Kebun jagung milik Bu Sarah selalu berbuah lebat setiap saat, dengan luas yang begitu luar biasa sehingga bila tidak tau jalan maka akan tersesat di dalam sana.
Namun kabar yang beredar mengatakan bahwa kebun jagung itu memang meminta tumbal nyawa manusia, kebun milik janda cantik itu memang sudah di jauhi oleh para warga karena Mereka sangat takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Mendatangi Purnama
Saat siang dan wayah istirahat maka Umar segera melangkah pergi dari kebun jagung ini, waktu istirahat ada sekitar satu jam sehingga dia memutuskan untuk mendatangi rumah Purnama siang ini juga. sebab Dia merasa tidak nyaman mau menyimpan gigi itu terlalu lama dalam saku, pikiran buruk sudah ada di dalam otak pria ini.
Jadi dari pada terlalu lama memendam rasa takut itu maka lebih baik Dia segera mendatangi Purnama siang ini juga, padahal tubuh terasa lelah dan lebih baik untuk istirahat lalu makan siang, namun Umar memutuskan untuk mendatangi Purnama saja terlebih dahulu agar bisa membicarakan tentang masalah gigi yang baru dia temukan ini.
Sebab dia sudah merasakan firasat yang tidak bagus dari Gigi tersebut sehingga lebih baik untuk mendatangi Purnama secepat mungkin, sebenarnya bisa dibilang bahwa yang terjadi di kebun jagung milik Bu Sarah ini memiliki kecurigaan tersendiri. kamu tidak semua juga karena sebagian percaya bahwa Bu Sarah memang orang yang baik.
Bu Sarah begitu memanusiakan para pekerja sehingga karyawan yang ada di sana tidak percaya bahwa wanita itu memiliki hal yang tidak baik, jadi memang sebagian ada yang membela namun sebagian lagi tetap merasa curiga di balik semua yang telah terjadi dan bagaimana gosip itu bisa berlangsung di desa mereka saat ini.
Bisa di bilang bahwa mereka telah terpecah menjadi dua kubu karena telah memiliki kepercayaan tersendiri, ada yang percaya bahwa Bu Sarah memang wanita baik dan tidak ada hal buruk pernah dia lakukan. namun sebagian lagi merasa curiga karena memang kadang muncul keanehan ketika mereka sedang bekerja di kebun jagung ini.
Asep sendiri memang sangat yakin bahwa Bu Sarah adalah wanita baik dan tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti itu, jadi Umar tidak berani bercerita kepada sang teman bagaimana rasa kecurigaan ini muncul di dalam hati. lebih baik diam karena itu jelas akan menjadi bumerang bila dia sampai bercerita kepada Asep.
"Mau kemana kok pergi siang gini, Mar?" Asep bertanya karena tidak biasa Umar pergi saat siang hari.
"Beli obat mencret dulu lah aku, dari tadi perut ini terasa mules." dusta Umar.
"Eh aku punya ini, ambil saja punya aku kalau kau memang sedang tidak enak perut." Asep malah mengeluarkan obat dari dalam tas.
"Sialan, ini gimana caranya aku pergi dari sinilah." Umar jadi bingung sendiri untuk mencari alasan.
"Ni, tapi makan harus dua kapsul langsung biar bisa reda." Asep menjelaskan cara makan kapsul yang ada di tangan dia saat ini.
"Lah aku kalau yang ini kurang mempan, Sep." Umar menolak karena sebenarnya dia juga sedang tidak mengalami diare.
"Oh enggak mempan, Ya sudah sana pergi cari ke warung kalau memang mau membeli obat." Asep tidak memaksa sehingga Umar merasa lega.
"Aku pergi dulu kalau begitu ya, cari obat ini sekalian mau beli es." Umar tersenyum agak kikuk.
Asep melambaikan tangan dan dia tidak banyak bertanya lagi kepada Umar, sebab kalau siang hari begini memang terasa panas dan dia juga sedang makan siang sehingga kurang fokus untuk melihat hal lain. Umar juga merasa lega karena Asep tidak banyak bertanya, padahal tadi dia sudah sangat berdebar karena takut Asep akan mengetahui niat dia pergi dari pekerjaan siang hari begini.
"Ada saja halangan aku mau memberitahu Mbak Purnama, aku sudah tidak sanggup mengantongi gigi yang tidak tahu ini milik siapa." batin Umar agak resah.
