Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28.
Matahari pagi bersinar terang di atas Neuilly sur Seine, menyelimuti kediaman keluarga Lenoir dengan cahaya keemasan yang hangat. Suasana di rumah ini kembali berjalan seperti biasa—tenang namun penuh ritme kehidupan. Di ruang makan, aroma kopi segar dan roti panggang kembali memenuhi udara, namun hari ini hanya ada Marcel dan Aslan yang duduk di sana. Kehadiran keluarga Hadinata kemarin terasa seperti mimpi indah yang baru saja berlalu, meninggalkan jejak rindu yang masih melekat, terutama di hati Aslan.
Marcel meletakkan koran yang ia baca, lalu menatap putranya dengan pandangan puas. "Laporan dari cabang kita di Zurich baru saja masuk, Aslan. Investasi yang kau ajukan dan kelola di sana berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Bahkan mitra bisnis kita di Swiss menelepon khusus untuk memuji cara kerjamu."
Aslan mengangkat gelas kopinya, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang berbeda dari senyum nakal yang ia berikan pada Alana; ini adalah senyum seorang profesional yang bangga dengan hasil kerjanya. "Terima kasih, Papa. Aku memang memastikan setiap detail diperiksa berulang kali. Pasar di Eropa tengah memang menawarkan banyak peluang, asalkan kita tahu di mana harus menaruh modal dan kepercayaan."
"Dan kau memang ahli dalam hal itu," sahut Marcel, lalu wajahnya berubah sedikit lebih serius namun tetap hangat. "Namun, jangan sampai kesuksesan membuatmu terlena. Ada banyak hal lain yang juga menanti. Sekarang, setelah urusan keluarga selesai dan tamu kita sudah pergi, mari kita kembali pada realita. Segeralah bersiap, kita harus ke kantor pusat Lenoir. Ada rapat strategis yang sudah dijadwalkan, dan aku ingin kau menyampaikan laporanmu secara langsung kepada dewan direksi."
"Tentu saja ,Pa. Aku akan siap dalam lima belas menit," jawab Aslan tegas.
Tak lama kemudian, mobil hitam yang sama yang dulu membawa Alana kini membawa ayah dan anak itu menuju gedung pencakar langit tempat markas besar perusahaan mereka berada. Saat melangkah masuk ke dalam lobi yang megah dengan lantai marmer dan desain modern, aura Aslan seketika berubah. Pria yang tadi pagi masih melamunkan kekasihnya kini berubah menjadi sosok yang berwibawa, tegap, dan dihormati. Setiap karyawan yang berpapasan menyapa dengan hormat, dan Aslan membalasnya dengan sikap sopan namun tetap menjaga jarak profesional.
Rapat berlangsung di ruangan besar dengan meja kayu yang panjang. Marcel memimpin diskusi dengan gaya khasnya—tegas, bijaksana, dan selalu melihat ke masa depan. Namun, saat giliran Aslan berbicara mengenai proyek di Swiss dan rencana ekspansi ke wilayah lain, seluruh perhatian tertuju padanya. Aslan berbicara dengan data yang akurat, analisis yang tajam, dan visi yang jauh ke depan. Ia menjelaskan risiko dan peluang dengan bahasa yang mudah dimengerti namun menunjukkan kedalaman pengetahuannya. Bahkan anggota dewan yang paling kritis pun mengangguk setuju, menyadari bahwa penerus keluarga Lenoir ini bukan hanya sekadar pewaris, melainkan seorang pemimpin yang lahir dengan bakat alami.
Marcel memperhatikan putranya dari ujung meja, dan kebanggaan terpancar jelas di matanya. Aslan benar-benar membuktikan bahwa ia mampu memegang tanggung jawab besar. Rapat berakhir dengan keputusan yang solid dan semangat yang tinggi dari seluruh peserta.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang saat jam istirahat tiba. Setelah menyelesaikan beberapa diskusi singkat dengan manajer divisi, Aslan kembali ke ruang kerjanya yang luas dan modern. Kesepian kembali menyelimuti begitu pintu tertutup, dan seketika sosok profesional itu perlahan berganti kembali menjadi Aslan yang penuh rindu.
