Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23--Fans fanatik
Kamar mandi khusus artis itu sudah jadi heboh, dan ramai oleh beberapa orang, staf, manajer, dan lain-lain. Keributan, kepanikan, serta jeritan terdengar di sana. Anisa yang pertama kali sampai pada tujuan.
Gadis dengan rambut pendek itu mengatur napasnya, topi lucu berbentuk telinga kucing warna hitam yang ia kenakan di kepala ia rapikan terlebih dahulu, lalu ia mendekat.
Mata si gadis menyipit melihat keramaian di depan pintu kamar mandi.
Sebagai anak polisi yang punya jiwa keadilan tinggi ia menghampiri. “Apa yang sedang terjadi—”
DOR!
“Kya!!”
Jeritan para staf yang berkerumunan di sana terdengar nyaring. Sebuah tembakan dilancarkan di atas langit-langit, jenis tembakan ancaman.
“JANGAN MENDEKAT!!!” Ucap seorang pria dengan topi dan masker di wajahnya. Sial, gadis yang hendak ia culik terlalu banyak melawan sampai dia kehilangan waktu.
“Jangan ada yang mendekat satu langkah pun!”
Tangan pria bermasker itu kini sudah melingkar kuat di leher Kanaya dari belakang. Satu lengannya mengunci tubuh gadis itu, sementara telapak tangan yang lain menutup mulutnya rapat dengan kain berbau menyengat.
Kanaya setengah sadar. Tubuhnya lemas, tapi matanya masih terbuka—penuh ketakutan. Ia tidak menyangka konser spesial dia akan berakhir seperti ini.
“JANGAN MENDEKAT!!!” bentaknya lagi.
Seorang perempuan paruh baya yang merupakan manajer dari Kanaya tampak panik, “K-kanaya! … Tolong lepaskan dia!” Teriakan histeris, “kami bisa bicara baik-baik.”
Anisa adalah yang paling berani untuk berdiri paling depan. Topi telinga kucing hitamnya sedikit miring, kacamata itu membuat terlihat menggemaskan alih-alih sangar, tapi mata dia masih sangat tajam tidak ada gemetar sama sekali.
Pria itu mendadak gemetaran. Ia panik.
Anisa melanjutkan, ia merogoh saku jaketnya dan mengangkat sebuah kartu identitas. Itu adalh kartu polisi magang!
“Aku Anisa Pradipta,” ucapnya tegas. “Anak komandan polisi kota ini, bapak Bambang. Lepaska gadis itu sekarang juga!”
Beberapa staf langsung menoleh ke arahnya—seolah menemukan harapan.
Pria bermasker itu terlihat agak panik, polisi? Tapi ia berusaha untuk tenang.
“K-kau kira aku peduli dengan orang tuamu!? “
Anisa menggigit bibir, ia menggenggam pentungan kecil di tangannya. “Kalau kamu tidak lepaskan dia, aku panggil bantuan sekarang juga! Gedung ini bisa dikepung dalam hitungan menit.”
Itu gertakan murahan, semua orang tahu, Anisa tahu ia sadar melawan pria bersenjata dengan sandera bukan tindakan rasional.
Tapi kayaknya gertakan itu berhasil mengenai hati pria itu, ia jadi sedikit gemetaran karena takut.
Polisi? Jangan bercanda! Masak dia harus berurusan dengan petugas hukum itu! Ia takut!
Ia bukan kriminal profesional.
Singkatnya Ia hanya… pria gagal.
Hidupnya berantakan. Drop out kuliah. Pekerjaan tak pernah bertahan lebih dari beberapa bulan. Teman-temannya menjauh pelan-pelan. Di rumah, ia hanya jadi bayangan yang tak dianggap.
Sampai suatu malam. a melihat seorang gadis bernyanyi di panggung kecil pinggir jalan.
Lampu seadanya. Sound system murahan. Penonton hanya belasan orang.
Gadis itu bernama Kanaya.
