NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerpen Ke 2: Berbagi Kisah Mistis (Bag 1)

CERPEN KE 2: BERBAGI KISAH MISTIS

Sekitar pukul dua belas lewat tengah malam. Bukan sekadar waktu, melainkan gerbang menuju dimensi lain di mana kegelapan memuncak dan segala hal yang tak kasat mata mulai bergerak bebas. Angin yang tadinya hanya berhembus pelan seperti bisikan, kini berubah menjadi deru yang ganas dan dingin. Angin itu meraung menembus celah-celah dinding kayu, memeluk tubuh sebuah rumah yang menancap di antara dahan besar Trembesi.

Gedung kayu itu bergoyang pelan namun pasti, mengeluarkan bunyi eritan, seperti jeritan makhluk hidup yang terjerat perangkap penjepit. Krieeek... krak... kkuuuuu... Suara retak itu bergema, mengancam tentang tanda keambrukan tanpa kosa kata.

Gemerisik daun-daun yang semakin keras dan ganas akhirnya membelah mimpi buruk Digna. Gadis berusia sebelas tahun itu tersentak bangun dengan napas maraton, jantungnya berdegup kencang seakan ia baru saja melewati garis finis. Matanya terbuka lebar, menatap kegelapan yang diam. Ruangan itu hanya diterangi oleh sisa cahaya redup dari lampu senter yang diletakkan di sudut, memancarkan cahaya kuning pucat yang lemah.

Digna menahan napas, memindai setiap sudut ruangan. Di sebelah kanannya, terbaring tubuh-tubuh kecil teman-temannya. Ninda, Heni, Tasya, dan Agnes. Mereka tampak seperti mayat-mayat yang dibaringkan di dalam kantong tidur masing-masing, berbaris rapi dalam keheningan. Di seberang sana, tepat di ujung kakinya, terbaring Mario, Hendra, Jaki, Banu, dan Fajar. Semuanya diam. Namun Digna bisa merasakan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tidur. Ada getaran aneh di udara. Seolah-olah angin kencang di luar sana membawa isyarat bencana, membuat naluri anak-anak itu menjerit untuk waspada.

Suasana mencekam itu pecah dalam sekejap.

BRAAAK!!!

Sebuah suara remukan dahan meledak datang dari arah bawah. Suara itu begitu dahsyat hingga lantai kayu tempat mereka berbaring bergetar hebat.

Semua anak terbangun serentak. Mereka bangun karena ketakutan yang menghujam jiwa. Wajah mereka pucat bingung, mata melotot tak berkedip, mulut ternganga menahan kalimat yang mereka bingung harus mengucapkan apa. Mario bahkan begitu syok hingga tubuhnya melompat dan duduk di tengah-tengah temannya.

“Su-su-suara apa itu...?” gugup Heni, suaranya rendah hampir tak terdengar. Tubuh mungilnya langsung merapat ke arah Ninda, mencoba mencari perlindungan di balik teman yang dianggap lebih kuat. Ninda yang juga sudah terbangun, menatap nanar ke arah bukaan jendela kayu yang menghadap ke kegelapan malam, di sana hanya ada hitam pekat yang dibingkai rapi.

Digna, sebagai ketua kelompok, mencoba menguatkan dirinya meski kedua kakinya terasa lembek seperti agar-agar. Dengan tangan gemetar tak terkendali, ia meraih lampu senter kedua yang ada di samping bantalnya.

KLIK.

Cahaya kuning keemasan menyala, menikam gelap dan menerangi seluruh ruangan sempit itu. Wajah-wajah polos namun kini dipenuhi teror terlihat jelas satu per satu. Mata yang berkaca-kaca, bibir yang gemetar, dan kulit yang merinding penuh bulu kuduk.

“Tenang teman-teman...” suara Digna keluar pelan, berusaha terdengar santai namun nada getarnya tak bisa disembunyikan. “Mungkin... mungkin hanya ranting pohon yang patah terbawa angin kencang. Tidak ada apa-apa. Mari kita duduk kumpul bersama... setidaknya agar kita tidak terlalu takut.”

