Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Udara pagi di kawasan pegunungan Puncak terasa begitu sejuk, menyegarkan paru-paru dan membawa ketenangan yang sudah lama tidak dirasakan oleh Nesa. Kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon pinus, sementara embun pagi berkilauan di atas rerumputan hijau di halaman vila kayu bergaya modern minimalis yang disewa Arsen khusus untuk akhir pekan ini.
Nesa berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem dan celana panjang putih. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai tertiup angin lembut pegunungan. Di tangannya, secangkir teh hijau hangat mengepulkan uap tipis, menemani pandangannya yang menikmati pemandangan hamparan lembah hijau yang membentang luas di bawah sana.
Cklek.
Pintu kaca balkon bergeser pelan. Langkah kaki tanpa suara mendekat dari belakang, disusul oleh aroma khas parfum citrus berpadu kayu manis yang langsung menyapa indra penciuman Nesa. Sebuah mantel tebal berwarna hitam mendadak disampirkan dengan lembut di atas kedua bahunya, memberikan kehangatan instan di tengah udara dingin pegunungan.
"Udara di sini dingin, Ratu Nes. Kalau masuk angin, nanti project kolaborasi kita bisa-bisa terbengkalai karena CEO-nya tumbang," suara bariton Arsen yang renyah menyapa telinganya.
Nesa menoleh sekilas ke samping. Arsen berdiri tepat di sebelahnya, mengenakan hoodie abu-abu kasual dengan tangan dimasukkan ke dalam saku depan. Wajah pemuda itu tampak segar, tanpa polesan stres korporat atau beban dunia luar.
Nesa menarik sedikit mantel di bahunya agar lebih rapat, lalu tersenyum tipis. "Aku tidak segampang itu sakit, Arsen. Tapi... terima kasih untuk mantelnya."
Arsen ikut menumpukan kedua sikunya di pagar pembatas balkon, memandangi pemandangan pagi yang asri di hadapan mereka. "Sama-sama. Sengaja aku pilih tempat ini supaya kamu bisa bernapas lega sejenak dari tumpukan berkas laporan, angka penjualan, dan drama kantor."
Nesa menghela napas panjang, menikmati ketenangan yang menyelimuti jiwanya. Memang benar kata Arsen selama beberapa bulan terakhir, sejak badai perceraian hingga kejatuhan Dika, hari-harinya dipenuhi oleh ketegangan, strategi, dan kewaspadaan tingkat tinggi. Baru kali ini, di tempat terpencil ini bersama seorang pemuda yang kerap bersikap slengean, Nesa bisa benar-benar merasakan ketenangan yang nyata di dalam dadanya.
"Aku tidak menyangka kamu bisa merencanakan liburan singkat seperti ini tanpa membuatku merasa terintimidasi," aku Nesa pelan, menatap lurus ke depan. "Biasanya, orang-orang di sekitarku selalu punya motif tersembunyi di balik setiap kebaikan."
Arsen menoleh, menatap profil wajah Nesa lekat-lekat. Sorot matanya yang tadinya penuh keusilan perlahan berubah menjadi teduh dan serius. "Motifku cuma satu, Nesa: aku ingin melihatmu tersenyum tanpa beban. Tanpa topeng CEO galak, tanpa beban masa lalu."
Deg!
Kata-kata itu meluncur begitu tulus, membuat jantung Nesa berdesir aneh. Ia menoleh, balas menatap manik mata Arsen yang begitu jernih. Untuk sesaat, tidak ada jarak di antara mereka. Suasana pagi itu terasa begitu intim, hangat, dan menghanyutkan.
Namun, sebelum situasi menjadi semakin larut dalam debar asmara yang mendebarkan, tiba-tiba suara dering ponsel yang bergetar nyaring dari dalam saku mantel Arsen memecah keheningan pagi.
Arsen mengerutkan keningnya, sedikit mendesah pelan karena merasa terganggu. Ia merogoh saku mantelnya dan melihat layar ponsel yang menyala terang. Ekspresi wajah pemuda itu seketika berubah menjadi kaku begitu membaca nama kontak yang tertera di layar.
"Sebentar ya, Nesa. Aku harus angkat telepon penting ini," pamit Arsen singkat, lalu bergeser beberapa meter menjauh ke ujung balkon untuk menerima panggilan tersebut.
Nesa hanya mengangguk pelan, kembali menyeruput teh hijaunya sambil menikmati pemandangan alam. Namun, matanya sempat menangkap perubahan ekspresi di wajah Arsen yang mendadak tegang.
Di ujung balkon, Arsen menempelkan ponsel ke telinganya dengan nada suara yang tertahan namun bernada tegas.
"Halo? Aku sudah bilang jangan meneleponku untuk urusan remeh seperti ini!" suara Arsen terdengar dingin, jauh berbeda dari nada ramahnya saat berbicara dengan Nesa.
