NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daftar Hitam Bruggman

Pukul enam pagi di apartemen Morgan Bruggman bukanlah waktu untuk bersantai. Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela besar di ruang makan, menyinari meja kayu jati yang bersih tanpa setitik debu pun. Di atas meja itu, sebuah pemandangan kontras tersaji: Morgan yang tampak segar dengan kemeja biru muda yang disetrika sempurna, dan Liana yang duduk dengan bahu merosot, rambut yang hanya diikat asal-asalan, dan perut yang keroncongan karena melewatkan sarapan kemarin.

Morgan meletakkan cangkir kopinya ke piring kecil dengan denting halus yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Liana. Pria itu kemudian menggeser selembar kertas putih bersih ke arah Liana.

"Mengingat kejadian kemarin, aku menyadari bahwa kau butuh panduan tertulis agar tidak ada alasan untuk 'lupa'," ucap Morgan datar.

Liana melirik kertas itu dengan muak. Di bagian atas tertulis dengan huruf kapital yang tegas: PROTOKOL RUMAH TANGGA BRUGGMAN-SHINE.

"Kau bercanda, kan?" Liana mendengus, mencoba menyembunyikan rasa lapar yang melilit perutnya. "Protokol? Apa aku baru saja pindah ke pangkalan militer?"

"Baca, Liana," perintah Morgan, suaranya tidak naik satu oktav pun, namun memiliki berat yang menekan.

Liana menyambar kertas itu dan membacanya dengan suara keras yang penuh nada ejekan.

"Poin satu: Bangun pukul 05:30. Sarapan pukul 06:00. Terlambat berarti tidak ada jatah makan. Wah, sangat dermawan," Liana mencibir. "Poin dua: Jam malam pukul 19:00. Semua tugas kuliah harus diselesaikan di ruang tengah di bawah pengawasan. Apa kau mau menjadi guruku juga?"

Morgan tidak menanggapi sindiran itu. Ia hanya menunjuk ke bagian bawah kertas dengan jarinya yang panjang. "Baca poin nomor empat. Itu yang paling krusial bagi kakakmu, dan juga bagiku."

Liana menatap poin nomor empat. Matanya menyipit saat membaca kalimat yang tertulis di sana: LARANGAN KONTAK FISIK DAN AKTIVITAS INTIM.

"Selama masa kontrak lima tahun, tidak diperbolehkan ada kontak fisik yang bersifat romantis atau aktivitas seksual antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua, kecuali Pihak Kedua telah mencapai usia 21 tahun dan kedua belah pihak menyetujui perubahan status hubungan secara tertulis."

Liana meledak dalam tawa sinis yang terdengar serak. Ia melemparkan kertas itu kembali ke atas meja. "Jangan terlalu percaya diri, Pak Dosen! Kau pikir aku akan tergoda padamu? Melihat wajahmu yang kaku setiap pagi saja sudah membuat selera makanku hilang, apalagi menyentuhmu! Menyentuhmu saja aku merasa najis, lebih baik aku memeluk tiang listrik di luar sana!"

Morgan menyesap kopinya kembali, tetap tenang seolah makian Liana hanyalah suara bising latar belakang. "Aku senang kita sepaham. Poin itu ada untuk melindungiku, Liana. Aku tidak ingin ada drama tuduhan pelecehan atau emosi labil darimu yang bisa merusak karier akademis ku. Aku menghargai privasimu, dan aku harap kau melakukan hal yang sama. Kamarmu adalah wilayahmu, dan kamarku adalah wilayah terlarang bagimu."

Liana menyeringai, matanya yang sembab menantang mata tajam Morgan. "Oh, tenang saja. Aku tidak akan sudi masuk ke kamarmu yang pasti berbau buku tua dan formalin itu. Aku punya Derby. Dia jauh lebih 'pria' daripada kau yang hanya berani bersembunyi di balik kertas kontrak."

Rahang Morgan mengeras sedikit mendengar nama itu, namun ia tetap menjaga kendali dirinya. "Bicara soal Derby, itu ada di poin nomor lima. Larangan membawa tamu pria ke apartemen ini, terutama individu yang memiliki pengaruh buruk terhadap pendidikanmu. Jika kau bertemu dengannya di luar, itu urusanmu selama kau pulang tepat pukul tujuh malam. Tapi jika kau melanggar jam malam, pintu ini akan terkunci secara otomatis dari dalam, dan kau bisa tidur di koridor."

"Kau benar-benar monster kaku!" Liana berdiri, kursinya berdecit keras di atas lantai kayu. "Kenapa kau mau melakukan ini? Apa kau begitu menyedihkan sampai harus membeli seorang istri kontrak untuk menemanimu di apartemen membosankan ini?"

Morgan meletakkan korannya, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi membuat Liana harus mendongak, menciptakan perasaan intimidasi yang selalu membuat Liana kesal karena ia merasa kecil.

