NovelToon NovelToon
Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hashifa

“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”

Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.

Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.

Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noktah di atas putih

“Noda apa ini?” gumam Sekar penasaran.

Ia mencoba menggosoknya pelan. Noda itu tidak hilang, hanya memudar sedikit.

Perlahan ia mendekatkan kemeja putih itu ke hidungnya, mengendus samar. Aromanya tidak menyengat, tapi ada aroma manis yang terasa asing.

“Mas … ke sini sebentar, deh,” panggilnya.

“Kenapa, Sayang? Mas belum selesai. Kalau kamu capek, cuci saja besok pagi. Jangan terlalu capek,” sahut Raka tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

Sekar menarik napas, lalu melangkah ke ruang keluarga. Ia berdiri di depan suaminya.

“Mas.”

“Hm?” Raka masih mengetik.

Sekar menyodorkan kemeja itu. “Ini kena noda apa, ya?”

Raka mendongak. Pandangannya jatuh pada bagian yang ditunjuk Sekar. Untuk sepersekian detik rahangnya menegang, lalu kembali normal seolah tak terjadi apa-apa.

“Oh, itu?” Ia tersenyum ringan. “Tadi siang kayaknya kena tinta spidol. Ada presentasi di depan klien. Bagas aku suruh urus dokumen, jadi aku yang pegang semuanya.”

“Tinta?” Sekar mengerutkan kening tipis. “Tapi kok warnanya merah banget. Kayak … lipstik.”

Raka menutup laptopnya pelan. Ia bangkit, mendekat, meraih tangan Sekar yang memegang kemeja itu. Ia mengamati noda itu untuk sesaat dan kembali terkekeh.

“Ini tinta, Sayang. Lagian kalau memang lipstik, menurut kamu lipstik siapa? Kamu aja jarang pakai warna merah terang begitu.”

Pria itu meletakkan kemejanya di atas meja, lalu merengkuh wajah istrinya dengan lembut menatap Sekar yang tampaknya belum puas dengan jawabannya.

“Kenapa? Kamu curiga sama aku?” bisiknya pelan, bukan marah—justru terdengar sedikit terluka.

Sekar terdiam. “Aku cuma tanya, Mas. Wajar, kan?”

Raka menatapnya lebih lama. Tatapannya melembut.

“Ya wajar, dong. Kan, suami sendiri.” Ia kembali merengkuh wajah istrinya. “Itu memang noda tinta spidol.”

Sekar masih tak menjawab. Tatapannya masih sama, mencoba mencari sesuatu namun tidak ia ketahui—atau setidaknya belum.

“Sejak kapan kamu meragukanku?” lanjut Raka pelan.

Ia lalu memeluk Sekar, menempelkan dagunya di atas kepala istrinya.

“Aku lagi senang banget hari ini. Jangan rusak kebahagiaan kita cuma karena noda yang nggak jelas,” bisiknya.

Sekar menghela napas panjang. “Maaf, Mas ….”

Raka tersenyum tipis, lalu mengecup keningnya. “Dimaafkan. Tapi jangan overthinking lagi, ya. Nggak baik buat kamu, buat janin kita,” bisiknya seraya mengusap perut Sekar pelan.

Sekar tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Raka kemudian mengangkat tubuhnya tiba-tiba.

“Mas!” Sekar memekik kecil.

“Sebagai hukuman karena sudah curiga,” ucap Raka ringan.

Ia membawa Sekar ke kamar membuat istrinya itu terkekeh, setengah malu, setengah pasrah. Namun saat kepalanya bersandar di bahu Raka, matanya kembali teringat pada noda itu.

Tinta spidol tidak beraroma manis. Dan noda itu terlihat mengkilap, meski samar.

***

Malam mulai larut. Sekar masih berbaring di pelukan hangat suaminya. Keduanya hening dengan pemikiran masing-masing.

“Mas, besok ke rumah Mama, yuk. Kita belum kasih tahu mama, loh, soal kehamilan aku. Sekalian kita makan malam aja di rumah Mama. Udah lama juga kita nggak kesana, kan?“ ajak Sekar tiba-tiba.