"Untung dia tidak banyak bertanya lagi aku akan pergi ke mana, Asep sepertinya sangat berpihak kepada bu Sarah." ujar Umar sendirian.
Memang bisa dia rasakan bahwa Asep sangat berpihak kepada bu Sarah, dia selalu membicarakan kebaikan dari wanita itu dan bila ada orang yang mengatakan bahwa Bu Sarah memiliki sesuatu maka Asep akan sangat tidak terima, sebab selama ini dia memang merasa bahwa Bu Sarah adalah wanita yang baik.
...****************...
"Tumben kau datang siang begini, Mar." tegur Purnama ketika Umar sudah duduk di hadapan dia.
"Ini aku ada sesuatu yang akan dikatakan, tapi agak tidak masuk akal juga." Umar menjadi agak ragu ketika sudah berhadapan dengan Purnama.
"Kenapa kau merasa tidak masuk akal tapi malah membawa hal itu kepada diriku?" tanya Purnama kembali.
Padahal membuat Umar grogi tentu saja karena pandangan Purnama yang begitu tajam, tadi saja di jalan dia sudah sangat yakin ingin memberitahu Purnama bahwa dia sedang memiliki sesuatu yang harus diurus, namun ketika sudah berhadapan langsung seperti ini malah mental Umar menjadi ciut seketika.
"Entah ini benar atau tidak tapi tadi aku menemukan gigi ketika sedang menyebar pupuk di ladang milik Bu Sarah." Umar langsung memberikan gigi di atas meja.
"Gigi siapa?" Purnama agak bengong karena mendadak saja Umar memberikan gigi.
"Aku tidak tahu itu milik siapa, tapi aku merasa aneh saja karena mendadak ada sebuah gigi di pupuk yang selalu Bu Sarah berikan kepada kami." jelas Umar.
"Tatap mata ku sekarang!" Purnama tidak sabar dan dia ingin membaca pikiran Umar saja.
Maka pandangan mereka bertemu sehingga Purnama pun bisa mengerti apa yang sedang Umar pikirkan saat ini, jelas Umar sedang merasa curiga bahwa kemungkinan besar pupuk itu telah terbuat dari manusia yang selama ini menghilang di ladang jagung milik Bu Sarah itu.
Purnama juga agak kaget ketika Umar memiliki pikiran yang demikian, memang terkesan aneh namun ketika di perhatikan dengan seksama maka pupuk itu memang selalu berbau amis. jadi wajar saja saat mendadak Umar merasa curiga dan merasa gigi ini adalah milik orang yang telah Bu Sarah bunuh.
Maka Purnama menatap Kiara yang kebetulan juga ada di sana dan memberikan gigi itu kepada sang anak, Kiara bisa menerawang sehingga nanti dia akan mengetahui siapa pemilik gigi tersebut, entah itu memang gigi orang yang tidak sengaja copot atau karena orang itu meninggal dunia.
"Kau Kenapa bisa memiliki pikiran seperti itu, Mar?" Purnama bertanya kembali.
"Entah lah, hanya saja aku memang selalu merasa aneh dengan pupuk yang Bu Sarah berikan." jawab Umar.
"Apa bau amis dari pupuk itu sangat mencolok?" tanya Purnama ingin memastikan terlebih dahulu.
"Ini, aku tadi sempat membawa satu genggam karena ingin membuktikan kepada dirimu." Umar berdiri dan meraba kantong celana dia.
Umar memang jenius sehingga dia tidak melewatkan kesempatan ketika semua orang sedang lengah tadi, sengaja dia mengantongi pupuk tersebut agar Purnama bisa mencium sendiri bagaimana amis dan bau pupuk yang telah Buk Sarah berikan kepada mereka selama ini.
Selamat siang semuanya, jangan lupa like dan komen kalian buat author ya.
semoga masalah ini bisa di seleaiakan oleh mba Purnama dan para membernya...
penasaran ada berapa iblis yang sudah di pelihara sama bu sarah ya di kebun jagung itu... .
sepertinya bu sarah lupa kalo ras ular adalah makhluk paling licik...
kalo bu sarah bisa licik begitu jangan harap bisa memang lawan mba Purnama yang super licik...
siap2 aja jadi penghuni lembah kematian bersama para pengikutnya...
🤣🤣🤣🤣🤣🤭
kn semalam berhasil tuh dpt korban 2 orang yg lagi kuda-kudaan di kebun jagung 🤣🤣
dn pagi nya lngsung nyebar pupuk nya 🤣🤣