NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berat Tapi Ringan

“Tunggu… aku siap-siap dulu,” balasku.

Aku langsung beranjak.

Mandi.

Bersiap seperti biasa.

Tanpa banyak pikir.

Sebelum berangkat, aku mengambil dua buah pisang.

Sekadar isi tenaga.

Aku melirik jam di HP.

Masih pagi.

Belum terlalu siang.

Harusnya… belum terlalu telat.

HP-ku bergetar.

Pesan dari Cila.

“Ya udah, aku nunggu di depan rumah. Nanti ke sini aja.”

Aku langsung bergegas keluar.

Menuju rumah Cila.

Gerbang sudah terbuka.

Aku masuk.

Di depan—

Cila terlihat berdiri.

Tadi duduk.

Sekarang sudah berdiri.

HP-nya masih di tangan.

Begitu melihatku—

dia langsung menyimpannya ke saku.

Aku mendekat.

“Nunggu dari tadi ya… maaf ya,” ucapku sambil nyengir.

Cila menggeleng kecil.

“Nggak papa kok.”

Dia diam sebentar.

Lalu menambahkan—

“Akunya aja yang kepagian.”

Dia tersenyum.

Tapi napasnya sedikit lebih panjang dari biasanya.

Seolah…

tadi sempat menunggu cukup lama.

“Ya udah, yuk,” ajak Cila.

Dia sudah lebih dulu melangkah.

Cepat.

Ringan.

Seolah dari tadi memang sudah siap.

Aku ikut berjalan di belakangnya.

Belum sempat menyusul sejajar—

langkahnya makin cepat.

“Cila… tunggu,” ucapku.

Dia tidak berhenti.

Justru menoleh sebentar, senyum kecil terlihat di wajahnya.

“Ayo, lama banget,” katanya santai.

Aku menghela napas kecil, mempercepat langkah.

“Jangan buru-buru. Nanti kram, loh,” tambahku.

Cila tertawa kecil.

“Ah, santai aja.”

Langkahnya berubah.

Dari cepat—

jadi lari kecil.

“Ayo, yang kalah nanti harus bayarin minum!” teriaknya ringan.

Aku langsung berhenti satu detik.

“Wah… nantangin?”

Aku mulai berlari.

Mengejarnya.

Tapi dia sudah lebih dulu di depan.

Jaraknya tidak jauh—

tapi cukup untuk membuatku harus benar-benar nyusul.

Aku mempercepat langkah.

Napas mulai terasa.

Kaki mulai panas.

Sementara di depan—

Cila masih terlihat ringan.

Sesekali dia menoleh ke belakang.

Memastikan aku masih mengikuti.

Dan setiap kali mata kami bertemu—

dia selalu tersenyum.

Seolah ini bukan soal siapa yang menang.

Tapi tentang…

lari itu sendiri.

Aku akhirnya tidak memaksakan.

Tidak benar-benar ingin menang.

Hanya menjaga jarak di belakangnya.

Mengikuti ritmenya.

Udara pagi terasa segar.

Jalanan belum terlalu ramai.

Langkah kaki kami terdengar jelas.

Berirama.

Pelan-pelan—

jarak itu tetap ada.

Tapi tidak terasa jauh.

Dan untuk pertama kalinya—

lari pagi ini terasa… ringan.

Bukan karena mudah.

Tapi karena…

aku tidak sendirian.

Kami mulai melambat saat taman sudah terlihat di depan.

“Di situ aja kita istirahat,” ucapku sambil menunjuk bangku di bawah pohon.

Cila mengangguk.

“Iya…”

Napasnya sudah mulai terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Kami masuk ke area taman.

Langkahnya masih cepat… tapi tidak seringan tadi.

Baru beberapa langkah mendekati bangku—

tiba-tiba—

“Aduh…!”

Cila berhenti.

Tangannya langsung memegang betisnya.

Aku refleks berhenti.

“Kenapa, Cil?”

Dia sedikit membungkuk.

Wajahnya berubah.

Tidak panik… tapi jelas menahan sakit.

“Kayaknya kram…”

Aku langsung mendekat.

“Kram? Yang mana?”

“Ini…” jawabnya pelan sambil menunjuk betisnya.

Aku langsung jongkok di depannya.

“Duduk dulu. Pelan-pelan.”

Cila mengangguk kecil.

Aku membantu menuntunnya ke bangku.

Dia duduk perlahan.

Tangannya masih menekan betisnya.

Napasnya belum stabil.

Aku tetap di depannya.

“Parah sakitnya?”

Cila mengangguk sedikit.

“Lumayan…” ucapnya pelan, sambil meringis.

Aku mengangguk.

Lalu pelan-pelan membantu meluruskan kakinya.

“Coba lurusin pelan ya… jangan dipaksa.”

