Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Seminggu setelah pertandingan Zhejiang Professional FC kontra Guangzhou FC yang penuh tensi dan keajaiban sepak bola.
Hujan gerimis mengguyur Hangzhou sejak pagi. Langit kelabu menyelimuti Distrik Xiaoshan, membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Xiao Han duduk di kursi ruang tamu, menatap berkas lamaran yang sudah ia cetak tiga kali, karena ibunya terus mengubah foto yang harus ditempel.
“Jangan pakai foto itu,” kata ibu dari dapur, seolah bisa melihat melalui dinding. “Kelihatan terlalu muda.”
“Bu, aku memang masih muda.”
“Kau mau dilamar jadi asisten pelatih, bukan jadi peserta lomba menyanyi.”
Xiao Han menghela napas, melepas foto lama dan mengganti dengan yang baru. Di foto itu, ia tersenyum tipis, rambut disisir rapi, tidak ada bekas luka di pelipis yang terlihat. Ibu memilih foto ini minggu lalu, katanya untuk cadangan kalau ada keperluan mendadak.
Seperti sekarang.
Denting!
Ponselnya bergetar, pesan dari Shen Yuexi masuk di notifikasi layar.
| Aku sudah di depan. Turun |
Xiao Han melirik jam dinding. Masih pukul sembilan pagi. Interview dijadwalkan pukul sepuluh nanti, tapi Shen Yuexi selalu datang lebih awal, sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak mereka kecil kala itu.
“Ibu, Yuexi sudah datang.”
Dari dapur, suara ibu terdengar lebih dekat. “Kau yakin tidak perlu ibu antar?”
“Yuexi yang antar, Bu. Ibu kan sedang libur bekerja.”
“Karena itu, ibu harus ikut. Dan ingat, ibu tetap tidak setuju, kau terus memaksakan dirimu untuk sepak bola, kau harus kuliah, Han.”
Dirinya hanya mendengar ucapan ibu, tanpa menggubris lebih lanjut, tapi ibu lanjut berkata, “Tinggalkan sepak bolamu itu, dia sudah meninggalkanmu, kan?” Nadanya tinggi, tapi terdengar bukan marah. “Kau sudah cedera seperti itu, hati ibu sakit, Han.”
“B-Baik ibu, akan aku ingat,” jawab Xiao Han lirih.
Xiao Han berdiri, mengambil tongkat yang bersandar di kursi, walau hatinya malu menggunakannya. Kakinya sudah lebih baik, tapi dokter tetap menganjurkan alat penopang di betisnya untuk perjalanan jauh. Ia menatap ibunya yang berdiri di ambang dapur dengan celemek masih terikat.
“Bu.”
“Hm?”
“Aku akan berhasil.”
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, merapikan celemek yang sudah rapi.
“Jangan lupa bawa jaket. Nanti hujan deras.”
Xiao Han mengangguk, walau overprotektif, dirinya sadar, di dunia ini hanya ibu yang menyayanginya setelah ayah tidak ada.
Kemudian, Xiao Han melangkah keluar. Di balik pintu yang tertutup, ia mendengar suara ibunya menghela napas panjang.
Dan ketika, sesampainya diluar rumah, Shen Yuexi menunggu di dalam mobil, Xiao Han cukup terkejut jika gadis itu yang mengemudi.
Milik keluarganya?
Sewaan atau pinjaman?
Xiao Han tidak tahu.
Mobil Wuling Hongguang. Tipe MPV atau mikrova berkapasitas 5 sampai 8 orang. Harganya sangat murah di China.
Dipakai kebanyakan keluarga, termasuk Xiao Han saat mendiang ayahnya masih hidup, untuk usaha kecil, dagangan, dan angkut barang.
Bisa dibilang Avanza-nya China, bahkan lebih merakyat lagi.
Saking populernya, sering disebut mobil sejuta umat di negara ini. Namun, Ibu menjual aset Ayah untuk mempertahankan keberlangsungan keluarga yang hanya di isi dua orang, Xiao Han dan orang tua perempuannya.
Di dalam mobil, cardigan krem yang biasa Shen Yuexi kenakan, kini berganti jaket parasut tipis, warnanya serupa. Rambut pirang panjangnya diikat ke belakang, meninggalkan beberapa helai yang terjatuh ke pipi.
“Kau sendiri?” tanya Xiao Han saat membuka pintu penumpang.
“Ya. Papa sibuk, Mama ikut acara arisan ibu-ibu.”
“Jadi kau mencuri mobil mereka?”
Shen Yuexi menyenggol lengannya. “Pinjam, pakai kata pinjam.”
Mobil melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan. Hujan rintik membasahi kaca depan, dan wiper bergerak lambat seperti sedang malas. Di dalam mobil, aroma vanilla yang khas dari Shen Yuexi bercampur dengan bau dashboard mobil yang sedikit apek.
“Kau gugup?” tanya Shen Yuexi.
“Tidak.”
“Bohong.”
Xiao Han tersenyum kecut. “Iya. Aku gugup.”
Shen Yuexi diam, tanpa tawa dan maksud mengejek, dia hanya berkata, “Wajar. Ini pertama kali kau interview kerja, terlebih sebagai asisten pelatih sepak bola yang kau sukai itu.”
