AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 01
...Halo gengsss.......
...Apa kabar ? Balik lagi di karya terbaru Author ratu_halu 🥳...
...Semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan berlimpah rezeki ya 🤲🏻...
...Okay, nggak perlu berlama-lama lagi.....
...Happy Reading...
...Enjoy guys.......
...💜...
......................
Hari itu semua berjalan normal seperti hari-hari sebelumnya. Audrey baru saja bangun saat matahari sudah di penghujung petang.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kamar membuat Audrey terpaksa turun dari tempat tidurnya.
Cklek!
Audrey membuka pintu.
"Kenapa, bik ?" tanya Audrey sambil mengucek mata.
"Itu Non...di bawah...Ada tamu."
Audrey mengerutkan keningnya menatap pembantu nya heran,
"Tamu siapa ? Bukannya Papa Mama lagi nggak dirumah ?"
"Bapak sama Ibu sudah pulang tadi pagi, Non. Den Vincent juga sudah bergabung di ruang tamu untuk menyambut tamu Bapak."
"Hah ? Kak Vincent juga ada disini ?" Audrey setengah tak percaya kalau kakak laki-laki nya sudah pulang setelah beberapa minggu sibuk di luar kota mengurus bisnis keluarga. Dia bahkan tidak menanggapi informasi dari si Bibi soal tamu yang ada di lantai satu.
Audrey bergegas turun namun belum sempat kaki nya menuruni tangga, Bi Isah langsung menghalangi jalan Audrey.
"Bik! Minggir! Aku mau ketemu Kak Vincent.."
Bi Isah menggeleng cepat dengan muka sedikit panik, "Nggak bisa, Non. Kata Bapak, Non Audrey baru boleh turun kalau sudah mandi dan dandan.."
"Ih, apaan sih bik ?! Biasanya juga gapapa.. Sudah ah, minggir!" Audrey bersikeras tapi Bi Isah pun tak menyerah.
"Non...tolong Non Audrey mandi dulu. Nanti saya di marahin Bapak kalau sampai Non turun dengan baju tidur begini.." Cegah Bi Isah sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Nggak mau, Bik! Saya mau ketemu Kak Vincent dulu!!"
Audrey yang tak kehilangan akal mencoba lari sambil membungkuk lewat bawah lengan si bibi.
"Wle!" Audrey menjulurkan lidah nya mengejek Bik Isah kemudian menuruni tangga dengan berlari.
"Ya ampun, Non..." Bik Isah pun ikut lari meski tergopoh-gopoh karena usianya yang sudah tidak muda lagi.
Audrey tidak perduli dengan teriakan si Bibi dibelakang, yang dia inginkan hanya satu, menemui Kak Vincent sekarang juga karena sudah sangat rindu.
"KAK,"
Suara Audrey yang nyaring membuat semua orang yang ada di ruang tamu seketika menatap pada gadis itu.
Suasana yang semula penuh gelak tawa seketika berubah menjadi sunyi yang mencekam.
Audrey kini menjadi pusat perhatian dan....cemoohan dari keluarga tamu.
"Audrey! Kenapa kamu masih pakai piyama ? Astaga...anak ini!!" Mama Ruby segera menghampiri putri nya lalu menarik gadis yang rambutnya sangat berantakan itu masuk ke dalam lagi.
Sementara di ruang tamu...
"Maafkan putri saya, Pak Andreas. Maklum anak bungsu.." Ucap Papa Adi jadi tak enak hati.
"Cihh! Tidak sopan!!" Ibu Santi, istri dari Pak Andreas langsung menunjukkan ketidaksukaannya pada situasi yang barusan.
"Bun!!" Tegur Pak Andreas pada istrinya.
"Kenapa, Yah ? Memang benar kan gadis itu tidak sopan! Masa anak kita mau dijodohkan dengan gadis seperti itu ?!"
"BUN!! DIAM!!" Bentak Pak Andreas membuat Ibu Santi memajukan bibirnya marah sekaligus malu.