Tanpa menunggu lama, ia meraih telepon genggamnya, jari-jarinya dengan cepat mencari nama yang selalu ia pikirkan. Di seberang sana, di kediaman keluarga Hadinata di Lyon, Alana sedang berada di dapur yang luas dan terang. Gadis itu sedang membantu pelayan menata peralatan makan, tangannya bergerak lincah namun pikirannya sesekali melayang, terutama setiap kali mendengar suara dering telepon.
Tiba-tiba, perangkat di saku gaunnya bergetar. Alana terkejut sedikit, lalu segera mengambilnya. Melihat nama yang tertera di layar, jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Wajahnya yang tadi tenang kini mulai memerah. Ia segera meminta izin untuk keluar sebentar, berjalan menuju sudut koridor yang sepi sebelum menekan tombol jawab.
"Halo..." suaranya terdengar ragu, namun penuh harap.
Sama seperti dugaan, suara rendah dan menggoda Aslan langsung terdengar jelas, seolah pria itu sedang berbisik tepat di telinganya.
"Halo, Sayang. Apa kau sedang sibuk? Atau mungkin... sedang memikirkanku?"
Alana menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum sekaligus rasa malunya. "Kau... kenapa menelpon di jam seperti ini? Bukankah kau sedang bekerja bersama Ayahmu?" tanyanya, berusaha terdengar tegas.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku dengan sempurna, seperti biasa," jawab Aslan dengan nada bangga yang bercampur gurauan. "Dan sekarang, saat istirahat tiba, pikiranku otomatis beralih ke hal yang paling penting dalam hidupku. Yaitu kau, tentu saja."
"Selalu saja begitu," cicit Alana, pipinya makin merah. "Kau tidak pernah lelah menggoda?"
"Tidak akan pernah," jawab Aslan, suaranya turun satu oktaf, penuh makna. "Terutama setelah membayangkan apa yang akan kulakukan saat kita bertemu nanti. Kau tahu, saat rapat tadi, aku justru sibuk membayangkan sesuatu yang lain... dan betapa sayangnya aku karena belum sempat meninggalkan tanda yang nyata dan tak terhapuskan di sana."
Alana terperangah, hampir saja menjatuhkan teleponnya. "Aslan!" serunya pelan namun tegas, matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang mendengar. "Kau ini sedang di mana? Di kantor, kan? Bagaimana bisa kau memikirkan hal-hal seperti itu saat sedang bekerja? Sungguh, kau ini sangat keterlaluan!"
Aslan tertawa renyah di seberang sana, terdengar sangat puas karena berhasil membuat gadis itu salah tingkah lagi. "Bukankah aku sudah bilang? Kau ada di setiap pikiranku, di mana pun aku berada dan apa pun yang aku lakukan. Bahkan saat aku sedang berbicara soal angka dan strategi, bayangan wajahmu yang merah padam selalu muncul di benakku. Itu salahmu, karena kau terlalu cantik untuk dilupakan."
"Oh, begitukah, sekarang itu juga menjadi salahku?" Alana mendengus kesal, meskipun senyum tak bisa ia tahan. "Kau selalu bisa memutar balikkan keadaan. Hentikanlah, nanti kalau ada orang mendengar atau Ayah dan Ibu tahu bagaimana kau berbicara padaku..."
"Mereka tahu aku mencintaimu, dan itu sudah cukup," potong Aslan lembut namun tegas. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku merindukanmu, bahkan di sela-sela pekerjaan. Dan aku juga ingin mengingatkanmu... simpanlah rasa malumu itu untukku saja. Karena saat kita bertemu lagi, aku akan membuatmu jauh lebih malu daripada sekarang."
"Aslan!" Alana kembali memarahinya, meskipun nada suaranya sudah melemah, penuh dengan kasih sayang yang tak bisa disembunyikan. "Kau benar-benar... ah, aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Jangan menelpon kalau isinya hanya menggoda saja!"
"Tapi aku suka melihat reaksimu," jawab Aslan masih tertawa. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membuatmu terlalu panik. Istirahatlah yang cukup, Sayang. Dan ingat, setiap detik di sini, aku memikirkanmu."
Setelah sambungan telepon terputus, Alana masih berdiri di koridor itu, memegangi dadanya yang berdebar kencang dan wajah yang panas membara. Ia menghela napas panjang, bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Pria ini... sungguh membuatku tidak bisa tenang." Namun, di balik keluhannya, ada senyum bahagia yang tak bisa hilang dari bibirnya, seolah panggilan singkat itu adalah energi yang ia butuhkan untuk menjalani sisa harinya.