Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 dan 31
Alvare Genta Al-farizi Pov
Setelah sekian lama akhirnya Ning Maza luluh, entah apa yang membuat Ning Moza halah kepada ku. Rasa bahagia kini menyelinap dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahku. Jujur aku tak segampang yang Ning Moza dulu pikir, dulu Ning Moza pernah berpikir bahwa sanya aku mencintainya bukan karena semata mata mencintainya karena Allah. Tapi karena nasah, dan derajat Abah. Dan di waktu itu aku pernah di fase dimana aku harus benar-benar mempunyai cara, agar Ning Moza buluh dan akhirnya semua usaha ine talk sia-sia
"Yangg" panggil ku pada Ning Moza yang sudah terielap dalam tidur nya
"yaang" panggil ku lagi, tapi Ning Moza masih tenang dalam alam bawah sadarnya
"Tahajud dulu Yang" ajakku dengan menggoyang lengan Ning Moza
"Ngantukkkk, "
"Bangun Yang, tahajud dulu" ajakku lagi
"Mas Varo sendiri, kan aku lagi nggak sholat" ujarnya Ning Moza dengan menatapku sebentar
"Astaghfirullah. Mas lupa Yangg" kataku, lalu dengan cepat ku langkah kan kaki ku kekamar mandi untuk mengambil air wudhu
*****
"Sayang nanti kamu ikut ya?," kataku dengan duduk disamping Ning Moza yang tengah melamun
"Yang"
"Yang"
"Yang.Njenengan denger kan?" tanya ku lagi entah yang keberapa kalinya
"Eh. Astaghfirullahalazim, ih kagett" sadarnya Ning Moza dengan setengah tersenyum
"Njenengan kenapa?, ada masalah? "Tanyaku
"Enggak ko. Njenengan sampun dari tadi?" tanya nya dengan menatap ku
Aku tak menjawab hanya tersenyum dengan menatap langit yang tengah menggelap yang dihiasi bintang bintang dan bulan sabit.
"Sayang kamu percaya nggak kalo cinta itu akan ada ketika kita mencoba untuk membuka hati kita untuk orang yang selalu mencintai kamu dengan tulus?"
"Percaya" jawabnya
"Berarti ada kesempatan emas buat mereka yang memencinta?"
"Mungkin."
"Berarti kamu juga akan melakukan nya?" tanyaku dengan menatap wajah Ning Moza yang tengah menatap langit.
"Kenapa njenengan nanya seperti itu?"
"Untuk meyakinkan njenengan" jawabku dengan tersenyum, namun Ning Moza hanya menatap ku dengan tatapan yang sulit ku mengerti
"Sekarang kulo nanya, seandainya orang itu tidak bisa membalas cinta tulus itu, apakah dia yang mencintai akan pergi dan mencari seseorang yang pantas diperjuangkan?. Jika njenengan di Posisi itu apa yang njenengan lakukan?" Kini pertanyaan Ning Moza membuat ku terdiam beberapa detik.
"Tetap di samping nya. Dan tetap menyakinkan nya bahwa sanya usaha tak akan sia-sia ketika kita tetap ikhlas." jawabku
"Tapi dia masih stay di masa lalu nya" kata Ning Moza
"Masa lalu bukan untuk dikenang dan di rutuki, tapi masa lalu untuk pelajaran bagi kita. Kita nggak mungkin stay di masa lalu terus menerus, karena masa depan lebih indah dari masa lalu"
"Kenapa masa depan lebih indah?"
"Karena masa depan lebih jelas. Njenengan tidak akan merasa ragu ketika njenengan membuat njenengan bahagia. Sekarang kalo njenengan harus stay di masa lalu njenengan pasti hanya berimajinasi ingin ke masa lalu, tapi tidak akan bisa karena itu semua hanya imajinasi njenengan jawabku panjang lebar
Membuat Ning Moza diam dengan menatap ku.
"Ekhemm.sampun dalu Yang, masuk nanti masuk angin" ajakku Ning Moza hanya menurut saja
*****
Ning Moza Pov
Perkataan Mas Varo masih terngiang-ngiang di pikiranku, "bahwa masa depan lebih indah dari masa lalu"
"Sayang" panggil nya Mas Varo
"Dalem, wonten nopo?"
