih baik."
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Obatnya juga sudah diminum?"
Ratih terkekeh kecil.
"Kamu ini seperti perawat saja. Dari tadi yang ditanyakan makanan dan obat terus."
Alisha ikut tersenyum.
"Memangnya siapa lagi yang akan mengingatkan Ibu kalau bukan aku?"
Ratih mengusap rambut putrinya.
"Kamu sendiri sudah makan?"
"Sudah, Bu."
"Benar?"
Alisha mengangguk cepat.
"Iya."
Ratih memandang putrinya beberapa saat sebelum menghela napas pelan.
"Alisha, Ibu tahu kamu sedang menghadapi banyak kesulitan."
Senyum Alisha perlahan memudar.
"Ibu tidak ingin kamu terlalu memikirkan biaya pengobatan ini. Kalau memang kita belum memiliki cukup uang, kita bisa mencari jalan lain."
"Tapi, Bu—"
"Dengarkan Ibu dulu."
Ratih menggenggam tangan putrinya.
"Sejak ayahmu meninggal, kamu selalu berusaha melakukan semuanya sendiri. Kamu bekerja keras, mengurus rumah, dan menjaga Ibu. Bahkan ketika kamu lelah, kamu masih berusaha tersenyum supaya Ibu tidak khawatir."
Alisha menunduk.
"Ibu tahu kamu ingin melihat Ibu sembuh. Tapi Ibu juga ingin melihat kamu bahagia."
"Ibu, aku bahagia."
Ratih tersenyum sedih.
"Kamu boleh mengatakan begitu, tetapi Ibu tetap tahu ketika kamu sedang menyembunyikan kesedihan."
Alisha tidak sanggup menjawab.
Ia menatap tangan ibunya yang mulai terlihat keriput, kemudian menggenggamnya lebih erat.
"Bu, aku cuma takut."
"Takut apa?"
Alisha menarik napas panjang.
"Takut tidak bisa melakukan apa-apa ketika Ibu membutuhkan pertolongan."
Ratih menggeleng pelan.
"Kamu sudah melakukan banyak hal untuk Ibu, Nak."
"Tapi belum cukup."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Air mata mulai menggenang di mata Alisha.
Ia segera mengusapnya sebelum jatuh.
Ratih memperhatikan gerakannya, lalu tersenyum lembut.
"Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat di depan Ibu."
Kalimat itu membuat pertahanan Alisha runtuh.
Ia menundukkan kepala dan menyandarkannya di sisi ranjang, membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya lagi.
"Ibu, aku capek."
Ratih mengusap rambut putrinya dengan lembut.
"Ibu tahu, Sayang."
"Aku sudah berusaha mencari uang, tapi semuanya masih belum cukup. Aku juga tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi."
"Maafkan Ibu karena sudah membuatmu mengalami semua ini."
Alisha langsung menggeleng.
"Jangan bilang begitu, Bu. Ibu tidak salah."
Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap ibunya dengan mata merah.
"Kalau aku harus bekerja lebih keras, aku akan melakukannya. Kalau aku harus mencari pekerjaan tambahan, aku juga akan mencobanya. Aku hanya ingin Ibu mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan."
Ratih menarik putrinya ke dalam pelukan.
Untuk beberapa saat, mereka tidak mengatakan apa-apa.
Di ruangan itu, seorang ibu hanya bisa memeluk putrinya, sementara seorang anak berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.
Namun, mereka masih memiliki satu sama lain.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup untuk membuat Alisha kembali berusaha.
---
Malam Itu, di Rumah Kecil Mereka
Alisha tiba di rumah ketika hari sudah mulai gelap.
Setelah memastikan ibunya beristirahat dengan nyaman, ia mengganti pakaian dan membuat teh hangat.
Rumah mereka terasa sunyi.
Biasanya, pada jam seperti ini, Alisha akan duduk bersama ibunya sambil menonton acara televisi atau berbincang mengenai hal-hal sederhana.
Namun, malam itu berbeda.
Pikirannya masih tertuju pada pertemuannya dengan Adrian.
Alisha mengambil map hitam dari dalam tas, kemudian membawanya ke meja ruang tamu.
Ia membaca setiap halaman dengan lebih teliti.
Semakin lama membaca, semakin ia menyadari bahwa Adrian benar-benar menginginkan sebuah pernikahan yang diatur seperti hubungan bisnis.
Tidak ada janji cinta.
Tidak ada tuntutan untuk saling mencintai.
Tidak ada kewajiban mempertahankan pernikahan setelah masa kontrak berakhir.
Semuanya tertulis dengan jelas.
