Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMANGAT BARU
Alarm berdentang tepat pada pukul lima pagi. Iramanya memecah kesunyian kamar yang masih diselimuti sisa-sisa embun fajar. Bagi Ana, jam lima bukan sekadar angka, melainkan ritual. Sejak masa kuliah, ia telah mendisiplinkan dirinya untuk menjadi "morning person".
Baginya, fajar adalah waktu di mana dunia belum tercemar oleh hiruk-pikuk ekspektasi orang lain, waktu di mana ia bisa 'menjadi' dan 'menikmati' dirinya sendiri seutuhnya.
Sejak dulu, rutinitas Ana sangat mekanis, semua hal terjadwal dengan baik namun menenangkan.
Hal pertama yang dilakukan setelah bangun tidur adalah mencuci muka, lalu lanjut peregangan otot dengan gerakan ringan, semacam ritual untuk menyiapkan tubuhnya agar menyesuaikan diri dengan suhu alami ruang sebelum mandi air dingin untuk mengejutkan kesadarannya. Kemudian Ana lanjut menyiapkan pakaian untuk aktifitas hari itu, sebelum akhirnya tenggelam dalam tumpukan jurnal ilmiah atau buku teks.
Namun, dari semua aktifitas paginya, ada satu bagian yang menjadi favorit Ana, dan tak pernah ia lewatkan: menulis jurnal harian.
Pagi itu, jemarinya menari di atas kertas, merekam residu emosi dari kejadian kemarin. Hari ini, di antara baris-baris kalimatnya, sebuah pengakuan jujur muncul. Ana menyadari ada duri kecil yang menusuk egonya: rasa tidak aman—insecure—terhadap sosok "Bu Mantan". Ana enggan menuliskan nama asli wanita itu, seolah dengan tidak menyebut namanya, ancaman itu akan memudar.
Aneh memang. Jika dilihat dari sudut pandang objektif, Ana adalah definisi dari keberuntungan. Ia memiliki kecantikan di atas rata-rata—sebuah aset visual yang sering kali memberinya "karpet merah" dalam pergaulan. Tak hanya itu, ia cerdas. Kombinasi brain and beauty ini membuatnya selalu selangkah lebih maju. Namun, kesempurnaan fisik dan intelektual ternyata bukan perisai yang cukup kuat untuk menghalau rasa cemburu.
Sambil menyesap teh hangat, Ana berhenti menulis. Ia menatap ke luar jendela, merenung. Dan timbul berbagai macam pertanyaan pada dirinya sendiri.
Apa bener aku cemburu sama Bu Mantan?
Setelah membedah emosinya lebih dalam, ia sampai pada kesimpulan yang berbeda. Mungkin bukan wanita itu masalahnya. Masalah utamanya adalah Adi.
Adi adalah sosok yang sudah mapan, berdiri tegak dengan segala pencapaian dan wibawanya. Di sisi lain, Ana merasa seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. "Aku bahkan belum wisuda," gumamnya pada diri sendiri. "Wajar sih kalau aku belum tahu banyak hal di luar dunia akademik."
Rasa insecure itu ternyata bukan tentang persaingan kecantikan dengan masa lalu Adi, melainkan ketakutan bahwa dirinya belum mampu menyamai "level" prestasi sang pria. Perlahan Ana menata kembali logikanya. Ia terpilih menjadi asisten pribadi Adi bukan karena faktor kedekatan mereka berdua, melainkan karena ia kompeten. Ia cerdas, rajin, dan memiliki kualifikasi yang diakui oleh Adi sendiri bahkan para dosen lain dan ketua jurusan.
"Aku nggak perlu deh membandingkan langkah pertamaku sama langkah keseribu orang lain," tulisnya sebagai penutup jurnal hari itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit dan akan fokus pada pengembangan diri. Ia ingin menjadi wanita yang tidak hanya sekedar mendampingi, tapi juga pantas berdiri sejajar di sisi Adi.
-
-
Langkah kaki Ana terdengar tegas saat memasuki area kampus. Namun, ia tidak langsung menuju ruangan Adi. Ada urusan administratif yang harus diselesaikan di Sekretariat Dekanat. Minggu depan adalah momen besar: Senin untuk Yudisium dan Sabtu untuk Wisuda.
Saat mengurus berkas-berkas itu, sebuah pertanyaan besar berputar di kepalanya: Apakah ia harus mengenalkan Adi kepada orang tuanya di hari wisuda nanti? Mengenalkan Adi berarti memperjelas hubungan mereka di mata keluarga. Ada rasa hangat sekaligus ngeri membayangkan pertemuan itu. Apalagi mereka belum lama dekat. Ia berencana untuk mendiskusikan hal ini dengan Adi sesampainya di ruangan nanti. Ia ingin tahu, sejauh mana Adi bersedia melangkah bersamanya.