"Loh ko belum siap Yang."
"Memang mau kemana?"
"Astaghfirullahalazim Yang. Ummah nggak ngasih tau njenengan?"
"Mboten. Mungkin Ummah cape, jadinya supe ngasih tau"
"Ya sudah kalo gitu njenengan langsung siap-siap mawon Yang"
"Mau kemana memang nya?"
"Ada acara pertemuan keluarga di rumah om Adit, sampun njenengan langsung siap-siap "kata Mas Varo
"Njihh. Kulo siap-siap dulu kataku.dengan cepat aku langsung menuju kamar, tadi aku dari pondok putri karena ada keperluan dengan mbak Dinda selaku ketua pengurus pondok.
Sekitar setengah jam akhirnya aku sudah siap. Dengan cepat aku turun ke lantai satu dengan menghampiri Mas Varo yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Mas"
"Sampun?"
"Njihhh"
"MasyaAllah."
"Kenapa mas? Ada yang salah sama kulo?"
"Mboten Yang, Njenengan cantik" katanya dengan menggandeng tanganku menyatukan jemari ku di jemari nya.
"Ya sudah yokk, keburu telat nanti ajaknya Mas Varo
*****
Akhirnya kami sampai di rumah Om Adit. Mas Varo mengajakku untuk menyalami keluarga Mas Mavo
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersamaan
"Waalaikumsalam." jawab mereka serentak
"MasyaAllah.ini toh istri kamu gelis pisan" kata Oma saat aku dan Mas Varo mencium punggung tangan Oma dengan penuh ridho
"Sayang ini Oma Zaenab" kata Mas Varo dengan memperkenalkan ku pada Oma
"Moza, Oma." kataku dengan tersenyum dan setengah menundukkan tubuh ku
"Oma ini nenek dari Ummah sayang" kata Mas Varo
"Alvaro ke sana dulu Oma pamitnya Mas Varo
"ya sudah. Pokonya sering sering kesini "kata Oma.
Aku tersenyum" pastinya Ma. Ya sudah Assalamu'alaikum".
"waalaikumsalam"
*****
"Sini, sayang. Ummah mau kasih kamu resep "kata Ummah saat aku dan Mas Varo turun dari lantai satu
"Resep apa Ummah? "Tanyaku penasaran dengan duduk di samping Ummah dan Mas Varo yang duduk disamping ku
"Ini nanti kamu minum setelah makan ya sayang. Ini jamu agar cepet di kasih keturunan. Tapi ingat Allah lah yang memberikan keturunan, dan jamu itu untuk membantu kesuburan Sayang kata Ummah dengan memberikan jamu kepada ku
"Njih Ummah. InsyaAllah" kataku dengan menatap Mas Varo yang tengah menatap ku juga
"Ummah tenang saja, nanti Alvaro yang ingetin Menantu kesayangan Ummah" sahutnya Mas Varo dengan tersenyum menatap ku
"Ummah sama Abi mau makan apa? Biar Alvaro yang masak tanya nya Mas Varo dengan mengalihkan topik yang membuat ku merasa tidak nyaman.
Aku hanya diam dengan perkataan Mas Varo. Aku tahu Mas Varo paham dengan apa yang sekarang tengah aku pikirkan.
"Terserah saja kalo Abi yang penting kamu yang masak" kata Abi
"Apa saja masuk ya, Bi. Kalo Mas Alvaro yang masak?" sahutnya Kiano yang sejak tadi hanya menyimak
"Iyaa lah" kata Mas Varo dengan bangga Lalu tawa kami pun sama sama tertawa. Aku hanya tersenyum dengan menatap Mas Varo.
Tawa yang tak pernah aku lihat sebelum nya, tawa yang membuat ku merasa bersalah, sekarang aku tahu alasan apa yang membuat Mas Varo ingin lama lama di Jakarta, tawa. Ya, tawa yang selalu Mas Varo kubur dalam dalam karena egoku sendiri, keegoisan ku membuat tawa Mas Varo hampir hilang.
"Maaf kan aku Mas, InsyaAllah aku bisa menerima Mas Varo dalam kehidupan ku di dunia dan di akhirat nanti."kataku dalam hati