Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ipar tak tau diri
Suara langkah-langkah tergesa menggema di lorong rumah sakit malam itu. Lampu neon putih menyorot tajam, membuat wajah-wajah yang lelah tampak semakin pucat. Di kursi tunggu, Aluna duduk dengan mata merah. Tangannya menggenggam tas kecil lusuh yang kini kosong. Harapan satu-satunya hanya tinggal kata-kata.
“Mbak… aku mohon… Aku cuma minjem kok. Nanti aku ganti yang lebih bagus. Ini demi ibu, mbak…” suara Aluna bergetar, hampir tak terdengar.
Annisa, kakak iparnya hanya melirik dingin. “Nggak ya, Lun. Lagian, mbak pinjamin pun nggak akan cukup buat biaya operasi ibu.”
Kata-kata itu tajam, tapi benar. Biaya operasi Bu Sasmi mencapai ratusan juta dan Aluna tahu kakak iparnya tidak sepenuhnya salah. Tapi di dadanya, perasaan sakit itu menyesak karena yang dibicarakan adalah ibu mereka, bukan orang lain.
“Ya ampun, Mbak Nisa. Sama mertua sendiri pelit amat sih.” sindir Friska kesal melihat pelitnya Annisa.
Annisa langsung menoleh, matanya tajam. “Diam kamu. Jangan ikut campur. Sumber masalah sebenarnya tuh kamu. Kamu yang bikin Aluna tersesat. Dari awal aku udah feeling kamu bukan orang baik.”
Friska tertawa sinis. “Memang mbak pikir, mbak lebih baik dari aku? Ngaca dulu, deh. Selama ini perlakuan mbak ke Aluna dan ibu itu kejam.”
“Sudah! Cukup semua!” seru Sultan, suami Annisa dan kakak kandung Aluna yang sejak tadi hanya diam. “Yang harus kita pikirkan sekarang tuh uang buat operasi ibu, bukan saling menyalahkan.”
Tapi suasana semakin panas. Annisa melipat tangan di dada lalu menatap Aluna dengan tatapan merendahkan.
“Kenapa kamu nggak jual diri lagi aja, Lun? Pasang tarif mahal sekalian, biar cepat kumpul uang buat ibu.”
Suara itu langsung memecahkan segalanya.
“PLAAKK!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Annisa. Suara itu menggema di antara pasien yang menoleh penasaran.
“ALUNAAA!” teriak Sultan, kaget sekaligus marah.
Aluna menatap balik dengan mata berair. “Apa Kak? Kak Sultan nggak terima aku tampar istri kakak ini? Seharusnya aku robek juga mulut mbak Annisa ini. Aku juga nggak terima, Kak. Aku memang kerja di klub iya, tapi aku nggak jual diri seperti yang dia bilang. Aku udah jelaskan, aku nggak punya pilihan lain waktu itu. Tapi mulut istri Kak Sultan ini seperti bisa ular. Dulu manis, sekarang setelah kita jatuh miskin, aslinya baru kelihatan. Bahkan buat nyelamatin ibu aja, dia nggak mau berkorban."
Annisa memegang pipinya, wajahnya merah. “Heh, Aluna. Nggak usah sok suci. Mana ada orang kerja di klub tapi nggak jual diri? Kamu sama aja kayak perempuan di sampingmu ini, menjijikkan.”
Friska berdiri. “Ck, kamu kayak orang paling bersih aja, Mbak. Malu-maluin.”
“Diam semuaaa!” teriak Sultan, suaranya membelah udara.
Beberapa pasien mulai memperhatikan mereka. Salah satu perawat datang menegur, “Bapak, Ibu, kalau mau bertengkar, silakan keluar dari ruang tunggu. Jangan ganggu yang lain.”
Semua terdiam. Annisa menunduk, tapi bukan karena malu tapi karena kesal. Aluna hanya menarik napas dalam menatap lantai dingin rumah sakit itu. Mereka jadi tontonan.
Tak lama, suster lain datang. “Maaf, Pak. Kondisi Bu Sasmi belum ada perubahan sampai sekarang ini, jadi mohon segera dilunasi biaya operasi agar bisa segera ditindak.”
Suster itu pergi, meninggalkan mereka dengan wajah-wajah bingung dan tanpa jawaban.
