NovelToon NovelToon
Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.

Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"

..

Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.

Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.

Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Seana berharap kedua petugas keamanan itu tidak mengkhianati dirinya dan Velia. Namun, melihat Mike menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini padanya, apakah itu berarti Sanzio masih belum mengetahui kebenarannya?

Seana menatap Mike dengan ragu, tetapi ekspresi pria itu terlalu sulit untuk dibaca, dalam hal ini karakternya hampir sama seperti Sanzio. Seana tidak tahu mengapa Mike mencegatnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Mike hendak membuang puntung rokoknya, lalu bertanya. "Pak Zio ngasih ke kamu sebuah liontin yang katanya ketinggalan di kamar itu, kan? Liontin itu kemana sekarang?,"

Telapak tangan Seana mulai berkeringat karena gugup. "Aku pikir liontin itu mungkin punya penghuni kamar yang sebelumnya. Jadi aku ngiranya itu barang yang ngga penting. Aku lupa dimana aku simpan liontin itu,"

Seana tidak berani berbohong tentang dirinya yang telah memberikan liontin itu ke resepsionis hotel untuk dibuang, setelah kejadian di malam itu. Karena ingin menghilangkan jejak. Jika Sanzio serius mencari perempuan dari malam itu, Mike pasti akan di tugaskan untuk menghubungi pihak hotel dan menanyakan hal itu.

Setelah mendengar jawaban Seana. Mike kembali buka suara. "Kalau gitu, kamu harus cari liontin itu dulu, karena liontin itu sangat penting sekarang."

Napas Seana semakin cepat. Ia tak berani mengatakan dimana letak benda itu sekarang. Mungkin ia bisa kembali berbohong agar tidak diperintahkan untuk mencari kalung itu, tetapi ketika melihat ekspresi serius yang di tunjukkan Mike hari ini bisa menyaingi sikap Sanzio yang biasanya. Menyadari bahwa tidak ada jalan keluar, Seana hanya bisa memaksakan dirinya untuk mengangguk.

Beberapa saat kemudian, sebuah ketukan terdengar di luar pintu. "Pak Mike, ada data yang perlu di periksa sebelum diberikan kepada Pak Zio. Boleh saya masuk?," tanya suara pria dari luar.

Seana menghela napas lega. Penyelamatnya sudah datang.

"Masuk," kata Mike mempersilakan.

Setelah pintu terbuka, Mike menoleh kearah Seana. "Kamu boleh kembali ke ruangan kamu," kata Mike pada Seana.

Seana tersenyum tipis dan mengangguk. "Oke, aku mau kasih berkas ini ke Pak Zio. Mungkin beliau udah selesai rapat."

Mike mengangguk dan perhatiannya kini tertuju pada karyawan pria yang baru saja masuk ke kantornya.

Seana keluar dengan perasaan yang lega. Tetapi dia bingung dan tidak tahu harus berbuat bagaimana, mengingat keseriusan Mike, Seana tahu bahwa Sanzio sangat bertekad untuk mencari wanita yang bersamanya dimalam itu. Setelah masuk ke dalam ruangannya sendiri, Seana mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Velia.

[Seana: Vel, aku ngerasa riwayat kita udah berakhir]

Tak perlu menunggu lama, balasan dari Velia muncul. [Velia: Riwayat kamu sendiri, Seana. Bukan aku!]

Bahkan dari layar ponsel, Seana bisa merasakan bahwa Velia berusaha keras untuk menjauhkan diri dari kekacauan yang dia buat. Sebelum Seana sempat menuliskan pesan balasan, Velia sudah mengirim sesuatu.

[Velia: Ingat ya, Seana. Kamu ngga ada hubungannya sama apa pun yang terjadi di malam itu, apalagi sama Pak Zio. Oh ya, jangan lupa hapus riwayat chat kita sekarang juga!]

Setelah mengirimkan pesan tersebut kepada Seana, Velia menginstruksikan Seana untuk menghapus semua bukti yang mungkin ada kaitannya. Seana tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Setelah melihat pesan dari Velia, ia justru merasa semakin frustasi.

Merasa cemas dan takut, Seana berusaha sekuat tenaga dan tetap fokus pada pekerjaannya, tetapi ia tidak berhasil fokus, meskipun sudah berusaha keras. Ia baru tersadar ketika melihat Sanzio yang berjalan keluar dari ruang rapat.

Melihat raut wajah muram pria itu, ekspresi Seana pun ikut berubah serius. Dia berdiri dan keluar dari ruangannya untuk melapor. "Selamat pagi, Pak. Saya sudah meletakkan laporan yang bapak minta di meja bapak"

Sanzio menatap Seana dengan tatapan dinginnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seana membalas tatapan itu sejenak, sebelum akhirnya dengan cepat memutuskan kontak mata dengan menundukkan kepalanya.

Ekspresi Sanzio semakin muram ketika melihat betapa takutnya Seana kepadanya. Akhirnya, Sanzio memilih masuk ke dalam kantornya, dan tetap tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, Manajer keuangan terlihat buru-buru masuk ke ruangan Sanzio, dan rentetan umpatan kesal terdengar dari dalam.

Seana dengan gugup memperhatikan ruangan Sanzio yang kacanya di buramkan dan dia merasa kasihan pada manajer keuangan itu. Tapi sejujurnya, Seana lebih mengasihani dirinya sendiri.

Akhirnya, manajer keuangan itu keluar dari kantor Sanzio dengan penampilan yang berantakan, seperti baru saja menerima pukulan atas kesalahannya.

Seana dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berpura-pura sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Manajer keuangan itu, tanpa meminta izin langsung masuk ke ruangan Seana. "Kamu di panggil Pak Zio ke ruangannya sekarang," kata pria itu.

Seana mengangguk kecil. "Oh iya," setelah mendengar bahwa Sanzio ingin bertemu dengannya, jantung Seana mulai berdebar karena takut, tetapi dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke kantor Sanzio seperti yang diminta.

Ketegangan diruangan itu sangat terasa. Seana mengepalkan tangannya erat-erat dan melangkah masuk dengan hati-hati. "Pak Zio, bapak tadi manggil saya?," tanya Seana.

"Kamu tadi udah ngobrol sama Mike?,"

Napas Seana tercekat setelah mendengar itu. Memikirkan bagaimana dirinya berhasil menipu Sanzio beberapa minggu yang lalu, membuat Seana merasa bahwa kali ini dia benar-benar akan tamat dan semua kebohongan akan terbongkar.

Seana tahu bahwa apa yang telah ia lakukan tidak begitu saja bisa ditutupi tanpa sebuah konsekuensi. Seana mengangguk gugup. "Iya, Pak. Kami udah bahas itu tadi"

"Mulai sekarang, kamu akan bekerja sama dengan Mike untuk mencari tahu persis apa yang terjadi malam itu. Nanti, kamu bisa belajar dari dia,"

Seana gemetaran setelah mendengar itu. Apakah Sanzio secara tidak langsung menyuruhnya untuk mengaku atau semacamnya? Seana mendongakkan kepalanya dengan hati hati, hanya untuk bertemu dengan tatapan Sanzio, yang tampak dalam dan penuh makna.

Seana pikir mungkin dirinya salah menduga. Lagi pula, mengapa seseorang sesibuk Sanzio punya waktu untuk bercanda dengannya seperti itu?

1
Yessi Kalila
Melani dalam bahaya.... ngga tau siapa Seana sekarang .... seenaknya nyuruh2
Yessi Kalila
wkwk.... lugu banget sih Seana... 🤣🤣🤣
Lisna
lanjutt thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!