Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Kabur
Malam itu, rumah tampak begitu sunyi. Rachel berdiri di depan pintu yang mengarah ke halaman belakang, mengenakan pakaian yang sama sejak sore tadi. Ia tidak membawa barang apapun, bahkan tidak ada rencana cadangan. Semua yang ia miliki ada di tubuhnya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu, tetapi kepalanya justru terasa jernih. Sungguh aneh, pikirnya. Selama berhari-hari ia hidup dalam ketakutan yang semu, tapi pada detik ini, semuanya terasa tajam dan jelas. Ia tahu satu hal dengan pasti bahwa ia mungkin tidak akan mendapat kesempatan kedua, jika tidak mencobanya kali ini.
Pintu itu terbuka perlahan. Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar dari para pelayan atau penjaga, tidak ada teriakan yang menghentikannya, juga tidak ada suara apa pun selain detak jantungnya sendiri. Rachel akhirnya berhasil melangkah keluar dengan penuh kewaspadaan.
Udara malam langsung menyentuh kulitnya, dingin dan tajam. Hanya untuk sesaat ia merasa hidup kembali. Seolah dunia di luar rumah ini masih ada, masih berjalan tanpa Tom di pusatnya. Malam ini, Ia hanya ingin keluar tanpa ketahuan.
Halaman belakang terbentang di depannya, luas dan gelap. Lampu taman menyala redup, membentuk bayangan panjang di atas rumput. Gerbang besi terlihat di kejauhan. Namun, jarak yang cukup dekat yang seharusnya bisa ia tempuh dalam hitungan detik terasa seperti ribuan kilometer.
Rachel mempercepat langkah. Setiap bunyi kecil membuat bahunya menegang. Kerikil di bawah sepatu, daun yang terinjak, bahkan nafasnya sendiri.
Ia hampir sampai. Hingga akhirnya sebuah suara memecah keheningan malam.
“Berhenti!”, teriak seorang pria. Suaranya berat dan parau.
Rachel membeku seketika. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Dan ia menoleh.
Dari sisi taman, dua bayangan bergerak mendekat. Langkah mereka mantap, seolah mereka sudah tahu Rachel akan berada di sini. Lalu, salah satu pria itu meraih lengannya sebelum Rachel sempat mundur.
“Dia di sini,” ucap pria satunya pada alat komunikasi di telinganya.
Rachel tersentak dan nalurinya mengambil alih. Ia mencoba menarik lengannya, meskipun tenaganya tidak akan cukup untuk mengalahkan mereka.
“Lepaskan aku! Tolong—”
Pegangan itu menguat. Tidak kasar dan tidak menyakitkan, melainkan seperti seperti penjepit besi yang tahu persis seberapa kuat harus menahan.
“Jangan macam-macam,” kata pria itu singkat, seperti sebuah peringatan yang tidak seharusnya Rachel abaikan.
Rachel pun akhirnya berhenti melawan. Dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya kembali ke gerbang yang kini terasa semakin jauh.
“Bos harus tahu,” ujar pria yang lain.
Dan saat itu Rachel mengerti sesuatu yang menghantam lebih keras daripada genggaman di lengannya. Ia sudah gagal melarikan diri dari jerat sistem yang memasungnya di rumah ini. Dan kini, ia harus siap menanggung konsekuensinya.
Rachel tidak berteriak lagi. Ia tidak memohon dan tidak mencoba menjelaskan apa pun. Sebab semua kata terasa tidak berguna untuk saat ini. Ia membiarkan dirinya diseret kembali melewati halaman yang sama, melewati pintu yang tadi ia buka dengan harapan terakhirnya. Kepalanya menunduk dan wajahnya kosong.
Pintu menutup di belakang mereka dengan bunyi berat. Suara itu menggema lebih lama daripada seharusnya.
Kini Rachel berdiri di dalam rumah itu lagi, udara terasa lebih pengap dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya Rachel merasa benar-benar takut—bukan karena tertangkap, tetapi karena ia sadar bahwa keluar dengan cara ini mungkin sudah bukan pilihan lagi.
Tom sudah menunggu di ruang kerjanya. Ia berdiri di dekat meja kerjanya dengan jas yang rapi dan kemeja putih bersih tanpa lipatan. Wajahnya tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diberi kabar bahwa “miliknya” mencoba melarikan diri.