Suara Kanaya waktu itu belum sempurna. Masih ada gugup. Masih ada nada yang goyah. Tapi ia bernyanyi seolah seluruh dunia sedang mendengarkan.
Dan pria itu… adalah orang pertama yang bertepuk tangan. Pria itu terpesona akan keberanian dan keindahan sang gadis.
Ia jadi Satu-satunya yang benar-benar berdiri, ia bahkan menyawer dengan uang terakhir di dompetnya malam itu.
Kanaya menatap ke arahnya dan tersenyum berterima kasih, Senyum kecil. Tulus. Bersyukur. Karena ada seseorang yang benar-benar mendengarnya.
Kalimat yang paling ia ingat adalah
“Makasih ya, kak. Dukung terus Kanaya, ya!”
Dan bagi pria itu— Senyum itu seperti cahaya pertama dalam hidupnya yang gelap.
Sejak malam itu, ia tidak pernah absen.
Konser kecil, showcase, fanmeet sederhana—ia selalu datang. Ia beli album pertama. Ia bela di kolom komentar saat orang menghina suara Kanaya. Ia merasa dirinya bagian dari perjalanan itu.
Ia merasa… mereka tumbuh bersama walaupun itu sebenarnya tidak pernah terjadi. Tapi popularitas datang, penggemar bertambah ribuan, lalu jutaan. Kanaya makin tinggi, semakin jauh.
Panggung makin besar. Pengamanan makin ketat. Senyum itu—yang dulu terasa hanya untuknya—sekarang dibagi ke semua orang.
Dan sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Bukan lagi sebuah dukungan, tapi obsesi gelap yang ada di hati.
Ia bisa datang kesini dan punya senjata pistol karena diberika oleh seseorang dan mengatakan bahwa ia bisa bertemu idolanya. Ia ingin membuat Kanaya jadi miliknya seorang!
“Dia dulu cuma punya aku!” gumamnya lirih, suaranya pecah di balik masker. “Aku yang pertama percaya sama dia… aku yang pertama tepuk tangan…
Kanaya mencoba berbicara di balik kain, tapi suaranya teredam.
Ia itu menunduk sedikit, suaranya makin tidak stabil. “K-kamu kesakitan, kanaya? … Ah kasihan banget, ini karena kamu jadi anak nakal … aku akan segera melepaskan ini … tapi saat kita pergi, saat kita cuma berduaan saja, oke.”
“Aku cuma mau dia ingat… cuma mau dia lihat aku lagi seperti dulu… cuma kita berdua… bukan ribuan orang itu… gadis ini hanya milikku seorang!”
Kanaya tampak makin ketakutan. Air mata menetes.
“Ah, kanaya, jangan menangis,” bujuknya. “Aku akan memperlakukanmu dengan baik … pertama-tama mari ke rumahku dulu, nanti kita main yang banyak, ya!”
Matanya merah.
Obsesi yang tumbuh bertahun-tahun akhirnya meledak malam ini.
Ia tidak tahan lagi melihat idolanya tersenyum pada orang lain.
Tidak tahan melihat komentar laki-laki lain memuji.
Tidak tahan melihat dunia merasa berhak atas seseorang yang ia anggap “miliknya sejak awal”.
“Kalau dia pergi sama aku…” bisiknya hampir seperti orang kehilangan arah, “aku bisa lindungi dia… dari semua orang… dari semua yang mau manfaatin dia…”
Manajer Kanaya terisak. “Tutup mulutmu! Bahkan siapa dirimu? Lepaskan dia segera!”
Pria itu tersentak. “BERISIK! AKU PALING BENCI ORANG-ORANG SEPERTI KALIAN!”
Dor! Tembakan ancaman sekali lagi dilancarkan.
“Aku bilang sekali lagi, jangan ada yang mendekat …” tatapan pria itu kini menjadi makin gelap.
Anisa masih berusaha sok heroik. “Cukup berhenti, aku akan benar-benar mengundang bala bantuan—-”
“Dan untukmu, gadis kecil.” Ia menatap anisa penuh kebencian. “Aku paling benci orang-orang bermata penuh percaya diri seperti kalian, hidup kalian pasti enak-enak …”
Moncong pistolnya kini mengarah tepat ke kepala Anisa.