Raut Papa Adi sedikit berubah. Kak Vincent yang mendengar ucapan wanita itu pun langsung memberikan tatapan tajam pada Ibu Santi.
"Maafkan ucapan istri saya, Pak Adi. Jadi bagaimana, apa kita bisa lanjutkan perbincangan tadi ?" tanya Pak Andreas.
Setengah jam yang lalu...
Pak Andreas baru saja datang bersama Istri dan ketiga anak nya. Mereka datang untuk memenuhi undangan khusus dari Adiwangsa untuk membahas tentang perjodohan antara Audrey dan Putra sulung di keluarga Bimasena.
"Ini putra saya yang pernah saya ceritakan pada anda, Pak Adi. Namanya Wira." Pak Andreas mengenalkan Wira pada Pak Adiwangsa, Ruby dan Vincent.
Mereka saling berjabat tangan. Berkenalan.
"Ini kedua adiknya, ini Sherin dan yang paling kecil ini Nabila." Pak Andreas mengenalkan satu persatu putra dan putrinya.
"Selamat datang Pak Andreas. Oh iya, kenalkan.. Ini putra sulung saya, Vincent. Dia baru sampai tadi siang setelah beberapa minggu mengurus proyek yang ada di Semarang."
Pak Andreas mengangguk sambil tersenyum pada Vincent.
"Saya sudah mendengar banyak tentang kamu nak Vincent. Kamu luar biasa, sudah menjadi pengusaha muda yang selalu di elu-elukan banyak orang." Puji Pak Andreas jujur. Vincent memang pekerja keras bahkan sampai di usianya yang menginjak 32 tahun belum juga tertarik pada pernikahan. Sebelas dua belas lah dengan Wira, putra kandung nya sendiri.
Sementara itu di ujung sofa panjang, seorang laki-laki dengan wajah datar tanpa ekspresi hanya diam menyimak dan tak tertarik untuk bergabung dalam percakapan.
"Kalau boleh saya tau, dimana gadis yang mau dijodohkan dengan putra saya ini, Pak Adi ?"
Papa Adi pun meminta pembantu mereka untuk memanggil Audrey dan setelah itu terjadilah apa yang terjadi tadi.
🏵️
Di kamar Audrey..
Plak!
Aduh!
"Mama!!" Audrey mengaduh sambil mengusap pantat nya yang dipukul Mama Ruby.
"Dasar anak nakal! Malu-maluin aja kamu tuh.." Mama Ruby terus merepet dari lantai bawah sampai mereka tiba di kamar Audrey.
"Ya mana aku tau kalau ada tamu sebanyak itu.. Lagian aku cuma mau ketemu Kak Vincent, Ma." Audrey mencoba membela diri.
"Sudah-sudah...sekarang kamu mandi cepetan, Mama siapin bajunya.." Mama Ruby mendorong Audrey masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintunya dari luar. "Jangan lama-lama!" teriak Mama Ruby
Mama Ruby kemudian membuka lemari pakaian sang putri, memilah dan memilih pakaian mana yang pas untuk acara pertemuan dua keluarga malam ini.
Beberapa menit kemudian..
"Pakai yang ini!" kata Mama Ruby sambil menyerahkan Mini dress berwarna soft blue.
Audrey menerima pakaian itu tanpa protes.
"Mama tunggu diluar," Mama Ruby pun keluar dan membiarkan Audrey bersiap sendiri.
Audrey berdiri kemudian mematut dirinya dicermin.
"Kamu selalu cantik, Audrey!" Pujinya pada diri sendiri sambil tersenyum bangga.
Audrey bergegas keluar dari kamar setelah dirasa penampilannya sudah sempurna.
"Ya ampun anak Mama cantik sekali. Ayo kita turun sekarang, calon suami mu dan keluarganya sudah menunggu.."
