Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suara pintu kamar tamu yang terbuka terdengar seperti ledakan di tengah keheningan griya tawang Soho yang mencekam. Paris melangkah keluar dengan wajah yang masih memerah, merapikan rok seragamnya yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama di tepi ranjang. Di belakangnya, Luciano tidak ikut keluar.
"Kay! Bantu aku antar Paris pulang! Aku harus membersihkan diri!" teriak Luciano dari dalam kamar mandi kamar tamu, diikuti suara gemericik air yang mulai menyala.
Paris membeku di ambang pintu. Jantungnya mencelos.
Diantar oleh Kay? Laki-laki yang aromanya saja sudah mengintimidasi? Paris melirik ke arah luar, di mana Kay sedang berdiri di dekat balkon sambil menyesap sisa minumannya.
"Aku... aku bisa pulang sendiri, Lucian," gumam Paris, berharap suaranya terdengar sampai ke kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban selain bunyi air.
Paris menelan ludah. Ia melirik ke arah parkiran mentalnya. Dia pasti pakai motor, pikirnya ngeri. Aku pakai rok tartan ini, oh Tuhan, tidak mungkin aku naik motor sport itu.
Kay berbalik. Matanya yang tajam menyapu sosok Paris dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobil dari meja marmer—bukan kunci motor, melainkan kunci dengan logo supercar yang mengkilat.
"Mari. Kuantar," ucap Kay ketus. Nada bicaranya tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Paris hanya bisa mengekor di belakang punggung lebar itu. Saat mereka melewati Max, pria berwajah hangat itu hanya melambaikan tangan dengan seringai yang membuat Paris merasa tidak nyaman. Mereka masuk ke dalam lift yang berlapis emas, dan keheningan di dalamnya terasa begitu berat hingga Paris merasa sulit untuk bernapas.
Mereka tiba di basemen. Sebuah mobil sport berwarna hitam legam dengan garis-garis aerodinamis yang tajam terparkir di sana. Kay membukakan pintu untuk Paris, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Begitu mesin dinyalakan, raungan knalpotnya mengguncang lantai beton, seirama dengan detak jantung Paris yang kian tak keruan.
Mobil itu melesat membelah jalanan Manhattan yang mulai sepi. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma kulit mahal serta tembakau tipis, Paris merasa canggung setengah mati. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, matanya terpaku pada lampu-lampu kota yang melesat di balik jendela.
Kay mengemudi dengan kecepatan yang stabil namun terasa agresif. Tangannya yang besar dan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya memegang kemudi dengan presisi seorang pembalap.
"Kau pendiam sekali, Desmon," suara Kay memecah keheningan, terdengar serak di antara deru mesin. "Biasanya gadis-gadis akan mulai berceloteh jika berada di dalam mobil ini."
"Aku... aku bukan mereka," jawab Paris pendek, suaranya nyaris berbisik.
"Ya, aku tahu," sahut Kay getir. "Kau memang berbeda."
Paris tidak tahu harus merespons apa. Baginya, Kay adalah "Si Mulut Pedas" yang berbahaya. Ia merasa kasihan pada Luciano yang memiliki teman sekasar ini. Bagaimana mungkin Luciano yang lembut dan cerdas bisa berteman akrab dengan orang yang tampak seperti pemberontak tanpa aturan ini?
Tiba-tiba, Kay membelokkan setirnya ke pinggir jalan di depan sebuah apotek yang buka dua puluh empat jam. Tanpa penjelasan, ia mematikan mesin.
"Tunggu di sini," perintahnya.
Paris hanya mengangguk bingung. Ia melihat Kay turun dengan langkah lebar, masuk ke dalam toko obat tersebut, dan kembali kurang dari tiga menit kemudian. Kay masuk ke dalam mobil, melempar sebuah kantong plastik kecil ke pangkuan Paris.
"Walaupun Luciano memakai pengaman, kau juga harus bisa antisipasi," ucap Kay sambil menatap lurus ke depan, enggan melihat wajah Paris. "Minum ini setiap kali kau bersamanya."
Paris meraih kantong itu dan membukanya. Matanya membelalak lebar saat membaca label pada kotak obat di dalamnya. Pil kontrasepsi darurat.
Obat pencegah kehamilan?
Darah Paris seolah mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. Dasar gila! Dia pikir kami melakukan apa di dalam sana? ucapnya dalam hati dengan teriakan yang terpendam.
Paris ingin sekali melempar kotak itu ke wajah Kay. Ia merasa sangat terhina. Bagaimana bisa Kay berpikir sesampah itu tentang dirinya dan Luciano?
Ia muak pada Kay, si playboy yang menganggap semua orang memiliki moral serendah dirinya.
Dia pikir kami sama seperti dia? Yang bisa tidur dengan siapa saja tanpa perasaan? Huh, merinding sekali, Paris merutuk dalam diam, jemarinya mencengkeram kotak obat itu hingga penyok.
Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa mereka hanya bicara dan berpegangan tangan, tapi ia teringat janji setianya pada Luciano untuk tidak membocorkan detail hubungan mereka pada siapa pun, termasuk membantah rumor yang mungkin sudah didengar Kay.
Di balik kemudi, hati Kay sebenarnya sedang berpacu lebih kencang daripada saat ia berada di lintasan balap liar. Ia tidak peduli jika Paris menganggapnya bajingan. Ia tidak peduli jika Paris membencinya setengah mati.
Aku tidak bisa membayangkan kalau dia sampai hamil, batin Kay dengan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.
Kay tahu benar bagaimana dunia mereka bekerja. Ia tahu keluarga Russo. Jika seorang gadis "biasa" seperti Paris sampai mengandung anak pewaris dinasti Russo, keluarga Luciano tidak akan memberikan ucapan selamat. Mereka akan menyeret Paris ke klinik tersembunyi dan menggugurkan janin suci itu tanpa ampun sebelum membuang Paris seperti sampah yang tak berguna.
Kay lebih baik melihat Paris membencinya karena obat itu, daripada harus melihat Paris hancur karena kekejaman keluarga elit yang tidak punya hati.
"Minum saja," ulang Kay, suaranya sedikit melunak namun tetap terasa ketus. "Jangan jadi beban untuk Luciano."
Paris memalingkan wajah ke arah jendela, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak menjawab. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Kay adalah racun.
Sisa perjalanan menuju Queens dilalui dalam keheningan yang mematikan. Hanya ada suara deru mesin dan hati yang bergejolak. Paris yang merasa martabatnya diinjak-injak, dan Kay yang merasa sedang menyelamatkan nyawa seseorang dengan cara yang paling kasar di dunia.
Saat mobil berhenti di depan rumah Paris, Paris langsung membuka pintu tanpa menunggu Kay berbicara.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Kay," ucap Paris dingin, menekankan setiap kata. "Dan simpan saja pikiran kotormu untuk dirimu sendiri."
Paris keluar dan membanting pintu mobil sport itu dengan keras. Ia berjalan masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi.
Kay menatap punggung Paris hingga gadis itu menghilang di balik pintu kayu. Ia menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit yang dingin. Ia meremas kemudi, merasakan sisa amarah dan rasa bersalah yang bercampur menjadi satu.
"Kau tidak tahu apa-apa, Paris," gumam Kay pada kabin mobil yang kosong. "Kau tidak tahu neraka apa yang sedang kau masuki."
Ia memutar kunci kontak, memacu mobilnya kembali menuju Manhattan dengan kecepatan yang melampaui batas, mencoba menghilangkan bayangan mata Paris yang kecewa dari ingatannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