Dia mengikuti.

Wajahnya sedikit semakin tegang.

Tapi tidak sampai teriak.

Beberapa detik kami diam.

Hanya suara napasnya yang masih belum rata.

Aku berdiri.

“Sebentar ya. Aku beli minum dulu.”

Cila tidak menjawab.

Hanya mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian, aku kembali membawa dua botol minum.

Aku duduk di sampingnya.

“Nih, minum dulu,” ucapku sambil menyodorkan satu botol.

Cila menerimanya.

Dia langsung minum beberapa teguk.

Napasnya mulai lebih teratur.

Aku melirik ke arah kakinya.

“Masih sakit?” tanyaku.

“Masih…” jawabnya pelan.

Dia diam sebentar.

“Tapi mulai mendingan.”

Aku mengangguk kecil.

“Ya udah, kita istirahat dulu aja.”

Cila tidak langsung menjawab.

Hanya menatap ke depan.

Lalu pelan—

“Emang kenapa kamu tadi buru-buru… gara-gara aku kesiangan ya?” tanyaku.

Cila menggeleng.

“Nggak kok…”

Dia tersenyum kecil.

“Tapi aku ngerasa dari kemarin banyak makan dan jajan. Jadi…”

Dia mengangkat bahu ringan.

Aku mengangguk pelan.

“Mm… begitu.”

Aku diam sebentar.

Lalu menoleh ke arahnya, senyum tipis muncul.

“Kalau gitu… biar nggak kejadian lagi, aku bisa jadi instruktur lari kamu.”

Nada suaraku santai.

Setengah bercanda.

Cila langsung menoleh.

“Wih…”

“Berapa sebulannya, Coach?” lanjutnya dengan nada ikut bermain.

Aku pura-pura berpikir.

Tangan menyentuh dagu.

Mata sedikit melihat ke atas.

“Hmm…”

Beberapa detik.

Lalu aku tersenyum.

“Kayaknya cukup dengan senyum kamu aja, deh.”

Aku tertawa kecil.

Tanpa sadar.

Kalimat itu keluar begitu saja.

“Dih… kamu tuh ya…” respon Cila, sambil memukul pelan lenganku.

Aku masih santai.

“Lah, emang apa salahnya kalau aku suka senyum kamu?”

Cila menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Beberapa detik.

Diam.

Lalu dia menunduk pelan.

Senyumnya masih ada.

Tapi kali ini… berbeda.

Lebih kecil.

Lebih terasa.

Dan di saat itu juga—

aku baru sadar apa yang barusan aku ucapkan.

Aku langsung terdiam.

Tidak melanjutkan.

Tidak menarik kembali.

Hanya… diam.

Beberapa saat.

Kami sama-sama tidak bicara.

Hanya duduk di bangku yang sama.

Dengan jarak yang tidak jauh—

tapi terasa sedikit berubah.

Angin pagi masih berhembus pelan.

Daun-daun bergerak pelan di atas kami.

Dan di tengah diam itu—

entah kenapa…

semuanya terasa lebih jelas dari sebelumnya.

Setelah beberapa lama—

dan kurasa istirahatnya sudah cukup—

“Pulang yuk,” ajakku pelan.

Cila menoleh.

Lalu mengangguk.

Dia mencoba berdiri.

Perlahan.

Baru beberapa detik—

“Aduh…”

Dia langsung meringis.

Tubuhnya sedikit goyah.

Aku refleks menahan tangannya.

“Masih sakit?” tanyaku.

Cila mengangguk kecil.

Aku diam sebentar.

Berpikir.

Lalu—

“Gimana kalau aku gendong?” tawarku.

Cila langsung menggeleng.

“Ih, jangan. Aku bisa kok.”

Dia mencoba melangkah lagi.

Satu langkah.

Masih oke.

Langkah kedua—

wajahnya langsung berubah.

Kakinya hampir tidak kuat menahan.

Tubuhnya sedikit oleng—

dan lagi-lagi aku menahannya.

“Nah, kan,” ucapku pelan.

“Udah, aku gendong aja. Nanti kalau udah bener-bener mendingan, kamu jalan lagi.”

Cila tidak langsung jawab.

Dia menatapku beberapa detik.

Seolah memastikan.

Atau mungkin… berpikir.

Lalu akhirnya—

“Ya udah…”

Aku sedikit membungkuk.

Cila naik pelan.

Tangannya melingkar di bahuku.

Dan aku mulai melangkah.

Anehnya…

tidak terasa berat.

Langkahku tetap stabil.

Bahkan terasa ringan.

Entah karena memang ringan—

atau karena yang aku gendong… Cila.

Di sepanjang jalan—

aku tidak terlalu peduli dengan sekitar.

