Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Tubuh pria itu ambruk ke lantai dengan bunyi yang pelan namun berat.
Liora masih menggenggam pisau itu, bilahnya basah oleh darah yang mulai mengental di jari-jarinya. Ia bertindak terlalu cepat, terlalu naluriah. Tapi tidak ada pilihan lain. Pria itu bisa menghancurkan Ronan dan sekaligus dirinya.
"Nyonya--"
Suara itu membekukan Liora seketika. Ia memalingkan kepala.
Satpam berambut pirang itu berdiri di ambang pintu, matanya bergerak dari Liora ke tubuh yang tergeletak di lantai, lalu kembali ke Liora.
"Singkirkan mayat itu," perintah Liora dengan nada yang lebih tenang dari yang ia sangka bisa ia keluarkan. Ketenangan adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya sekarang.
"Saya harus menghubungi Tuan Maelric dulu dan—"
Liora melangkah perlahan ke arahnya, pisau masih di tangan.
"Dengarkan aku baik-baik." Suaranya rendah, tapi setiap katanya tajam. "Kalau kamu tidak membantuku sekarang, aku akan bilang kepada suamiku bahwa kamu membiarkanku sendirian dengan pria asing di tempat ini. Aku yakin Maelric akan sangat berterima kasih atas kelalaianmu itu." Ia berhenti tepat di depan satpam itu. "Tapi kalau kamu bantu aku, posisimu di sini akan jauh lebih aman dari sebelumnya. Pilih."
Satpam itu terdiam, menimbang.
"Suruh semua orang jangan masuk dulu," katanya akhirnya.
Keputusan yang tepat.
Liora meraih lap bersih dari balik bar dan mulai membersihkan tangannya. Darah sudah mulai mengering di sela-sela jarinya, ia harus segera ke kamar mandi. Tepat ketika ia hendak beranjak, sosok Elara muncul dari arah lorong belakang.
Liora hampir menghela napas lega ketika Elara langsung membuka mulut.
"Liora," panggilnya dengan nada lesu. "Ada urusan keluarga yang mendadak. Boleh aku izin dua atau tiga jam? Aku janji akan ganti semua waktunya--"
Liora menatapnya sebentar, lalu tersenyum.
"Pergilah. Aku yang jaga di sini."
Elara mengangguk penuh syukur, menyambar tas kecilnya, dan keluar melalui pintu belakang.
Begitu langkah Elara menghilang, Liora bergegas ke kamar mandi. Di bawah aliran air yang dingin, ia menggosok tangannya berulang kali sampai tidak ada lagi yang tersisa selain bau sabun. Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Tidak ada noda di pakaiannya. Rambutnya masih rapi.
Dari luar, tidak ada yang akan curiga.
Ia menarik dua napas panjang, lalu keluar.
**
Kembali ke lantai utama, Liora mendapati lantai di dekat bar sudah tidak ada tubuhnya tapi bekas darah yang mengering masih terlihat jelas di atas parket.
Ia mengerutkan dahi dan berjalan ke area belakang, membuka satu per satu lemari penyimpanan. Tidak ada satu pun alat kebersihan yang ia temukan. Liora hampir menyerah ketika satpam berambut pirang itu muncul kembali, kali ini membawa ember dan kain pel.
"Di sini memang ada ruangan khusus untuk perlengkapan kebersihan," katanya sambil mulai mengepel. "Kejadian seperti tadi bukan yang pertama di tempat ini."
Liora mengamatinya sebentar.
Artinya ia bukan pembunuh pertama yang berdiri di lantai Eclipse. Entah kenapa, pikiran itu sedikit meringankan sesuatu yang mengencang di dadanya.
"Namamu siapa?"
"Gio."
"Mayatnya?"
"Sudah diurus. Tidak akan ada yang menemukan."
Liora mengangguk pelan. Ia berjalan ke belakang bar, membuka lemari bawah, dan mengeluarkan sebotol wiski yang labelnya ia tidak kenali, tapi harganya tertera di stiker kecil di bagian bawah, dan angkanya cukup untuk membuat alis Liora naik sedikit.
Ia menuangkan dua jari ke dalam gelas, lalu meminumnya sekaligus.
Pekat, hangat, dan cukup keras untuk membakar tenggorokan. Tapi tubuhnya membutuhkan itu sekarang.
