Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Mantan Dan Kirana
Malam itu, Kirana tidak bisa tenang dia bolak-balik di kamar Kirana duduk lalu berdiri tak lama dia duduk lagi.
Pikirannya terus kembali ke satu hal pria di depan restoran tadi dan semakin Kirana mencoba menepisnya semakin kuat perasaan itu muncul.
“Itu Damar, ” bisiknya pelan Kirana memejamkan mata berusaha menepis menggeleng keras.
“Enggak.jangan gila" namun detik berikutnya Kirana sudah meraih mantelnya.
Keputusan itu datang begitu saja tanpa rencana dan tanpa logika.
Beberapa menit kemudian Kirana sudah berdiri di depan lift apartemen itu napasnya tidak teratur.
Tangannya dingin.
“Maaf, Damar…” bisiknya pelan. “Aku harus tahu.” Ucap Kirana lagi lift berbunyi.
Ding.
Pintu terbuka Kirana melangkah masuk tangannya gemetar saat menekan angka 12.
“Semoga aku salah…” ucapnya lagi hampir seperti doa.
Ding.
Pintu lift terbuka langkah Kirana terasa berat namun dia tetap berjalan menuju unit apartemen itu.
Semakin dekat jantungnya semakin kencang sampai akhirnya dia berdiri tepat di depan pintu sunyi dan hening.
Tangannya terangkat lalu berhenti di udara.
“Kirana…” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu siap?”
Tidak ada jawaban hanya rasa takut dan keberanian yang dipaksakan dengan tangan gemetar dia memasukkan kode pintu.
Klik.
Pintu terbuka Kirana melangkah masuk.
Awalnya dia tersenyum melihat Damar duduk di meja makan seolah semua ketakutannya tidak nyata.
Namun senyum itu langsung menghilang Karena tidak hanya ada Damar di sana.ada seorang perempuan berdiri tidak jauh dari meja wajahnya sangat cantik dan asing.
Kirana membeku perempuan itu juga tertegun Damar yang menyadari suasana berubah langsung menoleh.
Dan wajahnya langsung berubah.
“Kirana,” Nada suaranya jelas terkejut.
Tangan Kirana mulai bergetar matanya berkaca-kaca.
Dunianya terasa seperti runtuh dalam satu detik.
Damar langsung berdiri mendekatinya namun langkahnya terhenti saat perempuan itu ikut mendekat.
“Damar siapa dia?” tanya perempuan itu.
Damar menelan ludah dia tidak langsung menjawab.
Dan itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Kirana menatapnya menunggu namun yang Kirana dapat hanya diam.
Perempuan itu kembali bertanya. “Pacar kamu?” Sunyi beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Lalu,
“Teman dekat,” jawab Damar akhirnya pelan namun cukup jelas seperti pisau yang menusuk langsung ke dada Kirana matanya membelalak.
“Teman dekat?” ulang Kirana pelan, hampir tak terdengar.
Perempuan itu tersenyum tipis lalu melangkah mendekat ke arah Kirana.
“Aku Salma,” katanya tenang sambil mengulurkan tangan. “Mantan pacar Damar.” dia sengaja menekan kata mantan.
Kirana tidak bergerak juga tidak membalas uluran tangan itu Kirana hanya menatap Damar.
Penuh luka dan penuh kecewa.
“Oh,” lanjut Salma santai, “jadi kamu Kirana yang sering Damar ceritakan?” Damar langsung menoleh.
“Salma, cukup,”
Namun Kirana sudah tidak mendengarkan semua terasa bising.dadanya sesak.
“Maaf kalau Aku ganggu,” ucap Kirana pelan lalu dia berbalik langkahnya cepat namun sebelum keluar dia sempat menoleh menatap Damar tatapan yang penuh luka lalu pintu tertutup.
Damar berdiri diam beberapa detik pikirannya kosong situasi itu terlalu cepat terlalu kacau.
“Damar…” panggil Salma pelan namun Damar tidak menjawab dia langsung berlari keluar.
Kirana masih berdiri di depan lift air matanya akhirnya jatuh dia mencoba menahannya.tapi tidak bisa dadanya terasa sesak.
“Bodoh,” bisiknya pada diri sendiri lift terbuka.
Ding.
Kirana masuk menekan tombol pintu hampir tertutup namun tangan Damar menahannya dia masuk napasnya sedikit terengah.
“Kirana, kita harus bicara,” ucapnya nada suaranya lebih tenang namun tetap tegas.
Kirana tertawa kecil pahit.
“Untuk apa lagi?” jawabnya tanpa menatap Damar.
“Kamu berhak tahu,” kata Damar. “Dan aku akan jujur.”
Kirana akhirnya menoleh menatap Damar.
“Jujur?” ulangnya pelan. “Sekarang kamu ingat soal jujur?” Damar terdiam.
Lift bergerak turun suasana hening tegang Kirana menghela napas panjang lalu berkata pelan.
“Baik.” Damar menatapnya. “Kita bicara ” lanjut Kirana.
“Tapi kali ini jangan ada yang kamu sembunyikan.”
Pintu lift terbuka namun mereka tidak langsung keluar karena mereka tahu percakapan ini akan mengubah segalanya.