Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
“Kenapa diam saja, jawab!” bisik Xavier tepat di samping telinga Luna. Suaranya yang rendah dan mengintimidasi membuat bulu kuduk Luna meremang. Bukan karena takut, melainkan karena sensasi geli yang aneh.
Luna menoleh, tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. Ia pun mengangguk mantap. “Tidak masalah asal Luna bisa terus bersama Sapir! Jadi kucing selamanya pun Luna siap! Asalkan Sapir yang beri Luna makan dan Sapir yang peluk Luna kalau dingin,” lirihnya.
Xavier tertegun. Kalimat polos itu entah kenapa menghantam dadanya lebih keras daripada peluru. Ia berdehem, berusaha mengembalikan raut wajah datarnya yang sedingin es.
Luna kemudian melirik ke kursi kemudi, ke arah Gerry yang sedang berusaha fokus menyetir meski telinganya panas karena tidak bisa mendengar jelas percakapan di belakang.
“Manusia tampan—”
“Gerry! Panggil saja dia Gerry!” potong Xavier cepat dengan nada ketus. Ia menarik wajah Luna agar kembali menatapnya. “Enak saja mau memanggil Gerry manusia tampan! Di mobil ini... tidak, maksudku di seluruh dunia ini, hanya aku saja yang tampan! Kau mengerti?!” gerutunya lirih, namun terdengar sangat posesif.
Luna mengerjapkan mata, lalu terkekeh. “Iya, Sapir paling tampan.”
Gerry yang memperhatikan dari kaca spion tengah hanya bisa mengelus dada. Ia mengumpat dalam hati dengan sangat merdu. Tuan muda sepertinya sudah mulai tidak waras! Sejak kapan dia jadi haus pujian begini? Dan sejak kapan dia cemburu pada asistennya yang malang ini? batin Gerry sembari menggelengkan kepala saat samar terdengar kemarahan sang tuan.
Sesampainya di lobi perusahaan, suasana mendadak sunyi senyap. Para karyawan yang tadinya sibuk berlalu-lalang mendadak mematung seperti patung.
Xavier melangkah masuk dengan wibawa yang luar biasa, namun ada yang berbeda. Ia membopong Luna yang tubuhnya tenggelam di balik jas hitam besar miliknya.
Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di padang rumput kering.
“Itu beneran Tuan Xavier?”
“Bos kita yang anti disentuh itu sedang menggendong seorang wanita?”
“Gila, dunia mau kiamat ya?”
Xavier tidak mempedulikan tatapan heran itu. Baginya, menyembunyikan Luna dari mata-mata lapar pria lain jauh lebih penting daripada reputasinya sebagai pria berdarah dingin.
“Tuan, meeting akan segera dimulai. Paman Luke sudah menunggu di ruang rapat lima menit yang lalu. Bisakah kita ke sana sekarang?” ucap Gerry saat mereka sudah berada di dalam ruangan pribadi Xavier.
Xavier meletakkan Luna di sofa kulitnya yang empuk. Saat ia hendak berdiri, tangan Luna menahan lengannya.
“Sapir mau ke mana? Luna ikut!” ucap Luna dengan nada menuntut.
“Bisakah kau di sini dan menungguku?” ucap Xavier sedatar mungkin, meski tangannya terulur mengusap kepala Luna dengan lembut.
“Tapi Luna takut sendirian! Tempat ini terlalu besar, baunya tidak enak, banyak besi-besi aneh!” Luna memeluk erat lengan Xavier, menempelkan pipinya di sana seolah Xavier adalah pohon satu-satunya di tengah badai.
“Hanya sebentar, tidak akan lama. Aku akan menyuruh beberapa anak buahku untuk menjagamu di luar pintu. Jangan berani-berani keluar tanpa izinku,” ucap Xavier lagi. Ia harus membereskan masalah penggelapan keuangan yang dilakukan penghianat hari ini juga.
“Tapi Luna tetap takut.” Luna mendongak, matanya yang biru jernih mulai berkaca-kaca.
“Ingat, jangan membuat masalah! Jangan menyentuh benda apa pun yang terlihat rapuh, mengerti?” Xavier memperingatkan dengan tegas.
“Iya, Sapir,” balas Luna lesu.
Gerry yang berdiri di dekat pintu hanya bisa mencibir pelan. “Bisa-bisanya Tuan mengacuhkan aku demi gadis ini. Padahal aku yang menyiapkan semua dokumennya sampai kurang tidur,” gumamnya.
Xavier beranjak, membetulkan letak dasinya, dan meninggalkan Luna menuju ruang rapat. Luna mendengus kesal. Ia ingin memberontak dan ikut, tapi tatapan tajam Xavier tadi membuatnya mau tidak mau harus menurut.
Bosan. Itulah yang dirasakan Luna dalam lima menit pertama. Ia mulai berkeliling, melihat-lihat seisi ruangan Xavier yang didominasi warna gelap. Tanpa sengaja, kakinya menyenggol rak buku paling bawah. Ia menemukan sebuah majalah de-wasa yang tertumpuk di bawah dokumen-dokumen lama.
“Ini apa? Gambarnya penuh orang-orang,” gumam Luna bertanya-tanya sembari duduk di lantai dan membuka lembar demi lembar. Mata Luna membulat sempurna saat melihat foto seorang wanita tanpa bu-sana di halaman tengah. “Woah, ini mirip seperti punya Luna! Tapi kenapa miliknya besar sekali? Dan punya Luna kecil begini?” ia menunduk melihat da-danya sendiri di balik jas, lalu kembali menatap majalah itu dengan ekspresi iri.
Luna membalik halaman berikutnya, dan kali ini ia hampir menjatuhkan majalah itu. Ada gambar yang membuatnya lebih tercengang lagi. Gambar seorang pria.
“Ini mirip punya Sapir! Tapi punya Sapir lebih besar dan lebih... gagah!” Luna terkekeh sendiri, teringat kejadian di kamar tadi. “Namanya apa ya? Luna penasaran deh! Kenapa benda itu bisa tumbuh begitu?”
Gadis itu kembali merenung, menunduk lesu menatapi gambar-gambar itu. “Benar kata Sapir, Luna memang bodoh! Begini saja tidak tahu. Bagaimana kalau Sapir mencari wanita yang lebih besar seperti di gambar ini?”
Saat Luna sedang asyik bergulat dengan pikirannya yang kacau, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sentakan kasar.
Ceklek!
“Xavier, apa kau ada di dalam? Kenapa pengawalmu melarangku masuk!” ucap seorang wanita cantik dengan pakaian sangat bermerk dan langkah yang angkuh.
Langkah wanita itu terhenti seketika. Ia terperanjat melihat seorang gadis duduk di lantai dengan jas Xavier yang berantakan. Majalah di tangan Luna terjatuh dengan posisi terbuka tepat di halaman yang paling menggoda.
“Kau siapa?!” tanya wanita itu, menatap Luna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menghina. “Dan apa yang kau lakukan di ruangan pribadi Xavier dengan majalah menjijikkan itu?!”
Luna mendongak sembari mengerjapkan matanya bingung. “Kamu yang siapa? Kenapa suaramu berisik sekali seperti burung gagak?”
“Apa?! Burung gagak?! Beraninya kau!” seru wanita itu dengan wajah merah padam.
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️