Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ruangan itu mendadak sunyi. Semua orang menahan napas, seolah satu kata yang salah bisa membuat kepala mereka melayang saat itu juga.
Bawahan yang tadi berbicara menelan ludah sebelum melanjutkan, "Data yang kami kumpulkan menunjukkan pola pergerakan yang sama, Pak. Cara menyerang, jalur evakuasi, bahkan jejak digital yang ditinggalkan… semuanya identik dengan milik organisasi One."
Tatapan Rick berubah perlahan. Dari amarah, menjadi sesuatu yang lebih gelap sebuah kecurigaan.
"Itu tidak mungkin," gumamnya pelan, namun nadanya mengandung ancaman. "Aku sendiri yang memastikan kematiannya."
"Tapi jika memang dia masih hidup…" pria itu ragu sejenak, "…itu berarti kita sedang berhadapan dengan seseorang yang selama ini bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali."
Rick terdiam. Jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi, ritmis, teratur tanda bahwa pikirannya sedang bekerja cepat.
"Lalu gadis itu," katanya akhirnya. "Apa hubungannya dengan One?"
"Belum diketahui secara pasti, Pak. Tapi jelas dia bukan target biasa. Barok tidak mungkin kalah hanya karena kebetulan."
Rick menyipitkan mata. Ada kilatan tajam di sana.
"Menarik…" desisnya.
Dia berdiri perlahan dari kursinya. Aura yang dia pancarkan seketika berubah, jauh lebih menekan dibanding sebelumnya.
"Kalau One benar-benar masih hidup," lanjutnya, "maka ini bukan sekadar kegagalan misi… ini adalah ancaman."
Tidak ada yang berani menyela.
"Dan ancaman," Rick berhenti sejenak, menatap satu per satu anak buahnya, "harus dimusnahkan sebelum tumbuh lebih besar."
"Perintahkan semua unit untuk bergerak," katanya tegas. "Aku ingin identitas gadis itu dalam waktu dua puluh empat jam."
"Baik, Pak!"
"Dan satu lagi…" Rick tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Jika benar itu dia…"
Semua orang menegang. "Aku ingin dia hidup."
Ucapan itu membuat beberapa orang saling berpandangan, bingung.
"Hidup, Pak?"
Rick terkekeh pelan.
"Sudah lama aku ingin memastikan sesuatu dengan tanganku sendiri," katanya rendah. "Jika dia benar-benar belum mati… maka kali ini aku akan memastikan tidak ada yang tersisa."
Suasana kembali mencekam.
"Bagaimana dengan gadis itu, Pak?" tanya salah satu bawahan lainnya.
Rick berpikir sejenak, lalu menjawab tanpa ragu,
"Jadikan dia umpan."
—
Pagi yang cerah menyambut Aleta, namun semua tidak bertahan lama karena sosok Ravian mendadak muncul di depan rumahnya lengkap dengan setelan jas dan mobil mewahnya.
"Pagi, Let." Sapa Ravian akrab.
Aleta memutar mata, entah setan apa yang sedang merasuki pria itu sampai muncul di pagi hari dan menghancurkan mood paginya.
"Ngapain ke sini?" Tanya Aleta acuh.
"Mengantarmu sekolah," Ravian berjalan mendekati Aleta. "Setidaknya mulai sekarang aku harus memprioritaskan tunanganku."
"Tidak usah berlagak seperti itu, langsung saja apa tujuanmu ke sini?"
Aleta sama sekali tidak percaya dengan jawaban Ravian, bukan tanpa alasan karena semalam setelah dia masuk ke kamar ternyata Ravian dan kakeknya berunding masalah pernikahan dan tadi pagi saat sarapan Aleta baru mendengarnya.
"Wow, kau sangat curiga padaku, ya? Apa aku begitu tidak bisa di percaya?"
"Iya."
Seketika tawa Ravian pecah, dia menyisir rambutnya dengan jari ke belakang. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatinya, dia baru pertama kali merasakan perasaan itu dan sialnya yang membuat perasaannya kacau adalah gadis di depannya, Aleta.
"Baiklah, kau memang tidak bisa di bohongi." Ravian meredakan tawanya, dia memasukan satu tangan ke dalam saku celana panjangnya. "Nanti sepulang sekolah Bimo akan menjemputmu."
"Bimo?"
Ravian mengangguk. "Asistenku, kau sudah dengar apa yang aku dan kakekmu bicarakan semalam, kan?"
"Sudah, jadi kenapa asistenmu harus menjemputku?"
"Kita harus fitting baju hari ini, dan aku terlalu sibuk untuk menjemputmu jadi Bimo yang akan menggantikan tugas itu." Ravian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan Aleta. "Apa kau kecewa karena bukan aku yang menjemputmu?"
Aleta mendengus sebal, entah dari mana munculnya tingkat kepercayaan diri pria itu sampai membuat Aleta ingin muntah.
"Aku tidak mengatakan seperti itu, aku hanya bertanya. Lagi pula, untuk apa aku kecewa?"
"Ah, jawabanmu sangat menyakitkan." Ravian cemberut. "Tidakkah ucapanmu terlalu blak-blakan?"
Aleta menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Ravian tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Kalau kau tidak siap mendengar jawaban jujur, jangan bertanya," balasnya datar.
Ravian terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya, kali ini bukan penuh godaan seperti sebelumnya, melainkan lebih... tertarik.
"Kau memang berbeda," gumamnya pelan, cukup untuk didengar Aleta.
"Aku tidak tertarik jadi sama seperti orang lain," sahut Aleta cepat. "Sekarang minggir. Aku bisa berangkat sendiri."
Ravian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Aleta beberapa detik lebih lama, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
"Aku tahu," ucapnya akhirnya. "Tapi mulai sekarang, hidupmu tidak sepenuhnya 'sendiri' lagi."
Aleta mengernyit. "Maksudmu?"
Ravian membuka pintu mobilnya, lalu menoleh sedikit. "Masuk."
"Tidak."
"Aleta..."
"Tidak," potong Aleta tegas. "Aku tidak butuh diantar. Dan aku tidak suka diatur."
Hening sejenak.
Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan rambut Aleta yang terurai. Suasana yang tadinya ringan mendadak berubah sedikit tegang.
Namun alih-alih kesal, Ravian justru tersenyum kecil.
"Kau keras kepala," katanya.
"Memang," jawab Aleta.
Ravian terkekeh pelan. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu hari ini."
Aleta sedikit terkejut, tapi tidak menunjukkannya.
"Tapi..." lanjut Ravian, langkahnya mendekat lagi. "Sepulang sekolah, kau tetap harus ikut Bimo. Itu bukan permintaan."
Aleta menatapnya tajam. "Dan kalau aku menolak?"
Ravian berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini sangat dekat, cukup untuk membuat Aleta bisa melihat jelas sorot mata pria itu yang kali ini tidak sepenuhnya santai.
"Kalau kau menolak," ucap Ravian rendah, "aku sendiri yang akan datang menjemputmu. Dan percayalah, caraku menjemput tidak akan senyaman ini."
Aleta terdiam sepersekian detik. Bukan karena takut, tapi karena dia tahu… Ravian tidak sedang bercanda.
"Ancaman?" tanyanya dingin.
"Bisa di bilang begitu," jawab Ravian singkat.
Beberapa detik berlalu sebelum Aleta mendengus pelan, memalingkan wajah.
"Menyebalkan," gumamnya.
Ravian tersenyum puas. "Aku anggap itu sebagai persetujuan."
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