Baru saja aku membunuh orang.
Pikiran itu baru benar-benar menghantam sekarang, bukan tadi, bukan waktu pisau itu bergerak. Sekarang, dengan tangan yang sudah bersih dan suasana yang mulai tenang, barulah rasa itu datang. Bukan penyesalan. Tapi kesadaran bahwa ada garis yang sudah ia lewati, dan tidak ada jalan kembali ke sebelah sisinya.
"Kalau tadi dia menyerangmu, kamu bisa saja memanggil aku," kata Gio dari tempat ia masih mengepel. "Tidak perlu mengotori tanganmu sendiri."
Liora meletakkan gelasnya.
"Aku besar di antara kakak-kakak laki-laki yang mengajariku mengurus diri sendiri." Ia menatap Gio sebentar. "Tidak ada orang yang berhak menyentuhku tanpa izin, dan aku tidak menunggu orang lain untuk menghentikannya."
Gio mengangguk pelan dan melanjutkan pekerjaannya tanpa berkata apa-apa lagi.
Liora menuangkan sedikit wiski lagi ke gelasnya, kali ini lebih sedikit. Pikirannya sudah bergerak ke hal berikutnya, hal yang jauh lebih mendesak dari sekadar membersihkan lantai.
Pria itu bilang masih ada sumber lain.
Ia harus memberitahu Ronan. Tapi caranya harus hati-hati, tidak boleh ada yang bocor sebelum mereka tahu pasti seberapa jauh informasi itu sudah tersebar.
**
Liora sudah berada di rumah hampir dua jam ketika Maelric akhirnya masuk ke ruang kerja tempat ia duduk.
"Kukira begitu kubiarkan kamu di sana cukup lama, kamu akan memutuskan itu bukan tempatmu." Ia duduk di kursi seberang, menatap Liora dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tapi kelihatannya justru sebaliknya."
"Aku cocok di sana." Liora meletakkan ponselnya. "Orang-orangmu juga baik. Ngomong-ngomong, Bastian masih belum pulih sepenuhnya kan?"
Maelric mengangguk pelan.
"Ada satpam di Eclipse, namanya Gio. Selama ini dia jaga malam. Menurutku dia bisa menggantikan Bastian sementara, setidaknya untuk menemani aku keluar kalau perlu."
Maelric tidak langsung menjawab. Matanya menyempit sedikit.
"Lama sekali kamu mengobrol dengannya?"
"Cukup lama." Liora menjaga nada suaranya tetap santai. "Tapi dia tidak banyak bicara. Kamu perlu bilang padanya supaya lebih responsif, menjawab dengan sepatah dua patah kata itu tidak menyenangkan."
Maelric bersandar ke kursinya, jari-jarinya mengetuk meja satu kali.
"Dia belum cukup lama bekerja untukku untuk bisa kupercayakan kepadamu."
"Bastian sudah berapa lama? Dan lihat apa yang terjadi." Liora menatapnya tenang. "Aku tidak minta banyak. Hanya seseorang yang bisa menemani aku keluar tanpa membuatku merasa sedang dikawal tahanan. Kalau kamu punya kandidat lain, aku dengarkan."
Maelric diam cukup lama. Kemudian ia bangkit, berjalan ke arah Liora, dan mencondongkan tubuhnya ke depan, hidungnya hampir menyentuh pelipis Liora.
"Kamu minum."
"Tugasku mengelola Eclipse. Wajar kalau aku mencicipi inventaris."
Satu tarikan napas pendek, antara kesal dan terhibur, Liora tidak terlalu bisa membedakan.
"Dia bisa bekerja, tapi hanya masa percobaan." Maelric meluruskan tubuhnya kembali. "Kalau ada satu hal saja yang tidak berkenan, dia tidak hanya kehilangan pekerjaan."
Liora mengangguk.
"Aku mengerti."
Ia tidak tersenyum. Tapi di dalam kepalanya, satu bagian dari rencana yang belum sepenuhnya terbentuk itu mulai menemukan tempatnya.
Gio ada di pihaknya sekarang. Dan ia membutuhkan seseorang di dalam Eclipse yang bisa ia percaya, sebelum sumber lain itu sempat membuka mulut kepada orang yang salah.