Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 pertemuan pertama
Pagi hari yang cerah, voltra tengah menikmati kopi hangat yang masih memiliki uap, sesekali menyesap sambil menikmati angin pagi setelah insiden semalam. Namun ketenangannya terganggu saat sebuah teriakan muncul.
"Aku terlambat!!!" Teriak vanya.
"Uhuk! Uhuk!" Voltra terbatuk-batuk, menatap nanar ceceran kopi yang membasahi lantai. "Kau! Gadis lancang! Beraninya kau mengejutkan penguasa semesta hingga seperti ini!" Lanjutnya kesal.
"Tidak ada waktu untuk drama naga-nagan mu, Kak! Aku ada ujian jam pertama! Kalau telat, Bu Ratna akan mengubahku jadi monyet!" teriak Vanya panik sambil menyampirkan tas sekolahnya dengan berantakan.
Voltra menghela napas panjang, mencoba meredam amarah primordialnya. Ia melirik jam dinding. Jika menggunakan kendaraan besi beroda milik manusia, kemacetan kota ini akan membuat Vanya sampai saat sekolah sudah bubar.
"Naik ke punggungku," ucap Voltra datar sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Hah? Apa?" Bingung vanya.
"Jangan membantah. Naik atau kutinggalkan kau di sini bersama debu-debu ini" titah Voltra dengan nada yang tak terbantahkan. Vanya yang panik akhirnya menurut saja, ia melompat ke punggung kakaknya yang terasa lebih kokoh dari biasanya.
"Sekarang apa?" Tanya vanya.
"Tutup matamu. Dan apa pun yang terjadi, jangan berteriak di telingaku" Suruh Voltra
Begitu Vanya memejamkan mata dan mengeratkan pegangannya, Voltra mengambil ancang-ancang. Ia memusatkan aliran mana yang tipis ke otot-otot kakinya. Dalam sekejap, aura emas samar menyelimuti tungkai bawahnya. Lantai apartemen mereka sedikit retak saat Voltra melesat keluar jendela.
"KYAAAAAA!" Teriak Vanya tetap berteriak meski sudah dilarang.
Voltra tidak peduli. Ia mendarat di atap gedung seberang, lalu melompat lagi. Setiap lompatannya menempuh jarak puluhan meter. Bagi Voltra, ini hanyalah latihan fisik ringan, namun bagi manusia biasa, ia tampak seperti bayangan yang berpindah dari satu puncak gedung ke gedung lain.
Angin kencang menerpa wajah mereka. Voltra melompati menara pemancar, lalu meluncur di atas kabel listrik dengan keseimbangan sempurna. Dari ketinggian, ia bisa melihat Hunter-hunter patroli di bawah yang mendongak heran, mengira ada monster terbang atau Hunter tingkat tinggi yang sedang beraksi.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, Voltra mendarat dengan senyap di gang gelap tepat di samping gerbang sekolah Vanya.
"Turun" ucap Voltra tenang, seolah baru saja berjalan kaki santai.
Vanya turun dengan kaki yang gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan rambutnya sudah seperti sarang burung terkena badai. Jantungnya berdetak lebih kencana daripada suara voltra.
"Kak... kau... kau benar-benar gila... jantungku hampir copot..." ucap vanya terengah-engah.
"Masuklah. Dan ingat, jika ada manusia lain yang menanyakan bagaimana kau sampai secepat ini, katakan saja kau naik ojek terbang atau apa pun itu terserah padamu" ujar voltra menyibak rambut miliknya kebelakang.
"Terima kasih, Kak. Tapi besok-besok... lebih baik aku dihukum Bu Ratna saja daripada harus mati jantungan di udara" Seru vanya tersenyum lebar.
berlari masuk ke gerbang saat bel berbunyi. Voltra hanya menatap punggung adiknya, lalu menyeringai kecil. Baru saja Voltra hendak berbalik untuk pulang, ia merasakan kehadiran beberapa orang di belakangnya. Tiga orang berpakaian seragam hitam dengan logo Asosiasi Hunter berdiri di sana, menatapnya dengan penuh selidiki.
"Hei, Nak. Kami melihat aksi 'parkour' luar biasamu tadi," ucap salah satu dari mereka yang memegang alat deteksi mana. "Kau tidak terdaftar sebagai Hunter. Bisa jelaskan bagaimana seorang warga sipil bisa melompati gedung setinggi 20 lantai?" Lanjutnya bertanya.