Alisha berhenti pada sebuah bagian yang menjelaskan bahwa selama kontrak berlangsung, ia harus tinggal di kediaman Adrian dan menghadiri acara keluarga atau perusahaan yang dianggap perlu.
Ia mengerutkan kening.
Tinggal di rumah Adrian?
Berarti ia harus meninggalkan rumah ini?
Bagaimana dengan ibunya?
Bagaimana jika ibunya membutuhkan sesuatu pada malam hari?
Alisha segera mengambil ponselnya dan memeriksa nomor Daniel yang tertera di kartu nama.
Ia ingin menanyakan apakah ada kemungkinan dirinya tetap mengunjungi ibunya secara rutin.
Namun, sebelum menghubungi sekretaris Adrian, ia teringat ucapan pria itu.
Saya membutuhkan seseorang yang memahami kesepakatan yang dibuatnya.
Alisha meletakkan ponselnya kembali.
Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang langsung menerima tawaran tersebut tanpa mempertimbangkan apa pun.
Jika ia benar-benar memutuskan untuk menikah dengan Adrian, ia ingin memastikan bahwa hak dan kewajibannya jelas.
Ia juga tidak ingin kehilangan kebebasannya sepenuhnya hanya karena membutuhkan uang.
Alisha mengambil sebuah buku catatan kecil, lalu menuliskan beberapa pertanyaan.
Pertama, apakah ia boleh mengunjungi ibunya kapan pun dibutuhkan?
Kedua, apakah Adrian akan membantu membayar biaya operasi sesuai kesepakatan yang tertulis?
Ketiga, apakah ia tetap diperbolehkan bekerja jika pekerjaan itu tidak mengganggu kesepakatan mereka?
Keempat, bagaimana jika salah satu pihak ingin mengakhiri kontrak sebelum waktunya?
Setelah selesai menulis, Alisha menatap daftar itu.
Ia mengangguk kecil kepada dirinya sendiri.
Setidaknya, sekarang ia tahu apa yang harus ditanyakan.
Ia tidak boleh mengambil keputusan hanya karena takut.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, suara ibunya terdengar dari kamar.
"Alisha?"
Alisha segera berdiri.
"Iya, Bu?"
"Kamu sedang apa?"
"Membaca sesuatu."
Ratih memanggilnya sekali lagi.
Alisha meninggalkan map di atas meja dan berjalan menuju kamar ibunya.
Ketika tiba, ia mendapati Ratih sedang berusaha meraih gelas air di meja samping ranjang.
Alisha segera mengambil gelas itu dan memberikannya.
"Pelan-pelan, Bu."
Ratih meminum sedikit air sebelum menyerahkan gelas kembali.
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
"Jangan terlalu malam. Besok kamu harus bekerja lagi."
"Iya, Bu."
Ratih menatap putrinya dengan lembut.
"Alisha, boleh Ibu bertanya sesuatu?"
Alisha duduk di samping ranjang.
"Apa, Bu?"
"Kalau suatu hari nanti kamu bertemu seseorang yang bisa membantumu melewati masa sulit, Ibu berharap kamu tidak melupakan dirimu sendiri hanya karena ingin membalas kebaikannya."
Alisha terdiam.
Ia tidak tahu mengapa ibunya mengatakan hal itu.
"Ibu tidak mengerti maksudnya," jawab Alisha pelan.
Ratih tersenyum.
"Mungkin Ibu hanya terlalu banyak berpikir. Sudah, sekarang tidurlah."
Alisha membetulkan selimut ibunya.
"Ibu juga harus tidur."
"Iya, Sayang."
Setelah memastikan ibunya kembali beristirahat, Alisha mematikan lampu utama kamar dan membiarkan lampu tidur tetap menyala.
Ia berdiri beberapa saat di ambang pintu.
Kemudian, dengan langkah pelan, ia kembali ke ruang tamu.
Map hitam itu masih tergeletak di atas meja.
Alisha duduk dan menatapnya dalam diam.
Ucapan ibunya terus terngiang di kepalanya.
Jangan melupakan diri sendiri hanya karena ingin membalas kebaikan seseorang.
Alisha tahu bahwa jika ia menerima tawaran Adrian, ia tidak boleh membiarkan dirinya kehilangan harga diri.
Ia harus tetap menjadi Alisha Amanda, perempuan yang selama ini berusaha bertahan meskipun hidup tidak selalu berpihak kepadanya.
Ia boleh menerima bantuan.
Namun, ia tidak ingin menjadikan dirinya seseorang yang tidak memiliki suara dalam kehidupannya sendiri.