"Aku melakukan ini karena kakakmu adalah sahabatku, dan ayahnya adalah orang yang sangat kuhormati," ucap Morgan dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat rendah dan dingin. "Dan jika kau berpikir aku menikmati ini, kau salah besar. Mengawasi gadis childish sepertimu adalah beban tambahan dalam jadwal kerjaku yang sudah padat. Tapi aku adalah pria yang memegang janji. Jika aku bilang akan menjagamu sampai kau lulus, maka itulah yang akan terjadi."

Morgan melirik jam tangannya. "Enam lewat lima belas. Kau punya waktu lima menit untuk menghabiskan roti bakar itu sebelum kita berangkat. Dan seperti yang kukatakan semalam, ponselmu."

Morgan mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar menanti.

"Tidak! Ini satu-satunya cara aku bicara dengan Derby!" Liana mendekap ponselnya di dada.

"Pilihanmu sederhana, Liana. Serahkan padaku sekarang dan kau mendapatkannya kembali sore nanti. Atau kau menyimpannya, tapi aku akan mematikan koneksi internet di apartemen ini dan menghubungi Liam untuk memutus langganan kartu ponselmu secara permanen. Pilih."

Liana menatap Morgan dengan kebencian murni. Giginya bergelatuk. Dengan gerakan kasar, ia membanting ponselnya ke telapak tangan Morgan. "Ambil! Ambil semuanya! Kau bisa mengambil ponselku, tapi kau tidak bisa mengatur perasaanku!"

Morgan menyimpan ponsel itu ke dalam saku jasnya tanpa ekspresi. "Aku tidak butuh mengatur perasaanmu. Aku hanya butuh mengatur perilakumu."

Perjalanan menuju kampus pagi itu terasa seperti perjalanan menuju tempat eksekusi bagi Liana. Morgan menyetir dalam diam, sementara Liana hanya bisa menatap jalanan dengan perasaan hampa. Saat mobil memasuki gerbang universitas, Liana bersiap untuk turun di lobi fakultas agar tidak terlihat bersama Morgan.

Namun, Morgan terus melajukan mobilnya menuju area parkir khusus dosen yang terletak di bagian belakang gedung yang lebih sepi.

"Turun di sini," perintah Morgan.

"Kenapa di sini? Ini jauh dari kelasku!" protes Liana.

"Kita punya kesepakatan untuk merahasiakan ini, bukan? Jika kau turun di lobi bersamaku, dalam sepuluh menit satu kampus akan bergosip tentang mahasiswi baru yang punya hubungan dengan dosen ekonomi paling kaku di universitas ini," Morgan turun dari mobil dan merapikan jasnya. "Masuklah lewat pintu belakang. Dan ingat, di kelas nanti, aku adalah Pak Morgan. Jangan pernah menunjukkan keakraban atau ketidaksopanan yang berlebihan, atau aku akan memberikan nilai E pada tugas pertamamu tanpa ragu."

Liana membanting pintu mobil—sebuah pelanggaran aturan lagi, tapi ia tidak peduli. "Aku tidak akan pernah sudi akrab denganmu!"

Liana berjalan menjauh dengan langkah kaki yang dihentakkan, tas kuliahnya disampirkan di bahu dengan kasar. Namun, saat ia sampai di tikungan gedung, ia melihat motor besar berwarna hitam yang sangat ia kenali terparkir di sana.

Derby.

Pria itu duduk di atas motornya, merokok dengan gaya angkuh yang biasanya membuat jantung Liana berdebar. Liana merasa ingin berlari ke arahnya, menangis di pelukannya, dan meminta Derby membawanya pergi. Namun, ia teringat ancaman Liam tentang laporan polisi dan ancaman Morgan tentang ponselnya.

Liana berhenti di tempatnya, menatap Derby dari kejauhan.

Sementara itu, dari kejauhan di dalam mobilnya, Morgan memperhatikan Liana melalui spion. Ia melihat gadis itu menatap pria berandalan di atas motor tersebut. Morgan mengepalkan tangannya di atas kemudi, buku-buku jarinya memutih. Ada kilatan emosi yang melintas di matanya—bukan cemburu, setidaknya menurut logikanya, melainkan rasa tanggung jawab yang amat berat sekaligus rasa tidak suka yang mendalam melihat mahasiswi sekaligus 'istri' kontraknya masih terikat pada pria yang akan menghancurkannya.

Liana akhirnya memberanikan diri mendekati Derby. Derby menyeringai dan menarik pinggang Liana untuk menciumnya, namun Liana menahan dada pria itu, teringat aturan Morgan tentang "jam malam" dan "pengawasan".

"Derby, jangan di sini. Kakakku ... dia mengawasiku lewat orang suruhannya," bisik Liana bohong.

"Siapa? Pria kaku yang tadi mengantarmu itu?" tanya Derby dengan nada mengejek, matanya melirik ke arah mobil Morgan yang mulai bergerak pergi. "Dia dosenmu, kan? Kenapa dia menatapku seolah ingin membunuhku?"

Liana menoleh dan melihat mobil Morgan berhenti sejenak di dekat mereka. Kaca jendela terbuka sedikit, dan mata dingin Morgan bertemu dengan mata menantang Derby. Morgan tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menaikkan kaca jendela dan berlalu, namun tatapan itu sudah cukup untuk memberitahu Liana bahwa "perang" yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!