“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Percakapan yang Menyakitkan
Sarapan pagi akhirnya selesai.
Piring-piring di meja sudah mulai dibereskan oleh pembantu rumah. Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar pelan, menjadi satu-satunya suara di ruang makan yang sejak tadi terasa tegang.
Papa Andreo kembali membaca korannya.
Mama Rafa meminum teh hangatnya perlahan.
Sementara Rafa berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Ardila memperhatikan lelaki itu sebentar. Dadanya masih terasa penuh oleh semua pembicaraan tadi.
Tentang perusahaan papanya. Tentang gajinya. Tentang tuntutan yang terasa begitu tiba-tiba.Ia tidak bisa hanya diam.
“Mas,” panggil Ardila pelan.
Rafa berhenti melangkah.
“Apa?”
Ardila menarik napas kecil.
“Bisa bicara sebentar?”
Rafa menatapnya sekilas.
“Sekarang?”
Ardila mengangguk.
“Iya, Mas.”
Beberapa detik Rafa hanya berdiri diam.
Kemudian ia berkata singkat,
“Ke kamar.”
Ardila berdiri dari kursinya.
Ia menunduk sedikit pada Papa Andreo dan Mama Rafa sebelum berjalan mengikuti Rafa menuju kamar mereka.
Langkah mereka terdengar pelan di lorong rumah. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan itu. Begitu sampai di kamar, Rafa langsung masuk lebih dulu.
Ia melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di meja kecil di dekat tempat tidur. Ardila berdiri beberapa langkah di belakangnya.Tangannya saling menggenggam.
“Mas…”
Rafa menoleh sedikit.
“Apa lagi?”
Nada suaranya datar.
Ardila menelan ludah sebelum akhirnya berbicara.
“Aku bingung.”
Rafa mengangkat alis tipis.
“Bingung apa?”
Ardila menarik napas dalam.
“Tadi Papa meminta aku membujuk Papa Arhan supaya bekerja sama dengan perusahaan Papa.”
Ia berhenti sebentar.
“Kamu tahu Papa Arhan tidak suka mencampur urusan keluarga dengan bisnis.”
Rafa hanya mendengarkan tanpa ekspresi.
“Aku juga diminta menyerahkan gajiku,” lanjut Ardila.
Suaranya terdengar lebih pelan sekarang.
“Padahal selama ini aku biasanya memberikan sebagian gajiku kepada Papa dan Mama di rumah.”
Ia menatap Rafa dengan harapan.
“Maksudku… mungkin Mas bisa menjelaskan pada mereka kalau—”
“Kenapa harus dijelaskan?”
Ardila terdiam.
“Apa?”
Rafa menyandarkan tubuhnya ke lemari.
“Kamu dengar sendiri apa yang Mama bilang.”
Ardila menatapnya dengan bingung.
“Tapi Mas—”
“Kamu sekarang sudah menikah.”
Nada suara Rafa terdengar sedikit lebih tegas.
“Orang tua di rumah ini juga orang tuamu sekarang.”
Ardila menelan ludah.
“Aku tahu, tapi—”
“Jadi wajar kalau kamu membantu keluarga ini.”
Kalimat itu seperti menutup semua yang ingin Ardila katakan.
Ia masih mencoba berbicara dengan hati-hati.
“Aku tidak keberatan membantu…”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku juga tidak ingin membuat Papa Arhan merasa dipaksa.”
Rafa mengangkat bahu.
“Itu urusanmu dengan papamu.”
Ardila mulai merasa dadanya tidak nyaman.
“Aku berharap Mas bisa sedikit membelaku tadi.”
Rafa langsung menatapnya.
“Membelamu?”
“Iya.”
Ardila mencoba tetap tenang.
“Setidaknya menjelaskan kalau aku hanya staf administrasi biasa di perusahaan Papa.”
“Bukan orang yang bisa menentukan kerja sama perusahaan.”
Rafa tertawa kecil.
Tawa itu terdengar dingin.
“Kamu terlalu merendahkan dirimu.”
Ardila mengerutkan kening.
“Apa maksud Mas?”
Rafa menatapnya tajam.
“Kamu anak pemilik perusahaan.”
“Tidak peduli kamu bekerja sebagai apa di sana.”
“Papamu pasti akan mendengarkanmu.”
Ardila menggeleng pelan.
“Itu tidak sesederhana itu.”
Rafa terlihat mulai tidak sabar.
“Lalu soal gaji.”
Ardila kembali menatapnya.
“Apa kamu benar-benar ingin menyerahkan semua gajimu ke orang tuamu?”
Ardila terdiam.
“Aku hanya membantu mereka,” jawabnya pelan.
“Mereka juga orang tuaku.”
Rafa melangkah mendekat.
“Dan orang tuaku juga orang tuamu sekarang.”
Ardila tidak menjawab.
Rafa menatapnya lebih dalam.
“Uang istri… juga uang suami.”
Kalimat itu membuat Ardila menahan napas.
“Aku tidak pernah bilang aku tidak ingin membantu keluarga ini,” katanya pelan.
“Tapi semua ini terjadi terlalu cepat.”
Rafa menatapnya dengan wajah yang mulai terlihat kesal.
“Kenapa kamu selalu membuat semuanya terdengar rumit?”
Ardila mengerutkan kening.
“Aku tidak membuatnya rumit.”
“Mas yang tidak mau mengerti.”
Kalimat itu keluar sebelum Ardila sempat menahannya.
Wajah Rafa langsung berubah.
“Apa kamu bilang?”
Ardila mundur satu langkah kecil.
“Aku hanya—”
Plak!
Suara tamparan kembali menggema di dalam kamar.
Tubuh Ardila sedikit terhuyung ke samping.
Pipinya terasa panas.
Perih.
Untuk beberapa detik ia bahkan tidak bisa bergerak.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya sendiri.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Rafa berdiri di depannya dengan napas yang sedikit berat.
“Jangan bicara seolah aku yang salah.”
Nada suaranya rendah.
Tapi penuh kemarahan.
Air mata Ardila akhirnya jatuh. Ia tidak menyangka percakapan ini akan berakhir seperti ini lagi.
“Mas…”
Suaranya hampir tidak terdengar. Rafa mengalihkan pandangannya.
“Aku tidak suka dibantah.”
Ardila menunduk.Dadanya terasa sesak.
Ia ingin mengatakan banyak hal. Tentang rasa sakitnya.Tentang ketidakadilan yang ia rasakan. Tentang bagaimana ia hanya ingin didengar.
Namun kata-kata itu tidak keluar. Rafa berjalan menjauh darinya. Ia mengambil ponselnya dari meja.
“Pikirkan saja apa yang Papa dan Mama minta.”
Ia berhenti sebentar di depan pintu kamar.
“Dan jangan membuat masalah dari hal kecil.”
Pintu kamar terbuka. Kemudian tertutup kembali.Ardila berdiri sendirian di tengah ruangan.Air matanya jatuh tanpa suara.
Untuk kedua kalinya. Ia menyadari satu hal yang semakin jelas.
Di rumah ini…
ia benar-benar sendirian.