Perintah itu tidak perlu diulang dua kali. Dengan gerakan panik dan terburu-buru, semua anak merangkak keluar dari kantong tidur mereka. Mereka berkumpul di tengah ruangan, membentuk lingkaran erat di atas tikar anyaman yang sudah terhampar di lantai kayu. Mereka saling mendekatkan badan, bahu menyandar bahu, lutut menyentuh lutut, mencari kehangatan dan rasa aman dalam kerumunan. Beberapa di antaranya masih menggenggam selimut tipis mereka erat-erat, seolah kain tipis itu bisa menjadi tameng dari hantu-hantu yang mungkin mengintip dari celah dinding.

Suara angin menderu semakin kencang di luar, membuat rumah pohon itu bergoyang lagi. Goyang... goyang... seolah ingin menjatuhkan mereka semua ke dalam jurang kegelapan di bawah.

Di tengah lingkaran ketakutan itu, Jaki mengangkat tangannya perlahan. Anak yang biasanya tenang dan suka membaca tentang alam kini wajahnya terlihat serius, matanya tajam menyapu pandang ke wajah teman-temannya satu per satu.

“Kalau kita sudah berkumpul seperti ini...” suara Jaki memecah keheningan yang hanya diisi oleh deru angin dan detak jantung mereka sendiri. “Mungkin ada baiknya kita melakukan sesuatu agar pikiran kita tidak terus menerus memikirkan suara-suara aneh itu. Ketakutan itu tumbuh kalau kita lengah.”

Dia berhenti sejenak, menelan ludah.

“Bagaimana kalau... kita bergantian menceritakan kisah pengalaman seram yang pernah kita alami masing-masing? Memang sih, mendengar cerita horor di tempat seperti ini justru bisa bikin kita makin takut setengah mati. Tapi... kalau kita berbagi rasa takut itu bersama-sama, mungkin beban ketakutan itu akan menjadi lebih ringan.”

Usulan itu menggantung di udara, bercampur dengan dinginnya malam. Mereka saling berpandangan dalam cahaya lampu senter yang remang-remang. Wajah-wajah itu tampak seperti hantu di pantulan cermin buram.

Setelah beberapa detik disela kebisuan, akhirnya Mario mengangguk cepat. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Saya mau cerita duluan!”

Suaranya rendah, namun penuh penekanan. Dia mendekatkan badannya ke tengah lingkaran, seolah ingin memastikan semua orang mendengar bisikan mengerikan itu.

“Kisah ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Waktu itu saya dan keluarga menginap di rumah Bibi saya. Lokasinya jauh di pinggiran kota, tempat yang sepi banget. Rumahnya tua, kayu semua, dan berdiri sendirian di tengah tanah luas yang pinggirannya adalah kebun singkong yang lebat Pohon-pohon singkong itu tinggi-tinggi dan rapat, jadi kalau malam, kebun itu terlihat hitam legam, seperti pagar yang menyembunyikan banyak rahasia.”

Mario berhenti sejenak, matanya menatap kosong ke lantai, seakan kembali melihat kejadian mengerikan itu.

“Malam itu, sekitar jam dua pagi. Saya terbangun karena haus sekali. Kamar mandi dan tempat airnya terletak di luar bangunan utama, terpisah. Jadi saya harus keluar rumah, melangkah di atas tanah yang sedikit becek dan dingin, menuju ke sana."

"Saat saya sedang menuang air dari ember besar dan meminumnya dengan lahap, tiba-tiba... saya mendengar suara. Suara tangisan. Tangisan seorang anak kecil. Tangisannya pelan, sedih, dan menyedihkan sekali. Huuu huuu huuuuu..."

"Suara itu datang jelas sekali dari arah kebun singkong tepat di sebelah saya."

"Saya menghentikan minum. Saya mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menembus kegelapan. ‘Siapa?’ panggil saya. Tidak ada yang menjawab. Hanya suara tangisan itu, teman-teman... di telingaku yang terdengar makin jelas."

"Dengan hati-hati, saya melangkah maju beberapa langkah mendekati pinggir kebun. Dan saat itulah... saya melihatnya.”

