Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Rahasia di Balik Kontrak
Suasana di dalam taksi yang membawa mereka pulang terasa hangat dan tenang, kontras dengan layar ponsel Adelia yang baru saja ia redupkan. Di sampingnya, Arlan menyandarkan kepala di sandaran kursi, matanya terpejam dengan sisa-sisa senyum kepuasan setelah adegan emosional Reihan tadi. Napasnya teratur, tanda bahwa beban berat di pundaknya sedikit terangkat.
Namun, di dalam genggaman Adelia, ponsel itu terasa panas. Pesan dari firma hukum Lemaire & Associate di Paris bukan sekadar urusan administrasi biasa. Kalimat pembukanya saja sudah cukup membuat jantung Adelia berdegup kencang: "Informasi darurat mengenai sisa aset jaminan dan keterlibatan pihak ketiga dalam kontrak A&A Pictures."
Adelia menatap keluar jendela, pada lampu-lampu jalan Jakarta yang kabur karena kecepatan taksi. Ia harus memutuskan: membangunkan Arlan dari mimpi indahnya dan risiko menghancurkan momentum kreatif yang baru saja mereka bangun, atau memikul rahasia ini sendirian sampai ia tahu seberapa besar ancamannya.
Sesampainya di apartemen, Arlan langsung menuju kamar mandi. "Aku butuh mandi air hangat, Adel. Rasanya debu pelabuhan masih menempel di pori-poriku," serunya dari balik pintu.
"Ya, Arlan. Mandilah yang lama," jawab Adelia, suaranya berusaha terdengar seringan mungkin.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara kucuran air terdengar, Adelia segera menuju balkon. Ia membuka kembali email tersebut dan mengunduh lampiran dokumen PDF yang menyertainya. Matanya memindai baris demi baris teks hukum yang rumit.
Wajahnya memucat.
Ternyata, investasi besar dari GlobalStream yang mereka terima bukan sepenuhnya datang dari dana murni platform tersebut. Ada sebuah perusahaan konsultan finansial bernama Lux-Apex yang bertindak sebagai penjamin sisa penalti mereka di Paris. Dan pemilik saham mayoritas Lux-Apex adalah seorang pria yang namanya sudah lama mereka coba hapus dari sejarah: Hendra Wijaya, paman Arlan, adik kandung ayahnya yang dulu sempat melarikan diri ke Singapura saat skandal korupsi keluarga itu pecah.
Ini bukan sekadar bantuan keluarga. Hendra Wijaya dikenal lebih licik dan dingin daripada ayah Arlan. Jika dia berada di balik penjaminan kontrak mereka, itu berarti A&A Pictures secara teknis masih berada di bawah bayang-bayang klan Wijaya. Setiap jengkel film yang mereka rekam, setiap keping rupiah yang mereka hasilkan, adalah milik pria yang ingin menggunakan kesuksesan Arlan untuk membersihkan nama keluarga mereka yang kotor.
"Adel? Kamu di luar?"
Adelia tersentak. Ia dengan cepat mengunci ponselnya dan menyembunyikannya di saku cardigan. Arlan berdiri di pintu balkon, rambutnya basah dan hanya mengenakan kaos putih polos. Ia tampak begitu segar, begitu jauh dari kegelapan yang baru saja Adelia baca.
"Lagi lihat bintang?" tanya Arlan, memeluk Adelia dari belakang. Ia menumpukan dagunya di bahu Adelia, menghirup aroma rambutnya. "Aku baru sadar, kita jarang sekali menikmati momen seperti ini tanpa bicara soal shot list atau anggaran."
Adelia memaksakan senyum, tangannya gemetar pelan saat menyentuh lengan Arlan yang melingkar di pinggangnya. "Iya, Arlan. Langitnya bagus malam ini."
"Ada apa? Kamu dingin sekali," Arlan mengerutkan kening, memutar tubuh Adelia agar menghadapnya. Matanya yang tajam menelisik wajah Adelia. "Kamu sakit? Atau kepikiran soal adegan besok?"
"Hanya lelah, Arlan. Syuting tadi sangat menguras energi," dusta Adelia. Ia merasa seperti pengkhianat. Namun, ia tahu jika Arlan tahu bahwa pamannya terlibat, Arlan akan menghentikan produksi seketika. Ego dan traumanya terhadap keluarga tidak akan membiarkan dia bekerja satu detik pun di bawah kendali Hendra Wijaya. Dan jika produksi berhenti, mereka akan dituntut balik oleh GlobalStream atas pembatalan kontrak sepihak. Mereka akan hancur total.
"Tidurlah," ujar Arlan lembut, mengecup keningnya. "Besok kita punya jadwal padat. Aku tidak mau asisten produserku pingsan di set."
Malam itu, saat Arlan sudah terlelap dalam mimpi yang dalam, Adelia duduk di ruang tamu dengan laptop menyala. Ia mulai melakukan riset mendalam. Ia menghubungi Sandra, kawan lama mereka yang memiliki koneksi luas di dunia korporat.
"Sandra, maaf menelepon selarut ini," bisik Adelia begitu telepon diangkat. "Aku butuh bantuanmu mencari tahu soal Lux-Apex. Dan... tolong jangan katakan sepatah kata pun pada Arlan."
Suara Sandra di seberang sana terdengar serius. "Lux-Apex? Adel, itu perusahaan yang sedang banyak mengakuisisi studio kecil di Asia Tenggara. Ada apa?"
"Hendra Wijaya ada di sana. Dia menjamin kontrak kita dengan GlobalStream."