“… mati sana.”
Manajer menjerit. “JANGAN TEMBAK!”
Suasana hening. Pria itu hampir saja memutuskan untuk menembak sebelum suara santai membuatnya berhenti.
Wah… ada Kak Anisa ternyata.”
Suara santai itu terdengar dari sisi lorong.
Semua menoleh.
Rahmat berjalan masuk dengan langkah tenang, seolah bukan sedang menghadapi situasi penyanderaan bersenjata.
Anisa terkejut.
“kamu, kan?” bisiknya tak percaya. “Rahmat!”
Sekilas bayangan video lama di ponselnya terlintas—gerakan tak masuk akal itu… analisis pergerakan yang mustahil.
Rahmat melirik situasi sekali saja. Satu sandera, satu pistol. Jarak antara mereka sekitar tujuh meter, sudut tembak 32 derajat. Lantai keramik agak licin, langi-langit rendah.
Pria bermasker itu menoleh ke arah Rahmat. “Siapa lagi kau?! Mundur!”
Rahmat mengangkat kedua tangannya santai. “Iya iya, santai saja. “ lalu ia melihat Kanaya yang sudah disandar ia terlihat ketakutan, air mata bercucuran.
Tatapan mereka bertemu, gadis itu tampak menunjukan mata penuh harapan untuk diselematkan.
“namamu, kanaya kan? Santai saja kana, ini semua akan berakhir cepat.”
Suasana jadi hening. Bukan karena apa, semua orang kebingungan dengan rasa percaya diri seorang pemuda entah berantah.
“Kak Anisa, pinjam pentungannya sebentar dong,” bisiknya pelan.
“Apa?!”
DOR!
Pria bermasker tidak mau lama-lama, ia memutuskan untuk membantu semua saja sekalian. Tembakan dilepaskan.
Tapi sebelum suara itu benar-benar selesai menggema—Rahmat sudah bergerak, kakinya melangkah setengah putaran ke kanan, tanganya menyambar pentungan dari genggaman anisa dalam sepersekian detik.
[Prediksi Arah Serangan: Tembakan ke arah kepala]
[Waktu Respon Optimal: 0.2 Detik]
DING!
Dentang keras terdengar nyaris, peluru itu terpental.
Rahmat memiringkan pentungan tepat di sudut 17 derajat, menghitung kecepatan proyektil, memanfaatkan sudut pantul terhadap dinding keramik, dan serangan yang seharusnya mengarah ke kepala dia tangkis begitu mudah, arah peluru malah menghantam langit-langit dan menyimpang jauh dari target.
Semua orang membeku. Anisa paling terkejut, bagaimana mungkin itu terjadi?
Pria bermasker itu terperanjat. “Apa—?!”
Tanpa memberi waktu reaksi—Rahmat memutar tubuhnya dan melempar pentungan itu.
Bukan ke tubuh, bukan ke kepalan, melainkan ke tangan. Pentungan melesat begitu cepat, berputa di udara, menghantam tepat pergelangan tangan si penyerang.
KRAK!
Pistol terlepas melayang dan berputar di udara. Dan dalam sepersekian detik semua orang terdiam. Penyerang itu makin terdiam.
Lalu tak menyiakan waktu sedetik pun. Rahmat melompat, berlari cepat, memukul pria itu. Dia terhuyung jatuh, sebab tenaga yang begitu kuat.
“uhuk-uhuk!” Kanaya terbatuk, ia terlepas dan genggaman sang penyerang.
Dalam kurang waktu dari satu menit. Keadaan sudah berhasil diatasi.
“berakhir,” ucap ramat tak bergeming. “Seenaknya mengganggu acara kencan orang, konser jadi berantakan, kan, dasar sialan!”
Bukan karena alasan sepele ia begitu tergesa-gesa, sebab alya sudah menunggu acara konser acara ini dan malah menunggu lama.