Napas Mario tertahan. Di sekeliling lingkaran, semua anak menahan napas serentak. Jantung mereka seakan menunggu aba-aba untuk melanjutkan detakan.

“Saya melihat sosok seorang anak kecil. Badannya kecil, kurus, mungkin umurnya sekitar lima tahun. Dia berdiri di antara celah-celah tanaman singkong yang gelap itu. Pakaiannya compang-camping, kotor, warnanya pudar dan lusuh. Rambutnya panjang, hitam, dan basah kuyup... kucel... sesuatu seperti lendir menempel di leher dan punggungnya, seakan dia baru saja selesai mandi di air kotor."

"Anak itu diam. Dia tidak menangis lagi. Tapi matanya... matanya itu lho... matanya melotot lebar menatap lurus ke arahku. Bola matanya merah sembab, bengkak besar, seolah dia sudah menangis selama berhari-hari, bertahun-tahun, tanpa henti."

"Dan yang paling bikin bulu kuduk saya merinding seluruh badan... dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Di tangannya ada sebuah keranjang anyaman kecil yang sudah tua dan lusuh. Isinya penuh dengan singkong mentah."

"Ma... mau..." bisiknya. Suaranya polos, ringan, benar-benar suara anak kecil yang lugu. "Ambil... ini..."

"Saya kaku. Kaki saya seperti mata rasa. Saya tidak bisa lari, tidak bisa berteriak. Saat itulah ayah saya ternyata menyusul keluar karena khawatir saya lama tidak kembali. ‘Mario, ngapain kamu di situ?’ teriak ayah saya."

"Ayahku lalu melihat ke arah anak kecil itu. Di tidak kelihatan takut, dia malah mendekat. ‘Nak, siapa kamu? Mau cari apa?’ tanya ayah saya pelan."

"Anak itu tidak menjawab sepatah kata pun. Dia tetap diam, matanya lalu melotot aneh ke atas, dan tangannya tetap mengulurkan keranjang berisi singkong itu dengan kaku. Akhirnya, karena merasa kasihan dan bingung, ayah saya menerima keranjang itu."

"Begitu jari ayah saya menyentuh anyaman keranjang itu... anak kecil itu langsung berbalik badan dengan gerakan yang sangat cepat!l Dia berlari masuk ke dalam lebatnya kebun singkong. Sreesh... Daun-daun bergerak, dan dalam sekejap dia hilang lenyap ditelan kegelapan. Tidak ada suara langkah kakinya lagi."

"Kami kembali ke dalam rumah. Ayah menceritakan hal ini pada Bibi. Wajah Bibi saya langsung berubah pucat, ia menggeleng-geleng bingung. ‘Tidak mungkin...’ gumam Bibi. ‘Di sekitar sini tidak ada anak kecil yang tinggal. Kebun itu sudah bertahun-tahun tidak ada yang mengurus.' Ungkapnya.

"Lalu Bibi melihat keranjang yang dipegang ayah. Dan... Bibi semakin panik. ‘Itu... itu keranjang saya! Keranjang tua yang hilang sudah sepuluh tahun yang lalu! Saya yakin ini punya saya, lihat ada sobekan kecil di gagangnya!' Bibi saya terlihat panik."

"Kami semua terdiam. Merinding. Lalu dengan tangan gemetar, ayah saya membuka isi keranjang itu untuk melihat singkong tadi.

Tapi... isinya kosong.

Sama sekali kosong. Tidak ada sebutir pun singkong di sana. Padahal tadi jelas-jelas terlihat penuh dan berat.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya membayangkan mata sembab anak itu, rambutnya yang basah, dan keranjang yang tiba-tiba kosong. Akhirnya saya menggedor kamar orang tua dan minta izin tidur sama Ayah. Saya peluk badannya seerat-eratnya, takut kalau-kalau ada tangan dingin yang menarik kaki saya dari bawah ranjang...”

Mario mengakhiri ceritanya dengan napas panjang. Suara angin di luar tampak menjadi semakin keras, mengamuk seolah gusar.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!