Di saat suasana makin tegang, ponsel Annisa berdering. Ia mengangkat cepat, berbicara sebentar lalu menatap suaminya.
“Mas, ayo pulang. Anak-anak pada nangis nyariin kamu.”
Aluna menatapnya tak percaya. Di saat genting seperti ini, bagaimana bisa Annisa masih memikirkan rumah?
Sultan menghela napas. “Kamu pulang aja, Nis. Aku di sini tungguin ibu.”
“Tapi, Mas… anak-anak nyariin kamu. Lagian kamu di sini juga nggak akan dapet uang 380 juta kan? Sudah, mending kita pulang dan pikirin di rumah.” Annisa menatap tajam penuh maksud.
Sultan diam lama. Akhirnya ia berkata pelan, “Ya sudah, Lun. Kamu kabarin kalau ada apa-apa sama ibu, ya. Mas nanti cari pinjaman ke kantor atau teman-teman.”
Aluna hanya mengangguk. Annisa langsung menarik tangan suaminya dan keduanya pergi tanpa menoleh lagi.
Sepanjang jalan, Annisa terus menggerutu, mengeluh soal utang dan jatah bulanan yang pasti berkurang jika suaminya benar-benar meminjam uang.
Friska yang menyaksikan dari bangku tunggu hanya bisa menggeleng. “Gila… tingkat kepedulian iparmu minus banget. Mertua dirawat malah pulang.”
Aluna duduk bersandar di kursi, wajahnya tertunduk. Matanya kembali basah. “Aku harus gimana, Fris?”
Friska ikut duduk di sampingnya, menatap kosong ke depan. “Aku juga bingung, Lun.”
Mereka terdiam lama. Hanya suara langkah suster dan aroma obat antiseptik memenuhi udara.
“Apa aku ambil aja tawaran dari Pak Marko?” gumam Aluna lirih, tapi cukup membuat Friska menoleh cepat.
“Tawaran Pak Marko? Maksudnya gimana, Lun?”
Aluna menggigit bibir. “Kemarin Pak Marko nawarin aku buat menikah sama dia.”
“Apa?! Nikah? Sama Pak Marko? Serius?”
Aluna mengangguk lemah. “Tapi cuma istri kontrak, Fris. Tiga tahun. Dan aku harus kasih dia anak laki-laki buat penerusnya.”
Friska terperangah. “Maksudnya kamu cuma dijadiin tempat produksi, gitu?”
Aluna mengangguk lagi, kali ini sambil menahan tangis. Ia menceritakan semuanya, tentang pertemuannya dengan Marko, syarat-syarat anehnya dan janjinya akan memberi sejumlah uang besar. Friska mendengarkan tanpa memotong, mencoba memahami keputusan sahabatnya yang terdesak keadaan.
“Menurutmu, aku terima aja ya, Fris? Demi ibu. Aku nggak mau ibu kenapa-napa. Aku bakal ngerasa bersalah seumur hidup kalau sampai terlambat.”
Suara Aluna parau, seperti pecahan kaca di tenggorokan.
Friska menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. “Ikuti kata hati kamu, Lun. Aku nggak bisa bilang iya atau tidak. Tapi kalau kamu terima, kamu tahu risikonya kan? Tiga tahun kamu bakal terikat sama dia. Nggak ada jaminan kamu bisa lepas dengan mudah.”
“Aku tahu, Fris. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Semua ini buat ibu.”
Aluna menunduk, air matanya jatuh satu-satu ke lantai dingin.
Friska menggenggam tangan sahabatnya erat. “Ya sudah, apa pun keputusan kamu, aku dukung.”
Aluna mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tapi kini di dalamnya ada sedikit ketegasan. “Aku mau telepon Pak Marko.”
Tangannya bergetar saat meraih ponsel. Dua kali panggilan tak dijawab. Baru di panggilan ketiga, suara berat di seberang sana terdengar.
“Ya, ada apa?” suara Marko terdengar datar, formal. Sepertinya ia sedang sibuk.
“Maaf, Pak… apa tawaran Bapak waktu itu masih berlaku?” suara Aluna bergetar, hampir pecah.
Marko terdiam sejenak di seberang sana. Dahi lelaki tinggi tegap itu berkerut. Dari nada suaranya saja, ia tahu perempuan itu sudah menyerah pada keadaan.
Happy Reading yah gaes. jangan lupa bantu promo