Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 20
Hening yang tak menyenangkan kembali melanda.
Bahu Zenna mendadak terasa berat. Titik pandangnya menurun. Gemetar di jemarinya kini menjalar ke sekujur badan.
"A-aku..."
"Tenanglah, Zenna. Lihat aku."
Bram menyentuh wajah Zenna dengan lembut, dan kejernihan netranya mengunci erat pandangan Zenna.
"Bukankah aku sudah berjanji akan melindungimu? Aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Sekalipun Rendy ada di sana, dia tak akan bisa mendekatimu. Kamu sepenuhnya aman."
Jantung Zenna berdebar tak karuan, seakan kehilangan dasar irama. Ia pun berusaha menghirup udara, meski rongga dadanya bagai dipenuhi serpihan kaca.
"Bagaimana...?"
"Aku sudah mengatur pesta yang agak berbeda kali ini, demi keamanan dan kenyamananmu," jelas Bram lugas. "Aku tak bisa tidak mengirim undangan kepada keluarga Wangsa, karena seperti yang kamu tahu, acara besar seperti perayaan pernikahan ini juga menjadi ajang penting untuk menjalin aliansi politik dan bisnis. Apalagi almarhum Papa Zahir cukup dekat dengan Tuan Raja Wangsa--ayah kandung Rendy. Tak mengundang mereka berarti menghancurkan persahabatan dan kerjasama yang sudah dibangun selama puluhan tahun..."
Zenna menelan ludah, dan mencerna informasi mengejutkan itu dengan susah payah.
Almarhum papaku... bersahabat dengan papanya Rendy?
"Tapi, Bram, apa maksudmu, pesta yang agak berbeda...?"
Tatapan Bram melembut saat jemarinya menyentuh kepala Zenna yang tertutup jilbab.
"Pesta yang sesuai dengan identitas barumu. Tak akan ada laki-laki yang bisa mendekatimu bahkan bicara denganmu di pesta itu nanti, kecuali aku, suamimu. Jadi jangan takut. Kamu akan sangat aman. Percayalah padaku."
Zenna masih belum sepenuhnya mengerti, tapi sungguh tak sulit baginya memercayai Bram. Getaran di badannya pun perlahan redam.
"Baiklah, aku percaya padamu," gumam Zenna sembari menarik napas dalam.
Bram tersenyum.
"Bagus. Sekarang bersiaplah dan kenakan kembali cadarmu. Kita harus hadir di ballroom tepat pukul tujuh."
Zenna pun beringsut ke kamar dan menata diri. Begitu cadarnya terpasang, ketenangan kembali menyelimuti batinnya. Dan rasa tenang itu bertambah-tambah tatkala Bram menggandengnya--genggaman tangan sang suami begitu kuat dan hangat.
"Siap?"
Bram memandang Zenna lekat saat mereka sudah berdiri di depan pintu masuk sisi utara ballroom yang dijaga dua petugas keamanan.
Zenna menarik napas dalam untuk melembutkan detak jantung, lalu mengangguk.
Para petugas keamanan membuka pintu. Bram membimbing Zenna melewati lorong pendek berlapis karpet tebal dan berhias lampu redup, lalu menembus tirai putih yang menyekat lorong itu dengan panggung utama ballroom.
Suara pembawa acara, alunan musik, dan tepuk tangan para tamu menyambut langkah Bram dan Zenna yang menaiki panggung berdekorasi megah, bagai raja dan ratu yang disambut rakyatnya dengan sukacita.
Kilat-kilat cahaya dari kamera dan lampu sorot sejenak membuat Zenna silau dan kesulitan melihat. Namun begitu netranya berhasil fokus, Zenna bisa menyaksikan seisi ballroom telah disekat menjadi dua ruangan dengan tirai-tirai putih tinggi dan tebal dan dihias rangkaian bunga--seperti masjid yang sengaja disekat untuk memisahkan jamaah lelaki dan perempuan.
Malam itu, para tamu pria dan wanita pun dipisahkan di dua ruang berbeda. Area panggung juga sudah dibatasi tirai yang dijaga petugas keamanan--sebuah penanda jelas bahwa tak ada yang boleh menginjakkan kaki di sana, kecuali kedua mempelai, Bram dan Zenna.
Sekalipun ada tirai berbunga yang memutus jarak dan pandang, ada juga kamera-kamera dan layar-layar besar yang sengaja ditata dan dioperasikan, sehingga para tamu bisa menyaksikan panggung dan seisi ruangan melalui rekaman video yang disiarkan langsung. Bram dan Zenna juga bisa menyaksikan segalanya melalui tayangan itu.
Zenna memandang desain ruangan dan pesta itu dengan takjub.
"Sudah kubilang, kan?" Bram memandang Zenna dan tersenyum.
Zenna balas tersenyum di balik cadarnya, kelegaan menyelimuti kalbunya.
