"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Ampun, Mayor!
Malam hari...
Pendar lampu warna-warni dari bohlam-bohlam gantung berpendar terang, menyilaukan sudut lapangan terbuka yang disulap menjadi area pasar malam rakyat. Udara malam yang hangat bercampur dengan aroma gurih bakso bakar yang dioles kecap manis, wangi legit arum manis merah jambu yang meleleh di atas panggangan seng, serta asap rokok dan minyak gorengan yang membubung padat.
Suara musik dangdut koplo berdentum kencang dari pengeras suara wahana kincir ria, beradu dengan teriakan anak-anak dan riuh gelak tawa para pengunjung yang berdesak-desakan.
"Ta, liat deh! Bakso bakarnya kenyal banget kayaknya! Beli lima tusuk, yuk!"
Vina melangkah lincah menembus kerumunan orang, sama sekali tak canggung dengan pakaian santainya—kaos oblong putih kebesaran dengan gambar kartun pudar dan celana kulot kain yang bagian bawahnya sedikit terangkat. Sepasang sandal jepit karet berwarna hijau menyala menepuk-nepuk tumitnya nyaring setiap kali ia melompat menghindari genangan air becek di atas tanah lapangan.
Ita, yang berjalan ketat di sampingnya seraya memegangi dompet kain, menggeleng-gelengkan kepala. Keringat tipis membintik halus di pelipisnya, namun senyum lega tak lepas dari bibirnya melihat pendar antusias yang meluap dari mata sahabatnya.
"Gak usah banyak-banyak, Vin! Tadi kan kamu udah beli es tong-tong sama telor gulung dua tusuk!" seru Ita setengah berteriak menembus bisingnya musik pasar malam.
"Alah, mumpung di sini, Ta! Di rumah kos kaku itu mana ada yang jualan bakso enak begini!" balas Vina tertawa lepas.
Suara tawa Vina melambung tinggi, renyah dan penuh kebebasan tanpa beban. Sesuatu yang begitu alami, spontan, dan telanjang—tanpa topeng sopan santun kaku yang biasa ia kenakan selama satu tahun hidup sebagai istri pejabat militer.
Di sudut lapangan yang agak redup, terpaut lima belas meter dari deretan stan makanan, sebuah mobil sedan hitam pribadi terparkir kaku di bawah naungan pohon mahoni tua.
Di balik kaca depan yang agak gelap, Mayor Yudhana duduk membisu. Pria itu telah melepaskan seragam dinas harian dan baret hijau tuanya. Ia kini mengenakan kaos polo hitam polos dan topi bisbol berwarna senada yang ditarik agak rendah menutupi dahi dan garis alisnya yang tegas.
Yudhana mengepalkan jemarinya di atas lingkar kemudi. Matanya yang pekat tak berkedip, mengunci sosok wanita berdaster dan bersandal jepit hijau yang kini sedang melompat-lompat gembira di depan stan bakso bakar.
Awalnya, Yudhana meyakinkan dirinya sendiri bahwa alasannya membuntut dari rumah dinas hingga ke lapangan pasar malam ini semata-mata demi tugas pengamanan terselubung—memastikan istri sahnya tidak membuat kehebohan baru atau mempermalukan namanya di lingkungan umum. Namun, setiap kali kilatan tawa lepas Vina memantulkan pendar lampu pasar malam, ada sengatan tidak nyaman yang kian rapat melilit dadanya.
Selama satu tahun mereka menikah, Yudhana hanya mengenal Vina sebagai wanita yang selalu menundukkan kepala, berbicara dengan intonasi gemetar yang tertahan, dan melayaninya dengan keheningan yang pasrah. Ia tak pernah tahu—dan tak pernah sudi mencari tahu—bahwa wanita itu bisa tertawa sesat kencang ini, bahwa mata cokelat bening itu bisa berpendar begitu hidup saat memegang tusuk bakso bakar.
"Kenapa dia tidak pernah tertawa seperti itu di rumah?" gumam Yudhana pelan. Suaranya tenggelam di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin.
Ada rasa penasaran yang asing, pekat, dan menjengkelkan mulai merayapi benaknya. Rasa penasaran yang memaksanya membuka pintu mobil, menurunkan kakinya ke atas tanah berdebu, dan melangkah pelan membuntutinya dari jarak aman.