"Pak Arsen, maaf mengganggu akhir pekan Anda. Tapi ada perkembangan krusial dari kantor pusat," suara manajer operasional Aethel & Co terdengar panik di ujung sana. "Distributor logistik utama kita di wilayah timur mendadak menghentikan kerja sama secara sepihak. Dan... ada pihak luar yang sengaja memborong bahan baku parfum kita secara borongan untuk memblokade produksi lini kolaborasi dengan NesAura."
Deg!
Mata Arsen membelalak tajam. Rahangnya mengeras seketika. "Pihak luar? Siapa yang berani bermain kotor di belakangku? Cari tahu siapa dalang di balik semua ini sekarang juga."
"Kami sedang melacaknya, Pak. Tapi indikasi awal menunjukkan ada aliran dana misterius dari rekening pihak ketiga yang terafiliasi dengan jaringan lama..."
"Cukup. Kirimkan seluruh datanya ke emailku sekarang. Aku akan segera kembali ke Jakarta," potong Arsen tegas, lalu langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Arsen mengepalkan tangannya di pagar balkon, napasnya sedikit memburu. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya sebelum berbalik melangkah mendekati Nesa kembali. Ia tidak ingin merusak akhir pekan yang sudah ia rancang khusus untuk wanita di hadapannya itu.
Namun, sepandai-pandainya Arsen menyembunyikan kekhawatiran, Nesa bukanlah wanita yang mudah dibohongi. Sebagai seorang CEO yang terbiasa membaca situasi krisis, Nesa langsung menangkap perubahan aura di wajah Arsen begitu pemuda itu kembali menghampirinya.
Nesa meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil dekat pagar, lalu menatap Arsen lekat-lekat.
"Ada masalah di kantor Aethel & Co, Arsen?" tanya Nesa langsung pada intinya, tanpa basa-basi.
Arsen tertegun sejenak, lalu memasang senyuman miring yang dipaksakan. "Ah? Masalah kecil kok, Nesa. Nggak usah dipikirin. Tim operasional cuma sedikit panik soal jadwal pengiriman logistik mingguan."
Nesa menyipitkan matanya, menyelami ekspresi wajah pemuda itu. "Jangan berbohong, Arsen. Aku tahu persis ekspresi seseorang yang sedang menghadapi masalah besar. Distribusi logistik kalian bermasalah, kan? Dan itu terkait langsung dengan proyek kolaborasi kita?."
Melihat ketegasan di mata Nesa, Arsen akhirnya menghela napas panjang, menyerah. Senyuman tipisnya lenyap. Ia mengusap belakang lehernya dengan rasa bersalah.
"Kamu memang tidak pernah bisa dibohongi ya, Ratu Nes," aku Arsen jujur. "Tadi manajer operasional menelepon. Distributor utama kita di wilayah timur menghentikan kerja sama secara sepihak, dan ada indikasi sabotase dari pihak ketiga yang mencoba memblokade bahan baku produksi parfum kita."
Kening Nesa berkerut dalam. "Sabotase? Siapa yang berani melakukan itu pada brand sepopuler Aethel & Co?."
"Aku belum tahu pasti siapa dalangnya. Tapi yang jelas, mereka mengincar kegagalan peluncuran kolaborasi kita," jawab Arsen, sorot matanya memancarkan ketajaman bisnis yang berbahaya. "Karena itulah, aku harus segera kembali ke Jakarta hari ini juga untuk membereskan kekacauan ini."
Nesa terdiam sejenak. Alih-alih merasa panik atau kecewa karena liburan akhir pekan mereka terganggu, naluri bisnis dan solidaritas korporat di dalam diri Nesa langsung bangkit. Musuh yang mencoba menjatuhkan proyek Aethel & Co secara tidak langsung juga sedang mengusik NesAura Skincare.
Nesa melangkah mendekati Arsen, menepuk pelan lengan pemuda itu dengan gerakan menenangkan.
"Kalau begitu, kita tidak perlu menunggu sampai besok," ucap Nesa mantap. "Kita pulang ke Jakarta sekarang juga."
Arsen memandang Nesa dengan tatapan takjub. "Tapi liburan kita..."
"Liburan bisa diatur ulang kapan saja, Arsen. Tapi bisnis dan mitra kerjaku sedang diserang," potong Nesa dengan senyuman penuh percaya diri yang membuat pesonanya berkali-kali lipat lebih memukau. "Jangan lupa... aku ini veteran dalam menghadapi tikaman dari belakang. Mari kita lihat siapa orang bodoh yang berani bermain-main dengan kita."
Mendengar kata-kata itu, senyuman kagum dan penuh rasa bangga merekah di wajah Arsen. Ia meraih tangan Nesa, menggenggamnya erat-erat dengan penuh kehangatan.
"Baiklah, Ratu Nes. Mari kita pulang dan beri pelajaran pada mereka," ucap Arsen mantap.