Mobil melewati persimpangan besar, meninggalkan Distrik Xiaoshan menuju pusat kota. Di luar jendela, bangunan-bangunan berganti dari rumah sederhana menjadi pertokoan dan perkantoran. Lampu lalu lintas berganti merah, dan mobil berhenti.
“Yue.”
“Hm?”
“Kenapa kau repot-repot begini? Interview ini bisa aku lakukan sendiri.”
Shen Yuexi menatapnya. Matanya jernih di bawah cahaya mendung. “Kau tahu jawabannya.”
Xiao Han diam. Ia tahu. Tapi ia tidak pernah berani mengonfirmasi.
“Aku akan ke Beijing bulan depan,” kata Shen Yuexi, melepas pandangan. “Mungkin lama tidak pulang. Jadi …” Ia menggenggam setir lebih erat. “Aku ingin memastikan kau punya sesuatu yang pasti sebelum aku pergi.”
Lampu kembali hijau.
Mobil melaju lagi.
“Aku tidak butuh diurus, Yue.”
“Aku tahu.” Suaranya pelan. “Tapi membiarkanmu sendirian dengan kakimu yang masih sakit, ibumu pasti melarang, dan aku juga ingat, Pak Guan Tian yang menolakmu, aku tidak tega.”
Xiao Han tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan di depan, menghitung genangan air yang terlewat.
“Nanti setelah interview,” Shen Yuexi memecah keheningan. “Aku traktir makan. Ada tempat baru dekat sekolah itu. Enak katanya.”
“Kau sudah survei?”
“Semalam aku cari di internet.”
Xiao Han tertawa kecil. “Kau benar-benar mempersiapkan semuanya.”
“Ada yang harus dipersiapkan?” Shen Yuexi menoleh sekilas, tersenyum. “Ini masa depanmu, Han. Aku tidak mau ambil risiko.”
SMP Hangzhou Xuejun Middle School terletak di jalan yang tidak terlalu ramai, dikelilingi pohon-pohon rindang yang daunnya mulai basah oleh hujan.
Gerbang besi berwarna hijau tua terbuka setengah, dan di samping pos satpam, sebuah papan kayu bertuliskan nama sekolah dengan cat mulai mengelupas.
Di balik gerbang itu, halaman sekolah tampak luas namun sunyi, lapangan beton yang basah memantulkan langit kelabu, ring basket berkarat berdiri diam tanpa suara, dan garis-garis lapangan yang mulai pudar seperti jarang disentuh pertandingan sungguhan.
Bangunan utama menjulang sederhana, dindingnya berwarna pucat dengan jendela-jendela panjang yang tertutup rapat. Tidak ada teriakan siswa, tidak ada suara peluit latihan,.hanya bunyi rintik hujan yang jatuh perlahan di atas atap seng dan dedaunan.
Tempat ini terasa seperti sekolah yang pernah hidup … tapi lama tidak benar-benar bernapas.
Bukan seperti SMP saat Xiao Han masih menjadi murid Xuejun dulu.
Mobil Shen Yuexi berhenti di parkiran luar. Tidak ada mobil lain. Mungkin karena hari libur, atau memang tidak ada yang peduli dengan interview calon asisten pelatih tim sepak bola yang nyaris mati.
“Kau tunggu di sini?” tanya Xiao Han.
“Aku ikut.”
“Yue—”
“Aku sudah janji sama ibumu akan mengawal sampai selesai.” Shen Yuexi membuka pintu, membuka payung biru dari tasnya, lalu berjalan ke sisi Xiao Han. “Ayo.”
Mereka berjalan berdampingan, Xiao Han dengan tongkatnya, Shen Yuexi dengan payung yang melindungi mereka berdua dari gerimis. Di depan pintu utama sekolah, seorang pria paruh baya dengan kumis tipis sudah menunggu.
“Xiao Han?” Pria itu menyodorkan tangan. “Chen Hao. Pelatih kepala tim sepak bola. Kepala sekolah ada di ruangannya.”
Ia memakai kaos lengan panjang abu-abu dengan lengan digulung sampai siku, celana training hitam, dan sandal jepit. Rambutnya sudah memutih di pelipis, tapi posturnya tegap.
“Benar, Coach.” Xiao Han menjabat tangannya. “Ini Shen Yuexi, temanku yang—”
“Mengantarnya,” potong Shen Yuexi cepat. “Aku tunggu di luar.”
Chen Hao mengangguk. “Aku sudah menyimpan WhatsApp-mu dari pacarmu itu.” Wajahnya menyorot Xiao Han tanpa banyak ekspresi. “Ikuti Aku.”
Blush!
Shen Yuexi meledak malu, melepas genggaman payung, menyerahkannya ke Xiao Han terburu-buru. “N-Nanti selesai, a-aku di parkiran.”
“Yue—”
“Jangan gagal.” Ia tersenyum, lalu berbalik, berjalan cepat ke arah mobil di tengah rintik hujan yang mulai membasahi rambutnya.
Xiao Han menatap bayangannya beberapa detik, lalu mengikuti Chen Hao masuk ke dalam gedung.