Raka tampak berpikir sejenak. “Boleh, itu ide bagus. Mas kirim pesan dulu sama Langit, biar bilang sama Mama kalau besok kita mau ke sana.“

Sekar mengangguk.

“Sekarang, tidur ya, udah malam. Nggak baik ibu hamil begadang.“ Raka mengecup kening istrinya sebelum mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.

***

Sementara itu, di tempat lain, Langit masih membaca pesan dari Raka yang ia terima beberapa saat lalu.

“Dari dulu sampai sekarang, kamu memang pandai bersandiwara, Raka,” gumamnya lirih.

Pikirannya melayang dua tahun ke belakang, saat Raka memperkenalkan Sekar di hadapan keluarga Wiratama.

Gadis yang sudah ia kenal sejak lama—meski tak pernah benar-benar dekat. Mahasiswi vokal dan cerdas yang lulus dengan predikat cumlaude. Dulu pernah berdebat sengit dengannya di kelas ketika ia masih menjadi dosen muda.

Langit tak pernah menyangka pertemuan Sekar dan Raka dalam acara CSR perusahaan akan berujung serius. Raka menunggu sampai Sekar menyelesaikan kuliahnya. Setelah wisuda, lamaran menyusul. Lima bulan lalu, pernikahan digelar.

Semua terlihat sempurna, bahkan terlalu sempurna. Tanpa ada yang tahu, ada noktah hitam yang tersembunyi dibalik sikap Raka yang perhatian dan memanjakan Sekar.

Ponselnya berdering membuyarkan lamunan.

“Katakan.”

Suara di seberang terdengar hati-hati.

“Data tambahan sudah masuk, Pak. Kecurigaan Bapak benar. PT Gema Cipta Prima punya keterkaitan dengan PT Mega Karsa Mandiri.”

Mata Langit menyipit.

“Perusahaan keluarga Wibisono?”

“Betul, Pak.“

Langit terdiam sesaat. Ia tahu betul siapa keluarga Wibisono. Tapi sayangnya Raka tidak pernah menyadari siapa yang ia hadapi saat ini.

“Mereka butuh dana besar dalam waktu dekat,” lanjut suara di seberang. “Beberapa transaksi internal mengarah ke rekening yang terhubung dengan mereka.”

Langit mengembuskan napas pelan. “Sudah kuduga. Terus kumpulkan bukti. Laporkan semua pergerakan mereka. Jangan sampai ada yang curiga.”

“Baik, Pak.”

Sambungan terputus. Langit menatap lagi pesan dari Raka.

“Makan malam keluarga. Dan sekali lagi, aku harus melihat wajah penuh topeng itu,” gumamnya pelan.

***

Keesokan malamnya, rumah keluarga Wiratama tampak lebih hangat dari biasanya. Ayunda sudah sibuk sejak sore menyiapkan makan malam untuk putra dan menantunya. Aroma masakan dari dapur tercium harum memenuhi ruangan.

“Bik, tolong siapkan piringnya, ya. Terus atur semuanya. Oh ya, jangan lupa ikan bakarnya. Sekar kurang suka ayam,” ucapnya antusias.

Bik Mimin mengangguk patuh.

Langit yang berdiri di ambang pintu dapur tersenyum tipis—senyum yang jarang ia perlihatkan, kecuali di depan ibunya.

Ia mendekat lalu memeluk Ayunda dari belakang.

“Ma, sudah. Jangan terlalu capek. Biar Bik Mimin saja yang urus. Mama nggak boleh kelelahan,” tegurnya lembut.

Ayunda menoleh, mengusap kepala putra bungsunya.

“Hari ini kakak kamu pulang. Anak itu susah sekali disuruh mampir. Mama kangen sama mereka, sama Sekar juga. Mentang-mentang pengantin baru, dikurung terus di rumah,” keluhnya setengah bercanda.