Rachel dibawa masuk dan dilepas beberapa langkah darinya. Kakinya hampir tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dan tangan yang tadi digenggam anak buah Tom masih terasa mati rasa.
“Keluar,” kata Tom singkat.
Dua pria itu tidak membantah. Mereka berbalik dan pergi tanpa melirik Rachel sekali pun. Pintu pun tertutup dan ruangan menjadi kosong.
Rachel berdiri kaku dengan napas yang memburu, tidak berani menatap Tom. Sementara itu, Tom menoleh perlahan. Tatapannya jatuh ke Rachel, menelusurinya dari kepala sampai kaki, seolah sedang memastikan sesuatu yang berharga masih utuh.
Ia melangkah mendekat, beberapa langkah.
“Kau mencoba kabur dariku,” katanya pelan, nyaris datar.
Rachel membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terasa kering dan lidahnya terasa berat.
Tom berhenti tepat di depannya. Jarak mereka terlalu dekat untuk membuatnya merasa aman. Ia tersenyum kecil—bukan senyum hangat, bukan pula senyum marah. Itu adalah senyum yang dingin dan mampu membuat Rachel bergidik.
“Kau tahu apa yang paling aku benci?” tanyanya.
Ia tidak menunggu jawaban.
“Orang bodoh,” lanjutnya, suaranya tetap rendah, “yang berpikir mereka punya pilihan.”
Rachel menelan ludah, dan tubuhnya gemetar semakin hebat. Ia ingin mundur, tapi kakinya seolah tertanam di lantai. Lalu, Tom mencondongkan tubuhnya sedikit, cukup dekat hingga Rachel bisa mencium aroma parfum yang tajam di lehernya.
“Malam ini,” ucapnya perlahan, setiap kata terdengar penuh penekanan yang dilakukan dengan sengaja, “aku akan membuatmu menyesali perbuatanmu itu.”
Tangannya mencengkeram pergelangan Rachel sebelum ia sempat bereaksi. Cengkeraman itu keras dan jelas tidak memberi ruang bagi Rachel untuk melawan.
“Tom—tolong,” suara Rachel pecah. “Aku minta maaf. Aku menyesal. Aku—”
Ia terseret menyusuri lorong. Langkahnya tersandung-sandung, hampir jatuh saat Tom membuka pintu kamar dan mendorongnya masuk.
Pintu di belakang mereka kini tertutup dengan keras. Bunyi kuncinya terdengar jelas, seakan memberitahu Rachel bahwa tidak ada lagi jalan keluar.
Rachel mencoba menarik tangannya, tapi Tom tidak melepaskannya. Ia justru mendorong Rachel ke depan, hingga tubuh Rachel terhuyung dan jatuh ke atas kasur besar itu—seprai putihnya kusut di bawah berat tubuhnya.
Napas Rachel terengah. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.
Tom berdiri di tepi ranjang, menatapnya dari atas. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Rachel, membuatnya tampak lebih kecil dan lebih rapuh.
“Kata maaf,” kata Tom dingin, “tidak menghapus kebodohan.”
Rachel menggeleng cepat. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. “Aku benar-benar menyesal,” katanya terisak. “Aku salah. Aku tidak berpikir panjang. Tolong… jangan—”
Tom naik ke ranjang, hingga kasur sedikit tenggelam di bawah beratnya. Rachel pun mundur dengan refleks, hingga punggungnya menabrak sandaran kepala ranjang.
Tom menahan tubuh Rachel agar tidak bergerak. Bukan dengan kekerasan penuh, tapi cukup untuk membuat Rachel sadar bahwa ia tidak punya kendali atas apa pun. Kini, jarak mereka terlalu dekat. Bahkan nafas Tom menyentuh wajahnya, dan tekanan tubuh pria itu membuat dadanya sesak.
“Jangan…” Rachel terisak. “Aku mohon…”
Tangannya mendorong dada Tom dengan lemah dan gemetar. Namun, gerakan itu lebih menyerupai refleks putus asa daripada sebuah perlawanan.
“Jangan lakukan ini…”
Tom tidak langsung menjawab. Ia tetap di sana, menahan posisinya, membiarkan ketakutan Rachel mengendap dan membiarkan tubuhnya gemetar di bawah tekanan itu.
Tangisan Rachel berubah menjadi isakan yang tak tertahankan. Napasnya terdengar memburu dan tidak teratur.