Namun, rencana tinggal rencana.
Begitu pintu ruangan terbuka, pemandangan di dalamnya seketika menguapkan keberanian Ana. Di sana sudah ada Bu Myra, rekan kerja sekaligus sepupu Adi, yang sedang asyik mengobrol dengan bosnya itu.
"Oh, Ana! Baru sampai?" sapa Bu Myra ramah, namun kalimat selanjutnya justru terasa seperti siraman air es bagi Ana.
"Di, ngomong-ngomong, kemaren pesananmu buat Eva ku titipin Ana, udah sampe ke tujuan kan?."
Adi mengangguk.
"Bakwan Bu Parti kesukaan Eva, kan Di dari dulu? Kamu masih inget aja sampe rela minta aku pesenin khusus buat Eva," ujar Bu Myra santai.
Adi tampak sedikit canggung namun menjawab, "Oh, itu... aku cuma nyampein pesanan Eva lewat kamu. Dia bilang nggak enak kalau harus ngrepotin kamu langsung."
"Halah, namanya juga teman lama, repot sedikit nggak masalah ngapain pake acara gak enak segala?. Bilang aja kamu emang mau perhatian je dia tapi gengsi, kan?" Bu Myra terkekeh dengan candaanya sendiri, lalu menoleh ke arah Ana dengan nada menggoda yang tidak pada tempatnya. "Eh. Gimana menurut kamu Ana? Pak Adi cocok banget kan sama Bu Eva, ya kan, An?"
Hati Ana mencelos. Nama "Eva" muncul lagi, seperti hantu yang tak mau pergi. Namun, Ana bukan wanita yang mudah terlihat rapuh di depan umum. Ia menarik napas panjang, memasang topeng profesionalnya, dan menjawab dengan nada sinis yang khas.
"Pak Adi memang cocok sama semua cewek cantik sih, Bu. Karena Pak Adi memang ganteng," jawab Ana datar, namun tajam.
Mendengar itu, Adi justru tersenyum lebar. Ia mengenal Ana. Jika asistennya itu sudah mulai bisa berkata sinis dan "menyerang", artinya suasana hatinya sudah membaik dari kemurungan kemarin. Bagi Adi, sindiran Ana adalah tanda bahwa si "Gadis Jutek" telah kembali.
"Udah, Myr. Ayo, katanya mau ke ruang Kajur," ajak Adi sambil beranjak, seolah ingin menghindari interogasi lebih lanjut dari tatapan mata Ana yang menyelidik.
-
-
Kesunyian di Penghujung Hari
Setelah kepergian Adi dan Bu Myra, ruangan itu terasa sangat luas dan sepi. Ana duduk di kursinya, menatap layar komputer yang membosankan. Ia merasa kecewa. Kecewa karena percakapan yang ia susun di kepala sejak pagi tadi tidak pernah terjadi. Kecewa karena Adi pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang "Eva" atau sekadar memberikan instruksi pekerjaan.
Jam demi jam berlalu. Biasanya, ponselnya akan bergetar berisi pesan perintah: “An, tolong siapkan draf ini,” atau “An, carikan referensi itu.” Namun hari itu, sunyi.
Ana merasa "gabut" dalam arti yang menyakitkan. Ia merasa tidak dibutuhkan. Ketidakhadiran Adi hingga sore menjelang membuatnya kembali terjatuh ke dalam lubang pemikiran yang tadi pagi coba ia tutup.
Apakah ia benar-benar asisten yang penting? Ataukah ia hanya bagian dari masa transisi Adi?
Hmmm apakah penting dia mikir negatif soal ini?
Pertanyaan terakhir adalah upayanya untuk kembali ke kesadaran penuh. Stop overthingking, Ana!
Ia melihat kalender di meja. Senin depan Yudisium. Seharusnya itu menjadi hari yang paling ia nantikan. Namun sekarang, bayang-bayang tentang Eva, bakwan Bu Parti, dan tawa Bu Myra memenuhi ruang kepalanya.
Ana merapikan mejanya dengan gerakan lambat. Ia menyadari satu hal pahit dalam kedewasaan: terkadang, meskipun kita sudah berjanji untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain, dunia akan selalu menemukan cara untuk melakukannya untuk kita.
Sore itu, Ana pulang dengan perasaan yang mengambang. Ia membawa pulang kegelisahannya, menyimpan pertanyaan tentang orang tuanya dan Adi untuk hari lain yang entah kapan akan datang.
Di balik kecerdasan dan kecantikannya, Ana hanyalah seorang wanita muda yang sedang belajar bahwa cinta, sering kali, lebih rumit daripada draf skripsi mana pun yang pernah ia kerjakan.
-
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