---
Sementara Itu, di Kediaman Mahendra
Di sebuah rumah mewah di kawasan elit kota, Adrian Mahendra baru saja menyelesaikan makan malam bersama kedua orang tuanya.
Rumah itu memiliki halaman luas, taman yang tertata rapi, serta ruangan besar dengan perabotan mahal.
Namun, kemewahan tersebut tidak membuat Adrian merasa nyaman.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup dengan berbagai tuntutan.
Ia harus belajar dengan baik, menjaga nama keluarga, dan membuktikan bahwa dirinya pantas memimpin perusahaan yang telah dibangun oleh ayahnya.
Kini, ketika usianya hampir tiga puluh tahun, tuntutan itu kembali datang dalam bentuk yang berbeda.
Pernikahan.
"Jadi, bagaimana pertemuanmu dengan perempuan yang kamu ceritakan kemarin?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di seberang meja.
Pria itu adalah Hendrik Mahendra, ayah Adrian sekaligus pendiri Mahendra Group.
Adrian meletakkan gelasnya.
"Saya sudah bertemu dengannya."
"Apakah dia bersedia?"
"Belum memberikan jawaban."
Hendrik mengerutkan kening.
"Kenapa belum?"
"Dia meminta waktu untuk mempelajari perjanjian."
Wanita yang duduk di samping Hendrik, Ratna Mahendra, menatap putranya dengan penuh perhatian.
"Setidaknya dia tidak langsung menyetujui sesuatu yang belum dipahaminya."
Adrian menoleh kepada ibunya.
"Ini bukan masalah yang perlu dibahas terlalu jauh, Bu. Kami hanya membutuhkan kesepakatan yang jelas."
Ratna menghela napas.
"Adrian, Ibu tahu kamu menganggap pernikahan ini sebagai urusan perusahaan. Tapi perempuan yang kamu pilih tetaplah manusia yang memiliki perasaan dan keluarga."
"Saya tahu."
"Kalau kamu tahu, jangan memperlakukannya seolah dia hanya bagian dari strategi bisnismu."
Adrian terdiam.
Hendrik meletakkan peralatan makannya.
"Kami tidak meminta kamu mencintainya. Kami hanya meminta kamu menikah. Kamu sudah dewasa, Adrian. Sudah waktunya kamu memikirkan kehidupan di luar perusahaan."
Adrian menatap ayahnya dengan ekspresi dingin.
"Kalau Ayah dan Ibu tidak menjadikan pernikahan sebagai persyaratan untuk mempertahankan jabatan saya, saya tidak perlu mencari perempuan untuk menikahi saya."
Hendrik menegang.
"Jaga bicaramu."
"Saya hanya mengatakan kenyataan."
Suasana meja makan berubah sunyi.
Ratna memandang suaminya, kemudian kembali menatap putranya.
"Kami tidak ingin melihatmu kehilangan sesuatu yang sudah kamu perjuangkan selama bertahun-tahun."
Adrian mengembuskan napas pelan.
"Kalau begitu, percayakan keputusan ini kepada saya."
Hendrik tidak langsung menjawab.
Setelah beberapa saat, ia mengangguk.
"Tiga hari. Kami akan menunggu keputusanmu selama tiga hari."
Adrian berdiri dari kursinya.
"Saya mengerti."
Ia meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di sana, Adrian melonggarkan kerah kemejanya sebelum duduk di belakang meja.
Pikirannya kembali tertuju pada Alisha.
Ia masih ingat bagaimana perempuan itu menatap dokumen perjanjian dengan wajah terkejut, tetapi tetap berusaha berbicara dengan tenang.
Kebanyakan orang yang datang menemuinya akan berusaha menunjukkan kesan terbaik.
Sebagian bahkan tidak segan-segan memuji dirinya atau perusahaannya.
Namun, Alisha berbeda.
Perempuan itu tidak terlihat terpesona oleh kekayaannya.
Ia justru lebih khawatir mengenai keadaan ibunya dan hak-haknya selama pernikahan berlangsung.
Adrian mengambil ponsel dan menghubungi Daniel.
"Bagaimana perkembangan dokumen perjanjian itu?"
"Semua dokumen sudah disiapkan, Pak. Saya hanya menunggu keputusan dari Nona Alisha."
"Pastikan ketentuan mengenai pembayaran ditulis dengan jelas. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman setelah perjanjian ditandatangani."
"Baik, Pak."
Adrian hendak mengakhiri panggilan, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu.
"Daniel."
"Ya, Pak?"
"Jangan mencari informasi pribadi perempuan itu lebih jauh tanpa alasan yang jelas. Saya hanya membutuhkan informasi yang relevan untuk kesepakatan ini."