"Setelah beberapa sambutan dan santap hidangan, kita akan turun panggung untuk beramah-tamah dengan para tamu," Bram sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Zenna, agar istrinya itu bisa mendengar kata-katanya dengan jelas di sela melodi pesta yang mengalun keras. "Tapi kamu tak perlu khawatir. Karena ini pesta syar'i, kamu akan pergi ke area khusus tamu perempuan, sementara aku akan bertemu para tamu di area khusus pria. Jadi kamu tak akan bertemu Rendy hingga pesta berakhir. Kamu aman."
Zenna mengangguk penuh syukur. "Terima kasih, Bram..."
Acara berlangsung sesuai kisi-kisi yang dibisikkan Bram. Sambutan dilontarkan secara bergiliran oleh pihak keluarga, perwakilan tamu, hingga kedua mempelai--yang diwakili oleh Bram.
Dalam sambutannya, Bram tak hanya memanjatkan puji syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada keluarga dan para tamu. Ia juga menjelaskan tentang Zenna dan bagaimana mereka bisa menikah--semua karena wasiat almarhum Zahir Atmaja, dan fakta bahwa Zenna adalah putri kandung pemilik Atmaja Group pun dibeberkan Bram ke publik.
"...ya, ini memang mengejutkan. Saya sendiri juga kaget saat mengetahui kebenarannya. Tetapi, meski saya dan Zenna menikah karena wasiat mendiang Papa Zahir sebagai ayah kandung Zenna sekaligus ayah tiri saya, bukan berarti ini adalah pernikahan paksa... meski baru sebentar mengenalnya, saya harus mengaku di sini, bahwa saya benar-benar jatuh cinta pada Zenna..."
Detak jantung Zenna seakan berhenti mendadak.
Apa--apa yang Bram katakan?
Sisa pidato Bram terdengar kabur di telinga dan benak Zenna yang tiba-tiba beku. Ia bahkan terlambat menyadari kala Bram memeluknya erat dan mencium keningnya, lantas berkata, "Terima kasih sudah bersedia membalas cintaku dan menjadi istriku, Zenna. Aku berjanji akan mencintai dan membahagiakanmu, selamanya."
Para tamu bertepuk tangan.
Pembawa acara kembali mengambil alih. Bram mengajak Zenna duduk di kursi panjang yang disediakan di atas panggung, tangannya terus menggenggam tangan Zenna.
Tetapi tatapan Bram yang lurus ke arah layar dan ekspresinya yang kembali datar perlahan mengembalikan kesadaran Zenna.
Tentu saja, Bram harus berkata dan bersikap seperti itu di hadapan para tamu. Agar pernikahan ini tak terkesan sebagai formalitas semata akibat wasiat orang yang sudah tiada.
Hanya Bram dan Zenna yang tahu kesepakatan asli di balik ikatan ini. Dunia tak boleh mengetahui kebenarannya.
Terutama oleh salah satu tamu yang ada di kawasan pria dan tak henti memandang tajam ke arah panggung.
Ketika para tamu dipersilakan menikmati hidangan, pelayan muncul dan menyajikan senampan hidangan khas timur tengah untuk Bram dan Zenna.
Bram dengan lembut menyuapkan makanan itu ke balik cadar Zenna. Zenna pun turut menyuapi Bram dengan perlahan.
Ketika jemari mereka tak sengaja saling menyentuh bibir satu sama lain, baik Zenna maupun Bram membeku sejenak. Seolah waktu dan jantung tiba-tiba tak punya detak.
"Aku sudah kenyang, Zenna, terima kasih," Bram yang pertama memecah kebekuan dengan suara pelan. "Kamu masih mau kusuapi?"
Zenna berdehem untuk menjernihkan tenggorokan sekaligus menenggelamkan perasaan.
"Aku--aku juga sudah kenyang.Terima kasih..."
Usai makan malam, Bram dan Zenna turun panggung untuk menyambut tamu di wilayah terpisah. Yang pertama dicari Zenna, dan juga yang pertama menghampirinya, tentu saja Kalila dan keluarganya.
"Jadi sudah ngapain aja sore ini dengan suami tercinta?" goda Kalila setelah Umi Sarah dan Suri yang menggendong Isa berbasa-basi singkat dengan Zenna, lalu beralih mengobrol dengan tamu lainnya. "Kalau di panggung aja semesra itu, apalagi di kamar, ya?"
Zenna tak berkata apa-apa, namun ia mencubit pinggang Kalila hingga sahabatnya itu mengaduh.
"Zenna Amalia."
Suara yang tiba-tiba menyapa dan tak asing itu membuat Zenna menoleh.
Aurel Sanjaya berdiri tak jauh darinya, tampak sangat cantik dengan gaun pesta warna merah yang meniru mawar merekah. Tatapannya tajam dan tak menyenangkan, seakan menguliti orang lain hidup-hidup.
"Kamu kelihatan tak asing, Zenna. Kita pasti pernah bertemu di suatu tempat... benar, kan?"
***