Audrey tidak terkejut sama sekali ketika Mama Ruby menyinggung soal Calon suami. Audrey sudah tau sejak satu bulan yang lalu kalau dia akan di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Dan Audrey menerima perjodohan itu tanpa membantah sama sekali. Bagi Audrey apa yang orang tua nya lakukan adalah demi kebahagiaannya. Yang Audrey tidak ketahui hanya waktu kedatangan calon suamu beserta keluarga nya. Selebihnya Audrey sudah tahu.
"Maaf semuanya karena menunggu lama..." Mama Ruby datang lagi ke ruang tamu sambil menggandeng tangan Audrey.
Penampilan Audrey yang jauh berbeda dari sebelumnya membuat keluarga Pak Andreas terpaku untuk beberapa saat, termasuk calon suami Audrey, Wira Aldrian Bimasena.
"Selamat malam semuanya..." Audrey menyapa ramah sambil tersenyum pada para tamu.
"Audrey..sini sayang..." Papa Adiwangsa memanggil putrinya untuk bergabung bersama mereka.
Audrey duduk di sofa panjang dengan Kak Vincent dan Mama Ruby. Sementara Papa Adi duduk di sofa tunggal.
"Kenalkan...Ini keluarga calon suami kamu.."
Audrey menelisik satu persatu wajah-wajah yang asing di hadapannya. Namun pandangan Audrey berhenti tepat di wajah seorang pria yang tidak menunjukkan keramahan sejak dia muncul pertama kali.
"Ganteng sih, tapi.......serem!" Batin Audrey menilai pria itu.
"Nanti kita lanjutkan perkenalan setelah makan malam...Ayo ke ruang makan." Papa Adiwangsa mengajak tamu-tamu nya untuk makan malam bersama.
Audrey menarik lengan Kak Vincent hingga mereka berada di paling belakang..
"Kak! Kenapa nggak ngabarin kalau pulang ??"
Kak Vincent mencubit gemas pipi adik kecilnya. "Kamu tidurnya kaya kebo! Udah dibangunin dari siang nggak bangun-bangun!"
"Masa sih ?" Audrey garuk-garuk kepala yang tidak gatal, dia sangsi dengan ucapan Kakaknya sendiri.
"Bukankah sudah jelas, hum ?"
Audrey terkekeh ringan mengakui bahwa dia kalau tidur memang lupa daratan. Bukan tanpa alasan, Audrey penderita insomnia akut. Baginya malam seperti siang, sedang siang seperti malam.
Sampai di meja makan, semua orang sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Silahkan dinikmati.." Kata Papa Adiwangsa pada keluarga Pak Andreas.
Dari ujung ke ujung meja panjang di ruang makan telah dipenuhi menu makanan untuk menyambut tamu spesial bagi keluarga Adiwangsa.
Audrey mencuri-curi pandang pada pria yang duduk di sebrang nya. Namun tanpa Audrey sadari ada yang menatapnya dengan tatapan tak suka, dialah Ibu Santi.
"Anak kecil seperti Audrey tidak pantas menjadi menantu di keluarga Bimasena. Gadis itu terlalu kekanak-kanakan!" Ibu Santi berbisik dalam hati nya.
Selain Ibu Santi ternyata kedua adik Wira pun terang-terangan tidak menyukai Audrey. Mereka berdua memberikan tatapan sinis tapi Audrey dan keluarganya sama sekali tak menyadari.
"Jadi kapan pertunangan putra putri kita ?" tanya Pak Andreas pada Adiwangsa ketika makan malam selesai.
"Bagaimana kalau minggu depan ?"
Pak Andreas mengangguk setuju, "Sepertinya lebih cepat lebih baik. Saya setuju. Bagaimana menurut mu Wira ? Apa kau setuju jika pertunangan mu di adakan minggu depan ?"
Wira yang sejak tadi hanya akhirnya membuka suara, "Terserah saja." Jawabnya singkat seakan tidak terlalu perduli.
"Ekhem! Kalau begitu Audrey ajak calon suami mu ke taman belakang. Kalian harus banyak menghabiskan waktu berdua untuk saling mengenal lebih jauh."