Langit terkekeh kecil. Sejak kepergian ayah mereka, Ayunda memang lebih mudah merasa sepi. Raka sudah tinggal terpisah, sementara Langit pun sering bermalam di apartemennya.

Suara klakson terdengar dari depan.

Ayunda bergegas ke jendela. “Itu mereka.”

Di halaman, Sekar turun lebih dulu. Tangannya refleks meraih lengan Raka.

“Pelan-pelan,” gumam Raka lembut, tangannya sigap menopang pinggang istrinya.

Pintu sudah terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.

“Mama sudah lihat dari jendela,” ucap Ayunda dengan senyum lebar. “Lama sekali kalian nggak ke sini.”

Sekar tersenyum, mencium tangan mertuanya. “Maaf, Ma. Akhir-akhir ini Mas Raka sibuk.”

“Ayo masuk. Langit juga sudah datang.”

Nama itu membuat Sekar menoleh ke ruang tengah. Pandangan mereka sempat berpapasan singkat sebelum sama-sama mengalihkan.

Mereka berkumpul di ruang makan. Suasana terasa hangat, sendok dan piring beradu ringan.

“Ma, sebenarnya ada yang mau Sekar dan Mas Raka kasih tahu,” ucap Sekar pelan di sela makan.

Ayunda langsung mengangkat wajah. “Kenapa? Kalian baik-baik saja, kan? Kalian bertengkar?”

Sekar tertawa kecil. “Baik, Ma. Malah lebih dari baik.”

Ia menoleh pada Raka.

“Katakan saja, Sayang.” Begitu ucap Raka.

Sekar mengeluarkan amplop kecil dari dalam tasnya dan menyodorkannya.

“Apa ini?” tanya Ayunda penasaran.

“Buka saja, Ma.”

Ayunda membuka amplop itu. Beberapa detik kemudian, matanya membesar.

“Mama … mau punya cucu?” suaranya bergetar antara tak percaya dan bahagia. “Sekar, kamu hamil?”

Sekar mengangguk, senyumnya hangat. “Alhamdulillah, Ma. Mohon doanya.”

Ayunda bangkit dan memeluknya. “Tentu. Mama doakan yang terbaik.”

Ia kemudian menoleh ke arah Langit.

“Kamu kapan nyusul? Kakak kamu sudah mau jadi ayah.”

Langit menghentikan gerakan tangannya sesaat.

“Belum ada yang cocok, Ma,” jawabnya ringan.

“Kamu itu terlalu pemilih. Dari sekian banyak mahasiswi kamu, masa tidak ada satu pun yang bikin tertarik?”

Langit terdiam sepersekian detik.

“Ada,” ucapnya akhirnya. “Tapi sudah bukan untuk Langit, Ma.”

Ayunda mengerutkan kening. “Maksudnya apa itu?”

Langit hanya tersenyum tipis dan kembali menyentuh gelasnya. Suasana kembali mencair, meski ada jeda tipis yang tak terucap.

Tiba-tiba ponsel Raka berdering.

Ia melirik layar sebentar.

Senyumnya yang tadi lepas perlahan memudar. Jarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat sebelum berdiri.

“Sayang, Mas angkat telpon sebentar ya,” ucapnya singkat.

Tanpa menunggu jawaban, Raka pergi meninggalkan meja makan membuat Sekar merasa heran.