Daniel terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir.
Adrian meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia tidak tahu apakah Alisha akan menerima tawarannya.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa dirinya membutuhkan jawaban secepat mungkin.
Tiga hari.
Waktu yang sama bagi dua orang yang menghadapi persoalan berbeda.
Bagi Adrian, tiga hari adalah batas waktu untuk mempertahankan masa depannya sebagai CEO.
Bagi Alisha, tiga hari adalah waktu untuk mempertimbangkan apakah ia sanggup mempertaruhkan kehidupan pribadinya demi menyelamatkan ibunya.
Dan tanpa mereka sadari, keputusan yang akan diambil salah satu dari mereka akan membawa keduanya menuju kehidupan yang tidak pernah mereka bayangkan.
---
Keesokan Harinya
Alisha datang ke toko roti lebih awal dari biasanya.
Ia sudah memutuskan bahwa hari itu ia akan bekerja seperti biasa, tetapi setelah jam kerja selesai, ia akan mencari informasi mengenai bantuan biaya pengobatan yang pernah disebutkan Natasya.
Ia tidak ingin langsung menyerah pada pilihan pernikahan kontrak sebelum mencoba jalan lain.
Saat sedang menyusun roti di etalase, Natasya menghampirinya.
"Lis, aku sudah mencari informasi tentang program bantuan rumah sakit yang kemarin kubilang."
Alisha segera menoleh.
"Benarkah?"
"Iya. Ada beberapa hal yang bisa kita tanyakan langsung kepada petugas sosial rumah sakit. Aku sudah mencatat persyaratannya."
Natasya menyerahkan selembar kertas.
Alisha membacanya dengan saksama.
"Kalau begitu, nanti setelah bekerja aku akan mengurusnya."
"Aku temani."
"Nggak usah, Tas. Kamu juga pasti capek."
Natasya langsung mengangkat kedua tangannya.
"Alisha, tolong jangan mulai lagi."
Alisha tertawa kecil.
"Baiklah. Kita pergi bersama."
Natasya tersenyum puas.
"Begitu dong."
Namun, ketika Natasya hendak kembali bekerja, ia melihat map hitam yang diletakkan di dalam tas Alisha.
"Itu dokumen dari perusahaan kemarin?"
Alisha mengangguk pelan.
Natasya menurunkan suaranya.
"Jadi, kamu sudah memutuskan?"
"Belum."
"Kamu sudah membaca semuanya?"
"Sudah. Ada beberapa hal yang masih ingin kutanyakan kepada mereka."
Natasya memperhatikan wajah sahabatnya.
"Lis, aku tahu kamu sangat ingin menyelamatkan Tante Ratih. Tapi aku ingin kamu benar-benar memikirkan kehidupanmu sendiri juga."
Alisha menatap kertas di tangannya.
"Aku tahu, Tas."
"Kalau kamu menerima tawaran itu, kamu akan menikah dengan pria yang hampir tidak kamu kenal."
"Iya."
"Kamu juga harus tinggal di rumahnya dan menjalani kehidupan yang berbeda."
"Iya."
Natasya menghela napas.
"Dan kamu belum tahu apakah dia orang yang bisa memperlakukanmu dengan baik."
Alisha terdiam cukup lama.
Itulah bagian yang paling membuatnya takut.
Ia tidak tahu seperti apa Adrian ketika berada di rumah. Ia tidak tahu bagaimana pria itu memperlakukan orang yang tidak memiliki kedudukan penting. Ia bahkan tidak tahu apakah pria itu bisa bersikap sabar ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kondisi ibunya.
"Aku tidak ingin menikah hanya karena uang," ucap Alisha akhirnya. "Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa uang itu tidak penting ketika ibuku sedang membutuhkan operasi."
Natasya mengangguk perlahan.
"Aku mengerti."
Alisha menggenggam tangan sahabatnya.
"Aku tidak akan langsung menyetujui apa pun. Aku akan memastikan semuanya jelas terlebih dahulu."
"Janji?"
"Janji."
Natasya tersenyum tipis.
"Kalau begitu, apa pun keputusanmu nanti, aku akan tetap menemanimu. Tapi kalau pria itu sampai membuatmu menangis, aku akan datang ke kantornya dan menegurnya sendiri!"
Alisha tertawa.
"Kamu bahkan belum pernah bertemu dengannya dengan benar."
"Memangnya kenapa? Aku punya mulut untuk berbicara."
"Kamu memang cerewet."
"Terima kasih. Aku menganggap itu pujian."
Mereka tertawa kecil sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.