Vina kini bergeser ke stan permainan lempar gelang. Di atas meja bertingkat, puluhan botol kaca berbaris rapi dengan hadiah-hadiah kecil yang tertata di belakangnya—mulai dari boneka kain murah, jam plastik, hingga wadah plastik warna-warni.
"Satu baris lima ribu, Mbak! Ayo lempar, kalau masuk botol bawah bisa bawa pulang boneka beruang!" seru pria paruh baya pemilik stan menawarkan.
"Sini Pak, lima ribu!" Vina menyodorkan selembar uang kertas lusuh, menyambar lima gelang plastik merah dengan raut wajah mantap.
Vina menyipitkan mata kirinya, menimbang-nimbang gelang plastik di tangannya seperti seorang prajurit yang sedang bersiap melempar granat di medan latihan. Gelang pertama melayang ... cetuk! Membentur leher botol dan memantul keluar.
"Ah, kurang pas!" sorak Vina gemas.
Di belakang kerumunan penonton yang sedang bersorak, Yudhana berdiri merapat di samping stan arum manis. Pria itu berdiri kaku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, kepalanya sedikit miring memantau gerak-gerik Vina dari balik naungan topi hitamnya.
Mata Yudhana yang terlatih secara militer secara refleks memperhatikan cara Vina berdiri—kaki sedikit terbuka, bahu yang santai, dan konsentrasi polos yang terlukis penuh di wajahnya. Tanpa disadari, sudut bibir tegas Sang Mayor yang biasa mengatup kaku terangkat tipis, mengukir senyum samar yang teramat langka.
Gelang kedua melayang ... dan cesss! Masuk sempurna melingkari leher botol paling bawah!
"Yeeey! Masuk, Ta! Liat tuh, masuk!" Vina melompat-lompat girang di atas sandal jepit hijaunya, menepuk-nepuk tangan Ita dengan kehebohan yang mengundang senyum para pengunjung di sekitarnya. Pria pemilik stan dengan pasrah menyerahkan sebuah boneka beruang kecil berwarna merah muda yang agak kusam.
Vina memeluk boneka itu erat-erat di dadanya, memutar tubuhnya penuh kemenangan. Namun, saat mata beningnya menyapu kerumunan orang di belakang stan ... langkah kaki Vina mendadak terhenti.
Tiga meter di samping stan arum manis, seorang pria tinggi besar bertubuh tegap berdiri kaku. Meski pria itu memakai topi hitam rendah dan kaos polos biasa, postur tubuhnya yang berdiri tegak lurus seperti tiang bendera, rahang tegasnya yang tercukur bersih, serta cara matanya menatap tidak bisa membohongi siapapun yang mengenalnya.
Vina berkedip dua kali. Binar jenaka yang nakal seketika menyala terang di matanya.
Yudhana mendadak membelakangi stan permainan, merapatkan topi hitamnya rendah-rendah saat teriakan nyaring Vina memanggil namanya bergema di antara kerumunan pengunjung.
"Oy! Om Tentara yang lagi nyamar! Om ngapain berdiri kaku di situ?!"
Suara cempreng Vina meluncur kencang, memotong bising musik dangdut koplo dan keriuhan warga.
Beberapa pengunjung di sekitar stan seketika menoleh, memandangi sosok pria bertopi hitam tegap yang mendadak membeku kaku bagai patung semen. Wajah tegas Yudhana memerah padat dari leher hingga ke balik topinya. Rasa malu yang membakar lehernya meledak seketika saat belasan pasang mata warga pasar malam kini tertuju lurus padanya.
Vina melangkah lebar menghampirinya, sandal jepit hijaunya menepuk-nepuk lantai tanah, sementara tangan kanannya mendekap boneka beruang merah muda.
"Dih, Si Om malah pura-pura membelakangi tembok!" cibir Vina, berdiri tepat di samping Yudhana seraya menepuk bahu tegap pria itu kencang-kencang. "Kagak usah sembunyi, Om! Gaya berdiri tegak kayak pilar begitu mah bocah SD juga tahu kalau Om itu tentara!"
Yudhana menyentak napasnya kasar, memutar tubuhnya pelan dengan raut wajah kelabu yang dipaksakan kaku. Ia merapatkan gigi-giginya, berbisik kencang dengan nada menahan gusar.
"Vina! Jaga suara kamu!" bisik Yudhana kaku, matanya melotot tajam. "Siapa yang menyamar?! Saya ... saya cuma kebetulan lewat mau beli sesuatu!"
Alhamdulillah 🤲