Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
3 hari kemudian ada balasan Email untuk melakukan Interview.
Esoknya....Zara berdiri di depan gedung itu…lagi.
Gedung tinggi.
Lobby elegan.
AC yang dingin sekali.
Ia menatap alamat di koran.
Lalu menatap papan nama perusahaan.
Lalu menatap lagi.
“…Ya Allah.” matanya melebar.
Ini.
Ini gedung yang sama.
Gedung salah kirim bunga.
Gedung cowok serius tapi ganteng itu.
Zara memegang map lamarannya erat.
“Tenang Zara. Jakarta luas. Masa iya assistant pribadinya dia? Mana mungkin. Dunia nggak sesempit itu.”
Dunia memang kadang suka bercanda.
Lift terbuka.
Zara melangkah masuk.
Jantungnya mulai berdetak aneh.
Begitu pintu lift terbuka di lantai yang dituju,
Ia langsung mengenali ruangan itu.
Meja resepsionis yang sama.
Tanaman sudut yang sama.
Dan pintu kaca besar di ujung koridor itu.
“Hilang aja gue… hilang… belum sempat interview udah pengen resign.”
Seorang staf menghampiri.
“Untuk posisi assistant pribadi?”
Zara mengangguk cepat.
“Silakan tunggu sebentar. Bapak yang akan langsung Interview.”
Bapak?
Bapak siapa.
Zara meyakinkan diri, pasti itu bapak lain bukan bapak Ken…iya kan!
Pintu kaca itu terbuka.
Seoranh Wanita cantik dan wangi memanggil Namanya untuk masuk.
“Zara Florista…”
“Iya saya…”
“Silahkan masuk untuk Interview”
Dan di sana.
Berdiri.
Kenzy Maheswara.
Setelan gelap. Tatapan tenang. Ekspresi profesional.
Dan jelas mengenal wajah Zara.
Dua detik hening.
Zara membeku total.
“Oke,” gumamnya pelan ke dirinya sendiri. “Semesta memang suka ngetes mental.”
Zara berjalan mendekat.
“Saya tidak menyangka akan bertemu Anda lagi.”
Zara tersenyum kaku.
“Saya juga nggak menyangka hidup secepat ini memberi saya karma.”
Ken mengangkat alis tipis.
“Kursi itu untuk duduk.”
“Saya tahu..”Zara menjawab
“Silahkan duduk.”
“Ahh…ya, terimakasih.” Jantung zara benar-benar berdetak tidak karuan
“Pengen pulang aja aku…, tapi toko dan bibi?...”batinnya bergelud
Ia duduk di kursi depan meja kerja Ken.
Tangannya sedikit gemetar tapi ia paksa santai.
“Jadi,” ucap Ken membuka map lamaran, “Anda melamar sebagai assistant pribadi.”
“Iya, Pak.”
“Kenapa tertarik?”
Zara berhenti sepersekian detik.
Karena jawabannya jujur banget: karena butuh uang.
Tapi tidak mungkin ia jawab begitu.
“Saya suka tantangan.”
Ken menatapnya.
“Tantangan seperti… salah kirim bunga?”
Zara langsung memejamkan mata.
“Pak, kita bisa nggak pura-pura itu nggak pernah terjadi?”
“Saya bukan tipe yang gampang melupakan.”
“Ahhh….Ottoke” dalam hati zara
Ken benar-benar harus menahan senyum sekarang.
Ia berdehem pelan.
“Baik. Jelaskan pengalaman kerja Anda.”
“Saya bekerja di toko bunga. Saya terbiasa melayani pelanggan, mengatur pesanan, mencatat keuangan, dan menghadapi komplain.”
“Kebetulan Toko bunga itu milik bibi saya sendiri jadi semua administrasi saya yang tangani dan bisa juga disebut assistant pribadi bibi saya.”
“Contohnya?”
Zara menatapnya tajam.
“Contohnya menghadapi orang yang bilang saya salah kirim padahal saya yakin benar.”
“Dan ternyata salah.”
“Dan ternyata salah,” ulang Zara pasrah.
Ken menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Assistant pribadi harus teliti.”
“Saya teliti.”
“Jarang salah?”
“Jarang,” jawab Zara mantap.
Ken menatapnya tanpa bicara.
Zara langsung mengoreksi, “Baiklah. Kadang. Tapi saya belajar dari kesalahan.”
Ruangan itu hening beberapa detik.
Ken memperhatikan gadis di depannya.
Ia tidak terlihat seperti pelamar pada umumnya.
Tidak terlalu formal. Tidak terlalu kaku.
Tapi ada sesuatu.
Kejujuran yang aneh.
“Kenapa Anda butuh pekerjaan ini?” tanya Ken pelan.
Zara terdiam.
Biasanya ia akan bercanda.
Tapi kali ini tidak.
“Saya ingin membantu menyelamatkan usaha keluarga saya,” jawabnya jujur.
Ken memperhatikan nada suaranya.
Berbeda dari sebelumnya.
“Hutang?”
Zara terkejut.
“Kok Bapak tahu? Indigo ya?”
“Saya menebak.”
Zara menarik napas dalam.
“Satu bulan lagi toko akan disita. Jadi saya nggak bisa pilih-pilih kerjaan.”
Ken terdiam.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam pikirannya.
Ia teringat laporan singkat yang semalam tidak sengaja ia lihat di meja kerja kakek di rumah.
Tentang sebuah toko bunga kecil bernama Florista.
Tentang hutang.
Tentang tenggat waktu.
Ia kembali menatap Zara.
“Pekerjaan ini tidak mudah. Jam kerja panjang. Tekanan tinggi.”
“Kalau diharuskan akan meeting ke luar kota, kerja cepat, harus teliti , menyiapkan segala keperluan pekerjaan saya.” Sanggup?
Zara mengangguk cepat.
“Saya akan melakukan semuanya tanpa mengeluh, saya akan lebih teliti, saya nggak masalah dengan meeting luar kota, jam kerja panjang.”
Sudut bibir Ken bergerak lagi.
“Dan jika saya marah?”
Zara berpikir dua detik.
“Saya minta maaf dulu. Nanti nangisnya di toilet.”
Ken akhirnya benar-benar tertawa pelan.
Bukan keras.
Tapi jelas.
Zara membeku.
“Bapak ketawa ya?”
“Sedikit.”
“Jangan. Saya sedang mempertaruhkan masa depan.”
Ken menutup map lamaran itu.
“Saya akan mempertimbangkan.”
Zara berdiri cepat.
“Baik. Apa pun hasilnya, terima kasih sudah… tidak mengusir saya.”
Ia hampir berjalan keluar sebelum berhenti mendadak.
Menoleh lagi.
“Pak.”
“Ya?”
“Kalau saya diterima… saya janji nggak akan salah kirim kopi Bapak.”
“Pastikan.”
Zara mengangguk mantap.
Lalu berjalan keluar.
Begitu pintu tertutup,
Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa sih hidup gue kayak sitkom…”
Di dalam ruangan, Ken berdiri diam beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Assistant pribadi yang cerewet.
Yang salah kirim bunga.
Yang tetap bercanda meski terdesak.
Menarik.
Sangat menarik.
Ia mengambil ponsel.
Mengetik satu pesan singkat.
“Proses berkasnya. Saya terima dia. Zara Florista”
Dan tanpa Zara tahu,
Babak baru hidupnya baru saja dimulai.