“Siapa yang telpon?“

1
bintang laut🌟
drpd milih opsi menikahi Anita apa Raka akan melenyapkan Anita🤔
Hashifa: kita lihat yaa😎
total 1 replies
Yuli Yulianti
aduh Raka kali ini penyesalan tidak akan berguna cuma nunggu giliran terbongkar aj
bintang laut🌟
astoge Raka kenapa pake masuk ruang kerja sih. kan bang Langit belum nemuin bukti2 ny🤭
Hashifa: kalau di kasih tahu langsung bukannya dinikahin malah di penjara kak😅
total 2 replies
bintang laut🌟
syukurin lu Rak selamat datang huruhara kehancuran mu😂
bintang laut🌟
itung2 latihan napa bang Lang, ntar kalu Sekar hamil anakmu km gak kaget lagi ngadepin ngidam ny bumil😂
Hashifa: 🤣🤣🤣🤣 ga ngefek kak 🙈🙈🙈
total 5 replies
Yuli Yulianti
anita kamu mau mengakui dirimu selingkuhan Raka dihari pengajian 4 bulanan Sekar malah memudah kan Sekar lho kamu nggak tau aj berapa banyak perempuan nya Raka yg ad kamu sendiri syok
Hashifa: mereka sama-sama licik kak 😌
total 1 replies
bintang laut🌟
astoge ini anak nya Raka atau yg pacar aslinya. duh mana lupa nama😂
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bintang laut🌟: 😂😂 nama ny juga ulet bulu gak ada yg bener. ntar juga mereka lama2 pd nyungsep itu nunggu panen ny atas kelakuan yg tidk bermoral😂
total 5 replies
bintang laut🌟
kalau dulu ada kisah antara Kania n Langit...lah proses terjadi Zayn gimana gak sengaja ap salah satu ada yg mabok..thor aku lupa kisah nya pernah di spil belum sih di bab seblumnya🙈
Hashifa: udah pernah di Spil cuma baru secuil. dulu si Kania ini pacarnya Langit tapi direbut sama Raka. Pas hamil, ditinggalin tuh, malah disuruh gugurin kandungannya 😌😌😌
jahat banget ya si Raka tuh
total 1 replies
bintang laut🌟
duh sayang teh nya masih utuh😂
bintang laut🌟
apah ini. ada kisah dimasa lalu ternyata🤭
Hashifa: iyaa... tapi pas udah sama Sekar dia juga main sama Anita. bahkan honeymoon aja dia bawa tuh gundik. kurang edan apalagi coba 😌😌
total 3 replies
bintang laut🌟
huaaaa baru juga baca udah dibikin mewek😭
bintang laut🌟: ho'oh apalgi proses ada ny Zayn diluar pernikahan apa gak dobel2 nyesek nya tuh si Zayn. Zayn km awet aj jd bocil biar gak sakit terima kenyataan
total 2 replies
bintang laut🌟
semangat Gas, semoga cepet dpt informasi dan video nya...
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
Hashifa: tenang... part selanjutnya muncul kok. dan siap2 baper sama istri orang 🤣🤣🤣
total 1 replies
bintang laut🌟
apah. serius Zayn bapakmu macam Raka. kok aku gak ikhlas km punya bapak Raka😭😭😂
bintang laut🌟: wkwkwk. kan jdi penasaran🙈😂
ok siap menunggu bab selanjutnya😂
total 5 replies
bintang laut🌟
hoh ternyata Raka tak direstuin ama bapak nya Sekar ish kongkalikong ini am yg buat kecelakan bapak ny Sekar
Hashifa: ada alasan kenapa ga setuju bapaknya. wait yaaa... nanti terbuka satu persatu 😁
total 1 replies
bintang laut🌟
oh jadi video potongan ini ya thor yg waktu itu Raka bilang ama Anita kan ya kalau Bagas berani bicara maka Bagas bisa masuk penjara
Hashifa: yess... betul.. ketemu kan benang merahnya 😎
total 1 replies
bintang laut🌟
ini yg ngirim file rekaman gak bisa ditelurusi kah waktu itu. minta bantuan tim IT gitu🤭🙈
Hashifa: buntu Kak, penjelasan di next part yaaa
total 1 replies
bintang laut🌟
duh rekaman video opo maneh iki🙈😂
Hashifa: hampir benar... next bab yaa... kebuka dikit2 🤭
total 3 replies
bintang laut🌟
ini kan....
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂
Hashifa: wkwkwk... sabarr
total 1 replies
bintang laut🌟
belum jd bini, udah perhatian aj nih bang Lang🙈
Hashifa: ya gimana dong... calon-calon bucin 🤭🤣
total 1 replies
Endang Supriati
lagian ngapain kirim pesan ke Raka!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!