“Aku janji,” katanya, gagap. “Aku tidak akan kabur lagi. Aku bersumpah. Aku akan menuruti perintahmu. Aku akan—”
“Maaf… maaf… maaf…” Kata itu keluar berulang-ulang, seperti mantra terakhir yang ia miliki.
Untuk beberapa detik yang terasa terlalu panjang, Tom tetap diam. Tatapannya tidak lepas dari Rachel—dari air mata di pipinya, dari bahunya yang bergetar, juga dari tubuhnya yang tampak rapuh di bawahnya.
Keheningan pun turun perlahan. Bukan karena ketegangan menghilang, tapi karena Tom memutuskan untuk berhenti. Ia mundur beberapa langkah, seolah jarak itu sepenuhnya berada di bawah kendalinya—seolah ia berhenti bukan karena Rachel memohon, melainkan karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tom lalu merapikan penampilannya. Gerakannya tampak tenang, ketika kembali mengancingkan kemejanya dan merapikan ujung lengan kemejanya yang tampak sedikit kusut. Sementara itu, Rachel tetap terbaring di atas kasur. Tangisnya tidak bersuara—dadanya naik turun dengan cepat, dan napasnya masih tidak teratur. Tangannya tampak masih menutupi tubuhnya dengan jari-jari yang kaku dan gemetar.
Tom menatapnya lama. Bukan lagi tatapan penuh amarah, melainkan tatapan seseorang yang sedang memastikan peraturannya tidak akan dilanggar lagi.
“Ini peringatan terakhir,” katanya akhirnya, suaranya datar.
Rachel mengangguk cepat. Seolah takut jika ia terlambat satu detik saja, keputusan Tom akan berubah.
“Aku mengerti,” katanya lirih, nyaris tidak terdengar. “Aku mengerti…”
Air mata Rachel jatuh lagi, tapi ia tidak berani mengangkat tangan untuk menyekanya.
Tom berjalan ke arah pintu dan membukanya. Udara dari luar kamar masuk, terasa dingin di kulit Rachel yang masih panas oleh ketakutan.
“Keluar.”, katanya. Hanya satu kata, dengan nada datar tanpa emosi.
Rachel menuruni tempat tidur dengan kaki gemetar. Bahkan lututnya hampir tidak kuat menopang tubuhnya. Ia membenarkan pakaiannya dengan gerakan cepat, menutup tubuhnya dengan lengan sendiri, lalu melangkah keluar kamar itu tanpa menoleh lagi. Ia tidak berani menoleh. Ia tahu, jika ia menoleh, sisa keberanian yang masih ia miliki akan runtuh sepenuhnya.
Tidak lama setelah itu, pintu kamar Tom menutup di belakangnya. Bunyinya pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya bergetar. Lalu, Di kamarnya sendiri, Rachel menutup pintu dan menguncinya. Ia bersandar di sana, punggungnya menempel pada kayu dingin, seolah pintu itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri.
Kini tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menekan mulutnya sendiri agar tangis tidak lolos dari sana. Napasnya tersengal dan tidak teratur, seperti orang yang baru saja tenggelam.
Ia perlahan menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di lantai—cukup lama. Hanya ada sisa ketakutan yang berputar-putar di kepalanya, bercampur dengan rasa malu, marah, dan putus asa yang terlalu berat untuk dirasakan.
Ia tidak hancur, atau mungkin belum. Tapi sesuatu di dalam dirinya benar-benar runtuh malam ini. Sesuatu yang akhir-akhir ini hingga beberapa saat yang lalu membuatnya masih memiliki harapan bahwa keberaniannya akan membawa keajaiban.
Kini, harapan itu seperti padam. Dan di tempat yang sama—di ruang kosong yang ditinggalkannya—sesuatu yang lain mulai tumbuh. Bukan keberanian yang hangat, bukan juga harapan yang melegakan. Melainkan sesuatu yang lebih dingin, sunyi dan berbahaya, yaitu sebuah keputusasaan yang memaksanya berbuat sesuatu yang lebih.
Rachel menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap pintu kamar itu cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela, ke sudut-sudut ruangan, dan ke setiap detail yang selama ini hanya ia lihat sebagai penjara. Jika kabur berakhir dengan ancaman yang membuatnya mati perlahan , maka mungkin ia harus mencari cara lain untuk keluar dari tempat itu hidup-hidup.