Voltra memutar tubuhnya perlahan, matanya menatap dingin ke arah para petugas itu. Kenapa manusia selalu sibuk dengan urusan orang lain, rasanya voltra jadi teringat para malaikat yang selalu ikut campur pada kehidupan.
"Oh, jadi kalian adalah penjaga gerbang di dunia ini? Sayang sekali, suasana hatiku sedang tidak ingin diinterogasi" ucap voltra bersedekap dada.
Ketiganya heran dengan nada bicara voltra, alat pendeteksi terus berbunyi menandakan besarnya mana voltra meksipun kekuatannya jauh sangat-sangat lemah. Bahkan voltra belum mencapai lima persen dari kekuatan aslinya.
Alina melangkah maju dengan keanggunan yang mematikan. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi, dan aura dingin yang ia pancarkan cukup untuk membuat Hunter di sekitarnya menahan napas. Namun, bagi Voltra, kehadiran wanita ini memicu memori.
“Aura ini... tajam, angkuh, dan penuh dengan rasa percaya diri yang berlebihan,” batin Voltra. “Mirip sekali dengan naga-naga betina" Lanjutnya bergumam.
"Kau" ucap Alina, suaranya dingin seperti es. "Aku melihatmu melompat dari gedung pusat kota. Tidak ada warga sipil, bahkan Hunter Rank B sekalipun, yang memiliki koordinasi fisik seperti itu tanpa menggunakan skill aktif. Siapa kau?" Lanjutnya bertanya serius.
Voltra memasukkan tangan ke saku celananya, berdiri dengan dagu terangkat. Ditempat asalnya naga yang lebih dominant akan mengangkat dagunya, untuk menunjukkan dominasinya, Alina menatap heran kelakuan aneh itu.
"Hanya seorang kakak yang tidak ingin adiknya dihukum guru sekolahnya. Apa itu melanggar hukum di dunia yang sempit ini?" tanya balik voltra.
"Beraninya kau bicara begitu di depan Nona Alina! Dia adalah aset negara!" Teriak salah satu orang disampingmu alina.
Alina mengangkat tangannya, memberi isyarat agar bawahannya diam. Ia merasa ada yang salah. Secara teknis, energi yang terpancar dari tubuh Voltra sangat lemah, tetapi instingnya sebagai Hunter Rank S berteriak bahwa remaja di depannya ini adalah sesuatu yang berbahaya.
"Namamu Voltra, bukan? Aku baru saja mendapat laporan tentang 'remaja stres' yang mengklaim dirinya Raja Naga di kantor polisi kemarin" ujar Alina menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. "Ikutlah dengan kami ke kantor pusat Asosiasi. Kami perlu melakukan tes ulang pada potensimu. Jika kau ilegal dan berbahaya, aku sendiri yang akan mengurungmu" Lanjutnya menekankan.
"Naga betina ini benar-benar mengajak ku kawin yah, ck tapi aku sedang ada urusan lain sekarang" Batin voltra berpikiran lain.
"Mengurungku? Kau pikir rantai buatan manusia bisa menahan langit yang runtuh? Naga betina sepertimu memang selalu penuh percaya diri" ujar voltra mendengus kecil.
"Naga betina? Kau benar-benar sudah gila" ucap Alina tercengang.
"Terserah apa katamu" Seru Voltra berbalik badan, membelakangi Hunter terkuat itu tanpa rasa takut. "Aku sibuk. Aku harus pulang dan mengepel lantai karena kopiku tumpah tadi pagi" Lanjutnya memikirkan kejadian tadi pagi.
Baru dua langkah Voltra berjalan, Alina bergerak secepat kilat. Ia mencoba mencengkeram bahu Voltra untuk menghentikannya. Namun, sebelum tangan Alina menyentuh kulitnya, Voltra melakukan gerakan memutar yang sangat minimalis, membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa milimeter dari bajunya.
"Refleksnya cepat" Batin Alina.
"Kau bisa mendapatkan uang jika ikuti dengan ku" ucap Alina menyebutkan.
"Kalau begitu tunggu apalagi. Aku ikut" Balas voltra berbalik.
"Semudah itu?" Batin alina tersenyum kecil.