Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Di Balik Jendela Kaca
Perjalanan itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Kirana membawa Lyra menempuh perjalanan darat selama berjam-jam menuju sebuah desa terpencil yang udaranya jauh lebih dingin daripada Jakarta. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua yang asri namun sunyi, sebuah klinik rehabilitasi jiwa kecil yang dikelola oleh sebuah yayasan sosial.
"Kenapa kita ke sini, Bu?" tanya Lyra, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menggandeng tangan Lyra, menuntunnya melewati koridor yang sunyi hingga mereka berhenti di depan sebuah kamar paling pojok. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap ke kebun mawar yang sudah layu.
Di sana, di atas kursi kayu dekat jendela, duduk seorang wanita dengan daster putih yang bersih. Rambutnya panjang namun kusam, dan matanya menatap kosong ke luar jendela. Wanita itu sesekali tersenyum lebar, lalu tiba-tiba tertawa kecil tanpa suara, seolah sedang bercanda dengan bayangan yang hanya bisa ia lihat sendiri.
"Siapa dia, Bu?" bisik Lyra, hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri.
Kirana menarik napas panjang, air mata jatuh tanpa bisa ia bendung lagi. "Dia adalah Hana, Lyra. Adik angkatku, sahabat terbaikku... dan ibu kandungmu yang sebenarnya. Tadi aku terpaksa mengatakan ibu kandungmu meninggal, karena kenyataannya ini jauh lebih pahit dari pada kematian."
Lyra terpaku. Ia menatap wanita bernama Hana itu dengan tubuh yang mulai bergetar. "Ibu... apa yang terjadi padanya? Kenapa dia seperti ini?"
Kirana mengajak Lyra duduk di bangku kayu di koridor, jauh dari jangkauan pendengaran Hana. "Dulu, Hana adalah suster yang paling cerdas dan cantik di rumah sakit tempat kami bekerja. Dia adalah matahari bagi kami semua. Sampai suatu malam..."
Kirana menutup wajahnya dengan tangan, suaranya tercekat oleh kepedihan. "Seorang petinggi rumah sakit, pria berkuasa yang merasa bisa memiliki apa saja dengan uang dan jabatannya, menyeret Hana ke sebuah ruangan kosong. Pria itu memperkosanya, Lyra. Berulang kali."
Lyra menutup mulutnya, air mata mengalir deras. "Ibu..."
"Hana mencoba melapor, tapi pria itu mengancam akan membunuhnya dan keluarganya. Pria itu menghancurkan bukti, menyuap semua orang, dan memutarbalikkan fakta hingga Hana dianggap sebagai wanita penggoda. Hana kehilangan pekerjaannya, dia kehilangan akal sehatnya karena trauma yang begitu hebat, dan di tengah kegilaan itu... dia hamil. Dia mengandungmu."
"Jadi aku... aku lahir dari sebuah kejahatan?" rintih Lyra, merasa dunia di sekelilingnya hancur berkeping-keping.
"Bukan kejahatan, Nak. Kau lahir dari ketabahan Hana," Kirana menggenggam tangan Lyra. "Saat kau lahir, Hana bahkan tidak tahu kau adalah bayinya. Dia hanya tertawa sambil menggendong bantal. Itulah sebabnya Ibu membawamu, Ibu memberikan namaku di aktamu agar kau tidak menyandang nama pria terkutuk itu. Ibu ingin kau tumbuh tanpa mengetahui betapa busuknya dunia orang berkuasa."
Kirana menunjuk ke arah Hana lagi. "Sekarang kau paham kenapa Ibu sangat benci melihatmu bersama Sean? Pria Elgar adalah pria berkuasa. Mereka menjerat, mereka memaksakan kehendak, dan mereka menghancurkan wanita kecil seperti kita hanya untuk kepuasan sesaat. Ibu takut, Lyra... Ibu takut Sean akan mengubahmu menjadi seperti Hana."
Lyra kembali menatap Hana. Wanita itu kini sedang menyentuh kaca jendela, seolah sedang membelai wajah seseorang.
"Hana..." bisik Lyra pelan. Ia mendekati pintu kamar yang terbuka, melangkah masuk dengan ragu.
Hana menoleh. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Hana berhenti tertawa. Ia menatap Lyra dengan kening berkerut, seolah-olah ada secercah ingatan yang mencoba menembus kabut di otaknya.
"Cantik..." gumam Hana pelan. Ia mengulurkan tangannya yang kurus, menyentuh pipi Lyra. "Ada mawar di matamu. Kenapa kau menangis?"
Lyra tidak bisa menahan diri lagi. Ia memeluk wanita itu, memeluk ibu kandungnya yang tidak pernah mengenalnya. "Maafkan aku... maafkan aku..."
Hana tidak membalas pelukan itu, ia hanya tertawa kecil lagi sambil mengusap rambut Lyra. "Jangan menangis. Nanti harimaunya datang. Harimau besar yang suka menggigit..."
Lyra tersentak. Apakah 'harimau' itu adalah simbol dari pria yang menghancurkannya dulu? Ataukah itu adalah peringatan tentang Sean?
Di kejauhan, di luar gerbang klinik, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan decitan ban yang tajam. Sean Nathaniel Elgar keluar dari mobil itu dengan wajah pucat dan mata yang menyala karena amarah. Ia telah melacak posisi Lyra melalui satelit ponsel yang sempat menyala sebentar.
"Aku menemukanmu, Lyra," desis Sean, ia melangkah masuk ke dalam klinik dengan aura yang begitu mengintimidasi, tidak menyadari bahwa di dalam sana, sebuah rahasia paling kelam tentang kekuasaan pria baru saja terungkap, yang mungkin akan membuat Lyra membencinya selamanya.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...