Tiga jam kemudian, mobil SUV hitam yang dikemudikan oleh Arsen memasuki gerbang tol kota Jakarta. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih serius dibanding perjalanan berangkat kemarin.
Begitu tiba di kantor pusat Aethel & Co, Arsen langsung bergerak cepat. Bersama tim hukum dan divisi logistiknya, ia mengadakan rapat darurat tertutup. Nesa, yang ikut mendampingi sebagai mitra strategis, turut meneliti dokumen transaksi dan rekam jejak digital perusahaan distributor yang melakukan pembatalan sepihak tersebut.
Di ruang kerja pribadi Arsen, layar monitor besar menampilkan hasil penelusuran digital yang dilakukan oleh tim IT internal.
"Ini dia," ucap kepala divisi IT Aethel & Co, menunjuk sebuah barisan kode transfer dan nama perusahaan cangkang di layar. "Pembatalan sepihak ini bukan murni masalah bisnis, Pak Arsen. Distributor ini menerima dana suntikan tunai dalam jumlah besar dari sebuah yayasan investasi fiktif yang baru dibentuk sebulan lalu. Dan setelah kami telusuri lebih jauh..."
Kepala IT itu menjeda kalimatnya sejenak, melirik ragu ke arah Nesa sebelum melanjutkan. "...aliran dana itu ternyata berakar dari jaringan aset lama yang dikendalikan oleh orang-orang dekat mantan direktur operasional NesAura Dika Pratama."
Bumm!
Nama itu langsung menggema di dalam ruangan, menciptakan keheningan yang pekat.
Nesa yang berdiri di samping meja kerja Arsen langsung tertegun. Kepalan tangannya mengerat di sisi tubuhnya. Meskipun Dika sudah mendekam di dalam sel tahanan rutan, pria busuk itu rupanya masih memiliki sisa-sisa antek, kaki tangan, atau aset tersembunyi di luar sana yang mencoba balas dendam dan menghancurkan bisnis Nesa melalui sabotase mitra bisnis Arsen.
Arsen menoleh ke arah Nesa, melihat kilatan kemarahan dan ketegasan yang menyala di mata wanita itu. Aura dingin dan berbahaya langsung menguar dari tubuh Arsen. Pria muda yang biasanya tampil santai dan tengil itu kini menjelma menjadi predator bisnis yang siap menerkam siapa saja yang berani menyentuh orang di sekitarnya.
"Jadi, bajingan di dalam penjara itu masih sempat-sempatnya menyuruh anak buahnya bermain kotor di luar?" suara Arsen terdengar sangat dingin, nyaris berbisik namun sarat akan ancaman mematikan.
Nesa menarik napas dalam-dalam, menetralkan emosinya, lalu menatap Arsen dengan sorot mata yang tak kalah tajam.
"Dika mengira dengan menjebak distributor kita, dia bisa menghancurkan peluncuran produk kolaborasi ini dan menjatuhkan reputasiku lagi," ucap Nesa tenang namun penuh racun. "Dia salah besar. Kita tidak boleh tinggal diam dan menunggu mereka bergerak lagi."
Arsen mengangguk tegas. Ia menoleh ke arah tim hukumnya. "Hubungi kepolisian dan jaksa penuntut umum yang menangani kasus aset sitaan Dika. Laporkan adanya upaya tindak pidana pencucian uang lanjutan dan sabotase korporat. Dan untuk distributor pembangkang itu... seret mereka ke meja hijau dengan tuntutan ganti rugi materiil terbesar."
"Baik, Pak!" seru tim hukum serempak, lalu bergegas keluar ruangan untuk menjalankan perintah.
Setelah ruangan kembali sepi, menyisakan Nesa dan Arsen berdua saja, Arsen berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekati Nesa, merangkul bahu wanita itu dengan lembut, menyalurkan kekuatan dan rasa aman.
"Maafkan aku, Nesa," bisik Arsen lembut di dekat telinganya. "Akhir pekan indahmu jadi rusak karena ulah orang masa lalumu yang tidak tahu diri itu."
Nesa mendongak, menatap Arsen dengan senyuman tipis yang menenangkan. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Arsen yang merangkul bahunya.
"Jangan minta maaf, Arsen," jawab Nesa tulus. "Ini bukan salahmu. Dan justru dari kejadian inilah... aku tahu persis siapa orang yang akan berdiri di sisiku saat badai datang."
Arsen tersenyum hangat, menatap manik mata Nesa dengan penuh pemujaan. Di tengah kekacauan sabotase dan sisa-sisa dendam masa lalu yang berusaha bangkit, ikatan di antara mereka justru semakin menguat, menempa mereka menjadi satu kekuatan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun.
Perang belum usai, namun Nesa dan Arsen kini berdiri di garis terdepan siap membasmi setiap duri yang mencoba menghalangi jalan mereka menuju kemenangan abadi.