Sesekali kami berpapasan dengan orang.

Beberapa mungkin melirik.

Memperhatikan.

Tapi—

rasanya tidak penting.

Dunia seperti menyempit.

Hanya sejauh langkah yang aku ambil.

Hanya sejauh napas yang kami bagi.

Dan di tengah semua itu—

aku hanya sadar satu hal.

Saat ini—

hanya ada aku…

dan Cila.

Yang lain—

hanya lewat.

Beberapa saat—

kami sama-sama diam.

Hanya suara langkah kakiku yang terdengar pelan, menembus sunyi.

Dan napas Cila…

yang masih terasa sedikit berat di dekat telingaku.

“Ndra…”

suaranya lirih.

“Iya?”

“Kamu capek nggak?”

Aku sedikit tersenyum. “Nggak kok.”

Dia diam sebentar.

Seolah menimbang apakah aku benar-benar jujur.

“Tapi kalau capek bilang ya… turunin aja,” lanjutnya.

Aku menggeleng kecil.

“Nggak akan aku turunin.”

Jawabanku refleks. Tanpa jeda. Tanpa pikir panjang.

Cila tidak langsung membalas.

Beberapa detik hening menyelimuti kami.

Lalu dia tertawa kecil.

Pelan.

Dekat sekali di pundakku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak tau… lucu aja.”

Aku ikut tersenyum kecil.

Langkah terus berjalan.

Pelan.

Stabil.

“Ndra…” ucapnya lagi.

“Iya?”

“Maaf ya…”

Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Aku sedikit mengernyit.

“Maaf kenapa?”

“Jadi ngerepotin kamu.”

Aku langsung menggeleng.

“Nggak ngerepotin.”

Aku berhenti sebentar.

Lalu menambahkan—

“Lagian tadi kamu yang nantangin duluan.”

Cila langsung protes kecil.

“Ih… itu kan bercanda.”

Aku tertawa ringan.

“Makanya. Risiko.”

Cila mendengus pelan.

Tapi kali ini tidak membalas lagi.

Beberapa saat kemudian—

suaranya terdengar lagi.

Lebih tipis.

“Hati-hati ya…”

“Kenapa?”

“Jangan jatuh,” bisiknya.

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Refleks, aku menggenggam kakinya sedikit lebih erat.

Dan tanpa berkata apa-apa—

dia ikut merapat.

Dan entah kenapa—

kalimat sederhana itu…

terasa lebih dari sekadar peringatan.

Langkahku tetap sama.

Pelan.

Pasti.

Dengan satu orang di punggungku—

yang sekarang terasa…

bukan sekadar beban.

Tapi sesuatu—

yang sangat ingin aku jaga.

Langkahku mulai melambat.

Gerbang rumah Cila sudah terlihat di depan.

Tidak jauh lagi.

Aku menarik napas pelan.

“Udah sampai…” ucapku pelan.

Cila tidak langsung menjawab.

Hanya sedikit mengangguk di punggungku.

Aku berhenti tepat di depan gerbang.

Pelan-pelan aku menurunkan tubuh.

“Pegang dulu ya,” kataku.

Cila mengangguk kecil.

Tangannya masih di bahuku.

Aku menahan tangannya sebentar saat dia mulai turun.

Kakinya menyentuh tanah.

Tapi—

sedikit goyah.

Refleks aku langsung menahan lengannya.

“Pelan…” ucapku.

Dia diam.

Dekat.

Sangat dekat.

Beberapa detik kami tidak bergerak.

Seolah sama-sama sadar—

jarak yang tadi tidak ada…

sekarang perlahan kembali.

Cila menarik tangannya pelan.

Berdiri tegak.

Meski masih sedikit menahan di kaki yang tadi kram.

Aku masih memperhatikannya.

“Udah mendingan?” tanyaku.

Cila mengangguk kecil.

“Iya… dikit.”

Hening.

Dia menatapku.

Sebentar.

Lalu—

“Makasih ya… Ndra.”

Suaranya pelan.

Tapi jelas.

Aku tidak langsung menjawab.

Hanya mengangguk kecil.

“Iya.”

Cila berbalik.

Membuka gerbang.

Sempat berhenti sebentar—

lalu menoleh lagi.

Tatapannya beda.

Lebih hangat.

Lebih… terbuka.

Aku balas menatapnya.

Tanpa kata.

Dia tersenyum kecil.

Lalu masuk.

Gerbang tertutup pelan.

Aku masih berdiri di sana.

Beberapa detik.

Angin pagi lewat pelan.

Tapi rasanya…

semua masih tertinggal di tempat yang sama.

Aku akhirnya berbalik.

Melangkah pergi.

Dengan langkah yang sama seperti tadi—

pelan.

Tapi kali ini…

lebih terasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!