Terdengar helaan napas panjang dari Sandra. "Sial. Itu jebakan, Adel. Hendra tidak pernah memberi tanpa meminta sepuluh kali lipat. Dia pasti menginginkan hak distribusi global atas semua karya Arlan untuk mencuci uangnya. Jika Arlan tahu..."
"Dia tidak boleh tahu. Belum saatnya," potong Adelia tegas. "Aku akan mencari cara untuk memutus rantai penjaminan itu tanpa merusak kontrak utama. Sandra, aku butuh daftar semua pemegang saham Lux-Apex. Aku ingin tahu apakah ada celah hukum untuk membeli kembali jaminan itu."
"Itu akan butuh uang yang sangat besar, Adel. Uang yang belum kita miliki sekarang."
"Aku tahu. Tapi kita punya film ini. Jika film ini sukses besar dan nilai saham studio kita naik, kita bisa mencari investor baru yang bersih untuk menggantikan mereka."
Adelia menutup telepon dengan perasaan berat. Ia merasa seperti berjalan di atas tali tipis di antara jurang. Di satu sisi, ia harus menjaga Arlan tetap fokus pada karya mahakaryanya. Di sisi lain, ia harus menjadi perisai yang menghadapi naga dari masa lalu tanpa bantuan siapapun.
Keesokan paginya di lokasi syuting, Adelia bekerja dengan efisiensi dua kali lipat. Ia mengatur segalanya dengan sangat teliti, seolah-olah setiap detik yang mereka hemat adalah peluru untuk melawan Hendra Wijaya.
Arlan memperhatikan dedikasi Adelia yang luar biasa. "Adel, pelan-pelan. Kamu membuat semua kru ketakutan dengan efisiensimu hari ini," canda Arlan di sela-sela perpindahan set.
Adelia hanya tersenyum tipis. "Aku hanya ingin semuanya sempurna, Arlan. Untukmu. Untuk kita."
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan lokasi syuting yang seharusnya tertutup untuk umum. Seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu mahal keluar dari mobil tersebut, didampingi dua orang berbadan tegap.
Arlan mengernyitkan dahi. "Siapa mereka? Kita tidak mengundang tamu hari ini."
Adelia merasakan jantungnya merosot ke perut. Ia mengenali pria itu dari foto-foto lama yang pernah ia lihat. Itu bukan Hendra Wijaya, tapi Bram, tangan kanan kepercayaan Hendra.
Bram berjalan menuju Arlan dengan senyum profesional yang dingin. "Selamat siang, Mr. Arlan. Saya dari Lux-Apex. Kami hanya ingin melihat bagaimana perkembangan investasi kami."
Wajah Arlan berubah drastis. Nama itu, Lux-Apex, belum berarti apa-apa baginya, namun ia bisa merasakan aura yang tidak menyenangkan. "Investasi? Saya berhubungan dengan GlobalStream, bukan dengan Anda."
Bram tertawa kecil, melirik ke arah Adelia yang berdiri mematung di samping Arlan. "Oh, sepertinya asisten Anda belum sempat menjelaskan struktur pendanaan baru kita, ya?"
Arlan menoleh ke arah Adelia, tatapannya menuntut penjelasan. Dunia seolah berhenti berputar bagi Adelia. Rahasia yang ia coba simpan dengan rapat, kini meledak di depan matanya hanya dalam waktu dua belas jam.
"Adel?" suara Arlan rendah, namun penuh dengan nada terluka yang tajam. "Apa yang dia bicarakan?"
Adelia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Di depan seluruh kru yang mulai memperhatikan, dan di bawah tatapan tajam Bram yang menikmati kehancuran itu, Adelia harus memilih kata-kata yang akan menentukan masa depan hubungan dan studio mereka.
"Arlan... aku bisa jelaskan," bisik Adelia, suaranya hampir tidak terdengar di tengah kebisingan set yang mendadak sunyi.
Bram melangkah lebih dekat, menaruh tangannya di pundak Arlan yang kaku.
"Jangan terlalu keras pada kekasihmu, Arlan. Dia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkanmu dari kebangkrutan di Paris. Tanpa Hendra Wijaya, film ini tidak akan pernah ada."
Mendengar nama 'Hendra Wijaya', Arlan seolah tersengat listrik. Ia menepis tangan Bram dengan kasar, matanya menyala-nyala oleh amarah dan pengkhianatan. Ia tidak menatap Bram, melainkan menatap Adelia dengan tatapan yang paling menyakitkan yang pernah Adelia terima—lebih menyakitkan daripada bentakan manapun.
"Kamu tahu?" tanya Arlan, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Kamu tahu dia terlibat, dan kamu membiarkanku bekerja seperti budak di bawah kakinya?"
"Arlan, dengarkan aku dulu—"
"Syuting selesai untuk hari ini!" teriak Arlan kepada seluruh kru tanpa mengalihkan pandangan dari Adelia. "Semua orang pulang! SEKARANG!"
Kru studio berhamburan pergi dengan ketakutan. Bram hanya tersenyum simpul, memberikan kartu namanya di meja monitor, lalu pergi dengan mobil mewahnya, meninggalkan kehancuran yang sempurna di belakangnya.
Kini hanya ada Arlan dan Adelia di tengah set yang setengah gelap. Kursi sutradara yang bertuliskan nama Arlan tampak miring, jatuh karena gerakan kasar Arlan tadi.
"Jelaskan," perintah Arlan dingin. "Dan jangan berani-berani berbohong lagi padaku, Adelia."